Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
Apakah Benar?


__ADS_3

Bagas berusaha menjaga mood baik isterinya, ia juga memutuskan untuk tidak menceritaka apa yang menjadi pembahasannya dengan Paman Alex sore itu, menjaga agar Dara tetap pada mood baiknya menjadi tugas Bagas meski tengah berjauhan dengan isterinya itu.


Malam ini bagas merasa sesuatu hal yang kurang nyaman pada dirinya, bergegas ia meraih ponselnya dan menghubungi isterinya.


Yaa, benar saja.. Dara merasa sulit memejamkan matanya, ia melakukan hal-hal random di kamarnya, merapikah pakaian sesuai dengan warna, hingga bermain game makeover barbie pada ponselnya. mendapat panggilan video dari suaminya, tentu Dara sanghat antusias menjawabnya, dengan posisi berbaring, rambut panjang yang terurai ia bersikap sangat manis.


"mas.. apa kamu tidak merindukan aku?" ucapnya dengan sangat mengoda. Bagas berusaha membuat dirinya dalam keadaan stabil saat itu.


"Jangan bertanya akan hal itu, aku berusaha menahan rasa rindu pada kamu juga Zaidar..." ucap Bagas menimpali.


"Besok, bolehkah aku kerumah IBu? aku ingin tempe mendoan buatan ibu.." Ucap Dara.


Bagas tersenyum tipis, sambil memberikan izin pada isterinya itu.








Pagi ini Dara tampil cukup segar dengan one set berwarna baby blue di padukan dengan Flatshoes warna senada, tampilannya yang cukup modis, dan segar itu menambah aura kecantikannya, tak lupa polesan makeup tipis menambah kesan feminim pada sosok dara saat itu. Di antar oleh seorang supir yang bekerja di kediaman ibu Nia, Dara penuh kebahagiaan menempuh perjalanan meski beberapa jalan terlihat padat.


Setibanya di rumah kedua orang tua Dara, ia menghela nafasnya cukup kasasr karena berjalan dari jalan utama meuju rumah Ibunya. Hembusan nafasnya menujukan bahwaDara terlihat sangat lelah saat itu.


"Kenapa kamu terlihat lelah sekali, Dara?" Tanya IBu heran.


"Entahlah bu, mungkin karena jarang lelah jadi jalan segitu dekatnya pun aku terasa lelah.." Ucap Dara sambil duduk.


"Bu, mendoannya sudah siap?" Tanya Dara, sontak membuat ibu mengerutkan keningnya.


"Baru saja sampai kok sudah tanya mendoan? Tidak menayakan Ayah??" Tanya ibu dengan herannya.

__ADS_1


"Aku sudah bertemu Ayah tadi, Ayah sedang membeli  cemilan kan?" Ucap Dara terkekeh.


"Sudah ibu duga, Mendoannya tinggal ibu goreng kok, apa kamu mau sekarang?" Tanya Ibu


Dara mengangguk penuh semangat. "Jangan lupa sambal kecap dan rawitnya ya bu.." Ucap Dara.


Ibu sedikit aneh dengan kebiasaan Dara yang justru lain dari pada biasanya.


Biasanya anak itu yang turun tangan sendiri membuat sambal rawit kecap sesuai inginnya, kenapa sekarang dia manja sekali? apa anakku sudah berubah? tak ingin menyentuh dapur sederhanaku lagi? Ibu membatin sedikit berprasangkah aneh pada puterinya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, tempe mendoan dan sambal kecap rawitpun tersaji di hadapan Dara. Ayah pun datang membawa sebuah rujak buah yang segar.


Usai puas menyantap mendoan bersama, Ibu membuka rujakan tersebut lengkap dengan sambal ulek bertabur kacang dengan aroma terasi yang cukup kuat,


"Ueekkkk.... Bau, ibu.. itu bau sekali.." Ucap dara seketika ia merasa mual dan pusing.


"Bau? apanya yang bau? ini sambal rujak? rujak kesukaan kamu, di simpang lima" Ucap Ayah memberi penjelasan


"Iya nak ini rujak kesukaan kamu kan, tanpa ubi merah juga..." Tam,bah ibu.


Bergegas ibu menyingkirkan sambal rujak itu menjauh dari hadapan Puterinya itu.


"GImana? masih tercium?" tanya Ayah, dara pun menggelengkan kepalanya dan memberanikan diri meraih beberapa buah rujakan yang ada di hadapannya.


"Hanya dengan Cabe Garam?" Heran ibu berkata melihat dara.


Dara hanya meresponnya dengan anggukannya saja.


Ibu dan ayah saling beradu pandangan, saling menatap dalam hati berkata hal yang sama dan serupa.


Mungkinkah Dara tengah hamil muda? Ngidam? Itulah yang ada di benak ayah dan Ibu saat itu.


Saat dirasa cukup kenyang, dara menuju kamarnya, menyalahkan kipas angin lalu merebahkan diri dengan penuhb kenikmatan. Merasa penasaran, Ibu berinisiatif menghubungan Bagas untuk sekedr menayakan perihal keanehan yang terjadi pada Dara.


Ibu dan Ayah cukup terkejut mendengar penjelasan menangtunya saat itu, mereka pun meyakini bahwa kini Dara memang tengah hamil. Raut wajah ibu kini terlihat sangat ceria, begitu juga ayah yang tak kalah bahagia meski itu masih bersifat praduga.


"Aduh yah.., kira-kira akan mirip siapa ya cucu kita?" Ibu nampaknya sudah sangat bersemangat, berandai-andai penuh bayangan indah.

__ADS_1


"Mikirp siapapun asal sehat, dan sempurna... ibu gak mau tanya-tanya ke pada Dara, barangkali dia sudah tahu tapi sengaja menutupinya dengan kita..?" Kata Ayah.


"iya ya? benar juga, baiklah ibu akan coba pancing-pancing"


Ibu beranjak ke kamar dara, melihat puterinya tengeh merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya dengan serius.


"Dara..." panggil ibu,.


"Iyaa bu, maaf aku rebahan ya? kekenyangan" Ucap dara terkekeh sambil mengusap perutnya,


"Isi apa perutmu sampai kamu usap-usap begitu?" ledek ibu terkekeh.


"tadi pagi nasi goreng, lalu mendoan, buah dan kenyanglah aku bu" Kata Dara sambil terkekeh malu.


"Tidak apa yang penting sehat..Oh iya apa kamu merasa ada yang aneh padsa dirimu sendiri?" Tanya ibu membuat Dara sejenak terdiam sambil berfikir.


"hemm aku gak terlalu faham sih bu, tapi aku lagi suka memakai wewangian yang berbau manis, lembut dan tidak terlalu menyengat.." Ucap dara menjelaskan.


"hmm.. lalu kapan kamu terakhir kali datang bulan?" tanya ibu to the poin, hingga dara juga terdiam bingung dengan pertanyaan ibu.


"kapan ya bu? kok aku lupa?" Ucap Semakin menambah keyakinan bahwa puterinya tengah mengandung.


"Dara... apa mungkin kamu tengah hamil?" Tanya Ibu hingga membuat Dara terkejut.


Apa iya aku hamil? tapi memang sudah satu periode ini aku tidak kunjung datang bulan..Astaga, apa benar?


Dara terdiam sambil membatin dan memegang pelan perutnya.




*


Hamil ga? hahha


Sabar dulu yaa,..

__ADS_1


__ADS_2