Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
KHAWATIR


__ADS_3

Dara masih sangat profesional dalam mengemban tanggung jawab nya. Dengan ketegaran nantinya Dara bekerja seperti bagaimana mestinya.


Hanya saja, kini sikap Bagas kembali dingin..Sarapan pagi ini hanya ada Bagas, Dara dan Zaidar sementara mbok Suti tengah berbelanja keluar apartemen.


"Papa.. kapan aku bisa kembali ke sekolah? Zai bosan, pah.." Zai membuka suaranya, ia masih belum menyadari sikap Bagas dan Dara yang sedikit berubah.


"Lusa ya, papa akan urus hari ini.." kata Bagas pada Zaidar.


"Oh iya.. nanti mama akan datang, dan akan makan malam disini.. " ucap Bagas yang membuat Dara merasa terkejut.


Dara terkejut dan sedikit merasakan sesak pada dadanya. Kenapa aku ini? hemm ada-ada aja perasaan ku ini sih.


"Asiikk..." sorak gembira Zaidar.


Dara hanya terdiam saat itu.. Wajahnya terlihat sangat senang sumringah.


Usai Bagas berangkat ke kantornya, Zaidar berada di kamarnya untuk belajar, kini Dara berkutat di dapur bersama mbok Suti.


"Mbok... Nanti aku pulang pukul 4 ya? karena ayahku kabarnya sudah jauh membaik sudah bisa di ajak berbincang" kata Dara dengan senyumnya.


"Alhamdulillah.. hemm mbok kira kamu bisa menemani Zaidar sampai Mbak Mawar pulang.." kata Mbok Suti.


"Maksud Mbok? kok sampai pulang?"


"Iya.. biar kamu lihat bagaimana Mbak mawar melakukan pendekatan pada anaknya" kata Mbok Suti membuat Dara bingung.


"loh memangnya kenapa?" kata Dara heran.


"Tapi janji yaa Mba Dara ga bilang ke Den Bagas" kata Mbok sedikit takut.


"Iya.. ada apa memangnya?" kata Dara penuh penasaran.


"Kemarin waktu menginap, Mba Mawar memberikan ponsel untuk Den Zai, bermain game dan menonton video, di biarkan saja" kata Mbok Suti.


"Astaghfirullah... kok begitu? memang pak Bagas tidak bilang ya kalo Zai itu murni no gadget mbok?" kata Dara dengan rasa kesalnya.


"Sepertinya tidak, tapi Mbok yang akhirnya bilang.. eh jawaban mbak mawar malah mengejutkan.."


"Mengejutkan gimana? mbok


cerita jangan setengah-setengah" Dara benar-benar penuh rasa penasaran.


"hemm ... yaa Mbak Mawar bilang kalo sesekali gapapa.. pak Bagas tidak akan marah kalo saja paka Bagas tak tahu.." begitu Mbok Suti menjelaskan.


Dara terdiam..


"Oh iya.. Mbak Dara juga menjadi pembahasan kemarin.. Mbak mawar ingin tahu banyak soal mbak Dara..." kata Mbok Suti, Dara mengerutkan keningnya merasa heran.


"Maaf ya mbak.. nampaknya Mbak mawar ga suka sama Mbak Dara, karena Den Zai kan menyebutkan nama mbak Dara terus mengkaitkan dengan beberapa hal, jadi saja mbak Mawar nampak kesal dan bertanya-tanya


soal mbak Dara kepada saya.." Mbok Suti menjelaskan

__ADS_1


Hiihhh.. apa dasarnya mbak Mawar sebel sama aku? apa pak Bagas cerita soal... hemm rasanya ga mungkin itu kan baru kemarin.. Kata Dara membatin.


"Yaudah biar saja, Mbok...Nanti aku izin pak Bagas dulu, boleh atau tidak pulang lebih awal.." ucap Dara..


Sore hari pun tiba.. Siapa sangka kali ini Zaidar yang melarangnya untuk pulang.


Rengekan Zaidar membuat Dara harus mengalah menahan diri untuk pulang.


Pintu apartemen terbuka, Dara menoleh.. ternyata sosok Bagas datang bersama dengan Mawar... Yaa Bagas mendorong mawar yang duduk di kursi roda.


Mata Dara terpanah melihat sosok cantik mawar dengan mini dress berwarna pink.


Pantas saja jika pak Bagas jatuh hati, ternyata memang mbak Mawar cantik sekali yaa.. jauh berbeda saat beliau sedang sakit kemarin.


Dara membatin tak ada rasa percaya diri.


Zaidar berlari menghampiri Bagas dan Mawar, Zaidar memeluk Mawar.


Senyum ketiganya lepas, hingga Dara semakin merasakan sakit pada hatinya.


Mereka sangat cocok menjadi keluarga kecil yang bahagia.. Cantik dan Tampan, anak yang sangat lucu pintar dan tak kalah tampan.


Dara kembali membatin hingga lamunannya terpecah oleh sosok Zaidar yang mendekat menarik tangan Dara dan membawanya ke arah Mawar.


"Pelan-pelan Zai..." kata Mawar memperingati.


"Iya mah.. mah.. ini Tante Dara.." kata Zaidar dengan penuh semangat.


"Cantik... hai aku Mawar" kata Mawar menjulurkan tangannya.


"Mmmm ya mbak, eh Bu.. maaf..." Gugup Dara merasa Bagas tengah mengawasinya dengan lirikan mata tajamnya..


"Panggil mbak gapapa kok.. Mbok juga panggil aku mbak" kata Mawar penuh keramah tamahan..


"Mbak Ma... mawar? hmm saya Dara mbak, pengasuh Zaidar" kata Dara memperkenalkan diri.


"Zaidar banyak bercerita, terimakasih yaa sudah mau menjaga Zai.." kata Mawar.


"Sama-sama Mbak"


"Mawar... aku mau mandi dulu, kamu disini ya sama Zaidar.." kata Bagas seketika membuat debar jantung Dara memacu cepat.


Kenapa suara pak Bagas buat aku berdebar-debar.


"Iya mas.. jangan lama-lama ya.." kata mawar terdengar cukup manja.


Astaghfirullah, kuat hati kuat yuk kuat.. Dara menguatkan diri.


Bagas hanya melempar senyumnya yang sekilas Dara tangkap dengan mata kepalanya.


Dara setia menemani Zaidar bermain kala itu di hadapan Mawar yang hanya duduk di atas kursi rodanya.

__ADS_1


Mawar lebih memilih banyak diam... diam untuk memperhatikan cara Dara mencuri hati Zaidar.


*


Makan malam pun tiba, Dara sudah nampak gelisah tidak ada kesempatannya untuk izin pulang kembali kerumah sakit.


Hingga Dara masih dengan sikap bertangungjawab nya menyuapi Zaidar dengan sangat telaten.


"Mama... mama bermalam ya disini?" kata Zaidar dengan manjanya.


"Hemm gimana ya sayang" Mawar melirik ke arah Bagas.


"Tidak bisa Bagas, kasihan mama kalo bermalam disini.. " kata Bagas berusaha menolak dengan cara halusnya.


"Mudah lah, papa gendong mama yaa? bisa kan?" Sorek gembira Zaidar.


Dara tertunduk diam.


"Aku tidak akan merepotkan mu, Mas..." kata Mawar melempar senyumnya.


Astaga sakit sekali rasanya mendengar hal ini..


mereka akan tidur dalam satu ranjang.. Ah... ingin sekali aku menangis.. tapi malu rasanya, aku menangisi yang tak pasti.


Dara berusaha menahan emosinya juga air matanya dan ia memilih bergegas ke arah dapur membawa beberapa piring kotor...


Benar kata pepatah ..


Mendung tak berarti hujan..


Nyaman belum tentu bisa jadian..


Sakit.. sungguh rasanya pedih sekali...


Dara menghela nafasnya kasar sambil tertunduk..


"Aku pamit saja.. sudah waktunya aku pulang, Dara bermonolog seorang diri sambil mencuci piring, semntara mbok suti merasa tak enak badan dan tengah beristirahat di ruang Tama tersebut"


Usai menyelesaikan pekerjaannya...Dara melihat ketiga anggota keluarga itu tengah asyik menonton televisi bersama...


Dara mendekat dan berpamitan pada Bagas dan Mawar.


Dengan cuek Bagas memberikan jawaban "Iya" untuk dara.


"Hati-hati yaa Dara...di luar gerimis" kata Mawar, dan Bagas langsung menoleh ke arah jendela.


Hujan... kamu naik apa, Dara .. Bagas membatin..


"Hanya gerimis, mbak.. yasudah yaa pak, mbak saya pamit ojeg online saya sudah menunggu" kata Dara bergegas pergi.


Bagas nampak gelisah saat mengetahui Dara menggunakan ojeg online menuju rumah sakit malam itu.. aku harus apa? nampaknya dara masih sangat kecewa denganku.

__ADS_1


Mas Bagas kenapa jadi diam begitu? apa yang dia pikirkan?? Mawar membatin heran.


__ADS_2