
Astaga.. gue mabuk.. ada Dara jaga disini.... bajuku juga sudah ganti .. apa dara yang melakukan ini..
Bagas terbangun ia melihat Dara terlelap di atas karpet persis dibawah sofa dimana Bagas terlelap.
"akkkhh... pusing banget" Bagas mencoba beranjak dari tidurnya, ia duduk sambil memegang kepalanya.
Perlahan Bagas melihat ke arah jam di dinding.. menunjukkan pukul 6 pagi.
Bagas sibuk mencari ponselnya, lalu ia menghubungi Alex yang nyatanya masih belum dapat ia hubungi saat itu.
"Kenapa kamu belum bisa di hubungi, Paman" kata Bagas panik.
Bagas melihat ke arah Dara, betapa hiba hatinya melihat Dara terlelap di atas karpet yang tak seberapa tebal itu.
Bagas membangunkan Dara perlahan..
Dara dengan perasaan kaget pun bergegas duduk..
"Bapak.. maaf maaf saya ketiduran" ucap Dara panik.
"Tak apa... Lanjut Tidur lagi, di kamar Zai ." kata Bagas melihat Dara.
"Tidak pak, saya hemm saya sudah ga ngantuk" kata Dara gugup.
"Bapak sudah membaik kah? semalam bapak muntah" kata Dara menjelaskan.
Bagas sedikit terkejut, ia lupa bahwa dirinya mabuk hingga muntah dan menyusahkan Dara.
"Maaf dara, saya merepotkan kamu..." kata Bagas.
"Iya pak, tidak apa-apa.. " kata Dara.
"Bapak... boleh saya tanya sesuatu?" tanya Dara penasaran.
"Silahkan.." tambahnya.
"Hemm... bapak semalam menyebutkan nama mawar.. " kata Dara.
"Bapak tau saya kerumah sakit bersama pak Rega.. Apa pasien itu yang bernama?? hmm mawar?" kata Dara dengan sangat hati-hati, ia pun gugup.
Bagas nampak bodoh, ia bahkan tak sadar akan ucapannya semalam..
"Maaf pak, jika itu menyingung bapak.." tambah Dara merasa tak enak saat melihat ekspresi wajah Bagas.
"hemm... iya, dia adalah mawar .. " kata Bagas lalu ia tertunduk.
"Dia adalah ibu dari Ziadar..." Ucap Bagas pelan, namun jelas di telinga Dara.
Dara tercengang, ia tak menyangka bahwa Wanita yang terbaring tak berdaya adalah Ibu dari Zaidar..
"Hmm .. Jadi dia isteri bapak?" Kata Dara pelan..
Bagas hanya tersenyum tanpa terlihat raut wajah senang..
"Maaf... salah ya?" kata Dara yang lupa bahwa zaidar bukan darah daging Bagas.
Wanita ini benar-benar membuat ku seketika ingin tertawa.. Batin Bagas melepas senyumnya.
__ADS_1
"Buatkan saya sarapan, bisa? sebagai imbalannya saya akan ceritakan semua" kata Bagas merasa harus merelaksasi pikiran nya dengan mandi sejenak.
Dara melihat senyum Bagas..
"Oke deal.. sarapan apa?" Tanya Dara berdiri.
"Apapun itu, kalau bisa yang membuat perutku hangat ..." kata Bagas ikut berdiri.
"oke, siap bos" kata Dara memberi hormat pada Bagas..
*
Dara membuat cream sup dengan aroma yang menggugah selera..
Hanya itu yang bisa ia buat melihat beberapa bahan masakan yang terbatas.
Cuaca hujan sepertinya sangat cocok untuk menyantap cream sup di pagi hari.
Dara juga membuat beberapa lembar roti panggang sebagai pendamping.
Tiga puluh menit Dara berkutat di dapur..
Bagas nampak belum juga turun.. Dara memutuskan mengecek ponselnya melihat beberapa pesan disana..
Dara sempat terkejut melihat pesan singkat dari Rega padanya..
Bagaimana ini, pak Bagas bilang aku sudah di pecat.. tapi pak Rega menanti kehadiran ku di kantornya pagi ini...
Dara cukup bimbang..
"Waw aromanya..." puji Bagas, ia langsung duduk di mini bar yang berada di area dapur.
"Tidak makan di meja makan, pak?" kata Dara..
"Tidak, diisni saja.." tambah Bagas.
Dara tersenyum bergegas menyiapkan sarapan untuk Bagas, ponsel Dara masih terlihat menyala pada tampilan pesan singkat Rega..
Rega? apa itu dari rega??
Bagas yang tergoda pun memfokuskan matanya membaca pesan itu.
Kurang ajar, masih ya dia berani mengabaikan apa yang aku katakan... apa mau mu, Rega.. kamu pikir kamu bisa terus menginjak harga diriku .. Bagas membatin.
bergegas Bagas meletakkan ponsel itu sebelum Dara memutar badannya.
"kenapa hanya satu?" kata Bagas menerima hidangan yang Dara berikan.
"Ambil, makan bersama denganku" kata Bagas melihat Dara nampaknya tak mampu menjawab..Dara akhirnya mengikuti perintah Bagas, hingga keduanya makan bersama secara berhadapan.
"Kamu sudah saya pecat, kamu tahu kan?" kata Bagas membuat Dara mengangguk sambil menelan paksa sup cream di mulutnya .
"Detik ini juga, kamu saya terima kembali disini mengurus keperluan saya" Tambah Bagas membuat Dara bingung..
"Maksudnya pak??" tanya Bagas.
"Ya kamu bekerja lagi disini, masak sarapan dan makan malam untuk saya.." kata Bagas sambil memakan menu sarapannya.
__ADS_1
"Loh, kemana mbok Suti?" tanya Dara.
"Mbok mengurus mama, mama sangat nyaman dengan mbok" kata Bagas jujur.
Mana aku kuat bekerja disini tanpa ada Zaidar... aku ga sanggup mengingatnya..
"Bagaiman?" tanya Bagas melepas lamunan Dara.
"Saya gak bisa pak" kata Dara tertunduk, tak ada keberanian menatap wajah Bagas.
"Kenapa? ada apa?" tanya Bagas.
"Saya selalu mengingat Zaidar, pak .." kata Dara mendadak sendu.. ia meletakan sendok nya, menandakan selera makannya hilang.
"Maaf... " kata Bagas juga ikut meletakkan sendoknya.
"Dimana Zai? apa belum ada kabar sedikitpun" kata Dara mendesak.
Bagas hanya diam..
"Bapak juga belum bercerita, kenapa mama nya Zai berada dirumah sakit, terbaring tak berdaya penuh alat?"
"Dan kenapa pak Rega mengunjunginya, kemarin" kata Dara menyambung ucapannya.
Bagas terdiam.. ia seperti tengah menyiapkan kata-kata.
ia meneguk segelas air mineral yang sudah Dara sediakan.
"Maaf... mungkin ini terkesan terlalu ikut campur, tapi sejujurnya saya terlanjur masuk dalam perasaan antara saya dan Zai..." kata Dara begitu menujukan betapa dalamnya cinta tulus untuk Zaidar.
"Justru saya yang harusnya minta maaf, karena saya memperkerjakan kamu menjadi pengasuh Zai, kamu sampai sedalam ini mencintai dia.." kata Bagas.
"Dia memang spesial, selalu membuat siapa saja jatuh hati mencintainya.. kecuali mama saya". Kata Bagas lalu ia menghela nafasnya.
"Nyonya hanya belum mengenal Zai dari hati, pasti ada dasar yang membuat beliau begitu sensi kan?" kata Dara.
Bagas menatap Dara..
"Dara.. seandainya Zai akan kembali pada kedua orang tuanya, apa kamu akan ikhlas melepas dia?" kata Bagas seolah ucapannya menandakan perasaan gundah gulana di hatinya.
Dara terdiam sejenak, menatap raut wajah Bagas yang manpak sedih..
"Selagi Zai senang, bahagia dan sehat.. saya ikut senang pak.. hmm apa Zai sudah bersama mereka? bukankan ibunda Zai terbaring lemah di rumah sakit???" tanya dara bingung..
Bagas terdiam, ia beranjak dari kursi tinggi itu.. ia berjalan menuju sofa menyenderkan kepalanya disana.
Dengan spontan Dara mengikuti langkah Bagas.
*
Apakah seberat itu maslaah ini? Dara dan Readers membatin ,😅😅
*
Hai semua.. Apa kabar kalian di hari Senin ini?
jangan lupa yaa berikan dukungan gratis kalian berupa like komen rate dan vote .. jika ada rejeki boleh kirim bunga atau kopi yaaa... ❤️❤️❤️
__ADS_1