Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
RASA YANG SALAH


__ADS_3

"Ibu...." Dara menyapa ibunya memberikan salamnya.


"Zhufar kemana?" tanya Dara tidak .elihat sosok adiknya.


"Sedang pulang nak, dia tidak enak badan.. mungkin karena perjalanan jauh jadi masuk angin" kata Ibu menjelaskan.


"kamu sama siapa?" tanya Ibu melihat Dara seorang diri.


"Sama pak Bagas, tapi beliau sedang ke toilet dulu" kata Dara.


"Ayah bagaimana, Bu?" tanya Dara.


"Kata dokter Disni, ayah sudah ada peningkatan.. namun ya itu penyembuhan infeksi paru-paru nya tidak secepat itu sembuh, pelan-pelan dan sabar" kata Ibu.


"Kapan ayah bisa di pindahkan ke ruang rawat Bu?" kata Dara melihat begitu berkelas ruang perawatan yang Bagas berikan.


"Dua hari lagi, tadi ayah sudah perlahan sadar mau bicara satu dua kata.. Ibu senang sekali" ucap ibu mengutarakan.


"Tapi ibu jadi kepikiran soal biaya rumah sakit disini , Dara" kata Ibu meluapkan kekhawatiran nya.


Jangankan ibu, akupun demikian Bu..


Dara membatin bingung.


"Insya Allah Dara akan bayar dengan potongan gaji Dara Bu, ibu tenang saja yaa ga usah di pikirkan" kata Dara membuat ibunya tenang.


Tak lama datanglah Bagas bersama Alex, nampak mereka tengah berbincang. Bagas Memberikan salam hormatnya pada Ibu Dara di ikuti Alex yang melempar senyum nya pada ibu Dara.


"Pak Alex..." Sapa Dara.


"Ya Dara, Sabar yaa... ayahmu pasti lekas sembuh" kata Alex menenangkan.


"Terimakasih pak.. Bapak dari toilet juga? berdua?" kata Dara melirik juga ke arah Bagas.


"Jangan aneh-aneh pikiran mu.. Saya bertemu dengan Alex barusan di depan lift" kata Bagas menjelaskan.


"Owalah kirain saya habis lomba" kata Dara dengan konyolnya.


"Lomba? lomba apa?" kata Alex bingung.


"Lomba siapa yang paling cepat dia yang kalah" kata Dara tertawa.


"Tidak ada konsep yang begitu" kata Bagas.


"Sudah Dara, malu...Mereka ini atasan kamu" kata Ibu berbisik kecil pada Dara membuat dara melepas tawanya.


"Oh iya.. adikku sudah pulang, Pak .. Bagaimana aku antar ibu dulu untuk pulang?" kata Dara.


"Ibu jujur saja kurang tahan tidur di suhu berAC gini, meski sudah pake jaket tebal gini" kata Ibu yang memang tengah memakai sweater rajut.

__ADS_1


"Ibu, biar ibu saya antar.. Dara agar tidak capek biar stay disini saja.. " kata Alex memberi suaranya.


"Bagaimana, ibu?" kata Dara meminta pendapat ibunya.


"Ibu setuju saja, besok pagi ibu akan kembali.." kaya Ibu pada Dara.


"Ah saya hampir lupa.. ini buat makan malam" kata Alex memberikan beberapa makanan untuk malam.


"Ibu masih kenyang, sejak tadi ibu ngemil terus" ucap jujur ibu.


"Bawa pulang aja Bu, buat ibu dan Zhufar..ya?" kata Dara.


"Iya bawa aja Bu..." tambah Bagas.


Menyiapkan diri, lalu ibu dan Alex bergegas pergi meninggalkan rumah sakit sebelum terlalu malam , mengingat ibu juga harus beristirahat yang cukup.


Tinggallah Bagas dan Dara..Dara nampak kurang nyaman jika harus bermalam disana berdua dengan Bagas, terlihat jelas dari gelagatnya.


"Pak.. bapak pulang saja ya? saya berani kok" kata Dara pada Bagas yang tengah sibuk memainkan ponselnya.


"Kamu ngusir saya?" kata Bagas sedikiit ketus.


"Bukan ngusir .. tapi tak enak saja pak di lihat orang.." ucap jujur Dara yang memang merasa risih.


"Perduli sekali perkataan orang" celetuk Bagas mulai kesal.


"Pak .. hargai saya juga, saya kan permpuan pak.. riskan sekali mendapat cibiran.." kata Dara mencoba mempertahankan argumennya .


"Ngaco... mana ada kekasih" kata Dara menimpali ucapan Bagas.


"Lalu? malu sama siapa? mereka tidak mengenal kita kan?" kata Bagas dengan penuh percaya diri.


Dara mulai kesal..


"Bapak sadar ga si siapa saya? saya hanya seorang pengasuh anak bapak, dan bapak sadar ga bapak ini siapa????" ketus dara berucap nampaknya Dara juga mulai memuncak emosinya.


Bagas terdiam..


"Saya hanya mau menemani kamu, itu aja! Salah???" timpal Bagas tak kalah emosi.


"Salah!!! Jelas salah... Bapak harusnya sadar siapa bapak... Bapak itu masih sah menjadi suami Mbak Mawar... ingat itu pak" kata Dara kesal.


Bagas tertegun diam... Tangannya ia kepal menahan emosi, matanya memicing penuh kekecewaan dan kekesalan.


"Saya tidak mau di anggap mencuri kesempatan pak .. mendapatkan perhatian lewat Ayah saya saja sudah lebih dari cukup..." kata Dara menekan ucapannya.


"Pikiran macam apa itu??!" kesal Bagas.


"Pikiran yang sejatinya memang menjadi beban pikiran saya juga pak.. Apa bapak memikirkan saya? jika banyak yang mencibir saya atas kedekatan kita yang ga wajar ini" kata Dara kesal.

__ADS_1


Rasanya memang ingin aku luapkan semua isi hatiku selama ini.. beban perasaan yang tak kunjung menemui jawaban.. aku kenapa dan aku harus bagaimana??? Dara membatin dalam diam .


"Ohh.. Beban ya kamu bilang? saya beban untukmu??" ucap Bagas berjalan pelan mendekati Dara.. Dara ikut melangkah mundur hingga dirinya benar-benar terpojok di dinding.


Bagas menatap Dara, begitupun sebaliknya.


Debar jantung mereka saling bersahut cepat dan kencang..


"Kalo saya, saya bilang saya nyaman dengan mu.. bagaimana??? bagaimana? apa itu beban?" Bagas berucap dengan intonasi pelan dan lembut di depan wajah Dara, hinga hembusan nafas Bagas teras di bibir Dara.


apa maksudnya? apa maksudnya dia nyaman denganku.


"Diam? kamu diam?" kata Bagas semakin mendekatkan bibirnya menyatu dengan bibir Dara.


Merasa bingung,dan shock .. Dara hanya diam saat Bagas mengecup lembut bibir Dara dengan cukup lama.


Ini salah!!!! Dara tersadar setelah terlena persekian detik merasakan manis bibir Bagas.


Dara me dorong tubuh Bagas..


"Bapak keterlaluan!!!!" kata Dara sambil menyapu bersih bibirnya menggunakan telapak tangannya.


Dara merasa bingung..


"Bapak jahat..Bapak masih memiliki isteri, mbak mawar masih hidup dan tengah berjuang untuk bangkit..Tapi bapak.?? bapak malah membuat sebuah rasa yang salah, rasa yang akhirnya juga ada pada diri saya!!" Dara berucap cukup kencang di ruang tunggu VIP itu.


Bagas terdiam sambil memegang bibirnya merasa sedikit bersalah saat itu.


"Bapak memberikan perhatian secara berlebih ke saya, membuka diri bapak pada saya... saya tau saya juga salah, saya sadar..! Tapi saya ingin menghentikan ini semua, saya mohon.. Ingat mbak Mawar, ingat Zaidar..." Dara berucap dengan bibirnya yang bergetar.


"Kamu tidak salah!! saya yang salah karena sudah menyimpan kenyamanan pada kamu seorang gadis yang mampu membuat saya terpikat" ucap Bagas semakin membuat Dara tak kuasa menahan perasaannya..


Aku ingin keluar dari rasa ini, ini salah... Tapi, kenapa pak Bagas malah mengungkapkan hal yang tidak ingin aku ketahui..


Dara tak lagi mampu mengontrol dirinya dalam sebuah tangis... Dara berlari keluar ruangan meninggalkan Bagas seorang diri disana.


"Arrrgghh" kesal Bagas atas situasi yang tidak ia sangka akan terjadi begitu spontanitas itu.


Kenapa Salah??? Kenapa harus Salah????!!!!


*


*


*


🤧🤧😭😭


Like komen rate dan vote kalo mau di tambahin..

__ADS_1


tambahin bawang boleh ga??? 😭😭


__ADS_2