
"Pak Bagas" Dara dengan sengaja menegaskan panggilannya saat melihat sosok Bagas mendekat.
Bagas melirik ke arah Rega..
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Bagas cukup ketus.
"Papa.. papa apa benar papa dari rumah sakit??" Zaidar langsung menujukan sikap antusiasme nya kala itu melihat Bagas datang.
dari mana Zaidar tau... Bagas membatin sambil melirik dara.. Dara menggelengkan kepalanya.
Rega... ini pasti ulahnya... apa mau nya anak ini... Kesal Bagas sambil mengepalkan tangannya.
"Iya Zai .. " kata Bagas menjawab.
"kenapa papa ga ajak aku? aku rindu mama"
Hahhh kenapa aku jadi ada rasa takut dan khawatir mendengar ucapan Zaidar, ya? Dara membatin.
Bagas menghela nafasnya..
"Papa akan ajak kamu kesana, sekarang kita cari makan siang dulu..." ucap Bagas.
Ziadar bersorak senang.
Mereka hendak meninggalkan lokasi, Dara dan Zaidar melangkah lebih dulu..
"Bisa kah kamu tidak mencampuri urusan keluargaku, Rega?!" kesal Bagas menahan amarahnya.
"Mencampuri? lucu sekali kamu ini kak" kata Rega terkekeh.
"Jauhi anakku dan mawar!" kata Bagas spontan lalu ia pergi begitu saja meninggalkan Rega.
Meninggalkan? aku yang meninggalkan? hahaha lucu sekali permintaanmu Kaka... Batin Rega dengan tatapan sinisnya .
"Apa bapak akan mengajak zaidar bertemu mbak mawar?" tanya Dara pelan sambil berjalan beriringan.
"Itu pasti, waktunya kapan saya belum tahu .. mengingat kondisi mawar belum stabil.." ucap Bagas pada Dara.
Mereka pergi kesebuah restoran untuk menyantap makan siang yang cukup telat dari jam nya kala itu..
Bagas berbicara dengan penuh kelembutan, memberi pengertian pada Zaidar untuk tetap mendoakan mawar, meski dirinya belum bisa menemui mawar saat itu..
Zaidar sempat kecewa namun ucapan Dara lagi-lagi membuatnya luluh dan memahami.
Usai makan sejenak Bagas meluangkan waktunya untuk mengantar kembali Dara dan Zaidar pulang ke apartemen.
Zaidar yang tertidurpun harus di gendong menuju kamarnya oleh Bagas.
"Pak... mau kopi?" tanya Dara.
"Boleh... saya tunggu di ruang kerja ya, Dara" kata Bagas, dara mengangguk mengerti.
Langkah Dara nampaknya sudah tidak seberapa canggung lagi untuk masuk keruang kerja Bagas yang terlihat cukup private itu.
Dara memergoki Bagas tengah memandang wajah cantik Mawar dari sebuah foto yang terpasang di sebuah figura kecil.
__ADS_1
"Bapak melamun?" kata Dara saat Bagas terkejut sewaktu Dara masuk.
"Ah tidak..." elak Bagas yang langsung menyimpan foto mawar.
"Kopinya... ini cemilannya" kata Dara sambil meletakan kopi dan beberapa potong cake.
"Di luar masih hujan deras, saya malas kembali kerumah sakit" ucap Bagas membuka pembahasan.
"Kenapa? nanti kalo Mbak Mawar bangun pasti mencari bapak" kata Dara sambil memeluk nampan yang ia pegang.
"Hem.. tidak.. jikalau pun iya, akan ada orang yang menghubungi saya..." kata Bagas yang nampak tak bersemangat
saat itu.
"Yasudah saya mau kembali ke bawah, permi......"
Belum selesai Dara berucap Aliran listrik
padam seketika..
"Loh.. kok padam listrik... pakkkkk" Dara tak dapat melihat apapun kala itu.
"Iya saya juga tau" kata bagas mendekati Dara sambil menerka-nerka
langkahnya.
"Pak.. kasian Zai.. nyalahkan senter ponsel bapak" pinta Dara.
Bagas sudah berdiri meraih ponsel di sakunya ...
Bagas menatap indah wajah Dara terbias cahaya ponsel yang tak seberapa menerangi ruangan itu.
Dara pun terdiam saat Bagas menatapnya tanpa berkedip.. Jantung keduanya nampak berpacu cukup kencang, andai saja ada pengeras suara, mungkin sudah terdengar irama bersahutan dari detak jantung keduanya.
Bagas semakin mendekati Dara hingga Dara benar-benar terpojok ke lemari buku.
"Daraaa" pelan Bagas menyebut nama Dara.
"Saya boleh jujur?" tambahnya.. Dara hanya mengangguk, lidahnya kaku saat itu.. tidak bisa berkata apa-apa.
Kenapa semakin berdebar cepat jantungku ini... Tuhan aku takut pipis di celana kalo grogi macam ini.. Konyolnya
Dara membatin.
"Dara.. Saya merasa nyaman atas keberadaan kamu disini" kata Bagas.
Dara membulatkan matanya, nadanya ia tahan karena Bagas begitu dekat dengannya .
Nafasku semoga wangi .. untung tidak makan petai atau sambal terasi tadi .. Batin Dara semata-mata membuat dirinya agar lebih tenang.
Tunggu... maksud pak Bagas apa? dia nyaman? nyaman yang bagaimana? kata Dara yang baru saja mencerna ucapan Bagas.
Seketika cahaya ponsel Bagas redup hingga mati.. nampaknya Bagas benar-benar tidak ingin menekan tombol on apalagi menyalahkan senter pada ponselnya.
Dara semakin gugup ..
__ADS_1
Ini kenapa jantungku berdebar
cepat sekali... ini melebihi ujian praktek di sekolah waktu dulu...
Dara semakin terkejut saat tubuhnya di dekap oleh Bagas.. Bagas memeluk Dara satu tangan dara yang memegang nampan pun mendadak lemas melepas nampan itu hingga terjatuh di lantai.
"Biarkan seperti ini dulu" pinta Bagas semakin erat memeluk Dara.
"Saya bimbang dengan hidup saya, Dara.. Tidak ada kejelasan kedepannya jika saya masih di rundung rasa bimbang.."
"Dara .. maafkan saya harus seperti ini, saya merasa berparuh beban saya hilang saat ini"
Dara masih sangat shock atas perlakuan Bagas, disisi lain dara turut merasa senang dan nyaman mendapat pelukan itu, namun di lain sisi dara juga merasakan dirinya terlalu mudah membiarkan Bagas memeluknya.
Aku harus apa? pak Bagas masih resmi menjadi suami mbak Mawar...
Astagaaaaaa... rasa apa ini, kenapa begini? semakin lama aku semakin larut dalam rasa nyaman...
Dara memejamkan matanya, tanpa mereka saling tahu, Bagas juga menutup matanya, ia menyenderkan kepalanya di bahu Dara ..
Gak .. gak boleh.. pak Bagas itu suami sah mbak Mawar .. ga boleh aku begini, ini akan menjadi Boomerang dalam hidupku ..
"Paakk.... Apa-apan ini" Dara mendoring pelan tubuh Bagas.
Bagas terkejut bergegas ia menyalahnya ponselnya.. yaa hanya layar ponselnya, kemudian ia menyalahnya senter ponselnya untuk melihat jelas raut wajah Dara.
Dara nampak marah dan kesal saat itu..
"Dara, kamu marah?"
"Pertanyaan bapak tak masuk akal sekali" kata Dara bergegas meninggalkan Bagas meraba jalan yang gelap itu.
"Biasanya genset langsung beroprasi, apartemen macam apa si ini" gerutu Dara menutupi kekecewaannya.
Dara tidak langsung turun menuju kamarnya, ia menuju kamar Zaidar kala itu.
Dara duduk di tepi kasur Zaidar sambil menopang wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Aku takut rasaku juga ikut terbawa... aku takut jatuh cinta.. terlebih dengan orang yang salah... Aku tidak bisa seperti ini terus, ini tidak sehat untuk hatiku kedepannya..
Dara merenung sejenak , secara bayangan Dara masih merasakan hangat dekapan Bagas.. Ini adalah kali pertama Dara di peluk dengan rasa yang lain ia rasakan..
Rasa apakah ini? kenapa seperti ini? senang, gundah gulana, dan takut...
*
*
*
Helllw everyone, apa kabar?
yuk terus dukung karyaku dengan dukungan gratis kalian berupa rae, like komen dan vote yaa ..
jika ada rejeki lebih lempar bunga atau hatinya juga boleh...
__ADS_1
TERIMAKASIH 💋🥰