Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
END


__ADS_3

Dua hari sudah Bagas dan Dara sama-sama tak sadarkan diri, semua tak putus asa kala itu untuk terus berdoa memohon dan melakukan segala yang terbaik untuk keduanya. Malam itu, bayi yang baru di lahirkan dua hari itu


menangis, ruangan bayi kala itu hanya terdengar bising karena tangisan buah hati BaDar (Bagas Dara).Mawar yang di minta untuk dating keruang bayipun akhirnya menggendong puteri kecil yang memiliki pipi merah itu, mawar tak kuasa menhan tangisnya saat melihat bayio itu. Pikirannya Kembali terhanyut dalam kesedihan saat itu.


Sementara itu, Rega tengah berbincang dngan dokter yang menangani Bagas, secara medis tidak ada luka yang serius yang di alami oleh Bagas, dokter meyakini bahwa Bagas akan sadar kecuali tuhan berkehendak lain Rega berjalan di koridor rumah sakit yang nampaknya sudah mulai sepi karena jam besuk sudah habis, hari juga sudah cukup malam saat itu.


Rega duduk usai membeli minuman dingin pada mesin. Seorang pria paruh baya menghampirinya, bertanya satu dan lain hal pada Rega. Sifat Rega yang tertutup


kini berubah seketika.. seolah ingin melepas penatnya, ia pun bercerita dengan lancarnya seolah ia sudah sangat mengenal lama sosok pria paruh baya itu hingga pada akhirnya pria tua itu berkata.


“Mereka pernah berjanji dalam hatinya, untuk hidup Bersama sehidup dan semati.. maka dalam keadaan seperti ini lebih baik dekatkan mereka, agar raganya juga Bersama mendekat, bawa saja puterinya mendekat untuk merasakan setidaknya hangat berada di dekap orang tuanya. Jika Tuhan menghendaki mereka akan saling menguatkan dan Kembali sehat untuk anak-anbak mereka.. “ Ucapan pria tua itu membuat Rega diam seketika.


“mengapa saya sama seklai tidak terpikir ya paman? Saya dan


isteri juga bis amnejaga keduanya dalam satu lokasi saja, tidak harus berpisah seperti ini membagi tugas” ucap Rega terkekeh kecil atas pikirannya yang memang sedang kalut kala itu.


“Paman.. kalau begitu, saya pamit.. saya ingin mengajukan hal ini terhadap pihak rumah sakit” ucap Rega bergegas pergi meninggalkan Pria paruh baya yang memakai kemeja hitam dengan topi sport hitam.


Pria itu tersenyum melepas kepergian Rega..


Malam itu Rega berusaha memperjuangkan sekali keinginan nya untuk mempersatukan ruangan Dara dengan suaminya.


Malam itu Bagas yang tidak menggunakan banyak alat seperti Dara, resmi di pindahkam persis berada di samping Dara.


Ibu Dara menangis sejakd dua hari ini melihat anak juga menantunya tengah berbaring tak sadarkan diri. Munajat cinta dalam doa ia lantunkan selayaknua doa dan harapan seorang ibu yang mencintai anaknya sepenuh hati.


Malam itu, ibunda Dara mengaji bersama Zhufar dan juga Susan.. mereka sengaja datang untuk mengirimkan doa agar Tuhan memberikan keajaiban untuk keduanya.


Hampir satu jam lamanya ibunda Dara mengaji sambil menangis sesekali ia melihat kearah anak perempuannya yang selama ini sudah berjuang untuk kehidupan yang layak untuk kuluarganya.


Sebuah pergerakan terjadi, Bagas menggerakan tangannya sesaat setelah ibu memegang telapak kaki menantunya dan berharap dalam hatinya agar ia mampu berjuang untuk kembali bersama membahagiakan orang yang mencintainya.


Susan melihat pergerakan itu bergegas keluar ruangan, yang sangat steril dan private itu. Auster jaga yang di tugaskan khusus dengan cepat menghubungi dokter. Ia pun memeriksa keadaan Bagas.


Ibu Nia yang tidak pernah pulang dari rumah sakit juga akhirnya masuk ke ruangan itu dengan tangisnya.


"Tunggu dokter datang ya bu.. " ucap suster saat Ibu Nia menyanyakan keadaan Bagas.


Tak lama Rega Masuk dengan dokter.


"Saya harap tenang.. kalian bisa mundur sedikit memberi kami ruang untuk menjalani pemeriksaan" ucap Dokter itu dengan tenang.


Kompak mereka melihat dokter memeriksa Bagas dengan jarak dua meter. Tangis mereka kini tertahan, hanya air mata yang mengalir. Harapan terus di panjatkan serta doa yang tak juga henti mereka ucapkan atas kesembuhan keduanya.

__ADS_1


"Paman...." ucapan pelan meringis dan membuat semua terkejut tak asing mendengar suara itu.


"Allah, yaa Allah, Allahuakbar... Bagas itu suara yang mama rindukan" ucap haru bahagia ibu Nia sambil memeluk Mawar.


"Allhamdulillah " Ucap dokter namun kode tangannya pada keluarga membuat semuanya terdiam menahan langkahnya untuk mendekat ke arah ranjang.


"Pak Bagas? Kenal saya?" Ucap Dokter.


Bagas menggelengkan kepalanya, lalu melihat ke arah sekitar.


"Saya???"


"Tenang, bapak baik-baik saja"


"Siapa di samping sana" menujuk ke arah Dara berbaring.


"Pasien" ucap Dokter.


"Pak Bagas pusing? Sesak?" Tanya Dokter lalu Bagas menggeleng.


"Paman? Apa pasien itu Paman saya? Alex namanya" ucap Bagar membuat Ibu Nia tak kuasa menahan suara tangisnya lagi.


"Siapa menangis" tanya Bagas.


Bagas terkejut mendengar itu di tambah ibu Nia dan yang lainnya munlai mendekat.


"Kak"


"Bagass..."


pelukan hangat di berikan ibu nia pada puteranya yang tengah berbaring.


"Mah Dara sudah melahirkan? Mana anaku?" Ucap Bagas. Kenapa Dara diam saja?" Tambah Bagas bertanya .


"Kondisinya sangat stabil, seperti hasil pemeriksaan saya bahwa pak Bagas tidak ada yang serius" ucap dokter saat Rega meminta pendapat Dokter soal kejujuran yang harus Bagas ketahui.


Perlahan Rega menjelaskan runtunan cerita secara detail. Bagas menangis dan kecewa saat tau paman alex tidak dapat bertahan.


Ia juga semakin kecewa saat Dara harus terbaring koma karena melahirkan dalam keadaan yang cukup membahayakan kedua nyawa.


Bagas duduk perlahan, pelan namun pasti ia mendekati Dara, memeluknya dengan tangis.


"Bangun.. aku sudah bangun, sehat aku sudah sehat, aku ingin melihat anak kita aecara bersamaan seperti janji kita dulu.. kamu belum melihat BabyGa, aku juga sama.. mari kita wijudkan keinginan kita.. sayang.. bangun aku merindukan kamu" ucap Bagas.

__ADS_1


Dara hanya memberi respon berupa pergerakan kecil pada tangan nya. Namun tak ada yang menyadarinya.


Bagas memaksakan diri berbaring di samping isterinya. Ia terus berbisik menceritakan semua hal yang pernah mereka lakukan bersama..


"Bagas.. kamu ingin melihat anakmu?" Tanya Ibu Nia pelan pada puteranya.


"Tidak mah, Bagas sudah berjanji pada Dara kita akan sama sama melihatnya dalam satu waktu yang sama..." ucap Bagas begitu sendu.


Malam itu menjadi sangat haru, Bagas akhirnya lelah dalam tangisnya pun tertidur. Begitu juga dengan beberapa anggota keluarga lainnya.. mereka akhirnya terlelap karena kantuk terasa.


Adzan subuh berkumandang jelas di ponsel milik ibu yang tengah terlap di luar ruang perawatan Bagas dan Dara.. ibu Dara terbangun lau masuk kedalam ruangan anaknya. Betapa terkejutnya ibu saat melihat Dara tengah membuka matanya, mengusap lembut kepala suaminya.


"Allahuakbar.. Daraaaaa" teriak ibu membuat susan, rega dan mawar terbangun dan terkejut melihat ibu Dara yang masih berdiri di ambang pintu.


"Ibuuuuu" Dara bersuara lemas.


"Buuuu" tanbah dara dengan lemas.


"Yaa Allah Dara kamu nak? Kamu sudah sadar" ucap Ibu mendekati anaknya sambil menangis.


Bagas kemudian ikut terbangun saat mendengar suara bising.. Bagas twekejut melihat mata indah isterinya. Wajah pias Dara menambah tangis Bagas saat itu.


*


*


Lima jam usai melakukan observasi dan penenangan khusus untuk bagas dan Dara, akhirnya suster membawa BabyGa masuk kedalam ruangan tersebut.


Semua keluarga juga sudah menanti momen bahagia itu. Tangis haru bahagia menjadi satu saat itu. Seluruh kelurga dan kerabat berkumpul.. hanya paman Alex yang tidak berada disana bersama mereka..


Terimakasih paman sudah menjadikan aku laki-laki dewasa.. ternyata ucapan terakhirmu menjawab segala tanyaku... aku ingat saat kamu berbisik padaku paman, kita akan terpisah oleh waktu. Aku akan merasakan nikmatnya beristirahat karena aku lelah dengan pekerjaan.. aku akan melihat wajah pias isteriku, aku dan dara akan melihat secara bersama puteriku lahir ..


Terimakasih Tuhan, nikmat ini sungguh luar biasa untuk kami.. terimakasih sudah kembali membuat keceriaan pada kelurga kami..


*


*


*


TERIMAKASIH SAYA UCAPKAN ATAS DUKUNGAN DAN SUPPORT TEMAN-TEMAN SEMUA.. MASIH BANYAK KEKURANGAN DAN KELEMAHAN SAYA DALAM BERKARYA, BAHAGIA SELALU UNTUK KITA..


Mei-

__ADS_1


__ADS_2