
Bagas nampak gelisah memikirkan perjalanan Dara malam itu.
"Papa, Zaidar ngantuk..." kata Zaidar sambil menguap.
"Yasudah ayo tidur.. papa temani" kata Bagas berdiri dari duduknya.
"Zai ingin tidur bersama mama juga, ingin kita tidur bersama" kata Zaidar polos.
Bagas terdiam melirik ke arah Mawar yang nampak melempar senyumnya.
"Ayolah papa.. plisss" kata Zaidar memohon.
"Mas .. Kasihan Zai" tambah Mawar pada Bagas.
Bagas yang tengah pening memikirkan Dara, segera mungkin menuruti permintaan Zaidar.
Zidar memimpin langkah, Bagas menggendong Mawar menaiki anak tangga.
Dengan Manja Mawar menyenderkan kepalanya di dada bidang Bagas.
Aku merindukan kamu, Mas...Batin Mawar.
Merka masuk ke kamar utama Bagas, Zaidar lebih dulu naik ke atas kasur dan di ikuti oleh Mawar yang Bagas letakkan di tepi kasur itu.
Mawar meletakkan ponselnya di nakas kecil, ponsel itu menyalah menampakkan foto pernikahan Bagas dan Mawar. Tentu pandangan Bagas terfokuskan kesana.
"Foto itu masih tersimpan di media sosialku, Mas" kata Mawar berucap pelan.
Bagas diam dan acuh, ia berjalan kesisi lain untuk merebahkan tubuhnya.
"Mama, bacakan aku cerita .." Pinta Zaidar.
"Mama tidak bisa bercerita, Zai.. belajar untuk tidur tanpa dongeng yaa" kata Mawar membuat Bagas sedikit tersentak dengan jawaban menyepelekan Mawar.
"Tapi, Zai sudah terbiasa mendengarkan cerita dari Tante Dara.." kata Zaidar.
"Tidak penting sayang, yang penting kita berdoa.. sudah tidurlah.." kata Mawar membuat Zaidar terpaksa harus tidur tanpa mendengarkan sebuah cerita.
Bagas masih terjaga, hingga Zaidar terlelap dalam tidurnya Bagas beranjak..
"Mas... kamu mau kemana?" Tanya Mawar sambil berusaha duduk.
"Hanya ingin cari udara segar" kata Bagas singkat.
"Mas, apa kamu tidak merindukan aku? kenapa kamu jadi cuek begini, Mas" kata Mawar seolah menuntut perhatian lebih dari Bagas.
"Mawar, tolong jangan terlalu mendramatisir keadaan.. Kamu sudah cukup dewasa dan kamu harusnya bisa peka terhadap sikapku" Kata Bagas.
__ADS_1
"Apa maksudmu, Mas? aku isterimu" Kesal Mawar melihat Bagas memakai jaket hitamnya.
"Yaa, Tolong jangan membuat kepalaku semakin pening yaa.. Kita lihat saja kedepannya akan seperti apa.. aku tidak ingin terlalu banyak berbicara biar Rasa yang berkata.." kata Bagas kemudian ia pergi meninggalkan Mawar dan Zaidar yang sudah terlelap.
Jahat kamu mas, Jahaaattt!!! jerit batin Mawar.
*
Bagas mengendarai mobil sportnya menembus malam yang di hiasi gemericik hujan rintik-rintik. Suasana itu semakin menambah suasana hati Bagas nampak semakin gelisah memikirkan Dara.
Kemana Bagas mengendarai mobilnya? Hemm Yaa, Bagas mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
Bagas menuju ruangan dimana orang tua dara menerima perawatan medis, informasi yang Alex berikan cukup membuat Bagas percaya diri untuk datang berkunjung ke rumah sakit meski hari sudah menjelang tengah malam.
Bagas membuka ruang jaga pasien VIP, tatapannya kini beradu saat
Dara terkejut dan menoleh ke arah pintu.
"Pak.. Bagas..." debar jantung Dara mulai terpacu cepat saat itu. matanya terbelatak melihat sosok Bagas.
Bagas melangkah mendekat, tatapannya membawa perasaan tenang usai melihat sosok Dara.
Dara bergegas berdiri dari sofa bed, meletakan satu cangkir teh panas di meja.
"Bapak ngapain kesini" Dara seolah melangkah menjauh.
"Saya hanya bosan dirumah" ucapnya begitu ringan.
"Lucu sekali bapak ini, ada isteri dan anak masih saja berkata bosan.." kata Dara dengan ucapan meremehkan.
Dasar buaya!!! Kesal Dara membatin.
"Kamu, kenapa menghindar terus dari saya? kenapa?" kata Bagas.
Lagi-lagi ruangan tersebut menjadi saksi pertengkaran keduanya.
"Karena saya sadar, saya tahu siapa saya dan dimana posisi saya saat ini saya tahu.. " kata Dara tegas.
"Oh.. Begitu kah? Lalu bagaimana dengan saya?" kata Bagas mendekati Dara.
"Tanya sama diri bapak sendiri, memang saya cenayang" kesal Dara.
"Hemm Sudah saya tanya, jawabannya ada di kamu" kata Bagas.
"Apalagi sih pak? bapak ini jangan aneh-aneh" kesal Dara.
"Tidak aneh-aneh, saya hanya ingin ungkapkan saya nyaman berada di samping kamu, saya merasakan sebuah rasa yang pernah hilang.." kata Bagas membuat Dara tercengang.
__ADS_1
Hah??? di tembak kah aku ini?? hemm... cowok bukannya aku suka kamu atau aku cinta kamu yaa? kenapa pak Bagas curhat gini? - Dara terdiam sambil merasakan debar jantungnya yang cukup kencang.
"Kamu pahamkan Dara? saya menyayangi kamu" kata Bagas dengan lantang.
Jangan pingsan , oke dara.. jangan pingsan ini ujian dan kamu harus menjawabnya... oke yuk bisa bisa .. semangat! Dara membatin dengan konyolnya.
"Hemm Gak saya gak mau memahami itu semua" kata Dara berusaha bersikap acuh.
"Kenapa? apa ada yang salah?" kata Bagas menuntut jawaban Dara.
"Tentu salah!! Bapak belum menyelesaikan hubungan bapak dengan mbak mawar, bapak berlagak seperti buaya air tawar yang mendarat mencari mangsa baru di daratan" kesal Dara berbicara dari hatinya.
"Oke saya salah disini, tapi saya dan Mawar tidak akan bisa bersatu kembali, saya akan membicarakan semua nya Dara.. tapi saya masih menanti keadaan Mawar agar lebih baik lagi... " Bagas menjelaskan.
"Saya tidak ingin di anggap sebagai perebut suami orang, malu" jujur dara menambahkan dengan kesalnya.
Bagas terdiam.. ia duduk sambil tertunduk dan memijat kepalanya yang pening.
"Nyatanya kamu memang merebut hati yang hampir mati ..." pelan bagas berucap, dara mendengar namun ia memilih diam.
Apakah pak Bagas benar-benar jatuh hati padaku..??
Bagas menghela nafasnya kasar lalu ia berdiri..
"Beri saya waktu, bisa?" kata BGas mengejutkan Dara.
"Waktu? waktu untuk apa?" tanya Dara bingung.
"Waktu untuk menyelesaikan ikatan tanpa cintaku lagi dengan mawar.. " kata Bagas sedikit memberi penekanan yang membuat dara terkejut heran.
"Loh.. kenapa? Bapak bisa mencoba lagi kan? mencoba memperbaiki akan lebih indah, pak" kata Dara cukup berani memberi tekanan pada Bagas.
Bagas tidak menjawab, ia mendekati Dara.. Dara kembali panik, jantungnya berdebar kencang..
Duh mau di cium lagi yaa?? aduhh suka sih tapi.. ahh malu banget dia bukan siapa-siapa aku ..Batin Dara dengan konyolnya.
"Debar jantungmu tembus ke gendang telinga ku, Dara" ledek Bagas semakin membuat Dara salah tingkah.
"Tenang, saya tidak akan mencium mu lagi... saya menunggu kamu saja yang akan mencium saya" ucap Bagas membuat mata Dara membulat sempurna.
Konyol sekali singa yang menjelma manjadi buaya air tawar ini... Batin Dara.
"Disini..." Bagas menujuk dadanya hingga tersentuh.
"Saya menyimpan rasa yang cukup besar untukmu" Tambah Bagas berucap.
"Mungkin saat ini, yaa saat ini.. saya masih terperangkap dalam cinta semu sebelumnya yang salah..." pelan Bagas berucap.
__ADS_1
"Dan saya yakin, kamu juga memiliki satu rasa yang sama? jujurlah" Bagas berucap pelan.. Dara tertunduk tak ingin menjawab.. meski hatinya tengah bersorak gembira.
"Matamu, matamu menandakan sebuah rasa yang sama antara hati kita..." Ucap Bagas lalu ia melayangkan kecupan di pucuk kepala Dara yang tengah tertunduk, Bagas memeluk Dara erat.