Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
HARAPAN MAWAR


__ADS_3

"Pak Rega..." Dara berucap pelan.


"Pak, itu bukannya pak Rega??" Jari telunjuk Dara menujuk ke arah dimana ia melihat sosok Rega.


"Iya.. itu Rega" Kata Bagas membenarkan.


"Ada mama juga" Tambahnya lalu ia menghela nafasnya.


"Kita pindah restoran saja" kata Bagas memutar badannya.


Dara dan Zaidar tidak dapat berkata apa-apa, Dara tentu sudah paham jika mereka di pertemukan di tempat umum akan terjadi hal yang tentu tidak di inginkan, Semntara Zaidar yang masih terbilang anak-anak juga paham bagaimana posisinya di mata sang nenek.


Dara berushaa tidak membahas hal


tersebut selama keberadaan mereka bersama Zaidar.


Mereka kemudian tiba dia sebuah restoran masakan Jepang yang menjadi salah satu pilihan Zaidar karena disana terdapat arena bermain yang cukup menaik perhatian anak-anak.


Dara hanya memesan satu minuman begitu juga dengan Bagas. Sambil Dara menyuapi Zaidar, bagas sibuk dengan tablet yang ia gunakan untuk menunjang pekerjaannya.


Zaidar menyelesaikan makanya lalu ia diberi waktu untuk bermain sejenak di arena play ground yang disediakan restoran.


"Kamu benar gamau pesan makanan lagi?' tanya Bagas pada Dara.


Dara menggelengkan kepalanya.


"Aku masih kenyang, pak" kata Dara.


"Dara, kenapa masih memanggilku bapak.. saya tidak terlalu tua, kan?" kata bagas.


"Hemm sudah biar saja, saya masih belum terbiasa..." kata Dara terkekeh.


"Oh iya, Hmmm.. aku mau bicara soal mawar" Bagas membuka pembahasan baru.


"hemm, kenapa dengan mbak mawar?" kata Dara dengan rasa penasarannya.


"Dara sudah di perbolehkan pulang, dia sudah terlalu stres berada di rumah sakit ." kata Bagas.


Dara terdiam.. Jantungku kenapa mendadak seperti terhenti begini... Dara membatin merasa linglung.


"Hmm.."


"Bagus dong.. jadi Zai bisa kembali merasakan kasih sayang ibunya.. iya kan?" kata Dara dengan ucapan penuh keceriaan.


"Mungkin itu sisi yang bisa orang lain nilai.. tapi mawar tidak akan tinggal di apartemen" kata Bagas mengejutkan Dara.

__ADS_1


"Loh kenapa? kenapa tega sekali" kesal Dara mendengar pernyataan yang di lontarkan Bagas.


"Yaa karena, keadaan apartemen tidak memungkinkan dia untuk tinggal disanaa, Mawar masih harus menggunakan kursi roda.." kata Bagas menjelaskan.


"Hemm bagaimana dengan Zaidar.. dia pasti kecewa..." ucap Dara tak mungkin membuat Zaidar bersedih.


"Dia sudah paham..." kata Bagas singkat meski itu tidak sepenuhnya benar.


"Dara... kamu bisa kan tetap membantu saya berada di samping saya??" kata Bagas begitu serius menatap wajah Dara.


Nahkan sekarang jantungku sudah di pacu lagi.. kalo boleh menggombal, sudah ku buat dia kejang dengan gombalan ku... Dara membatin.


"Saya akan membantu bapak.. tapi, untuk saat ini saya masih mau fokus ke bapak.." kata Dara nampaknya tak bisa ia meninggalkan Ayahnya yang sedang sakit.


"Pindahkan ayahmu ke rumah sakit terbaik, saya akan berusaha membantu semua biayanya" kata Bagas membuat mata Dara berbinar.


"Pak.. ini terlalu berlebihan" kata Dara dengan perasaan sedih, senang dan haru.


"Alex akan mengurus semuanya, tenang saja.. ayah kamu akan sehat.." kata Bagas memberi keyakinan.


Dara tertunduk, seketika air matanya jatuh mengalir membasahi pipinya.


"Loh kok nangis" Bagas menyadari itu dia mengusap bahu dara..


"Saya tahu.. untuk itu saya akan bawa Ayah kamu agar mendapatkan perawatan yang lebih efektif sehingga lebih cepat menuju kesembuhan...."


"Terimakasih" kata Dara dalam pelukan Bagas itu.


"Sudah jangan menangis, nanti bisa-bisa Zaidar berpikir aku yang membuatmu menangis.." Bagas melepas pelukan itu, mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Dara.


"hemm bicara soal Zai, bagaimana kalo selama Ayah berada dirumah sakit, selama itu pula aku bekerja pulang pergi?" kata Dara yang tak ingin lepas dari kedua tangung jawabnya.


"Maksud mu bagaimana?" Tanya Bagas memandang wajah Dara.


"Sore ini adikku datang dari luar kota, dia bisa menjaga ayah di siang hari, bersama ibu.. malam biarlah aku yang menjaga ayah malam hari.." kata Dara penuh semangat.


"Kamu nanti capek" kata Bagas penuh kekhawatiran.


"Tidak... boleh ya?" tanya Dara seolah memohon.


"Kalau begitu, aku akan membawa mbok Suti kembali ke apartemen, biar dia yang akan memasak dan menjaga Zaidar saat malam.. ya?"


"Aku setuju" kata Dara melebarkan senyumnya.


*

__ADS_1


*


Ditempat Lain, lagi-lagi Alex harus mendapatkan tugas yang membuatnya ingin sekali meninggikan suaranya..


"Saya hanya menjalankan tugas dari Bagas, semua keputusan Bagas yang buat.. Termaksud memilihmu menjadi isterinya" Kesal Alex kala itu, Dibalik sikap Mawar yang sangat manis terhadap Bagas, namun tak jarang jika Alex bersama mawar mereka sering sekali berselisih paham, hingga perdebatan kecil sering sekali muncul.


"Paman... paman tau kan aku sangat ingin tinggal bersama dengan Zai juga Mas Bagas" Mawar berbicara penuh dengan rasa emosi.


"Yaa, tapi Setelah kamu bisa berjalan" kata Alex singkat.


"Kenapa? apa Bagas malu memiliki isteri cacat sepertiku???" Ujar kuat Mawar.


"Tidak, tentu kamu bisa sadar mawar apa yang sebelumnya terjadi... apakah Bagas tak boleh merubah rasanya?" ketus Alex.


"Bagas akan selalu memaafkan aku, dan kamu tau itu paman" ujar Mawar penuh percaya diri.


"Memang... memang benar Bagas pasti akan memaafkan kamu.. itu pasti" kata Alex sambil terkekeh kecil meremehkan rasa percaya diri mawar yang cukup tinggi.


"Kenapa tidak Bagas dan Zai yang ikut tinggal di rumah itu.. itu rumah kita..." tambah mawar dengan cukup kencang.


"Hemm... baiklah akan aku beri tahu sedikit agar kamu bisa berfikir lagi sebelum kamu berbicara bermodalkan rasa percaya dirimu itu..." goda Alex meremehkan Mawar, nampaknya Alex sudah sangat kesal dengan mawar.


" Bicara soal rumah, yaa???" Kata Alex dengan gaya cowoknya berjalan mendekati ranjang Mawar.


"Rumah itu Bukan lagi milik Bagas, ataupun hmm KALIAN... itu sudah menjadi rumah kamu, Bagas sudah memberikan rumah itu untuk kamu, sertifikat pun sudah berubah menjadi nama mu.." Ujar Alex yang membuat Mawar terkejut.


"Paman untuk apa Mas Bagas memberikan itu?" Tanya Mawar..


Aku ingin memperbaiki semuanya, aku tidak ingin mendengar kalo rumah itu sebagai harta gono-gini... Mawar berkata dalam hatinya yang penuh rasa kegelisahan.


"Kamu bisa bicarakan langsung dengan Bagas.. besok saya akan mengantarkan kamu kembali kerumah, Bagas juga sudah menyiapkan satu suster dan satu asisten rumah tangga untuk membantumu..." kata Alex semakin membuat Mawar merasakan rasa sesak karena tekanan kenyataan yang tak ia inginkan saat ini.


Apa Mas Bagas sudah tidak lagi mencintaiku? aku rasa itu tak mungkin kan? dia sangat mencintaiku .. kalo dia tidak mencintaiku, dia tidak akan merawat dan menjaga Zaidar hingga seperti ini... aku yakin aku bisa memperbaiki semuanya dan Bagas akan menerimaku dengan kesempatan kedua, dan itu harapanku..


*


*


*


Haii apa kabar semua? semoga sehat selalu yaa.


jangan lupa like komen dan rate yaa.. boleh send juga mawar dan kopi nya bila ada hehee..


Salam sayang dariku ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2