Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
Mejaga Hati Seseorang


__ADS_3

Dara masih terdiam memikirkan jawaban yang sekiranya pantas dan tidak terlalu melukai hati Gustaf..


Aku takut mas gustaf akan sakit hati jika mengetahui hubunganku dengan Pak Bagas, tapi jika tidak aku beri tahu akan membuat pk Gustaf terus berharap.. itu akan lebih menyakitkan..


"Daraa???"


"Kenapa kamu jadi melamun, Dara? Kenapa ga mau makan nasi goreng malam nanti? Sedang diet ya?" Kata Gustaf lgi sambil menggoda Dara.


"Astaga.. bukan, bukan bagitu.." Dara tersadar dari lamunannya.


"Lalu? Kenapa?" Tanya Gustaf masih tak dapat menerka alasan Dara.


"Hemm.. Iya, maaf gak bisa saat ini kita makan berdua, Mas.." kata Dara berbicara dengan sangat hati-hati.


"Loh kenapa? Mau bertiga? Berempat?" Tanya gustaf sambil terkekeh.


"Bukan Mas... tapi...." Dara agak ragu berkata.


"Tapi apa? Kok ga di lanjut, malu yah?" gustaf terkekeh kecil mencoba meledek Dara.


"Hemm.. maaf ya mas, untuk sekarang aku tengah menjaga hati seseorang.. " Ucap Dara pelan.


"Seseorang??? Maksud kamu?" Tanya Gustaf.


"Yaa untuk saat ini ada hati laki-laki lain yang Aku jaga..." Ucap Dara.


Gustaf merubah raut wajahnya seketika, ia terkejut karena mendengar suatu hal yang sebenarnya sudah ia takutkan sejak lama, Dara di miliki oleh laki-laki lain.


"Maaf, Mas.." lirih Dara melihat ekspresi wajah Gustaf yang nampk shock dan kecewa.


"Kamu punya kekasih?" Jawab Gustaf cukup lirih.. Dara mengangguk dengan sangat yakin.


"Dia siapa? Apa aku mengenalnya?" Tanya Gustaf.


"Mungkin..." jawaban Dara sungguh ambigu.


Apa pria itu adalah Bosnya Dara, si Bagas Bagas yang punya anak itu? Tapi dia punya anak pasti punya isteri. Tapi.. apa mungkin dia seorang duda? Astaga... kenapa sakit sekali telinga dan dadaku, kenapa aku ingin sekali marah, berteriak saat ini juga..


"Mas???" Dara menyadarkan lamunan Gustaf.


"Eh... hmm.. "


"Mas kenapa? Mau aku ambilkan minum lagi?" Tanya Dara.


"Oh enggak... maaf,maaf.. aku hanya sedang melamun saja.."


"Dara, apa pria itu adalah bos kamu? Si Bagas yang membiayai rumah sakit Ayahmu?" Kata Gustaf langsung saja ia bertanya demi memuaskan hatinya dari Rasa penasaran.

__ADS_1


"Hemm.. bagaimana yaa? Aku sendiri belum ingin mempublishnya, aku masih ingin tahu apakah ini cinta sesungguhnya atau hanya cinta yang sekedar singgah sesaat" ucap Dara.


Dara, aku mengenal kamu sejak kamu belia.. aku yakin kamu adalah wanita yang tak mudah jatuh cinta.. maka aku juga yakin kalo kamu masih ragu, apalagi sosok pria itu masih baru ketimbang aku yang menemanimu sejak kamu belia..


Gustaf nampaknya masih akan terus berushaa merebut hati Dara, membuat Dara jatuh cinta.. bisa kah?? Kadang memang cinta itu tumbuh tanpa kita sadari.. Cinta juga terkadang tidak kita rasakan, namun pedih saat dikecewakan.


*


"Daraaaaa" Dara terkejut saat ia masuk kedalam rumahnya. Ibu langsung saja menarik tangan Dara mengajaknya duduk di sofa secar spontan dan penuh kehebohan.


"Astagfirullah Ibu, ada apa si ini?" Dara sangat tekejut saat itu.


"Duduk dulu," kata Ibu hingga dara duduk dengan sebuah hentakan tubuhnya.


Dara melirik ke arah Ayah juga adikknya yang dudu di hadapannya.


"Ayah, Dek? Ini kalian kenapa memasang wajah seram begini" kat Dara terkejut .


"Kita mau introgasi kaka" kata Zhufar hingga Dara menyungingkan bibirnya.


"Hahaha?? Aku? Aku kenapa? Apa tempe goreng tepung ibu hilang? Bukan aku yang menghabiskan loh" kata Dara terkekeh namun tawa ringannya terhenti sesaat.


"Kalian kenapa si? Kok serius banget mukanya, Dara jadi takut" kata Dara jujur.


"Apa yang kamu katakan pada Nak Gustaf benar?"


"Apa kamu benar-benar sudah memiliki kekasih?"


"Bukannya nak bagas sudah memiliki Anak dan Isteri...?????"


Ayah, ibu dan Zhufar kompak memberikan pertanyaan pada Dara hingga dirinya sangat terkejut saat itu.


"Hah??? Kalian kompak sekali? Apa kalian menguping ya????" Ucap Dara sedikit kesal.


"Kita ga nguping, kita hanya memantau" kata Zhufar.


"Benar itu.. jawab saja, Dara.. jangan buat ibu di rundung rasa penasaran" ibu begitu menggebu kala itu.


"Ayah juga mau mendengar penjelasanmu" tegas ayah.


Astagaaaa mereka ini kenapa? Jin jenis apa yang merasuki mereka??? Menjerit Batin Dara.


"Kenapa hari ini semua membuat aku pusing? Lama-lama aku bisa mati terkejut kalo begini ceritanya" kata Dara dengan ekspresi bingung nya.


"Kaka jelaskan saja kak, agar semua jelas dan tidak membuat kita penasaran, lagi pula bisa membuat kaka lega nantinya"


"Dara.. ibu tidak mau kamu di sebut sebagai perebut suami orang ya? Itu ada azabnya seperti sinetron di televisi" kata ibu si penggemar sinetron di siang hari.

__ADS_1


"Astaga ibuuu.. terlalu banyak nonton sinetron sehingga ibu mencurigai anak sendiri..." kesal Dara


"hemm yang jelas Dara tidak merebut siapapun" ucap Dara menegaskan.


"Aku belum bisa cerita apapun saat ini pada kalian, jika ada waktu dan kesempatan yang tepat Dara akan bercerita.. " ucap Dara usai ia menghela nafasnya.


"Tolong jangan paksa Dara, akan ada saatnya aku bercerita.."


"Maaf aku ingin istirahat " kata Dara terpaksa meninggalkan kelurganya untuk mendapat sebuah ketenangan pada dirinya terlebih dahulu.


*


"Zhufar.. apa kamu tidak bisa mencari tahu sosok Bagas itu seperti apa? Gawat kalo Kakak kamu mencintai pria ber isteri.. ibu malu rasanya" kata Ibu berkeluh kesah pada Zhufar.


"Mencari tahu bagaimana bu? Zhufar tidak pernah bertemu pak Bagas selain dirumah sakit kala itu.. hanya ada adiknya, Rega namanya.." kata Zhufar memberi penjelasan.


"Nah kamu tanya saja dengan Rega itu, bisa kan?"


"Duh gak bisa bu, kan ibu tau kalo aku karyawan baru, lagi pula pekerjaan aku ga langsung berurusan dengan beliau" kata Zhufar ragu dengan perintah ibunya itu.


"Lalu bagaimana bisa yaa ibu mendapatkan iformasi? Ibu benar-benar takut kalau kaka kamu menjadi pelakor"


"Pelakor? Apa itu bu" zhufar mengerutkan keningnya.


"Masa kamu tidak tahu?? " heran ibu, sontak langsung Zhufar menggelengkan kepalanya.


"Pelakor itu perebut laki-laki orang... serem kan artinya?" Kata Ibu dengan hebohnya.


"Haduh bu..." keluh Zufar.


"kaka ga mungkin seperti itu" kata Zhufar dengan cukup yakin.


"Tapi kamu dengar sendiri kan? Gustaf sendiri mengira kaka kamu itu dekat dengan bosnya itu pak Bagas itu."


"Kita kan gatau hu bagaumana status Pak Bagas, bisa saja sudah menduda" kata Gustaf.


Hemm ibu masih penasaran rupanya dengnsosom Pak Bagas.. ibu juga khawatir nampaknya status pak Bagas ya? Pants saja panas kupingku.


"Ekheemmmm.."


"Buuu telingaku panas.. stop membicarakan anak sendiri"


Dara secara tiba-tiba lewat dan sekilas mendengar nama bagas di sebutkan.


Ibu dan Zhufar seketika diam, mereka saling pandang dan sekilas ia panik saling menatap.


*

__ADS_1


*


*


__ADS_2