Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
Bagas Junior


__ADS_3

Duduk di hadapan kedua orang tua Dara, Bagas terlihat cukup santai penuh ketenangan. Dara duduk di antra kedua orang tuanya saat itu.


Rasa resah gelisah membuat Dara sedih terlihat kaku dalam bersikap. Wanita penuh rasa riang gembira Seperti Dara kini terdiam dalam sebuah keheningan.


Likiran mata ibu terfokus pada jemari Dara yang nampak berbeda dari biasanya. Sebuah cincin yang terlihat berkilau menjadi fokus pemerhati ibu.


Apa Dara dan Bagas sudah benar-benar memiliki hubungan? Apa hubungan itu serius?


Ibu membatin penuh tanya.


"Bagaimana, Mas Bagas? Ada hal apa ya?"


Ayah Dara mengeluarkan ucapannya lebih dulu saat itu, penuh harapan Dara dalam hatinya kini berbisik.


"Sebelumnya Terimakasih Bapak dan Ibu sudah memberikan saya kesempatan untuk bermain kesini" ucapan pembuka Bagas terdengar santai namun membuat Jantung Dara berdebar lebih cepat dari biasanya.


"Bismillah, saya memang datang kesini dengan niat dan tujuan khusus untuk menyampaikan secara langsung niat baik dan keseriusan saya terhadap Dara.."


"Saya mencintai anak bapak dan Ibu, dengan kerendahan hatinya, saya ingin menjdilannya pendamping hidup saya dalam sebuahbikatan suci dan sakral" ucap Bagas hingga membuat haru Dara dan ibu.


Orang tua Dara terdiam sejenak, mencerna dan mempertimbangkan suara hatinya juga nalurinya sebagai orang tua pada puterinya.


Ayah menarik nafasnya cukup panjang dan mengehmbuskannya dengan pelan peruh ketenangan.


Ucapan terimaksih atas keseriusan Bagas hingga beberapa hal yang ia ayah ucapkan membuat Bagas hanya dapat membentangkan senyum nya.


Hingga Ayah memberikan beberapa peranyan pada Bagas yang sedikit membuatnya tegang.


"Ini yang paling menganggu pikiran saya sebagai seorang ayah" ucap Ayah menambah suasana keseriusan.


Bagas tersentak sejenak namun feelingnya seolah sudah menebak kemana arah ucapan ayah dara itu sendiri.


"Bagini Nak, Bagas ya?" Ayah berbicara dengan gaya bahasanya yang santai.


"Saya selaku orang tua tentu saja memberikan sebuah kebebasn memilih dan memberikan restu jika itu adalah hal yang menurut hatiny baik, karena sebuah cinta dan perasaan kn dari hati ya.."


"Hanya Saja.... Saya sedikit menganjal tentang status nak bagas itu sendiri, apa nak Bagas seorang duda? Jika iya bagaimana hubungan nak Bagas dengan mamahnya Zaidar?"


Pertanyaan Ayah mengundang rasa cemas pada diri Dara, namun bagas nampaknya cukup tenang mengkondisikan dirinya pada situasi saat itu.


Bagas dengan ucapannya yang tenang, dan cukup gentel menatap wajah ketiga orang di hdapannya secara bergantian, menujukan sebuah sikap berani dalam mempertangung jawabkan ucapannya.

__ADS_1


Bagas menceritakan semuanya secara gamblang, tidak ada satu kejadian yang ia lewatkan demi memberi sebuah kejujuran.


Kedua orang tua Dara tentu tidak pernah menyngka akan apa yang terjadi pada Bagas, tak ada yang kurang dari sosok Bagas, namun cukup tragis kisah percintaanya.


"Apa zaidar sudah tau yang sebenarnya?" Tanya Ibu begitu haru dan merasa terenyuh mendengar kisah yang baru saja di bagikan oleh Bagas.


"Zaidar belum kita beri tahu, namun saya sudah memintanya memanggil Rega dengan panggilan ayah" kata Bagas dengan cukup tenang.


"Begini nak, saya ingin Dara mendapatkan seseorang yang dapat menjaganya lahir batin, mencintainya dengan kekurangannya.. saya sudah cukup tua dan sering sakit.. sudah lama saya memint Dara untuk menikah, namun yaa Dara memiliki pemikiran lain..."


"Dan nak Bagas bisa melihat kan keadaan kita? Sangat sederhana jauh dari kata sempurna namun kami bahagia" ucap Ayah sehinga Bagas Melempar senyumnya tipis.


"Saya mencintai Dara bukan karena siapa dia, tapi karena ia menjadi dirinya sendiri" ucap Bagas menjawab dengan penuh rasa bangganya pada Dara.


"Sekarang, jika memang nak Bagas memiliki niat serius, baiknya tanyakan saja pada Dara, agar ayah dan Ibu disini menjdi saksi dan pelantun doa agar Allah juga merodhoi jawaban Dara.. "


Mendengar ucapan Ayah, Bagas dan Dara kini saling bertatap pandang..


"Ayaah... " ucap Dara cukup lembut.


"Hemm sebenarnya semalam mas bagas sudah melamarku, dan secepat itu juga aku menerimanya, karena aku yakin"ucap Dara sambil tertunduk.


Ibu melebarkan senyumnya, sejak tadi ibu sudah melirik benda melingkar di jari manis Dara.


Pikiranku begitu menyesatkan perasaanku tadi, aku pikir ayah akan menentang dan meminta Gustaf saja yang menikahiku.. Batin Dara yang kini sudah melebarkan senyumnya.


----


Bagas duduk di teras kediaman Dara yang tidak besar, hnya ada dua kurai kayu disana mengadap ke arah pagar hitam.


Ia melihat keramaian sekitar dengan canda tawa bocah memecah kesunyian.


Zaidar harusnya bisa bergaul seperti ini, mereka berlari sambil tertawa tanpa merasa sendiri.


"Massss"


Lamunan Bagas seketika pecah karena kehadiran Dara membawa secangkir kopi dan beberapa potong kue yang ibu buat.


"Kok kaget? Melamun ya?" Ucap Dara terkekeh kecil.


"Iya.. melihat bocah-bocah itu bermain tanpa batas, happy ngeliatnya" ucap Bagas seolah rasa takjub pada situasi yang ia tengah alami saat itu.

__ADS_1


"Hmm sudah biasa disini, kadang malam pun mereka masih berkumpul.." ucap Dara tersenyum.


"Jadi kita kapan?"


"Kapan? Kapan apanya? " bingung Dara menjawab.


"Kapn kita cetak Bagas Bagas Junior" ucap Bagas hingga membuat satu tangan Dara melayang ke lengan kanan Bagas.


"Kalo ngomong suka aneh-aneh aja" Kesal Dara usai memukul lengan Bagas.


"Kok aneh sayang? Itu mah wajar harapan laki-laki.. "


"Iya tapi secwpat itu kah?"


"Aku akan bicara dengan mama, aku gamau terlalu lama.. lagi pula Rega bilang dia akan kembali ke indonesi bersama mawar bulan depan, jadi apalagi yang harus di tunda-tunda?" Ucap Bagas begitu semanagat.


Mendengar nama Mawar, seketika Dara tertegun sejenak.


"Bagaimana perasaan mbak mawar, ya?" Spontan Dara berucap pelan.


Bagas mengerutkan keningnya, aneh saja baginya mendengar icapan itu dari mulut Dara..


"Hemm kenapa memikirkan mawar? Mawar mungkin bisa kembali bersama Rega saat mereka berada di sana berdua" ucap Bagas santai namun sedikit menekan.


"Hemm kadang laki-laki hanya memikirkan simplenya saja, tidak memikirkan rasa yang tengah di rasakan wanita" kesal Dara kala itu.


"Dara.. dengar aku baik-baik" Bagas mentap Dara berbicara cukup serius.


"Denge ya? Aku ini sudah tidak meniliki rasa lebih pada Mawar, jika ada rasa sayang.. itu hanya sayang pada seorang teman tidak lebih, harusnya kamu paham Atas apa yang terjadi antarku dan dia.." ucap Bagas dengan cukup tegas meski tidak terlalu kencang ia berucap.


Dara sedikit merasa bersalah atas kekhawatiran nya yang terucap di hadapan Bagas.


"Maaf.. aku ga bermaksud membuka ulang lukamu" kata Dara sendu.


"Fokus saja pada tujuan awal kita, ya?" Ucap bagas sambil mengusap lembut pipi Dara.


Tapi.. entah kenapa hatiku selalu saja merasakan sesuatu akan terjadi .. aku melihat mbak mawar masih sangat mencintai mas Bagas.


*


*

__ADS_1


*


NEXT 🌹🌹


__ADS_2