
Dara seperti prajurit yang tengah berperang, tak merasakan rasa sakit yang ia rasakan, pikirannya saat ini hanya tertuju pada sosok Bagas, bagaimana keadaanya? Dan dimana ia berada saat ini. Dokter memeriksa kondisi
Dara saat ini dengan cepat mengingat darah segar masih saja mengalir. Tidak ada rasa mulas, hanya rasa sakit yang ia rasakan.
“Ibu terlalu tegang, stress dan tertekan.. ini juga akan beresiko pada ibu sendiri jika kami melakukan Tindakan operasi.. “ Ucap Dokter dengan tegas. Dara tersentak mendengar hal itu, ia benar-benar egois menagabaikan satu nyawa dalam perutnya saat ini.
“Ya Tuhan dok, tolong berikan yang tebaik untuk anak dan cucu saya” menangis Ibu Nia memohon.
“Mana suaminya? Saya perlu bicara..” ucap Dokter itu.
Semua diam, bingung dan akhirnya Regalah yang berbicara secara jujur karena itu adalah salah satu penyebab Dara kini berada dalam sebuah tekanan.
“maaf, saya sungguh prihatin dan ikut sedih, tapi Ini soal dua nyawa, ibu dan anak.. kalian harus ada yang bisa mengambil keputusan segera. Saya tunggu lima menit untuk segala keputusan bapak dan ibu, semua
beresiko memang tapi memang jalan operasi adalah jalan yang terbaik untuk saat ini..” Ucap dokter sambil ia berlalu pergi meninggalkan keluarga itu.
“Dara.. kamu harus pikirkan anakmu, mama yakin Bagas akan segera sadar..” ucap Ibu Nia.
“Dara, sebagai adik aku memohon padamu untuk bersiap menyambut datangnya bayimu dengan selamat, tenangkan dirimu, aku tentu tidak akan membuang waktu.. aku akan bertangung jawab atas Tindakan operasimu saat ini, aku yakin kamu akan sehat Bersama bayimu..”
Dara hanya Diam dan menangis.. Mawar yang sejak tadi diam dalam tangis kesedihannya, kini ia pun mendekat kesal pada sosok Dara.
“Dara..! kamu itu seorang isteri dan ibu yang baik, jadilah Isteri yang baik, doakan suamimu.. dan jadilah ibu yang baik juga, bertahan, kuat dan perjuangkan diri untuk melahirkan anakmu kedunia.. aku memang kesal
padamu, aku kesal karena semua harus tentang Dara, apa-apa Dara dan semua tentang Dara… aku cemburu padamu yang selalu mendapat simpatik banyak orang, kasih sayang yang tulus dari banyak orang… tapi lihat kamu yang sekarang??! Kamu lemah Dara, kamu tak pantas aku cemburui lagi..!! kamu bukan Dara yang bisa Tegar.. oh iyaa dan kamu itu payah, kamu tidak yakin Bagas akan baik-baik saja!!”
__ADS_1
Mawar berbicara dengan penuih emosi dan airmata, Rega dan Ibu Nia sangat terkejut mendengar ucapan Mawar saat itu. Rega langsung mendekap Isterinya dalam pelukkannya saat itu.
Dara semakin menangis, ucapan Mawar benar-benar menyadarkannya, membuka pikiran dan hatinya saat ini.
“Dimana mas Bagas? Dimana?” tangis Dara yang sudah mereda.
“Kakak ada di ujung ruangan ini, ada benturan cukup keras dibagian dadanya, sehingga ia mengalami shock dan belum sadarkan diri” Ucap Rega.
“Paman Alex? Apa dia Bersama Mas Bagas?” Tanya Dara lagi
“Paman sudah tiada Dara, terjadi pendarahan di kepalanya karena saat kecelakaan paman duduk di samping supir” Ucap Rega menambah sesak pada Dara.
"Astagfirullah, Innalillahiwainnailaihirojiun" Ibu Nia terkejut hingga kembali pecah tangisnya bersama dengan Dara.
Dara terdiam sejenak.. ia mengusap air matanya dan semakin merasakan sakit pada perutnya.
“Bawa aku ke samping Mas Bagas sebelum Tindakan operasi di lakukan, aku harus meminta izin suamiku.. aku yakin dia akan emndengar aku..” Ucap Dara dengan gemetar.
“Baiklah.. akan aku diskusikan dengan dokter” Ucap Rega.
Ibu Nia tak henti menangis sambil mengusap kening Dara, bahkan ia belum melihat kondisi Bagas hingga saat ini. Ia mengutamankan kondisi menantunya saat ini. Setelah Rega berbicara dengan cukup serius, Dara yang
sudah semakin terlihat pucat di bantu beberapa suster untuk mendekati Bagas menggunakan kursi roda.
Dara menangis dengan kencangh sambil berteriak memanggil nama suaminya, emosinya memuncak karena takut terjadi apa-apa pada suaminya. Seolah tak mendengarkan perkataan dokter bahwa kondisi Bagas cukup baik, ia
__ADS_1
hanya Shock dan beberapa luka memar di pelipisnya.
“Semakin kamu menangis, semakin ibu stress dan emosional maka anak ibu di perut tidak akan merasa nyaman.. tenang, kamu harus tenang” Ucap dokter yang juga mendampinginya.
Dara meraih satu tangan suaminya, ia berdiri sekuat tenaganya meski darah Kembali mengalir pelan meski team medis sudah berusaha menghambatnya.
“Mas.. kamu katanya mau damping proses persalinan anak kita? Katanya kamu mau menemani aku? Katanya kamu siap aku cakar dan aku gigit kalo aku kesakitan.. Mas, bangun.. bangun kalo kamu gak mau membuat aku marah dan kecewa.. katanya kamu takut kalo aku marah dan kecewa? Bangun..” dara menangis tersedu-sedu,
rasa haru semakin kental terasa.
"Anak kita mau lahir sebentar lagi, rhidoi aku yaa.. doakan aku dan anak kita.."
Dara kemudian kembali berbisik.. “kamu yang bilang ingin mengadzankan anaka kita, kamu bilang mau belajar bareng dengan aku untuk mendidik anak kita?” ucap Dara dalam tangisnya. Dara merasa perutnya semakin sakit.
“Sakitttttttt” ucapnya reflek meremas tangan Bagas. Tak kuat menahan sakit yang semakin mendera nya, Dara akhirnya jatuh pingsan. kepanikan kembali terjadi, Ibu Nia kembali menangis dan Mawar berusaha menenangkannya, hingga Ibu Nia mendekati Bagas dan ia berbisik.
"Mama tau kamu baik-baik saja dan akan baik-baik saja.. maka bangunlah, temani isterimu.. Mama sedih melihatnya menangis, bangulah nak, mama mohon dengan kerendahan hati mama... bangun Bagas..."
*
*
Aduh, menangis aku menulisnya huhuhu
Btw, thanks supportnya yaa... lop yuh ❤
__ADS_1