Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 13


__ADS_3

Dara bergegas pergi saat Zidar sudsh terlelap di jam tidur siangnya. Dara begitu bersemangat saat itu untuk pulang dan melepas rindunya pada kedua orang tuanya.


"Dara... Ini, ambillah" kata Bagas saat Dara hendak pergi..


"Buat apa, pak?" tanya Dara bingung melihat uang cash di atas meja berwarna merah.


"Untuk naik taxi." singkat Bagas menjawab. Lalu Dara tersenyum..


"Hemm.. Tidak pak makasih, uang mingguan saya sudah di transfer sama pak Alex, lagi pula saya sengaja mau naik angkot karena harus mampir ke beberapa tempat dulu..." ucap Dara jujur.


"Menyambangi kekasihmu?" Celetuk Bagas sambil fokus pada layar laptopnya.


"Bapak kalo bicara disaring dulu biar lebih Alus.." Kesal Dara menyahut.


"Saya pamit yaa, Assalamualaikum" ucap Dara beranjak pergi tanpa menerima uang yang hendak di berikan Bagas.


Apa sekaya itu dia? gaji yang dia berikan sudah cukup, uang mingguan pun ada, bahkan... makan aku selalu di jamin disini - Dara membatin sambil berjalan keluar.


Dara membuka pintu apartemen, namun dara yang sempat melamun itu akhirnya terkejut saat sosok pria berdiri di hadapannya.. Dara menjerit histeris membuat Bagas langsung beranjak menghampiri Dara.


"Kenapa kamu, Dara??"


"Astaghfirullah.. bapak" dara mengatur nafasnya sambil memegang dadanya.


Mata Bagas membulat.


"Rega... apa-apaan kamu?" Bagas mulai kesal, melihat Rega tengah tertawa terpingkal-pingkal sambil perlaha ia mebuka topeng Gorila.


"Konyol kamu, Rega!" kesal Bagas pada Rega yang memang tak henti membuat sebuah kebisingan.


"Dara kamu beneran kaget?" tanya kaku Bagas.


"Bener pak.. astaghfirullah yakali ada kaget bohongan" kesal Dara kembali membuat Rega kembali tertawa.


Dara menatap sinis Rega.. Rega salah tingkah karena merasa sedikit bersalah.


"Kak.. dimana jagoan ku?" tanya Rega.


"Zai tidur" kata Bagas singkat.


Dara mengingat kebisingan yang sejenak terjadi itu.


"Awas ya sampai menganggu tidur siang Zai, habis kau ku lempar ke hutan belantara! kembali ke habitat" kesal Dara mengancam tak perduli siapa Rega disana..


Dara berlalu saja pergi membawa ranselnya, Bagas hanya menyunggingkan bibirnya tertawa kecil melihat adiknya di perlakukan cukup konyol oleh Dara.


"Kak? dia kah pengasuh zai??" tanya menuntut Rega.

__ADS_1


"Hemm" Bagas juga menjawab singkat.


"Ya Tuhan kak, kamu yang benar saja.. masa perempuan begitu kau jadikan pengasuh Jagoan aku? mana bisa dia mendidik Zai nantinya." Berbicara Rega namun Bagas cuek saja melanjutkan pekerjaannya.


Rega yang kesal, bergegas ke dapur mencari segelas air melepas dahaganya.


Di tempat lain, Dara sudah berada dalam angkutan umum yang terlihat cukup sepi kala itu.


Yang tadi itu kan, yang tempo hari datang ya.. Hem yampun apa dia adik betulan pak Bagas? manggilnya kak.. matilah aku, bisa-bisa aku di pecat karena kemarin sempat mengusirnya.. Dara membatin kala itu.


Dara melangkah maju menuju apotek, Dara sudah memahami, apa saja yang di butuhkan orang tuanya, terlebih Ayah Dara memang di haruskan mengkonsumi obat rutin.


Dara membeli beberapa obat dan vitamin, Dara juga menghampiri toko roti membeli beberapa roti untuk ia jadikan buah tangan nya.


Usai di rasanya cukup, dara bergegas kembali mencari angkot yang kosong, dan membawanya tiba di depan gang rumahnya.


Kira-kira aku bisa bertemu mas Gustaf ga ya? rindu juga naik motor antiknya itu.


Ucap Dara sambil berjalan menelusuri gang rumahmya sambil melempar senyum tipisnya.


"Assalamualaikum.. " salam Dara dengan lembutnya.


Sambutan hangat Dara rasakan dari kedua orang tua nya. Pelukan hangat Dara menjadi bukti bahwa dirinya sangat merindukan sosok ibundanya saat itu.


"Ibu sudah menunggumu datang, nak.." ucap Ayah Dara.


"Sudah jangan dengarkan Ayah, sekarang kamu duduk istirahat dulu.. ibu buatkan .


"Ehh gausah Bu, dara masih kenyang" kata Dara mebolak karena fakta yang ada.


"Kamu pasti capek kan? perjalanan kamu jauh, pasti sangat lelah" ucap Ibu Dara yang belum mengetahui keberadaan Dara tetap berada di kota yang sama.


Aku jadi merasa bersalah pada ibu.. Tapi aku juga tidak bisa berkata sejujurnya, ibu pasti kecewa dan malu kalo ibu tahu aku bekerja mengurus anak orang.


"Dara gak capek kok Bu, yang membawa Dara kan bus" kata Dara membuat suasana semakin terasa sangat hangat disana.


"Dara..."


"Iya Ayah. kenapa?"


"Dara.. Beberapa hari lalu, bapak ngobrol dengan Gustaf dan Ayahnya di musholah" kata Ayah Dara.


"Lalu?" bingung Dara menjawab.


"Yaa ayah dan mereka membahas sedikit tentang kamu, katanya nak Gustaf jara g mendapat balasan pesan dari mu? benar kah?" Tanya ayah mambut dara mengangguk pelan.


"Dara tengah bekerja Ayah, Dara hanya balas bila itu pertanyaan.. lagian tumben Mas Gustaf lebay.." Kata Dara sambil terkekeh.

__ADS_1


"Yaa karena Gustaf menyukaimu.. Dia siap jika harus melamarmu.." ucap Ayah membuat Dara dan Ibu terkejut.


"Apa? Aduh engga, jangan sampai... Dara hanya menganggap kita ini sahabat, ga lebih, ayah..." kata Dara terkejut saat itu.


"Kenali dulu, Gustaf anak yang baik, Sholeh..." kata Ayah.


Dara menyikapi nya dengan santai, hinngga Dara terkekeh..


"Dara hanya menganggap dia sebagai kakak dan sahabat , gak lebih.. biar nanti Dara yang ajak dia bicara" kaya Dara membuat ibunya tersenyum, betapa ibu yakin terhadap keputusan Dara.


"Dara mandi ya, sudah sore" ucap Dara, karena tak ingin melanjutkan pembahasan kala itu..


yaa memang mas Gustaf baik, berbudi pekerti yang baik juga.. Tapi aku tidak pernah merasakan jatuh cinta terhadapnya.. Dara melamun di kamarnya sebelum ia mandi.


Lamunannya kali ini buyar seketika saat dering ponselnya berbunyi..Dara tersenyum saat melihat Sebuah nomer yang dapat di pastikan itu adalah Zaidar.


"ZAIII...." semangat Dara menerima telfon tersebut.


Dara berbincang, menenangkan Zaidar yang tengah merajuk kala itu, tangisan sendu Zaidar membuat Dara salah tongkah.


Bagaimana ini?? aku sungguh tak sampai hati melihat tangis sendu Zai.. tapi untuk kembali pun tidak mungkin saat ini juga, apa kata ibu dan ayah...


Panggilan Zaidar berakhir, lalu tak lama nomer baru tak Dara kenal masuk melakukan pangilan.


Hallo.. Assalammualaikum..


Waalaikumsalam. Dara, tidak usah kamu berfikir untuk kesini sekarang.. Tenang saja.


Dara terpaku mendengar suara itu, diam fokus mendengar dan meresapi setiap kata yang terucap.


Astaga Tuahan.. Ini suara pak Bagas di telfon kok bikin aku ehemmm.. dekdekan dan terbayang langsung wajah pak Bagas.. Oh Tuhan sekali lagi, hapuskan saja bayang Pak Bagas dari ingatanku...


*


*


*


❤️


Like


Komen


Rate


Dan Vote yaa

__ADS_1


❤️❤️❤️ MAKASIH ❤️❤️❤️


__ADS_2