
"Zai... kenapa murung? bosan ya?" tanya Dara saat hendak mengantarkan cemilan sore untuk Zaidar.
"Tidak terlalu, Tante..." ucap Zaidar yang terlihat lesuh.
"Lalu kenapa?" Tanya Dara sambil memegang kening Zaidar, khawatir Zaidar sakit.
"Tidak demam" Tambahnya.
"Zai, rindu mama..." kata Zaidar hingga Dara merasa sangat terpukul mendengar apa yang di katakan oleh Zaidar kala itu.
"Zai.. hemm... apa Zai" Dara mendadak seperti tak mampu melanjutkan ucapannya.
"Apa mama bisa sembuh, Tante" kata Zaidar dengan polosnya.
Apa yang harus katakan, sementara besok pagi seluruh alat mbak mawar akan di lepaskan..
"Tante... apa mama bisa sembuh??" kembali Zaidar bertanya.
"Doakan yaa, Tante yakin mama Zai bisa sembuh" kata Dara memeluk Zaidar.
"Zai selalu mendoakan mama, Zai mau tidur bersama mama dan papa..." harap Zaidar membuat Dara sedikit sakit pada hatinya.
Kenapa hatiku sakit begini, kenapa mendadak aku drop mendengar ucapan itu..
"Zai... Makan dulu cemilan sorenya yaa, Tante mau siapkan makan malam untuk kita, sebentar lagi papa pasti pulang" kata Dara lembut.
Zaidar mengangguk mengerti saat itu.
Dara berjalan melangkah menuju dapur.
Dara membuka ponselnya sambil membaca pesan singkat dari Bagas..
Dua puluh menit lagi aku akan pulang, masak apa malam ini?
"Ahhh.. kenapa pak Bagas menjadi begini akhir-akhir ini... ahhh ini sudah gila" Dara mengusap dadanya.
"Hati .. ayok jangan BAPER, jangan berlebihan yaa...." Dar bermonolog seolah dirinya tengah berbicara dengan dirinya sendiri sambil mengusap dada, ia menghela nafasnya sambil memulai memasak menu sederhana.
Bagas sangat menyukai makanan berkuah, Sejak siang hari cuaca memang sudah berkabut hingga turun hujan..
Sup ayam dan udang tepung menjadi pilihan Dara.
Dara memasak dengan penuh semangat, sesekali ia melihat Zaidar yang asik bermain seorang diri sambil menghabiskan cemilan nya.
Satu Jam kemudian, Zaidar berlari menyambut kedatangan Bagas, pelukan hangat itu membuat Dara tersenyum melihatnya dari keberadaanya di area dapur.
Mereka pasti akan bahagia jika mbak mawar berada di antara mereka... Dara membatin namun dibalik itu terasa perih pada dadanya.
"Dara... kenapa melamun, heiii" kata Bagas yang tanpa Dara sadari sudah berada di hadapannya.Dara terkejut malu kala itu ..
"Astaghfirullah, pak..." kata Dara berpaling berjalan masuk kedalam dapur.
"Mau teh, atau kopi?" tanya Dara tanpa melihat sosok Bagas.
"Tidak, aku sedikit lapar.. makan hanya sepotong sandwich bekal dari mu"
kata Bagas membuat Dara menghentikan kegiatannya, ia memutar badannya menghadap ke arah Bagas.
"Hem..ko dimakan siang? itu harusnya untuk Snack pagi, sibuk kah atau bapak sarapan yang lain?" tanya Dara mengerutkan keningnya.
"Baweell.. bertanya lah satu-satu " Bagas terkekeh membuat Dara malu dengan ucapannya.
"Tadi pagi-pagi aku hanya minum kopi, pekerjaanku banyak hari ini.. " kata Bagas singkat menjelaskan.
"Yasudah, bapak mandi aja dulu, saya goreng udangnya" kata Dara.
__ADS_1
"Kamu kenapa terlihat kurang ceria? ada yang mau kamu sampaikan kah?" tanya bagas.
"Hemm soal Ziadar.. pak" kata Dara jujur.
"Zai? kenapa?" kata Bagas mengerutkan keningnya.
"Zai sudah mengenal ibunya, nampaknya cinta Zai begitu kuat pada mbak mawar, apa tidak sebaiknya bapak mempertahankan alat di tubuh mbak mawar?" pinta dara membuat Bagas memicing.
"Tidak.. itu tidak akan saya lakukan lagi..." kata Bagas tegas.
"Tapi pak...." kata Dara mencoba memberi pembelaan, namun Bagas memilih untuk memotong pembicaraan Dara.
"Saya mau mandi, siapkan makan malam yaa.. makan malam lebih awal" kata Bagas kemudian ia meninggalkan Dara begitu saja.
Kenapa sih susah sekali berbicara yang serius sama beliau... Dara membatin kesal.
*
Usai makan malam, dan Dara menyelesaikan tugasnya untuk menidurkan zaidar juga selsai.
Dara kembali ke dapur mencuci beberapa piring kotor.
Suara derap langkah membuat Dara menoleh ke arah sumber suara, hingga dara terkejut dan menjatuhkan satu gelas kaca.
"Astaghfirullah" Dara benar terkejut dengan kedatangan Bagas.
"Maaf ... kamu kaget ya?" ucap Bagas tak menyangka.
Dara tumben sekali bekerja sambil melamun - Batin Bagas..
Dara berjongkok merapihkan serpihan gelas yang terjatuh ke lantai hingga pecah.
"Iya saya kaget, pak" kata Dara.
"Aawwwww" keluh Dara merasakan sakit saat jarinya tergores.
"astagaaaaaa..." Bagas melihat darah segar mengalir dan menetes.
"Kita obati" Bagas menarik tangan Dara, meletakan jemarinya di balik bajunya yang ia gunakan, lalu melapisi tangannya yang terluka dengan baju bagian bawahnya itu.
Bagas berdiri, di ikuti Dara..Mereka berjalan menuju ruang tengah, Baga berlari mengambil kotak P3k.
Bagas bersimpuh, sementara Dara duduk di sofa menahan perih.
"Tidak ada serpihan luka disini kan" kata Baga khawatir terdapat serpihan di sebagian lukanya Dara.
Dara menggelengkan kepalanya.
"Hanya tergores saja" ucap Dara.
"Hemm... aku bersihkan, agak sedikit perih .." ucap Bagas sambil membersihkan luka dara dengan sebuah cairan.
"Aw sakitttt, seperti hatiku yang sakit" kata Dara spontan.
Bagas menahan pergerakannya. menoleh ke arah Dara.
"Masih saja bercanda deh, siapa yang menyakiti hatimu" kata Bagas cukup serius.
"Gak ada , aku hanya guyon" kata Dara menahan tawanya.
"Ih lanjut aja ayok bersihkan" kata Dara membuat Bagas kembali melakukan pembersihan pada luka Dara.
Bagas kemudian menatap wajah dara.
"Sudah selsai" ucapnya lalu Dar tersenyum mengucapkan terimakasih.
__ADS_1
"Lain kali lebih hati-hati , lagi" kata Bagas berdiri lalu duduk di samping dara.
jantung Dara berbedar saat Bagas menatapnya..
Bagas pun menatap Dara cukup intes dan mendalam saat itu.
"Dorr... jangan lihat-lihat" Dara lebih dulu sadar lalu ia menyadarkan Bagas.
Bagas terkekeh malu.
"Daara...." sapa Bagas menyebut namanya semakin membuat jantung Dara berdetak lebih cepat.
"Terimakasih, yaaa" kata Bagas dengan sangat lembut dan penuh ketulusan.
"Untuk apa, pak?" jawab dara bingung.
"Untuk semuanya, kamu mau menjaga Zaidar, kamu mau mengurus saya... Dara, boleh saya jujur???" kata Bagas tatapannya semakin menusuk.
Aduh tatapan pak Bagas kok menusuk tembus ke hatiku yaa.. aduh lewat jalur mana ini ko cepet banget terasa... Daraa membatin konyol.
"Hemm... jujur apa ya pak..." kata Dara gugup.
"Saya... saya Nyaman dengan keberadaan kamu di sisi saya" kata Bagas membuat Dara terkejut.
Apa maksudnya, kenapa harus bicara bgitu ..
"Saya merasakan ada yang lain yang saya rasakan" ucap Bagas semakin membuat Dara terdiam gugup .
"Pak.. hemm maksud bapak aapa, sih .. ko saya mendadak gak bisa berfikir ya?" kata Dara dengan gaya nyelenehnya.
Bagas baru saja menarik nafasnya, nampak ada yang ingin ia katakan.. namun Dering ponsel Dara di sakunya berbunyi.
""Ada telfon" kata Dara sambil berushaa meraih ponselnya.
"Saya tahu" kesal Bagas.
Siapa sih, menganggu saja... Tambahnya membatin..
Dara membaca nama kontak yang menghubunginya..
"Pak Alex???" kata Dara memperlihatkan Layar ponselnya.
" Ada apa?" tanya Bagas.
"Entah lah, saya angkat yaa..." kata dara.
Alex ternyata mencari Bagas yang sudah tiga puluh menit tidak menjawab pesan ataupun menerima panggilannya .
"Ya paman, ada apa?" tanya Bagas saat Dara memberikan ponselnya pada Bagas.
"Apaaahh??????" terkejut Bagas hingga terlihat ia membeku tak mampu berkata-kata lagi...
Dara tentu berada di posisi bingung saat itu, entah apa yang tengah Alex katakan pada Bagas.
*
*
*
Alex ngomong apa yaa??? semoga bukan bergosip hehehe...
Like komen dan Rate yaa..
jika ada vote boleh vote..
__ADS_1
Jika ada kopi atau mawar boleh kirim juga hehehe ... makasih... 🙏