
Satu Pekan Menjelang Pernikahan..
Dara sudah berada dirumahnya sejak tiga hari lalu, Dara harus mengikuti sebuah tradisi nenek moyang yang di kenal dengan Pingitan sebelum hari Pernikahan.
Dara akan menjalani serangkaian prosesi adat yang sederhana sebelum ia di persunting oleh Bagas.
Siang itu Dara nampak duduk bersantai sambil menunggu jam makan siang, Dara asyik saja memainkan ponselnya berbalas pesan singkat dengan Susan juga Bagas.
Sesekali Dara melebarkan senyumnya, sesekali Dara merasa kesal dengan chat nyeleneh Susan yang terus meledeknya.
"Assalammualaikum.." suara perempuan paruh baya dari balik gerbang hitam.
Seperinya aku kenal suara ini, - Dara membatin .
"Waalaikumsalam.." Dara menjawabnya lalu berdiri mendekat ke arah gerbang.
Dara menggeser gerbang kecilnya itu, Dara sedikit terkejut saat melihat wanita yang Sudah cukup lama tak bertegur sapa dengannya.
"Ibu..." Dara cukup terkejut menyapa wanita pruh baya itu.
"Dara.." Sendu jawabnya dengan mata berbinar,,Dara mengerutkan keningnya heran.
"Ibu kenapa? Masuk dulu bu" Dara mundur beberapa langkah mempersilahkannya masuk dan duduk bersana.
"Siapa Dara?" Ibu Sari selaku ibunda Dara keluar saat ia mendengar sebuah salam.. Ibu pun terkejut saat melihat kedatangan seseorang membuat Ibu Nia sedikit profokasi😐.
"Mbak Rita?" Ibu Dara berucap dengan wajah heran atas kedatangannya.
"Iyaaa, maaf aku kesini Sar" ucapnya pada Ibu Dara.
"Hemm Dara buatkan minum dulu ya?" Ucap Dara bergegas masuk. Hatinya masih penuh tanya mengapa Ibunda Gustaf datang ke rumahnya saat itu.
Ada apa ya? Sedih gitu mukanya... apa ada masalah dalam keluarganya? Dara terus membatin, praduga semakin meluas kesana kemari menerka apa yang terjadi.
Satu cangkir teh yang Dara buat sudah jadi, bersiap ia membawanya keluar.. langkah Dara masih santai, hingga Ayah menegurnya.
"Untuk siapa Dar?" Tanya Ayah yang baru saja bangun dari istirahatnya.
"Itu yah, ada ibunya mas gustaf.. tumben kan yah dia datang?" Kata Dara heran.
"Ada apa? Bersama gustafnya?" Tanya ayah.
"Tidak, justru itu aku juga bingung kenapa ibu mas gustaf datang kesini" kata Dara pada Ayah.
"Mungkin ada urusan dengan Ibu mu, sudah antar dulu tehnya sana, ayah juga mau siap siap menuju masjid, sudah hampir zuhur" kata Ayah yang tidak memiliki insting apapun atas kedatangan ibunda dari Gustaf.
Dara melangkah, namun langkahnya tertahan sejenak saat isak tangis mulai ia dengar.. Astaga.. kenapa jadi menangis?? Ada apa ya?
Dara bergegas keluar karena rasa penasarannya sudah sangat memuncak menggebu saat itu.
__ADS_1
"Ibu, ibu kenapa nangis" ucap Dara pada Ibu Rita.
Tidak ada jawaban hanya isak tangisnya saja, Dara semakin bingung dan saling bertukar pandang pada ibunya.
"Ada apa si ini? Aku bingung" ucap Dara kesal.
Ibu Rita bergerak cepat bersimpuh di kaki Dara hingga Dara dan ibunya terkejut.
"Daraaaaa" isak tangis ibu Rita semakin terdengar .
"Astagfirullah kenapa begini bu, ayo bangun"
"Mbak Rita, ayo bangun gak baik bersikap begini.. hargailah saya..." ucap Ibu Sari, ibunda Dara.
"Ibu ini ada apa sih?" Kata Dara pada ibunya.
"Mbak, jelaskan saja pada Dara, bangun.. ayo bangun" ibu Sari mencoba membantu Ibu Rita berdiri dari posisinya sata ini.
"Ada apa? Kenapa harus bersujud di kakiku? Ibu ada masalah apa si ini??" kata Dara pada Ibu Sari yang sudah berdiri berhadapan dengan Dara.
"Gustaf nak... hiks" tangisnya semakin terlihat sangat mendalam terasa.
"Mas Gustaf? Ada apa dengan mas Gustaf?" Tanya Dara penuh ekspresi.
"Dara...." ibu Sari menegur anaknya yang terlalu mengebu dalam bertanya.
"Iya bu, aku bingung.. ini Mas Gustaf kenapa? Aku hanya bertanya loh" Dara menutupi rasa panik nya.
"Astagfirullah" Dara terkejut, namun ia tak tau harus berkata apa bahkan ingin bersikap pun Dara masih di rundung kebingungan.
Dara Terdiam mencerna ucapan Ibu Sari.
Kenapa bisa begini... Astagfirullah Mas, maafkan aku yaa? Sungguh aku tidak memiliki rasa yang lebih padamu..
"Daraa"
"Boleh kamu datang menjenguk Gustaf? Berikan dia semangat.. saya sebagai ibu merasa hancur melihat anak saya seperti ini, tapi saya juga mengerti bagaimana kamu yang hanya menganggap Gustaf sebagai seorang kakak..." Bijaknya Ibu Rita saat itu. Namun Dara ragu memberi keputusan saat itu, wajahnya bingung saling bertukar pandang dengan Ibundanya.
Apa yang harus aku katakan? Aku juga belum berkata apapun pada Mas Bagas.. Aku gak mau ini menjadi masalah, pernikahanku tinggal menghitung hari..
"Mbak.. saya akan bicarakan pada Ayahnya Dara ya? Saya juga ingin melihat kondisi Gustaf" Ibu Sari berbicara sangat lembut pada Ibu Rita yang tengah terluka itu.
"Iya Bu, Aku akan bicarakan juga pada calonku.." jujur Dara mengatakan.
"Baiklah, setidaknya kalian tau bagaimana keadaan Gustaf saat ini, maaf saya jadi melemah disini, hati saya sakit melihat anak saya sakit"
Ucapan itu sedikit membuat Dara merasa bersalah, ia memilih diam tertunduk memikirkan hal yang membuatnya merasa bersalah atas kondisi Gustaf.
Sepulangnya Ibu Rita, Dara langsung saja menghubungi Bagas guna menceritakan dengan detail melalui sambungan telfon.
__ADS_1
Berharap tidak ada perdebatan namun prediksi Dara salah.. Bagas marah dan tidak menyetujui kepergian Dara menjenguk Gustaf, harapan Dara pupus begitu saja, ternyata berbicara melalui panggilan telfon sama saja, sama-sama penuh dengan drama.
Bagas menutup panggilan itu sepihak setelah ia melarang Dara datang menemui Gustaf.
Jahatnya, kenapa harus kamu Mas Gustaf, kenapa kamu sampai seperti ini.. Dara masih sangat khawatir kala itu.
Ayah kemudian mengambil sebuah keputusan, Ayah dan Ibu Dara akan menjenguk Gustaf berdua saja, Setibanya disan mereka bisa melakukan panggilan telfon pada Dara, Dengan rasa kurang bersemangatnya Dara menyetujui hal tersebut.
Rasa gelisah nya tak dapat ia sembunyikan saat itu, bimbang hatinya saat mendegar kondisi gustaf di tambah dengan sikap Bagas yang terlalu berlebihan hingga melarangnya bertemu dengan Gustaf.
Suara salam terdengar di waktu yang hampir menujukan waktu adzan magrib, sejak satujam lalu Dara berada dirumahnya seorang diri.
"Seperti suara??!!!" Dara sudah tak asing dengan suara itu..
"Astaga.. Mas" Dara terkejut saat melihat Bagas berdiri di balik pagar.
"Hai Cantik.." santai Bagas berucap, mengeluarkan ucapan yang membuat Dara heran dengan perubahan BAgas.
"Mas??? Kamu sehat?" Konyol Dara berkata.
"Sehat dong, penuh energiku" Bagas tak kalah konyol menjawab pertanyaan Dara sambil bergaya memperlihatkan obot lengannya di balik kemeja panjang yang ia kenakan.
"Mas, kamu tadi marah-marah ke aku? Sekarang kamu kesini, sok baik, senyum-senyum seperti tidak ada perdebatan kita tadi??"
Bagas tertawa terpingkal-pingkal, wajah Dara begitu bingung menggaskan.
"Aku hanya jail saja, aku kangenn tau makanya aku kesini" Bagas tertwa hingga Dara merasa kesal.
"Jadi ini akal-akalan kamu?????!!" Kesal Dara
"Tentu, aku punya seribu akal demi melepas rinduku padamu" Bagas tertawasantau mendengar celotehanjya).
"Dasar Buayaaaaaa!!" Kesal Dara spontan ia menarik Ke atas telinga Bagas.
"Ngeseliin kamu" kata Dara.
"Pedes banget tarikanmu" god BAgas pada Dara.
"Hahahahhah" Bagas hanya tertawa penuh kemenangan saat itu.
Dara yang kesal namun ia merasa senang atas kehadiran Bagas saat itu.
Aku sebenarnya senang bisa bertmu denganmu, mas.. tapi aku harus menutupi rasa senangku ini, jangan sampai dia semakin percaya diri .. kesal Dara membatin..
*
*
*
__ADS_1
Yaa namanya juga laki-laki ya guys hehehe
Like komen dan rate yaa, jika ada rejeki juga boleh send giftnya kaka 🥰❤️