
Dara tengah di rundung rasa khawatir terhadap dirinya sendiri, entah apa yang harus ia lakukan saat itu. Hanya membuka ponselnya mencari beberapa artekel soal kehamilan saat itu. Tersbesit sedikit keyakinan bahwa ia memang tengah berbadan dua. Saat mobil melaju dengan kecepatan sedang, Dara meminta supirnya untuk menepi jika ada sebuah apotik, ia sudah sangat yakin dan ia menerima masukan dari ibunya untuk melakukan pengecekan secara mandiri terlebih dahulu.
"Mbak, ada alat pengecek kehamilan?" tanya Dara dengan sangat gugup dan malu, ini kali pertamanya membeli alat tersebut.
Tatapan tak biasaa tentu menjadi hal yang harus Dara terima saat itu.
"Mau yang model apa? ini, ini atau ini?" tanya salah satu petugas.
"Duh, saya bingung..." ucap Dara pelan.
"Hemm baru pertama kah?" Tanya petugas itu.
"Iya.. jadi saya masih awam.." Ucap Dara dengan jujur.
"Semua sama kok Mbak, sama-sama menggunakan urine, yang berbeda memang nanti caranya saja.." Kata Petugas itu.
"hemm kalo begitu, aku ambil semua saja mbak, sebagai cadangan kalau gagal.." IUcap Dara.
Darapun membeli tiga macam alat itu dengan perasaan masih gugup dan tak biasa. Setibanya dirumah Dara nampaknya harus bersabar diri menunggu datangnya pagi untuk mengecek dan mendapatkan hasil yang maksimal.
*
Di Tempat Lain..
"Mama akan senang sekali, Rega.. ini seperti rezeki yang benar-benar tak ternilai.. kamu ingin menikah dan mudah-mudahan benar kalo Dara tengah mengandung.. terlebih keadaan kamu dan Mawar semakin membaik. ."ungkapan bahagia itu di ucapkan oleh Ibu Nia.
"Aamiin.. rega juga merasa ini adalah kebahagian yang takan pernah bisa kita gantikan dengan apapun, mah.."
"Maka Dari itu, kamu juga harus benar-benar menjalani kehidupanmu dengan jujur Rega, stop bertingkah konyol, kamu sudah bukan anak kecil lagi.. kasihan dengan mama dan kakakmu, ya?"
"baik mah.. tenang saja, aku sudah berjanji pada diriku sendiri.."
"Tapi mah, apa mama yakin dengan Mawar? apa dia akan sama tulusnya mencintaiku seperti awal cinta kita dulu?"
__ADS_1
Ucapan Rega yang meragu itu justru mengantarkan sebuah presepsi yang memang tak ada satu pun yang tahu, perasaan dan ketulusan seseorang tidak akan bisa di nilai hanya dari ucapannya saja, terlebih mawar pernah berdusta beberapakali, sangat wajar jika Rega merasa sedikit meragu.
Ibu Nia yang sempat terdiam mendengar ucapan anaknya kini berusaha memberikan hal positif demi menghantarn juga prasangka baik terhdap mawar.
"Mama yakin Mawar sudah berubah, dengan apa yang terjadi kemarin adalah hal yang cukup berat baginya dan membuat dirinya pasti ingin berubah menjadi lebih baik lagi.." Kata Ibu Nia.
Rega melepas senyumnya, ia berusaha yakin dan menerima segala niat baik Mawar yang ingin memperbaiki dirinya demi hubungannya dengan Rega, terlebih ada Zaidar sebagai pemersatu keduanya.
***
Pagi Hari..
Dara bangun dari tidurnya dengan kondisi bandan yang kurang enak dirasa, kepalanya pusing dan suhu badannya terasa lebih hangat dari biasanya. Dara meminta bantuan pada asisten Rumah tangga yang bekerja di kediaman Ibu Nia itu untuk membawakannya segelas air hangat. Dara yang tengah bermanja juga tak menyita banyak waktu untuk segera menghubungi suaminya, memberi kabar atas keadannya saat ini.
Dengan kepanikan pagi hari, Bagas bergegas menyelesaikan pekerjaanya memajukan beberapa jadwal nya, dan meminta Paman Alex menghandlenya jika memang tidak dapat sel;esai pada siang hari itu. Bagas bersikeras akan kembali pulang pada p[enerbangan siang hari nanti, rasa khawatirnya pada Dara lebih besar dan membuatnya sedikit tidak berkonsentrasi atas pekerjaanya.
Berbaring di atas ranjangnya dengan selimut tebal menutupi hampir seluruh tubuhnya, saat mendapat kabar Dara sakit tentu ibunda dara bergeas mendatangi puterinya, menemani Dara minimal sampai Bagas tiba kembali dari masa dinasnya.
Sore hari Bagas sudah dalam perjalanan menuju kediamannya, ia juga tak lupa memangil seorang dokter perempuan untuk datang kerumah memeriksa kondisi Dara saat itu.
Selama menikah ia baru melihat Dara lemas dan pucat berbaring di atas ranjang. iapun mendekat dan memegang suhu tubuh isterinya yang sudah cukup stabil untuk ia rasakan.,
"Sayang..." pelan Bagas berucap sambil mengusap kepala Dara.
"mas..." sahut dara dengan mata terpejamnya.
"Matikan lampu utamanya, aku pusing melihat cahaya terlalu terang.." Ucap Dara, bergegas Bagas beranjak untuk mematikan lampu utama kamarnya, hanya lampu tidur yang menerangi samar.
"Sebentar lagi dokter akan datang dan memeriksamu.. semoga kamu cepat sehat yaa, tidak tega rasanya kalo kamu sakit begini.." sendu Bagas memnadang isterinya yang nampak tak bergairah itu.
"Kamu mau makan apa? kata Ibu kamu belum makan apapun, hanya roti itupun sedikit sekali.." Kata Bagas.
"Aku tidak ingin apapun, mual dan pahit rasanya mulutku, Mas.."
__ADS_1
"Sabar yaa, itu dokternya sepertinya sudah datang.." Bagas bergegas keluar kamar membuka pintu kamarnya mempersilahkan seorang dokter yang terlihat seusianya datang bersama satu susternya.
Tidak memerelukan waktu yang lama, dokter langsung memerisanya dengan sangat teliti. beberapa pertanyaan terkait kondisi yang dirasakan oleh Dara juga di tanyakan, hingga akhirnya dokter meminta Dara melakukan test kehamilan melalui urine.
"Aku juga sebenarnya sudah menyiapkan tapi sejak pagi secara tibatiba tubuhku lemas dan pusing.." ucap dara jujur.
"Baiklah, sekarang mau di temani suaminya atau bersama suster?" Tanya ramah dokter cantik itu.
Dara menatap Bagas.
"Sama saya saja, tunjukan caranya" ucap Bagas.
Dengan singkat padat dan jelas Suster menejlaskan bagaimana cara mudah memakainya.
"Kalo garis dua, positif ya pak.." Ucap dokter mengiringi langkah bagas sambil menggendong Dara yang namp[ak sangat lemas itu.
Bagas dan Dara melakukan langkah demi langkah sesuai dengan petunjuk suster. Sambil menunggu hasil, dengan erat Dara memeluk suaminya, seolah takut jika ia akan kecewa atas apa yang ia harapkan kemudian tidak menjadi kenyataan.
Bagas juga demikian, ia menaruh harapan besar, namun rasa nervous tentu ia rasakan saat alat itu perlahakn bekerja dengan baik.
"Mas.. belum kah?" kata Dara.
"Aku lihat yaa.." kata Bagas yang juga sejak tadi tidak berani fokus pada alat tersebut..
"Allhamdulillahhhhh..." Ucap Bagas dengan seruan bahagia, Dara melepas pelukan itu dan ia menangis melihat garis merah pada tespack tersebut.
"Masya Allah, Mas.." Dara berseru bahagia, hantinya mengucap syukur pada Allah atas keberkahan ini. Bagastidak henti juga meluapkan rasa bahagia dan syukurnya sambil membanjiri wajah dara dengan kecupan kebahagiaan. keduanya larut dalam rasa bahagia sampai kedua nya menangis bahagia bersama.
*
__ADS_1
Allhamdulillah tuh hamil hehe kita kerjain Bagas gimana guys? kerjain apa ya?? ada ide? hehe
Jangan lupa dukungannya ya, like dan komen positif untuk membangun semangatku...