Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 18


__ADS_3

Dara menoleh ke arah balkon di lantai dua saat dara hendak menengok keadaan Zaidar kala itu..


Dara langsung memalingkan pandangannya saat Bagas juga menoleh ke arahnya.


"Jam satu malam, pak Bagas belum tidur" ucap Dara pelan sambil masuk ke kamar Zaidar.


Dara memegang kening serta beberapa bagian tubuh Zaidar, nampaknya Zaidar sudah cukup membaik.. tidak terasa demam lagi pada tubuhnya.


Dara memutar badannya hendak kembalia ke kamarnya. Namun ia terkejut saat Bagas berdiri di ambang pintu kamar Zaidar.


"Pak... maaf saya hanya....."


"Tidak apa, saya mengerti.." Ucap Bagas sendu..


"Bisa kita bicara sebentar, Dara" tambah Bagas , spontan Dara terkejut.


"Jika kamu mengantuk, besok saja" ucap Bagas yang mendapat respon diam dari Dara.


"Hmm bisa pak, saya kebetulan juga kebangun.. " kata Dara mengikuti langkah Bagas kemudian.


Angin berhembus cukup kencang, terasa menusk masuk menembus tulang..


"Ada apa, pak?" ucap dara sambil merasakan dinginnya malam.


"Dara.. apa kamu terpaksa menjaga Zaidar?" kata Bagas begitu membuat Dara sedikit takut atas jawabannya.


"Jawab jujur saja, saya tidak akan marah.." kata Bagas membuat Dara menghela nafasnya.


"Jujur pak, saya tidak punya basic menjaga anak, karena saya tidak berpengalaman dalam hal ini, Jadi .. hemm saya minta maaf jika banyak kesalahan saya..." kata Dara yang takut memiliki kesalahan disaat menjaga Zaidar, terlebih Zaidar sedang tak enak badan.


"Saya justru aneh.. kenapa kamu bisa sedekat itu dengan Zai, sebelumnya tidak ada suster yang sanggup menaklukkan hati Zaidar... " ucap Bagas membuat Dara tersenyum.


"Saya pakai hati pak, Ibu saya bilang.. pekerjaan apapun jika dikerjakan memakai hati akan ringan terasa.. dan saya melakukan itu pak .." kata Dara dengan senyum nya.


Bagas tersentuh, sedikit tersentil hatinya saat itu ... Aku bekerja memakai obsesi yang tinggi, kekecewaan mendalam bila gagal itu menghampiri.. - Batin nya.


"Tapi pak.. boleh saya tanya sesuatu?" Tanya Dara langsung.


"Apa kamu akan menanyakan soal, ibu dari Zaidar??" Tanya Bagas membuat Dara malu.


Cenayang rupanya, dia bahkan tau bagaimana isi otakku saat ini..


"Hemm saya hanya penasaran saja, bahkan tidak ada foto keluarga kecil kalian disini.." Tambah Dara.


Bagas memalingkan pandangannya menatap gendung bertingkat tinggi lainnya disekitar sana.


"Doakan saja agar ia bisa melihat Zaidar yang sudah sebesar ini sekarang..."Ucap Bagas.. lalu ia tertunduk merasakan penat pada kepalanya.

__ADS_1


"Maksud bapak???" tanya Dara dengan rasa ingin tahu nya.


"Saya belum bisa bercerita, yang jelas kamu hanya perlu menjaga Zaidar dengan baik.. bicaralah jika kamu sudah tak sanggup lagi .." ucap Bagas.


"Saya sudah nyaman berada di sisi Zaidar, pak.." kata Dara jujur.


"Terimakasih.. lalu, bagaimana dengan orang tua mu?" Tanya Bagas yang sudah menyelidiki kehidupan Dara.


"Hemm Ayah dan Ibu hanyabtau saya bekerja di luar kota karena saya di pindah tugaskan.. Tapi saya memang harus menjenguk mereka pak, saya harus membelikan obat untuk bapak dua pekan sekali..." kata Dara jujur.


Bagas tersenyum..


"Tidak usah memikirkan hal itu, Alex akan mengaturnya.." kata Bagas membuat Dara bingung.


"Tidurlah, saya ngantuk" Ucap Bagas cuek, sambil berjalan begitu saja meninggalkan Dara.


"Lohhh?????" bingung dara seorang diri.


"Kok jadi gue yang di tinggal" ucapnya pelan sambil berkesal diri.


Dara pun bergegas kembali ke kamarnya sambil memasang wajah kesalnya.


Menatap Langit kamarnya, Dara seolah memikirkan apa yang baru saja di ucapkan oleh Bagas.


Kemana sebenarnya mamanya Zaidar, ya? apa dia bekerja di luar negeri lalu tersesat tak bisa pulang??? - Konyolnya Dara berfikir.


Ah mana mungkin tersesat, pasti mama nya Zaidar itu pintar.. lagi pula pasti pak Bagas akan mencarinya dengan mudah kan??? lalu kemana ibu Zai??? Batin Dara yang seolah di rundung rasa penasaran.


*


"Baik pak.." jawab Dara singkat, ia masih sedikit kesal karena semalam Bagas dengan santainya meninggalkan dara seorang diri.


"Pah... apa Oma akan datang lagi?" ucap Zaidar membuat Dara dan Bagas slaing menatap.


"Hemm tidak, omah kan ada pekerjaan juga" kata Bagas dengan alasannya .


"Kalau omah datang, Zai mau pura-pura tertidur saja ya, Pah?" kata Zaidar dengan polosnya..


Astaghfirullah.. Zai, kamu sepertinya paham menghindari rasa sakit hati ya? Batin Dara miris mendenga rucapan polos Zaidar.


Bel pintu berbunyi.. Mbok Suti sudah lebih dulu membukakan pintu itu.


Dan ya, Alex datang bersama dengan Rega..


"Pagi semua..." Sapa Rega dengan wajah riang nya.


"Pagi om Rega.. om Rega bawa sesuatu untuk Zai, Tidak?" kata Zaidar begitu antusias.

__ADS_1


"Jangan makan coklat, permen dan ice cream dulu , Zai.. ingat pesan papa" Tegas Bagas berucap.


"Tenang Papa... Om Rega paham kok, kan om Rega sangat menyayangi Zaidar..." ucap Rega dengan sengaja meledek Bagas.


Bagas menelungkup kan sendok dan garpu nya..


"Kita berangkat sekarang, Lex" kata Bagas sambil berdiri, ia tidak berselera makan saat itu .


"Papa.. makan papa belum habis" tegur Zaidar melihat piring Bagas.


"Hemm.. papa sudah kenyang.. habiskan makanmu, minumlah vitamin dan banyak istirahat.. Papa berangkat" kata Bagas pada Zaidar yang duduk disisinya.


Rega hanya tersenyum tipis pada Bagas.


Selepas Bagas pergi Rega berusaha mendekati Dara.


"Kenapa kamu bisa jadi pengasuh Zaidar?" kata Rega to the poin saja.


"Butuh uang" singkat Dara menjawab sambil menyuapi sarapan pagi pada Zaidar.


Rega terkekeh mendengar jawaban yang begitu realistis..


"kenapa harus jadi pengasuh?"


"Selagi halal, kenapa tidak? " kata Dara dengan santainya.


Rega menggaruk kepalanya yang tak gat, meladeni Dara yang terlihat sangat cuek dan ketus.


"Zai, bagaimana kita bermain bola nanti? di atas" kata Rega membuat Dara membulatkan matanya pada Rega.


"Tidak Boleh... Maaf Zai harus banyak istirahat" kata Dara ketus.


"Kalo begitu, biarkan Zai istirahat .. kamu yang menggantikan Zai bermain bola, melawanku... hmm??" kata Rega membuat mata dara membulat sempurna.


"Aku setuju.. yeahhhh aku setujuuu" kata Zaidar begitu riang.


Apa-apaan ini.. kenapa jadi aku..


"Oke deal.. hitung-hitung kita olahraga pagi.. yakan..?" kata Rega sambil tertawa senang menatap wajah kesal Dara.


Kurang ajar.. kenapa jadi aku.. awas kamu yaa, datang-datang hanya merusuh saja.. - Kesal Dara memasang wajah kesalnya pada Rega dengan lirikan mata sinisnya.


*


*


*

__ADS_1


Lajut lagi nanti sambil main bola ya 🤣


like komen dulu yaa beybehhhh ❤️


__ADS_2