Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
S A H


__ADS_3

Hari yang di nantipun tiba...


Dara dan keluarganya sudah beranjak pergi menuju sebuah Masjid Agung yang cukup terkenal di bilangan Jakarta.. Dara yang sempat tak bisa tidur semalam suntuk terlihat sangat mengantuk..


Namun, rasa kantuk itu seketika hilang saat dirinya akan segera menerima polesan makeup yang akan di handle oleh team Makeup profesional...


Hati Dara nampak tak tenang, ia selalu melihat jam di ponselnya, baginya terasa sangt cepat waktu berjalan.. Membuat jantungnya semakin berdebar cepat dan kencang.


"Jangan gelisah ya mbak, masih satu jam lagi" ledek Seorang MUA demi menerima sebuah keseriusan yang ada.


"Udah ga sabar aku" Ucap Dara dengan candaannya. Dara terkekeh kecil sambil menutup mulutnya..


"keceplosan ya aku" ucap Dara terkekeh kecil.


*


Acara Ijab kobul akan di Mulai pukul 9.30 pagi waktu setempat. Dara sudah siap dengan kebaya putih dan riasan wajah yang sederhana.


Dara melihat dirinya di cermin, kembali terbesit apakah ini nyata hanya sekedar mimpi belaka..


Sementra itu, Bagas dan beberapa kekuarganya juga sudah bersiap, Zaidar nampak sangat bahagia atas pernikahan yang akan terjadi pada Bagas juga Dara, bagi zaidar memang mereka cocok sebagai seorang pasangan.


Memakai pakaian pengantin yang serba putih, kembali membuka sedikit memorinya beberapa tahun lalu, menikahi Mawar dengan penuh rasa suka cita dan gembira.


Rasanya sangat berbeda, dulu hnya ada rasa gembira dapat menikahi Mawar, namun saat ini tumbuh rasa syukur bisa mengenal Dara dan segera menjadikannya Istri.. - Bagas membatin dalam hatinya.


"Haii anak muda.. jangan melamun saja.."


Bagas tersadar dari lamunanya, tersentak mendengar suara tegas yang cukup lantang.


"Paman..." Senyumnya melebar melihat sosok pria yang sudah ia anggap sebagai penganti ayahnya.


"Tenang, jangan tegang begitu.. kebahagiaanmu berada di depan mata" Ucap Paman Alex sambil menepuk bahu bagas seraya memberi ketenangan.


"Lihat anakmu, dia sangat senang menanti kehadiran Dara.." tambahnya sambil menujuk ke arah Zaidar.


"Dia yang pertama menghantarkan cinta di antra kita, paman" Ucap Bagas tersenyum lebar.


"Maka berkahilah cinta kalian pada Zaidar.. paman percaya kamu mampu dari sekedar kata mampu yang paman ucapnan"


"Aamiin Paman.. hemm apa semua sudah siap, paman?" Tany Bagas sambil melihat jam di tangannya.


"Sudah, kita bisa masuk sekarang.. Mamamu juga sudah di dalam"


Bagas mengangguk sambil melangkahkan kakinya menuju aula Masjid. Suasana sakral sangat terasa saat Bagas melangkah psti di atas lantai yang terasa dingin menyentuk telapak kakinya.


Bagas di arahkan untuk duduk berhadapan dengn Ayahnya Dara.. Senyum sebagai tanda hormat Bagas berikan. Jantungnya berdebar kencang tak beraturan,


"Jangan tegang.. Bismillah." Ucap ayah Dara pelan.


Bagas semakin salah tingkah mendapat teguran dari calon mertuanya itu.


Mau di taruh dimana muka ku.. penasaran sekali, seperti apa wajahku saat ini.

__ADS_1


Bisa gak sih di percepat saja, aku benar-benar tidak bisa mengkontrol ekspresi wajahku ini..


Dari kejauhan, Paman Alex tertawa kecil melihat wajah merah Bagas yang terlihat sangat tegang.


Seorang pembawa acara melakoni tugasnya dengn baik, hingga Bagas kembali merasa terpacu debar jantungnya semakin cepat dan kuat saat tersebutnya nama Dara untuk segera hadir duduk berdampingan dengan Bagas.


Bagas tidak berani melirik ke arah kirinya dimana Dara dipastikan akan datang dari pintu besar di iringi oleh Ibu juga Susan.


"Masya Allah, cantiknya puteriku" Puji Ayah pelan namun dapat terdengar jelas oleh Bagas.


Aku ingin sekali meliriknya, tapi aku sangat takut seluruh konsentrasiku terpecahkan oleh pesonanya, senyumnya itu mampu melumpuhkan daya pikirku..


Bagas berusaha sekuat diri untuk tidak menoleh ke arah datangnya Dara, meski hasratnya sangat ingin menoleh bahkan hanya sekedar melirik.


Hingga Bagas sendiri merasakan bahwa Dara sudah duduk di sampingnya, Dara menoleh yakin ke arah Bagas, begitu juga dengan Bagas yang secara spontan menoleh melihat senyum inda Dara.


Rangkaian akadpun akan segera di mulai.


Dara berusah tenang, ia terunduk sambil memanjatkan doa demi kelancaran proses sakral ini..


Kalimat demi kalimat Dara dengarpenuh dengan penghayatan..


Sehinga kalimat itu masuk ke telinga Dara, di rasuki dengan rasa haru pada diri dara. mendengar Bagas mengucapkan kalimat yang akan mengikatnya sampai mati.... kemudian terdengar SAH......


Dara menitihkan air matanya.. Rasa penuh syukur dan bahagia tercermin dari air mata uang tumpah di ikuti senyum lebar ikhlasnya.


Bismillah.. aku sudah menjadi isteri Mas Bagas..


Dara menitihkan air matanya... Namun segera ia hapus karena pembawa acaara meminta mereka saling memakaikan cincin pernikahan mereka.


Mereka berdiri, saling berhadapan..


'Mas Bagas tegang sekali, aku kerjain ahhh..


"Hai suamiku... " ucap Dara dengan konyolnya saat berhadapan dengan Bagas, hingga terkekeh malu Bagas mendengarnya.


"Jangan konyol,Dara" ucap Bagas menahan tawanya.


"Sudah pakaikan cincin itu, suamiku.." Dara semakin meledek Bagas yang terlihat sangat gugup saat itu.


"Makasih" Dara mengedipkan dua matanya.


Benar-benar membuatku semakin salah tingkah anak ini.. awas saja akan aku balas nanti - Bagas membatin mencoba fokus mengikuti arahan pembawa acara.


Rasa haru menyelimuti suasana saat mereka menerima ucapan bahagia dan selamat dari orang terdekat mereka, pelukan hangat Dara dengan kedua orang tuanya membuat air matanya mengalir penuh emosi dan haru.


"Berbahagialah, Ayah sangat percaya akan pilihanmu.."


"Ibu bahagia sekali, hapus air matamu ah.. ibu masih belum puas menatap wajah cantikmu ini"


Ibu menghapus air mata Dara dengan lembutnya, senyum ibu merekah lebar menatap wajah Dara.


Kini saatnya pelukan Dara pada Ibu Nia, pelukan itu sangat hangat, Dara merasakan dekapan itu begitu hangat dan sangat penuh kasih sayang..

__ADS_1


"Maafkan Mama, Dara.." ucap Ibu Nia memeluk Dara.


Apa? Ibu nia menyebutkan dirinya dengan sebutan mama? Apa aku tidak salah dengar?.


"Aku juga minta maaf, bu.." ucap Dara menjawab.


Ibu Nia melepas pelukan itu, menatap wajah menantunya.


"Jangan Ibu, sekarang panggil mama ya?" Ibu Nia berbicara dengan lembut.


"kamu cantik hari ini" tambahnya memuji Dara.


"Tantee...." Zaidar memeluk Dara.


"Sayangggg"


"Zai, panggil mama yaa? Jangan tante lagi" Ibu Nia memberi pengertian.


"Tidak, mamaku hanya mama mawar.. aku mau panggil, Bunda" ucap Zaidar membuat Dara melebarkan senyumnya.


"I like it, Bunda" ucap Dara tersenyum lebar pada Zaidar.


Bagas ikut senang, mendengar ucapan dari orang yang ia sayangi saat itu.


Aku begitu bahagia hari ini, ini adalah keberkahan pada jumat pagi ini, Terimakasih Tuhan,.. Bagas membatin penuh bahagia.


Dara juga nampak sangat bahagia hari itu, senyumnya terlihat sangat lepas dan penuh semangat saat sesi foto berlangsung. Tidak ada beban yang terlihat dalam benaknya.


"Sayang..."panggil Bagas pada Dara secara lembut.


"Yaa" jawab Dara.


"Aku mau preapre sholat jumat di atas.. sholat jumat pertamaku sebagai seorang suami" Kata Bagas, wajah Dara memerah malu mendengar ucapan Bagas.


"Mas, aku ko malu.." kata Dara jujur.


"Malu nya gapapa sekarang, saat malam jangan malu-malu yaa" Bagas menggoda Dara hingga Dara mendadak terdiam kaku mencerna ucapan Bagas.


"Pikirkan yaa, aku sholat dulu" kata Bagas meninggalkan Dara yang masih terdiam bingung.


Astaga .. apa maksudnya yaa? Kenapa aku jadi merinding mendengar ucapanny itu..


*


*


*


TBC.


Bulan puasa acara malam nya Badar Kita skip aja gimana? Haha komen yaa baiknya bagaimana hihi


Jangan lupa Like Komen dan Gift jika ada rejekinya hehehe

__ADS_1


__ADS_2