
Waktu terus berjalan maju mendekati pada suatu titik tertentu.
Saat ini, usia kandungan Dara sudah menginjak tiga bulan.. Kediaman Ibu Nia kini terasa ramai saat Mawar dan juga Rega tinggal bersama disana, besok adalah hari pernikahan Rega juga Mawar yang akan di selenggarakan dengan sederhana, mengundang kerabat dekat dan sanak saudara.
Malam itu Dara belum juga terpejam meski hari sudah larut malam..
"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Bagas sambil memeluk manja isterinya.
"hmm.. aku koksedikit cemas ya mas, aku takut tidak bisa sedekat ini lagi dengan Zai.." ucap sendu Dara
Bagas memeberi pelukan yang lebih hangat lagi.
"tenang saja, dia sudah menjadi belahan jiwa kita dan kita juga sudah menjadi bagian dari hatinya.. kamu tidak perlu khawatir akan hal itu..."
Dara tersenyum tipis meski tak sepenuhnya hatinya yakin akan hal itu..
"lalu, bagaimana rencana kamu untuk pindah dari sini? apa mama setuju? apa mama tidak tersingung?" Tanya Dara.
"Mama menghargai aku sayang.. aku juga harus menghargai kamu, biar bagaimanapun jelas jika mawar adalah mantan isteriku, maka ada banyak hati yang aku jaga... Ada kamu, rega dan anak kita ini.." Ucap bagas sambil mengusap perut Dara yang sudah sedikit membuncit.
"Terimakasih sudah menjadi orang yang paling mengerti aku.." Ucap Dara dengan bahagiannya.
*
*
Pagi ini Dara begitu excited karena ia merasa akan sangat cantik hari ini, memakan satu set kebaya modern berwarna soft pink, tatanan rambut yang membuatnya tampil elegant sudah ia bayangkan sejak jauh-jauh hari.
Dara ikut berbahagia karena hari ini Rega dan Mawar akan mengikat janji suci mereka dalam sebuah ikatan yang suci dan sakral.
Kebahagiaan Dara juga bertambah keena besok ia sudah bisa menempati kediaman barunya, kediaman yang Bagas beli khusus untuk dirinya dan juga Dara.
"Masya Allah, cantiknya" Ucap Bagas yang baru saja kembali ke kamarnya usai berbincang dengan beberapa orang.
__ADS_1
"Ini Makeupnya yang bagus, Mas.." Puji Dara.
"Duuh, Mbak nya juga sudah sangat cantik, wajahnya sehat sekali jadi mudah untuk di aplikasikan dengan makeup" ucap MUA berkata jujur.
"Sudahlah sayang, kamu ini senangnya merendah terus.. kita akan segera berangkat, kamu sudah siap?" Tanya Bagas memandang manis isterinya.
"Sudah kok sudah siap" ucap Dara berdiri merapihkan sedikit pakaiannya. Meski Dara menggunakan kebaya yang menujukan lekuk tubuhnya namun pada bagian perut terlihat sangat nyaman karena desain yang di buat sedemikian rupa.
Dara berjalan berdamingan dengan suaminya yang terus mengengam erat tangan kirinya. Senyumnya sangat cantik dan terpancar sekali aura kebahagiaanya.
Zaidar juga tak kalah tampan hari ini, ia memakai stelan jas dengan tuxedo yang menambah aura gagah berani. Bicah kecil yang pintar itu sedikit bingung dengan acara pada hari ini, ia bertanya-tanya dalam hatinya mengapa ada pernikahan antara Rega dan Mawar.
Zaidar berusaha menikmati saja acaraitu, ia juga nampak bahagia karena keseruan dan aura bahagia terpancar juga dari orang sekelilingnya.
Setelah serangkaian acara selsai, semua merasa bahagia karena Dara bisa kembali menjadi bagian Dari keluarga besar Bagas meski dengan status yang berbeda.
Usai Acara sakral itu, keluarga itu memutuskan untuk makan malam bersama.
Menggunakan Dress pink sebagai gaun simple namun elegant menjadikan Dara kembali terlihat mempesona.
Mawar mendengar dan melihat hal itu cendeeung senang namun sedikit terlintas sebuah rasa cemburu pada sosok Dara yang belum sepenuhnya hilang.
"Aamiin mah, apapun jenis kelaminnya yang penting sehat dan sempurna" Ucap Dara dengan bahagianya.
"Oh iya kak, Kalian besok jadi pindah?" Tanya Rega dengan satainya.
"Jadi, semua sudah siap.. aku hanya membawa beberapa pakaian saja.. tidak terlalu repot" ucap Bagas merespon pertanyaan adiknya.
"Mama sudah tugaskan Mbok Surti yang lebih berengalaman dalam banyak hal untuk membantu kalian disana, untuk beberapa pekerja lainnya kamu bisa sesuaikan dan cari sendiri lagi, tapi mbok Surti akan menjadi cctv aktiv mama disana" Tambah Ibu Nia dengan ucapan posesifnya di balut dengan guyonan semata.
Mereka tertawa, sejak tadi hanya Mawar yang nampaknya lebih memilih untuk banyak diam.
Dara akhirnya mengambil inisiatif untuk membuka pembahasannya dengan Mawar.
__ADS_1
"Hemm Mbak Mawar nanti kalau suami kita sibuk, bisa ya kita nanti nyalon bareng, lunch dan shoping bareng" ucap Dara penuh semangat.
"Boleh, dengan senang hati"
Ucap mawar dengan senyumnya.
"Hanya kalian berdua? Mama?" Tanya Ibu Nia.
"Oh iya mama tentu ikut dong" Tambah Dara sementara Mawar hanya diam.
Obrolan ringan yang mampu mempererat hubungan mereka pun akhirnya hrus di selesai kan karena hari sudah larut dan Dara harus segera istirahat.
*
Dara berbaring di samping Bagas, ia mencoba mengungkapkan apa yang ia rasakan terhadap sikap seorang mawar terhadapnya.
Bagas pun merespon dengan sangat gentel.
"Aku adalah pria yang normal, menyukai beberapa bunga adalah hal yang sangat wajar bagi seorang pria normal. Dan Mawar memang pernah ada dalam hidupku secara personal, spesial dan ada cinta di dalamnya.. tapi aku terlalu ceroboh mengengam erat hingga tanganku menutupi seluruh tangkainya sehingga aku tertusuk duri, lama aku bertahan untuk menjaga nya agar tetap segar krena bermandikan Darah segar dari tanganku..."
"Tapi...."
"Aku kehabisan energiku, sampai cinta itu sendiri akhirnya mengalir habis bersama dengan darah dan kesakitan.. maka aku akhirnya melepas gengaman itu, perih masih sangat perih tapi perlahan luka itu sembuh dan kering.. kini bercaknya sepenuhnya hilang, karena kamu, Bunga Terakhir dalam hidup dan cintaku..."
Dara merasa haru atas apa yang di ucapkan suaminya itu, air mata bahagia mengalir pelan seiring dengan pelukan hangat suaminya itu sendiri.
*
*
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA
NEXT CHAPHER MASIH ADA KESERUAN LAGI YAA..
__ADS_1
TERIMAKASIH DUKUNGANNYA TERHADAP KARYA BUNGA TERAKHIR, SEMOGA BERKAH UNTUK SEMUANYA.
BTW KALO AKU UP KARYA TERBARU BAGAIMANA? ADA YANG MINAT BACA KAH? Hehehe