
Dara melihat ponselnya, betapa kesal dirinya pada Bagas..
Dia yang memberi aturan, mengapa dia juga yang melanggarnya.. dasar singa!
Kesal Dara saat melihat foto yang dikirimkan Bagas, melihat betapa lahap Zaidar memakan ayam goreng tepung.
Dara mencoba membalas pesan singkat Bagas, namun tak ada jawaban.
Satu, Dua hingga larut malam Dara masih menanti balasan pesan singkatnya hingga Dara terlelap.
Pukul 6 pagi, Dara baru saja menyelesaikan sholat dan juga menyapu rumahnya. Ia masih gelisah, Bagas tidak juga membalas pesan singkatnya.
Kalo Weekend memang bangun siang sih.. Wajar belum balas... Ucap Dara mencoba menenangkan dirinya.
Tapi... masa iya pak Bagas ga sholat subuh? biasanya sholat baru lanjut tidur...
Dara melamun di teras rumahnya sambil menghirup udara yang masih terasa sangat sejuk itu.
Lamunan Dara buyar seketika ketika kedatangan Gustaf yang cukup mengejutkannya..
"Kamu melamun? maaf yaa" kata Gustaf melihat Dara terkejut.
"Eh Mas, seperti jelangkung loh.. Datang tak di jemput pulang tak di antar" kata Dara membuat Gustaf terkekeh.
"Kamu salah, saya datang karena di jemput rindu" godanya pada Dara.
"Oh si Rindu anak Bu Siti yang ingusan itu ya" kata Dara kembali membuat Gustaf terkekeh.
"Dara.. kamu paling bisa membuat saya tertawa, meski berujung kikuk" kata Gustaf membuat Dara melebarkan senyumnya.
"Bawa apa itu?" kata Dara melirik ke arah tangan Gustaff.
"Ini? ini nasi uduk nya Bu Siti, ibunya Rindu" kata Gustaf membuat Dara menjulurkan lidahnya..
"Benarkah?" kata Dara sedikit merasa mual membayangkan apa yang tadi dia ucapkan.
Gustaf melayangkan sentilan di kening Dara..
"Bukanlah.. Bu Siti ibunya Rindu kan hanya karangan kamu saja, kenapa kamu jadi merasa jijik begitu" kata Gustaf menertawakan Dara .
"Eh iya juga yaa..." kata Dara sambil menggaruk kepalanya.
"Makanya jangan melamun terus, ini makan yuk.. ada untuk ayah dan ibu mu juga" kata Gustaf memberikan kantin keresek hitam berisi menu sarapan pagi.
"Makasih mas, lain kali jangan repot-repot lah .. " kata Dara merasa tak enak hati.
"Tidak repot, apalagi kalo kamu mau sediakan buat aku" ucap Gustaf dengan senyum malu-malu.
"Astaga .. merinding aku mas mendengarnya.." kata Dara terkekeh sambil ia beranjak pergi masuk.
__ADS_1
Dara menyiapkan sarapan di meja makan, Ayahnya nampak belum menujukan perubahan kesehatan, Dara pun akhrnya bertukar pikiran dengan ibu dan Gustaf yang sudah ia anggap sebagai seorang Kaka.
"Kita gatau kan Bu, sejauh mana penyakit Ayah menyerang? kita ga pernah kontrol lagi loh" kata Dara sambil menyantap nasi uduk.
"Ibu paham, tapi kamu tau ayah kamu kan .. Mana mau dia berobat" ucap ibu yang juga sudah sangat lelah membujuk suaminya.
"Nanti dara bicarakan lagi.. Dara ada tabungan kita bisa pakai untuk Ayah berobat, jika perlu rawat inap Dara akan usahakan untuk bapak, apapun itu.. " kata Dara.
Mereka melanjutkan makan dengan pemikiran mereka masing-masing mengenai sikap yang Dara tonjolkan saat itu.
Lantas Dara kembali membuka pembahasan baru..
"Mas gustaf ga kerja?" katanya Dara.
"Hari ini libur, kemarin kan baru turun shift malam" kata Gustaf menjelaskan.
"Loh jadi mas Gustaff habis turun shift malam langsung beli obat Ayah?" kata Dara merasa tak enak hati.
"Iya .. Tapi aku sudah dirumah, bapak bilang Ayah mu sakit.. jadi aku mampir kesini, eh benar ternyata sakit dan beberapa obat habis..." Gustaf menjelaskan.
"yaa Ampun.. jadi kemarin mas Gustaf ga tidur ya?" tanya Dara Gustaf menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Maaf ya mas..." kata Dara tak enak hati.
"Tidak Apa-apa, Dara... selepas makan malam,saya langsung tidur kok" kata Gustaf, disanaa ibu hanya tersenyum melihat dan mendengar perbincangan kedua insan itu.
"Huh .. untung ya aku suruh pulang, kalo engga bisa tidur disini.. memenuhi rumahku" kata Dara terkekeh Gustaf dan dan ibu Ikut terkekeh saat itu.
sehari kamu bisa sangat perhatian denganku, tapi di hari berikutnya, kamu juga bisa cuek denganku... bagai layangan saja, tarik... ulur... tarik dan ulur lagi... kalo sudah putus, disitulah titiknya kita tahu, rasa mana yang akan di menangkan...
Gustaf membatin sambil memakan menu sarapannya dengan pandangan yang tak lengah menatap indah wajah Dara yang terlihat sangat natural tanpa makeup.
*
Di Tempat Lain..
"Mas.. rasanya aku sudah sangat bosan dengan suasana dirumah sakit.. bolehkah aku kembali kerumah?" kata Mawar, yaa mawar yang tengah duduk menerima suapan bubur dari Bagas.
"Kita tunggu perintah dokter saja" dingin Baga menjawab.
"Kalau aku pulang, apa aku akan kembali ke rumah mu?" kata Mawar lagi.
"Aku sudah tinggal di apartemen, kamu boleh menempatkan rumah ku kok .. akan aku pekerjakan orang untuk merawat dirimu" kata Bagas.
"Kenapa mama gak tinggal bersama kita, papa?" kata Zaidar yang tengah menyantap roti cokelat nya sebagai menu sarapan dirumah sakit.
Yaa, sejak semalam Bagas dan Zaidar bermalam di rumah sakit demi menemani Mawar yang terus merasa dirinya sendiri dan hampa.
Mawar juga sempat drop, merasakan kesunyian saat dirinya sadar dari koma.
__ADS_1
"Tidak bisa Zai, mama harus berada di kursi roda .. di apartemen tidak ada kamar di bawah, harus menaiki anak tangga dan mama belum mampu" kata Bagas secara terang-terangan.
Astaga, mengapa sangat sakit aku mendengar ucapan mu mas... Mawar membatin.
"Kalau begitu, kita yang pindah, kita bisa tinggal bersama mama... iya kan?" kata Zaidar dengan pemikiran nya..
"Papa ga yakin, bagaimana nanti saja" kata Bagas.
"Papa, bagaimana Tante Dara.. apa sudah bisa kita menghubungi nya? Zai rindu"
Muak sekali aku mendengar nama Dara.. mengapa begitu sesak aku mendengar anakku merengek mencari Dara, Racun apa yang sudah kau berikan pada anakku...
Mawar membatin kesal saat dirinya mendengar Zaidar menyebutkan nama Dara.
"Nanti kita hubungi" kata Bagas singkat.
Papa takut papa semakin rindu dengan Tante Dara mu itu Zai, sementara papa tidak mau memberi tahu kalo kita berada disini..
Bagas nampak melamun singkat kala itu ..
"Mas... masss ...!" Mawar membuyarkan lamunan itu.
"Mas kamu melamun, lihat itu buburnya jadi tumpah" kata Mawar kesal melihat sendok berisi bubur tumpah di atas selimutnya.
"Astaga... maaf .. maaf... ada pekerjaan yang baru saja aku ingat" kata Bagas, ia bersikap cepat mengambil tissue untuk membersihkan percikan bubur, lalu ia menuju sofa meraih ponselnya.
"Mas ini hari Minggu bukankah kamu libur?" tanya Mawar lagi.
Perhatian mu dulu itu menjadi candu bagiku, Mawar.. tapi mengapa saat ini yang aku rasakan kesal saat mendengar itu semua?.. maafkan rasaku yang sulit aku ungkapkan ini, mawar...
Bagas hanya terdiam tidak menghiarukan ucapan mawar saat itu..
Zaidar yang masih terlalu polos pun bisa menilai sikap cuek papa nya saat itu.
*
*
*
SELAMAT HARI SENIN 💋💋💋
SEMANGAT YUK SEMANGAT
Oh Iya.. Maaf yaa ,. kalo hari Minggu aku izzin gak up yaa, agar bisa santai santai 🥰🥰
Btw yuk kasih semangat di awal minggu ini,
Like, Komen, Rate 5bintang serta Vote adalah fasilitas gratis Dari platform untuk mendukung kami para penulis...
__ADS_1
Jika ada rejeki brangkas, boleh berikan bunga atau kopi untukku yaa...🥰🥰❤️
TERIMAKASIH ❤️