Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
Posesif


__ADS_3

Dara duduk di sebuah restoran dimana dirinya akan berbicara dengan Ibu Nia.. Dara menunggu sudah sekitar sepuluh menit. Dara sangat gugup, ia juga over thingking sehingga terlihat ia sangat tak tenang kala itu.


"Siang Dara" Ibu Nia datang semakin membuat Dara gugup.


"Selamat siang bu.." Jawab Dara.


"Maaf saya telat, sudah makan kamu?" Tanya Ibu Nia.


"Belum bu, baru pesan minum saja.. ibu mau pesan makanan?"


"Nanti saja, kita ngobrol dulu .."


Jantung Dara semakin berpacu kencang saat itu. Ia gugup hingga merasakan perutnya terasa sakit kala itu.


Kalo dekdekan kenapa harus mules sihh.. gak asik banget ini perut.. Dara membatin kesal.


"Begini Dara, sebelumnya saya minta maaf jika pembicaraan saya nanti akan menyingung kamu... " kata Ibu Nia.


Dara mengangguk, nampaknya Dara sangat gugup hingga tak mampu berkata-kata.


"Saya hanya ingin menanyakan, seberapa besar kamu yakin dengan anak saya, Bagas??"


"Karena begini.. saya tidak ingin Bagas terburu-buru dalam memilih, saya tidak ingin kegagalan menjadi ujung pernikahan Bagas selanjutnya.. "


"Kamu tentu paham kan maksud saya?" tanya ibu Nia.


"Saya paham bu, itu adalah hal yang wajar bagi saya.." kata Dara membuka suaranya.


"Jujur bu, saya belum pernah menjalin hubungan dengan sebuah ikatan sperti ini.."


"Tapi saya merasa nyman, aman dan bahagia saat berada di samping pak bagas, menerima perhatian adalah hal yang membuat hati saya senang.."


"Hemm kalo begitu jawabanmu, saya kok belum yakin ya kalo kamu mencintai anak saya?" Kata Ibu Nia .


Bahakna aku tidak tahu bagaimana aku merasakan cinta itu.. yang jelas aku rindu, aku takut dia hilang dari hari-hariku..


Dara hanya teridam saat itu tidak dapat berbicara apa-apa kala itu.


"Dara.. saya mohon jika kamu tidak bisa menerima Bagas, maka tinggalkan dia.. biarkan dia mencari kebahagaan lain dengan wanita yang dapat menerima kekuranganny terlebih dapat mencintai dia dengan tulus.."


Dara ingin sekali menangis, ia merasa skait mendengar perkataan ibu Nia kala itu.


"Maaf Dara, saya harus pergi.. ada urusan penting lainnya yang harus saya lakukan.. "


"Saya pamit ya, Dara.. Selamat siang"


"Hati-hati bu, Terimakasih " sopan Dara berucap.


Dara masih saja terdiam duduk seorang diri..


Dara merenung sendiri menahan tangisnya, aku harus apa ga? Apa aku harus mundur? Sementara aku belum yakin kalo ini cinta..

__ADS_1


"Daraaaa" Lamunan Dara buyar saat seseorang memangil namanya juga menyentuh bahunya.


"Pak Bagas??? Kok bapak bisa disini????" Terkejut Dara saat bagas datang menghampirinya.


"Sekali lagi kamu panggil saya bapak, saya cium kamu disini" ancam Bagas memperingati.


"Hemm.. iya iyaa.. Mas kok tahu saya disini? Ini bukan unsur kesengajaan kan?" Kata Dara penasaran.


"Ini unsur kesengajaan.. kamu sedang ap disini sendiri??" Tanya bagas.


Pak Bagas mengira aku sendiri disini, berarti dia tidak melihat ibu Nia tadi..


"Hemm aku hmm aku mau ngopi" ucap dara asal dan spontan .


"Ngopi tapi yang kamu pesan itu es teh manis?" Kata Bagas terkekeh kecil.


"Jujur saja, Dara.." ucap Bagas


"Jujur apa? Aku jujur kok" elak Dara.


"Kamu tuh yang patut di curigai. Kamu tau aku disini dari mana?" Tanya Dara.


"Dari GPS, aku memberikan ponsel itu semata-mata untuk melacak kemana saja kamu pergi, setidaknya aku bisa menjagamu meski kita berjauhan.." ucap Jujur bagas.


"Astaga.. kamu ini bener-bener deh, aku ga merasa bebas jika kamu seperti itu" kata Dara mengeluh.


"Memang itu mau aku, aku tidak akan memberi kebebasan seutuhnya padamu.. semua bisa kamu bicarakan jika mau sesuatu atau pergi kemanapun.. aku gamau kebebasan menggerogoti perasaanku seperti yang terdahulu" kata Bagas sedikit membuat Dara terkejut .


"Sudah.. tak perlu dibahas, ikuti saja apa kataku.. demi kebaikan kita.." kata Bagas sedikit menekan Dara.


Kenapa jadi begini.. kenapa harus selebay ini sikapnya padaku?


*


Bagas mengantar Dara sampai tempat dimana Bagas biasa mengantar Dara.


"Besok aku jemput, ya?" Kata Bagas seolah masih ingin berbincang dengan Dara.


"Iyaa, kan biasanya juga begitu.. "ucap Dara terkekeh.


"Oh iya.. aku boleh minta sesuatu ga?"


"Apa?" Tanya Bagas dengan antusias.


"Hemm aku mau lebih sering pulang pergi, saat zai dirumah mbak mawar, aku pulang kerumah aku aja.. karena kan aku sudah jujur sama ayah dan ibu atas pekerjaanku.. "


"Hemm.. sepertinya Zai sedang menikmati haru-harinya bersama Mawar, aku gak mau terlalu memaksa Zai, jadi aku membiarkan dia disana bersama Mawar.."


"Lalu aku? Siapa yang aku urus???" Kata Dara menujuk dirinya.


"Aku... aku juga butuh di urus loh" kata Bagas dengan penuh peecaya diri.

__ADS_1


"Hemm .. ih aku serius, aku gak mau loh dapat gaji buta" ucap Dara sungguh-sungguh.


"Hemm oke.. kalo begitu, kamu ikut aku bekerja di kantor.. saat zaidar pulang ke apartemen baru kamu stay di apartemen, maka kamu gak akan menerima gaji buta" kat Bagas dengan ide yang sangat menguntungkan dirinya.


Aku bahkan bisa terus berlama-lama denganmu, Dara..


yess setidaknya aku bekerja bisa sedikit menjauh dari pak bagas ...


"Hemm.. double job yaa.. baiklah boleh di coba" kata Dara membayangkan pekerjaannya di dunia perkantoran.


"Oke.. kalo begitu lusa aku jemput kamu pukul tujuh tiga puluh di sini , ya?" Ucap Bagas mulai memasang wajah bahagianya.


"Siap.. ih aku jadi gak sabar" ucap Dara yang sudah berekspetasi cukup indah.


"Yasudah aku pamit yaa, kamu hati-hati dan jangan ngebut" kata Dara memberi kalimat perpisahannya.


"Iyaa, kamu juga hati-hati dan jangan lupa, salam untuk ayah dan ibu mu, ya?" Kata Bagas.


"Iyaa akan aku sampaikan, sudah yaa..take care" dara keluar mobil lalu ia berhati-hati berjaln menuju rumahnya.. Bagas tidak akan pergi sebelum Dara hilang dari pandangan matanya.


Dara hampir saja tiba dirumahnya, dari jarak yang cukup dekat Dara melihat sebuah motor yang ia kenal sudah terparkir di luar pagar kediaman Dara.


"Huh.. baru saja membayangkan mandi lalu merebahkan tubuh ini" kata Dara menggerutu.


Dara mengucapkan salamnya, rupanya Gustaf tengah duduk di teras kediaman Dara berbincang dengan Ayahnya juga adiknya.


"Baru pulang, Dar..? Dari mana?"


"Iya mas, baru pulang.. habis main saja refreshing.. "kata Dara terkekeh kecil.


"Sebentar ayah masuk dulu mau minum, haus" alasan ayah Dara nampaknya sudah dapat di tebak oleh Dara.


"Dek.. masuk sana" kata dara pada adiknya, hingga tinggalah Gustaf dan juga Dara.


"Mas mau ngajak kamu makan nasi goreng nanti, mau ga?" Ucap gustaf to the poin.


"Yah mas.. maaf banget, Dara gak bisa"


"Kenapa Dara?"


Aduh.. apa yang harus aku katakan ya? Jujur saja atau aku cari alasan lain???


*


*


*


Jujur atau Menggulur?


Komen yaaa, jangan lupa like nya loh 🌹❤️

__ADS_1


__ADS_2