
Hari-hari masih berjalan seperi biasanya, Dara masih mendampingi Zaidar setiap harinya.
Satu pekan berlalu, orang tua Dara memiliki rasa khawatir atas keberadaan Dara yang berada di dalam satu atap bersama kekasihnya, Bagas.
Rasa cemas yang wajar dirasakan oleh orang tua Dara tentunya.. Malam itu Dara memilih untuk membicarakan apa yang tengah menajadi kekhawatiran orang tuanya.
"Zaidar, sudah tidur?" Tanya Bagas dari balik pintu kamar Zaidar.
"Sudah... kamu sudah selsai menelfon Pak Alex?" tanya Dara.
"Sudah, baru saja.. makanya aku kesini"
"Hemm klo gitu kita ngobrol berua dulu sebelum tidur..."ucap Dara.
"Ngobrol di balkon saja ya" tambah Dara.
Setiba di balkon munggil itu, Dara duduk saling berhadapan dengan Bagas.
Keduany berbicara dengan sangat serius, Dara mengutarakan sesuatu hal yang mengganjal di hati kedua orang tuanya.
"Kalo begitu, lebih baik memang kita percepat semuanya, agar tidak ada fitnah juga kan?" Ucap Bagas menanggapi kekhawatiran itu.
"Semua tergantung kamu, aku hanya mengikuti mau kamu saat ini.." ucap Bagas melanjutkan.
"Aku tidak bisa menentukan saat ini..." ucap Dara sambil tertunduk.
"Kenapa?" Jawab Bagas penuh tanya.
"Yaa Karena mama kamu, Mas.." Dara berbicara cukup menekan saat itu.
"kamu sadar kan mama kmu tidak setuju??" Ucapan Dara yang cukup menekan itu terasa pada telinga bagas sehingga bagas pun sadar akan kekhawatiran dan keinginan yang sesungguhnya.
"Baik.. besok aku akan tegaskan juga ke mama, aku akan mengatakan bahwa bulan depan kita akan menikah, ya?"
Dara menoleh cepat, ia membulatkan matanya karena terkejut dengan ucapan Bagas..
"Mas kamu yang benar sajalah, bulan depan loh mas??" Dara kembali meyakinkan bagas atas apa yang baru saja ia ucapkan.
"Yaa memang kenapa? Mau besok pagi?" Timpal Bagas sambil meledek Dara.
"Kamu kenapa si ngajak nikah kaya ngajak beli nasi uduk, besok pagi!!" Bagas terrawa lepas mendengar celotehan Dara.
"Ya kamu di ajak bulan depan shock, sekalian aja aku ajak besok pagi.. " Bagas terkekeh menggoda kekasihnya.
"Kalo begitu, besok aku pulang ya? Aku benar-benar ga enak sama ayah dan ibu.. nanti nama mu juga loh yang jelek.." kata Dara memberi guyonan.
"Loh kok aku? "
"Iya kamulah.. kamu tidak mengizinkan aku pulang.."
__ADS_1
Bagas terdiam sejenak.. kalo aku rindu bagaimana, ya? Bagas terdiam dalam hatinya.
"Mas??? Kok melamun sih" kata Dara heran.
"Hemm gapapa kok.. yaudah besok kamu pulang, aku yang antar" ucap Bagas mengalah sejenak melawan egonya.
*
Pagi itu nampak sudah bersiap Dara, Bagas juga Zaidar.. merrka akan menuju kediaman utama kelurga Bagas, Zaidar akan berada disana selama Dara berada di kediamannya.
Setibanya disana, bagas langsung saja mengutarakan inti dari kedatangan bagas selain menitipkan Zaidar. Jantung Dara berdegup kencang, jemarinya hampir beku karena dingin seketika menyerang jemari kaki dan tangannya.
"Memang tidak pantas! Dara anak perempuan mau saja tinggal dengan laki-laki yang sudah dewasa juga.. apalagi kalian berpacaran!" Ketus ibu Nia berucap membuat Dara merasa sedikit terpojokkan..
"Untuk itu mah... Bagas mau ngomong ke mama, dengan serius" tambah Bagas.
"Apa??" Singkat Ibu Nia menjawab masih dengan nada ketusnya.
"Mah, Bagas ingin menikahi Dara... bulan depan" to the poin Bagas berucap.
Shock... ya tentu saja. Ibu Nia tidak menyangka Bagas akan mengucapkan hal itu, secepat ini.
Rasa gemetar pada diri Dara semakin terlihat, berbeda dengan bagas yang nampaknynsangat santai dan tenang.
"Apa kamu sudah memikirkan ini masak-masak?" Ucap Ibu Nia dengan pelan namun suaranya bergetar.
"Iya mah, Bismillah Bagas sangat yakin.. Bagas Mencintai Dara, sosok lain yang unik itu membuat Bagas jatuh hati padanya.. "
"Dara..." senyum tipis itu hilang seketika saat namanya di sebutkan oleh Ibu Nia, berdebar karena cinta itu seketika pula berubah menjadi rasa gemetar dalam rasa takut yang luar bisa.
Aku takut mati di terkam oleh Ibu Nia.. Dara membatin.
"i.. iyaaa buu" Dara menjawab dengan gemetar, Bagas terkekeh melihat Dara begitu nervous.
"Sayang.. relax saja.. mamahku ini adalah ibu peri yang di utus Tuhan untuk menjagaku, pasti mama juga akan menjagamu.." ucap Bagas dengan sedikit guyonannya.
Anak ini ... benar-benar panadai sekali membuatku tak bisa berkata apa-apa .. Ucap Ibu Nia seketika merasa ucapan Bagas sedikit menyindir sikapnya pada Dara.
"Dara.. Hemm bagaimana perasaan kamu terhadap Bagas?"
"Yaa.. hmm Sayang, bu" jawab Dara.
"Yessss!!" Bagas mulai mengeluarkan sikap konyolnya.
"Apa kamu bisa menerima Zaidar? Meskipun dia bukan anak Bagas , nampaknya Zaidar lebih nyaman saat berada dengan Bagas"
"Yaa nyaman denganku juga Dara, mah.. "celetuk Bagas
"BAgas!! Bisa kah kamu diam sejenak?" Gertak Ibu Nia yang pusing dengan celotehan anaknya itu.
__ADS_1
Dara tertawa kecil sambil tertunudk..Rasakan itu mas, kamu pantas mendapatkan gertakan itu.. ucap Dara dalam hatinya.
"Iya mahhh" Bagas kikuk seketika.
"Dara, jawab pertanyaan saya tadi" ibu nia kembali mengingatkan Dara.
"Iya bua, hemm saya sayang dengan Zaidar.. jadi kebersamaan zaidar kapanpun dimanapun bahkan dalam keadaan apapun saya memang sudah sangat siap hidup dengan Zaidar"
"Hemmm..." singkat reapon ibu nia, ia menghela nafasnya kasar.
Dara sudah memiliki feeling yang buruk seketika..
Yaa Tuhan aku gamau denge dulu sementara, aku takut sakit hati rasanya.. ayo Tuhan, buat aku tak mendengar ucapannya..
Dara membatin sambil memohon
"Mah.... bagas mau bahagia" ucap Bagas pada ibundanya.
Tatapan Bagas begitu meyakinkan wajah ibundanya saat itu. Hati ibu mana yang tidak terenyuh melihat anaknya merengek menginginkan sesuatu..
"Bagas.. Dara.." Menyebutkan nama keduanya, hingga sepasang kekasih itu menatap ibu Nia penuh harapan hati mereka.
"Menikahlah.. mama merestui" ucapan Ibu jia emmbuat Bagas terkejut bahagia, Dara pun seketika terdiam tak menyangka atas apa yang baru saja ia dengar.
Bagas mendekati ibu Nia, pelukan hangat dan erat Bagas berikan.
"Yaa Tuhan, mah... aku senang sekali" Bagas penuh kebahagiaan berkata sambil memeluk ibu Nia.
"Terimakasih, mah.." kata Bagas.
Air mata bahagia Dara mengalir perlahan. Allhamdulillah...Mungkin ini awal dari sebuah kebahagiaan kami.. itu harapanku, semoga Ibu Nia benar-benar menerimaku, merestui kami...
"Bu.. terimakaish banyak" ucap Dara pada Ibu Nia yang sudah lepas dari pelukan Bagas yang cukup erat itu.
"Dara.. Saya hanya meminta kamu agar kamu menjaga putera saya, cucu saya dan hargai cintanya" pesan Ibu Nia.
"Baik bu.. saya sangat paham atas kekhawatiran Ibu" ucap Dara santun.
"Yessss.... kit menikah juga sayang.." bagas bersorak senang.
"Aku akan emminta paman alex untuk mengurus semuanya.." Ucap Bagas sambil memainkan ponselny.
Kebahagiaan tengan menyelimuti Bagas juga Dara malam itu.. hingga keduanya menyebar senyumnya sepanjang malam.
*
*
Terimakasih Sudah Membaca dan memberikan suport kalian berupa Like, Komen dan Gift.
__ADS_1
Mohon maaf karena kesibukan RL aku jarang up.. terimakasih dukungannya ya 🌹❤️