Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
Calon Duren


__ADS_3

Dara ikut menitihkan pelan air matanya..


Aku melihat sikap kuat dan tegas pada dirimu, pak.. namun kamu begiu lemah soal urusan hati.. hatimu lemah terkait itu sebuah cinta.. Batin Dara yang juga ikut menatap Bagas, sendu..


"Belajar untuk ikhlas dengan kenyataan baru ini pak, semua akan baik-baik saja, saya yakin.. " kata Dara yang sudah tak dapat berkata apa-apa lagi.


"Bapak makan yaa, saya bawakan makan siang bapak" kata Dara berdiri, lalu beranjak ia meninggalkan Bagas.


Meminta ibu Nia untuk menemani Zaidar makan, merupakan hal yang baru bagi Dara, dan nampaknya Zaidar sangat senang kala itu.. Sementara Dara memenawa beberapa menu makanan menuju kamar Bagas.


Dara masuk dan Bagas masih dalam poisi yang sama...


"Pak ayo makan dulu" kata Dara,


"Bapak sudah pucat tuh.. A, ayok buka mulutnya" kata Dara sambil menyodorkan sendok berisi makanan..


Bagas mendorong pelan tangan Dara sambil menggelengkan kepalanya.


"Astaga" Dara memegang lengan Bagas dan juga kening Bagas.


"Bapak,.. bapak demam..." kata Dara cukup histeris terkejut.


"Saya baik-baik saja, Dara" kata Bagas berusha terlihat tegar.


Dara menatap wajah Bagas dengan serius..


"kenapa harus seperti ini? Bapak kan sudah cukup dewasa untuk menyikapi masalah ini, setidaknya bapak masih memiliki aliran darah dan daging dari keluarga ini.. bapak punya hak.. " kata Dara menatap Bagas dengan penuh keseriusan.


"Kamu tidak berada di posisi saya, Dara.. kamu pikir hati saya tidak hancur? Ternyata ibu yang melahirkan saya sudah tiada.. satu ayat doapun tak pernah aku kirimkan, bahkan namanya pun tidak pernah aku ketahui.. coba kamu bayangkan, Dara.. pikirkan dan renungkan bagaimana jika saya itu, kamu" kata Bagas cukup emosional.


Dara menghela nafasnya..


"Saya paham.. jika ada kekecewaan itu wajar pak, tapi jangan merusak diri bapak, jangan buat Zaidar sedih, biar bagaimanapun juga Ibu Nia adalah ibu yang merawat bapak, memberikan kasih sayang untuk bapak.. sekarang, beliau tengah bersedih, kasihan pak" kata Dara pelan berusaha menenangkan hati Bagas.


Bagas hanya terdiam saha saat itu..


"Sekarang makan ya? Minum obat dan istirahat" kata Dara melanjutkan ucapannya.


Dara memberikan beberapa suap makanan untuk mengisi kekosongan perut Bagas, kemudin Dara bergegas memberikan obat pereda demam dan meminta Bagas untuk beristirahat segera agar dirinya mendapatkan ketenangan pikiran.


*


"Dara..."


"Iya buu.. ada yang Ibu perlukan?" Kata Dara yang baru saja merapihkan area dapur.


"Tidak ada, Saya hanya ingin kemu menemani saya ke kamar Bagas.. saya ingin pamit pulang" kata Ibu Nia begitu terlihat lemas dan tak bergairah.


"loh, ibu mau Pulang? Aku pikir ibu mau bermalam disini?" Tanya Dara.


"Ingin pulang saja, Dara.. saya tidak sangup melihat Bagas menghindar dari saya, dan sepertinya Bagas sudah tidak ingin berbicara lagi dengan saya, Dara.. " lirih ucapan ibu Nia.

__ADS_1


"Siapa bilang???"


Suara itu mengejutkan Dara juga Ibu Nia..


"Bagas??" Berbinar mata ibu Nia bercampur senyum tipis yang manis.


"Mah..."


Bagas mendekat dan memeluk ibu Nia..


"Maafkan mama, Bagas.. Mama dan Papa salah selama ini, Maafkan kita" kata Ibu Nia.


Selama hidup Bagas, nampaknya ini kata Maaf pertama dari seorang Nia pada Bagas..


"Bagas juga minta maaf, Mah.. Dan Terimakasih mama sudah mau merawat aku" kata Bagas sendu.


Malam itu menjadi malam yang cukup mengharukan bagai bagas juga ibu nia..


Pagi hari menjelang..


Ibu Nia menyambangi rumah sakit dimana Mawar menerima perawatan medis.. Ibu Nia tidak datang seorang diri, Dara juga Bagas ikut hadir saat itu.


Mawar nampak jauh membaik saat itu, terlebih ia juga sudah mulai menerima kenyataan bahawa Rega sudah mengetahui siapa Zaidar sebenarnya..


Siang hari itu nampaknya menajdi hari yang cukup mengharukan bagi mereka.. dengan kelapangan hati, Mereka saling memaafkan menerima kenyataan yang sebenranya terjadi.


Mawar nampaknya sedikit kecewa saat Bagas memberikan sebuah pernyataan bahwa dirinya akan segera mengurus proses perceraian keduanya.


"Maaf mawar, aku sangat menghargai niat baikmu, tapi bagiku rasanya sangat sulit untuk memulai lagi, ada luka yang harus orang lian sembuhkan" kata Bagas cukup lembut namun memberi penekanan.


Mawar menangis pelan.. dadanya mulai sakit namun Ibu Nia berusaha menenangkan Mawar saat itu dengan memeluknya.


"Mas, apa ada orang lain yang sudah mengisi hatimu? Menggantikan aku?" Kata Mawar lagi sambil menangis.. ucapan Mawar membuat Bagas harus bersikap jujur dan tegas.


"Ada..." Ucap Bagas mengejutkan semua yang berada di ruang perawatan itu termaksud Dara.


Sakit sekali mendengar satu kata itu, Mas.. siapa perempuan itu?


Mawar semakin terpuruk dan terisak cukup kuat..


Mawar, namapakny kamu benar-benar sedih saat kak Bagas akan melayangkan gugatan cerai.. apa kmu benar-benar sudah mencintai dia?? Bagaimana kita sekarang? Ada zaidar yang harusnya membuat kita bersama seperti impian kita sebelumnya... Rega membatin pilu melihat tangis kesedihn Mawar dalam pelukan Ibu Nia..


"Sudah cukup.." Tegur Rega yang saat ini merasa Mawar benar-benar memiliki rasa pada Bagas.


"Ingat kondisimu, Mawar.. itu sudah menjadi pilihan bagi kakak.. hargailah" kata Rega nampak ketus berbicara.


"Kalo begitu, mah.. Bagas dan Dara pamit, terlalu lama meninggalakan Zai bersama Mbok nanti dia badmood" ucap bagas berusaha menghindari keadaan teraebut.


Dengan sedikit cangung Dara berpamitan mengikuti langkah kaki Bagas.


"Pak.. apa bapak tidak kasihan dengan mbak Mawar? Dia sedih sekali, saya takut dia makin drop karena pikiran" kata Dara sambil berjalan di samping Bagas.

__ADS_1


"Bawel" singkat Bagas berucap, sambil meraih satu tangan Dara untuk di gandengnya.


"Eh apa ini? Mau nyebrang kah?" Kata Dara terkejut.


"Iya mau menyebrangi hatimu" Bagas melontarkan gombalan recehnya.


Dara sedikit tersipu malu..


Dasar buaya air tawar, baru ingin mengugat isterinya saja dia berani memberi gombalan receh padaku.. Batin Dara.


"Uluuuh uluhhh.. king lion rupanya sudah bisa ngegombal yaa? Pasti belajarnya dua hari dua malam" kata Dara meledek.


"Belajar apa? Belajar mencintaimu? Oh itu sudah terprogram dari mata, rasa lalu ke hati" kata Bagas semakin membuat Dara tersipu.


"Kenapa diam?" Kata Bagas terkekeh.


"Siapa yAng diam? Aku hanya sedang fokus pada langkahku" elak Dara berprotes ria.


"Langkah menuju halal bersamaku?" Tambah Bagas semakin membuat Jantung Dara berdebar kencang.


"Apa sih pak, bikin lemes kaki saya saja" kata Dara memperlambat langkahnya.


Bagas berhenti sejenak..


"Oh lemes ya?" Bagas bertanya lalu Dara menjawab dengan anggukannya.


"Oke baiklah" Bagas spontan menggendong Dara ala bridal saat itu. Spontan Dara terkejut, ia membulatkan matanya dan meronta, bercakap meminta bagas menurunkanny.


*Ini gila... apa - apaan ini.. aku benar- benar ingin pingsan saja.. Dara membatin penuh kepanikan..


Semua orang melihat ke arah Bagas yang menggendong Dara kala itu.


"semakin kamu bawel dan meronta, semakin banyak orang-orang melihat kita " bisik Bagas membuat Seketika Dara diam, ia menyembunyikan kepalanya di dada bidang bagas.


Astaga.. aku mendengar detak jantungnya.. mimpi apa aku semalam, di gendong calon duren.. Dara membatin..


*


*


*


Like


Komen


Rate


Dan Gift ya..


Maaf late up, aju habis vaksin booster dan Allhamdulillah demam dan nyeri tangan luar bisa 😖

__ADS_1


Terimakasih sudah mendukung aku 🌹


__ADS_2