
Bagas meradang marah ..
"Bagas dengar semua, mama juga keterlaluan menilai Dara! mama selalu berpatokan pada harta untuk menilai besar atau kecil di mata mama...!"
Dara mendengar itu semakin tak enak hati dan merasa ingin sekali menangis..
"Lagi dan lagi kamu membela seorang pegawai?? lucu sekali"
"Mama yang lucu, tanpa seorang karyawan yang loyal dan jujur, apa bisa perusahaan kita semaju sekarang?" kesal Bagas berbicara membuat ibu Nia memicingkan matanya.
"Berani kamu berbicara seperti itu ya, Bagas" kata Ibu Nia sambil menggelengkan kepalanya.
"Mengapa? apa ada yang salah? memang semua hidup kita berkesinambungan mah... " kata Bagas tegas.
"Dara, masuk kamar Zai .. temani dia" kata Bagas memerintahkan membuat Dara mengangguk dan berlari kecil saat itu.
Dasar nenek sihir... harusnya dia sebagai wanita berpendidikan paham donk bagaimana bersikap.. menyebalkan sekali .. - Gerutu Dara kesal.
*
"Mah.. bisakah mama tidak memandang sebelah mata seseorang hanya dari latar perekonomian nya?" kata Bagas dengan tegas.
"Tidak bisa jika niat dia buruk" kesal Ibu Nia sambil memalingkan wajahnya.
"Astaghfirullah mah... Dara ada niat buruk apa? tidak ada niat Dara seperti itu" Bagas kesal, semakin tak percaya dengan ucapan Ibu Nia.
"Kamu ini Tuhan? memang kamu tau isi hati dan niat dia? Sama kan seperti Mawar Layu itu, yang hanya memanfaatkan kamu.." kesal ibu Nia nampaknya tak dapat terbendung lagi.
"Baik, itu salah Bagas.. Bagas buta pada cinta pertama Bagas.. Tapi sudahlah mah, mawar sedang sakit.. kita harusnya mendoakan dia agar cepat sehat... Bagas akan bersikap tegas untuk hubungan Bagas dan Mawar nantinya..." kata Bagas membuat ibunya yakin.
"Hemm.. mama bahkan tak berharap dia akan kembali sehat.." kata Ibu Nia membuat Bagas menggelengkan kepalanya.. sebenci itu dirinya terhadap mawar.
"Selanjutnya... mama mau kamu bebaskan Rega..." kata Ibu Nia menyambung pembicaraannya.
Bagas memicing..
"Tidak..." kesal Bagas.
"Tidak kamu bilang? sadar Bagas, dia adikmu..." Begitu penuh penekan ibu Nia berbicara.
"Dan Zaidar adalah anakku, mah .." Bagas menekan ucapannya dengan penuh emosi.
"Mana bukti kamu yang menujukan kalo Rega yang tega melakukan itu pada anak tak jelas itu" kesal ibu Nia.
"Dia anakku, jelas dia anakku, cucu mama... !!!!" Bagas tak menerima ucapan sang ibundanya.
"Terserah padamu.. yang jelas mama masih belum yakin, jika itu perbuatan Rega..." kata Ibu Nia dengan wajah marah nya.
"Lalu .. apa mama lupa? hah? dia hampir membuat perusahaan kita bangkrut mah, hampir minus miliaran rupiah .. apa mama lupa?" kata Bagas begitu keras.
__ADS_1
"Dia bilang, dia belum sepenuhnya sadar dari mabuk... itu wajar..." kata ibu Nia membela Rega.
"Mabuk? hanya mabuk yang bisa dia lakukan.. apa mama membenarkan jika posisinya Bagas yang mabuk sambil bekerja dengan lalai..." kata Bagas memutar keadaan.
"Bagas, kamu itu pemimpin!"
"Justru karena Bagas pemimpin, karena Bagas pengganti papa" Dengan cepat Bagas memotong ucapan sang ibu.
"Karena itu Bagas memilih memberi pelajaran pada Rega.. tenang mah, dia tidak akan mati di dalam sana" kesal Bagas ia lalu duduk dengan penuh kekesalan.. Bagas memijit kepalanya yang sakit.
"Mama kecewa dengan kamu, tidak ada rasa toleransi lagi dalam diri kamu, Bagas" kesal ibu ana, hingga akhirnya ia pergi meninggalkan apartemen Baga penuh kekecewaan yang mendalam saat itu pada Bagas.
Bagas memijit kepalanya yang sangat pening itu.. ia tak habis pikir dengan keadaan saat itu yang cukup membuat dirinya merasa tak ada berguna nya.
Bagas hampir saja lupa dengan Zaidar dan Dara yang berada di kamar zai..bergegas Bagas memanggil keduanya untuk makan malam bersama..
Dara turun sambil celingukan..
"Sudah pulang..." kata Bagas membuat Dara malu.
"Maaf Pak" dara merasa tak enak hati kala itu.
"Tak apa .." kata Bagas pelan
"Apa omah sudah pulang?" tanya polos Zaidar.
"Kenapa omah tidak makan malam bersama kita" Tambahnya dengan penuh harapan.
"Sudah dingin makanannya.. sebentar aku hangatkan dulu .. " Dara meraih piring berisi spaghetti itu..lalu memasukkannya kedalam penghangat makanan.
Dara kembali menuju meja makan..
"makan ini dulu sebagai pembuka" kata Dara terkekeh membawa potongan apel yang sudah ia siapkan sejak tadi.
"Terimakasih" kata Bagas tersenyum.
Auranya sungguh menyenangkan hati, aku yakin Dara pasti memang wanita baik, berbeda dengan Mawar.. Batin Bagas menatap Dara yang selalu melepas senyum indahnya.
Empat puluh menit mereka habiskan untuk makan dan sejenak berbicara santai dan ringan.. Hingga tiba waktunya Dara membawa Zidar ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap tidur.
Langkah pelan Dara menuruni anak tangga untuk kembali ke kamarnya.
Dara terkejut saat melihat Bagas masih menonton televisi.
Tumben banget pak Bagas mau nonton tv ..
"Pak.. belum tidur?" kata Dara lembut.
"Belum.. Zai bagai mana? sudah tidur?" kata Bagas sedikit terkejut dengan kehadiran Dara.
__ADS_1
Hemm dia ga nonton tv, dia melamun..
"Zai sudah tidur , pak..." kata Dara.
"Bapak tumben belum tidur?" tanya Dara sedikit ragu.
"Entah, pikiran saya sedang tidak tenang..." kata Bagas terlihat memang begitu murung.
"hemm bapak mau Teh hangat?" kata Dara menawarkan.
"Hemm.. kopi saja, jangan terlalu manis" pinta Bagas dan Dara bergegas menuju dapur.
Pasti pak Bagas stres mikirin mbak mawar, belum lagi pak Rega, dan ibu Nia.. kan kasihan ya pak Bagas.
Sambil membuat kopi Dara membatin penuh keluh.
Dara kemudian datang membawa secangkir kopi hangat serta beberapa potong kue kemasan.
"Kopi dan cake nya , pak" kata Dara menyajikan dengan rapih
Bagas tersenyum mengucapkan ras terima kasihnya.
"kamu sudah mau tidur?" tanya Bagas membuat Dara mengerutkan keningnya.
"Ada apa pak? bapak butuh sesuatu kah?" kata Dara.
"Tidak... hanya, heeuhh...." Bagas menghela nafasnya dengan kasar.
kenapa ini pak Bagas ya? aduh kayaknya dia mumet sekali ya.. Batin Dara.
"Kamu pernah punya masalah hidup, Dara?" tanya Bagas tanpa melihat ke arah Dara.
"Ya punya pak, namanya hidup.. ikan hidup saja pasti ada masalahnya kan" kata Dara asal.. dengan spontan Dara menutup mulutnya cepat.
Bodoh kamu Dara, liat pak Bagas lagi kesal malah nyeleneh... ah bodoh banget ya aku .. Dara membatin.
Dara melirik ke arah Bagas untung melihat ekspresi bagas saat itu.
Deng ...!!!
*
*
*
Deng apa deng? hehehe
lanjut sebelah yukkk... hehee
__ADS_1
Like Komen dan Vote yuk.. hehe