
Siang hari menjelang, Dara baru saja menyelesaikan mandinya setelah berkutat dengan pekerjaan rumahnya. Dara kembali ke kamar nya melihat ponselnya.
Adakah balasan pesan dari pak Bagas??? Dara membatin penuh harap..
"Hah... kenapa malah pesan mas Gustaf yang ada?" Ucap Dara spontan saat melihat beberapa pesan singkat yang masuk.
Kemana sih? kenapa ga balas pesanku... Kesal Dara lalu ia membanting ponselnya ke atas kasurnya.
Dara emosi saat itu pikirannya benar-benar tak tenang saat itu.
Awas saja yaa pak, kalo bapak chat saya.. gak akan saya balas.. Dara membatin kesal.
Dara merebahkan tubuhnya, menatap dinding langit kamarnya..
"loh.. aku ini kenapa ya? kenapa aku gelisah saat tidak ada kabar dari Pak Bagas? kenapa aku kaya kangen sama beliau... Astaga Dara, bangun bangun bangun... dia itu majikan kamu, mana mungkin bisa Dara..."
Dara bermonolog seorang diri sambil menatap langit kamarnya yang terlihat beberapa noda coklat disana..
"Astaghfirullah"
Suara itu terdengar dari luar kamar dara, yaa itu suara Ibu yang nampak menjerit atas rasa kagetnya.. Dara yang terkejut saat mendengar teriakan sang ibu yang begitu histeris bergegas ia bangun.
Dengan handuk yang masih menempel di kepala, Dara membuka dan melemparkannya ke Semarang Arah lalu dara berlari menuju sumber suara, tepatnya di kamar kedua orang tuanya.
"Astaghfirullah, Ayah..." Dara terkejut saat melihat mulut sang ayah sudah mengeluarkan darah..Dara panik, sangat panik.
Dara bergegas lari keluar rumahnya, memanggil beberapa warga yang mendengar suara teriakannya itu..
"Tolong atuh pak, Carikan mobil atau ambulan" kata Dara yang sudah menangis itu.
Tinggal di lingkungan yang cukup padat pemukiman, dengan mudah Dara mendapatkan pertolongan saat itu.. Terlebih mereka di kenal sebagai keluarga yang baik pada tetangga.
Melihat respon baik warga , Dara kembali kedalam rumahnya Dengan sembarang Dara meraih tasnya di dalam kamarnya. Tidak memikirkan rambutnya yang belum di sisir, pakaian santai yang ia kenakan.
Tangis Dara sepertinya cukup menggambarkan bahwa gadis itu memiliki rasa yang luar biasa pada kedua orang tuanya.. Wanita seceria Dara dapat menangis saat orang terkasihnya merasakan sakit.
Dua puluh menit berlalu, Dara tiba di IGD rumah sakit terdekat.. Dara mengambil langkah cepat menuju pendaftaran agar ayahnya segera mendapatkan pertolongan yang maksimal.
Asuransi pengobatan gratis dari pemerintah Dara coba gunakan saat itu.. Hati dara semakin kacau tak tenang saat dirinya menyadari tidak membawa ponsel, bahkan ia lupa meletakkannya dimana..
Dara kembali berjalan menuju IGD rumah sakit, melihat ibunya setia mendampingi Ayahnya yang masih menunggu penanganan medis.
Dara di hampiri salah satu dokter, membicarakan kondisi sementara Ayahnya yang baru saja mendapat pemeriksaan awal dari dokter umum di IGD. Dara mengikuti dan menerima saran dokter dengan baik demi kesembuhan Ayahnya.
Hari itu juga, Ayah Dara akan mendapatkan perawatan khusus di ruangan ICU.. hancur hati Dara melihat kondisi Ayahnya yang terlihat sangat lemah itu. Kepala Dara sakit namun tak dapat ia keluhkan semntara ia harus terlihat kuat saat itu.
"Dara..." sapa seseorang yang tentu sangat ada kenal suaranya..
__ADS_1
"Mas..." Dara menoleh sambil kembali menyapanya.
"Maaf... aku baru tahu dari ibuku" kata Gustaf merasa sedikit menyesal tidak dapat membantu Dara.
"Tidak apa, Ayah sudah mendapat perawatan, Insya Allah akan cepat pulih, doakan yaa .." kata Dara dengan mata sembabnya.
"Pasti Dara..."
"Mas Gustaff gak berkerja?" kata Dara berusaha membuka pembahasan baru menutup kesedihannya.
"Kamu ini bagaimana sih Dar, kan tadi pagi saya sudah katakan kalo hari ini libur..." kata Gustaf tersenyum tipis.
"Maaf agak goyang otak aku, mas" kata Dara. mengundang tawa kecil Gustaf.
Meski masih dapat mengundang senyum orang lain merekah, Hati dara masih tak tenang, pikirannya masih terbagi antara sang Ayah juga terbesit bayang Ziadar juga Bagas.
Mereka sedang apa yaa? kenapa pak Bagas tak balas pesanku sejak semalam... batin Dara kesal.
**
Di tempat Lain..
Bagas dan Zaidar sudah berpamitan untuk pulang, sementara Mawar akan di dampingi oleh orang yang sudah Bagas tugaskan disana.
Akhirnya aku bisa keluar dari ruangan itu... Batin Bagas seolah tak menyukai berada di ruang perawatan Mawar...
"Tentu, tapi ....." Ucapan bagas tertahan sambil memainkan ponselnya.
"Tapi apa papa???" tanya Zaidar dengan penuh rasa penasaran.
"Tapi Tante tidak menjawab telfon papa" kata Bagas sedikit bingung.
Dara apa kamu marah? kenapa karena tidak ada balasan pesan dariku kamu jadi menghilang begini? Batin Bagas.
"Lalu bagaimana papa? aku rindu Tante" rengek Zaidar.
"Bagaimana kita pulang dulu, kita mandi dan ganti pakaian.. sambil menunggu Tante menyelesaikan urusannya" kata Bagas.
"Tante sedang ada urusan ya Pah?" tanya Zaidar kemudian.
"Iya.. jadi kita pulang dulu ya" kata Bagas yang kemudian di setujui oleh bocah kecil itu.
Satu... Dua... hingga lima jam berlalu.. hari sudah malam .. Zaidar menunggu hingga dirinya tertidur.
Bagas juga semakin panik bercampur kesal, terlebih posnsel Dara kini berada dalam keadaan tidak aktv.
Bagas menghubungi Alex..
__ADS_1
Bagaimana Paman? hingga saat ini tidak ada jawaban apapun dari Dara.. bisakah paman membantu aku? Zaidar terus merengek mencari Dara..
Tenang... paman sudah memerintahkan seseorang untuk datang ke rumah Dara mencari informasi.. Namun belum ada kabar, sabarlah dahulu ...
Baik paman.. Terimakasih..
Bagas terjaga, dirinya sedikit menyesal tidak dapat membalas pesan singkat dari Dara sejak kemarin.
Tapi... Dara bukanlah anak yang seperti itu, masa dia bisa marah hanya karena sebuah pesan singkat yang tak terbalas...
Tak lama kemudian.. ponsel Bagas berbunyi menandakan panggilan masuk dari Alex.
Saat ini Dara dan keluarganya berada dirumah sakit Ayahnya Drop.. Paman sudah cari informasi, Ayahnya Dara drop karena penyakit paru-paru dan saat ini terjadi infeksi.
Astaghfirullah.. lalu bagaimana kondisi Dara?
Bagas.. yang sakit Ayah nya bukan Dara, sepantasnya kamu menanyakan kondisi Ayahnya, bukan Dara nya..
Kesal Alex membuat Bagas mengigit bibirnya..Keceplosan aku... Batin Bagas sambil menepuk keningnya sendiri.
Maaf paman, yaa bagaimana keadaan Ayah Dara..
Dalam kondisi kritis, berada di ruang ICU..
Aku ingin kesana , paman..
Besok saja.. paman akan kirim satu pengasuh semntara untuk menjaga Zaidar besok...
Baik paman.. Terimakasih ..
*
Bagas semakin tak tenang, tidurnya pun tak nyenyak.. Bagas tengah membayangkan bagaimana Dara sangat terpukul mengingat betapa Dara begitu menyayangi kedua orang tuanya.
*
*
*
Selamat Malam Semua.. Maaf yaa Up malam, hari ini sedang ada pekerjaan yang luar biasa di RL hehe ..
Terimakasih sudah setia menunggu up nya BaDar❤️💋
Like Komen Rate dan Vote sangat berarti untuk BaDar..
Kopi dan bunganya juga bole heheh
__ADS_1
TERIMAKASIH YAA ❤️