Bunga Terakhir

Bunga Terakhir
BT - 22


__ADS_3

Dara mengikuti langkah kaki Alex, ia melangkah lebih cepat untuk mengimbangi langkah kaki Alex yang lebih lebar darinya.


Wajah Dara sudah memerah karena menangis dan merasakan pusing dan mabuk perjalanan akibat kelihaian Alex dalam mengendarai mobilnya saat itu.


Di dalam ruangan Bagas, ia nampak kacau saat itu.


"Dimana Zai, Alex?" spontan Bagas berucap saat melihat wajah Alex.


Dara hanya tertunduk lemas..


"Kita belum menemui petunjuk, hanya seorang wanita berpenampilan mirip Dara yang terekam cctv sekolah.." kata Alex menjelaskan.


"Lalu... mereka membawa Zai dengan apa? apa kalian tidak melihat kendaraan mereka?????" kesal Bagas.


"Ia membawa Zai hingga tak lagi terpantau kamera cctv, disanalah saya yakin kendaraan mereka menunggu.." ucap Alex mengundang kepanikan.


"Lapor polisi..." kata Bagas.


"Sudah, Tuan.." kata Alex.


"Maafkan saya pak, kalau saja tadi sa----"


"Diam Dara!!!!" bentak Bagas membuat Dara merasakan sesak pada dadanya.


"Kenapa dia bisa telat menjemput?" kata Bagas pada Alex dengan ketusnya menujuk ke arah Dara.


"Ada kecelakaan di persimpangan, membuat kemacetan" kata Alex.


"Selidiki kecelakaan itu.. siapa yang tahu kalo ini berkaitan..." tambah Bagas dengan pemikirannya.


"Baik." kata Alex dengan sigap.


Dara nampak pucat dan menangis kala itu.


"Dara, duduklah disana" kata alex menujuk sofa yang tersedia disana.


Bagas hanya acuh tidak melirik sekalipun ke arah Dara.


Astagaa, Zai.. dimana kamu nak.. papa mohon gunakan kecerdasan kamu, bantu papa disini untuk menemukan kamu... Batin Bagas.


Tiga puluh menit berlalu..


"Lebih baik kita kembali ke Apartemen, Tuan.. lebih leluasa dan nyaman untuk kita berinteraksi dengan beberapa petugas lapangan yang bergerak.." ucap Alex memberi saran pada Bagas.


"Baiklah..." ucap Bagas smabil ia meraih jasnya, melangkah lebih dulu..


Dara begitu pusing saat itu.. pandangannya mulai kabur.


Baru dara berdiri dan melangkah tubuhnya terhuyung hampir terjatuh ke lantai, Bagas yang hendak melintas spontan menangkap tubuh Dara yang lemas.


Astaga, wajahnya pucat sekali... Ucap Bagas dalam hati saat melihat dara.


"Daraaa" teriak Alex mendekat.


"Kamu kenapa, hei..." ucap Bagas melihat Dara hampir memejamkan matanya.


"Suhu tubuhnya sedikit hangat" tambah Bagas pada Alex.


"Dia memang tadi sempat mengeluarkan isi perutnya, Tuan..." kata Alex.


"Apa dia sakit??" tambah Bagas.


"Sepertinya .."

__ADS_1


Bagas langsung saja menggunakan tenaganya menggendong Dara keluar ruangannya menuju mobil..


Hal itu tentu menggundang banyak tanya dan perhatian para karyawannya..


Bagas Tidak perduli saat itu, Sekejamnya Bagas sebagai seorang pria ia masih memandang Dara sebagai wanita yang mau mengurus dan mengasuh Zaidar dengan tulus...


"Berat sekali, makan apa dia" kata Bagas saat meletakkan tubuh Kiya di kursi penumpang.


"Dia makan bisa empat kali sehari, Tuan" kata Alex mengejutakan Bagas.


"Sudah, Lex cepat kendarai mobil dengan benar, aku ingin cepat sampai rumah" kata Bagas dengan ketus.


Bagas masih sangat panik, belum ada kabar sedikitpun yang memberikan sebuah petunjuk keberadaan Bagas.


Setiba di Apartemen..


Bagas meninggalkan Dara begitu saja, Alex pun menggelengkan kepalanya.


Tidak mungkin aku yang sudah setua ini menggendong Dara yang katanya Berat ini... Batin Alex sambil menggaruk kapalanya...


Alex bergegas membangunkan Dara membuatnya sadar dengan aroma minyak angin yang di miliki oleh Alex.


Dara terbangun dengan bingung, melirik kanan dan kiri.


Sejak kapan aku di dalam mobil... Batinnya..


"Dara.. ayo kita cepat harus ke atas, pak Bagas sudah lebih dulu" kata L


Alex membuat Dara menghela nafas kasarnya.


Astaga aku sudah di apartemen rupanya .. tapi kepalaku sakit sekali ..


"iya pak...pak .. Zaidar sudah ada kabar?" kata Dara dengan suara pelan nya..


"Baik, pak.. Tapi jujur kepala saya sakit sekali.." kata Dara memegangi kepalanya.


"Yasudah.. saya bantu" kata Alex yang kemudian membantu memapah Dara hingga mereka tiba di unit apartemen milik Bagas.


Bagas nampak frustasi.. ia melempar kesembarang dasi yang ia kenakan, bahkan Bagas juga melempar bantal sofa ke sembarang arah.


Dara semakin tertekan melihat Bagas yang frustasi, ia mengingat Zaidar yang sampai saat ini belum ada kabar sedikitpun..


"Duduk saja, Dara disini" kata Alex meminta Dara duduk di sofa ruang tamu itu.


"Hubungi semuanya, tanyakan ada perkembangan apa?!!" kata Bagas tegas.


Alex mendekat kearah Bagas..


Alex menujukan layar ponselnya membuat Bagas emosi membacanya..


"Selidiki.. sekarang!!" kata Bagas tegas. Alexpun bergegas pergi meninggalkan unit apartemen itu.


"Mbokkkk.. Mbokkkk... Mbok Suti" Bagas berteriak kencang.


Mbok Suti datang dengan langkah cepat.


"Mbok, tolong kerumah mama sekarang, mama sedang sakit.. urus mama" kata Bagas dengan ketus.


"Jangan cerita apapun soal Zaidar.. ingat itu" kata Bagas membuat mbok Suti mengangguk paham..


"Alex menunggu mbok di basemen" Kata Bagas saat mbok Suti memutar bandannya saat hendak bersiap diri.


Bagas menoleh ke arah Dara..

__ADS_1


Dara terlihat menangis tertunduk..


"Dara .. istirahat lah" kata Bagas.


Dara hanya terdiam menunduk, terlihat tangisannya begitu mendalam hingga sesegukan terlihat.


Dara menggelengkan kepalanya..


Bagaspun mendekat, lalu memegang kening Dara menggunakan oungung tangan nya.


"Demam..." kata Bagas.


Bagas bergegas mengambil segelas dan obat penurun demam dan memberikannya pada Dara.


"Minum... jangan sampai Zaidar kembali dan kamu sakit.. jangan tambah beban pikiran saya!" ketus Bagas membuat Dara kesal di buatnya.


Kenapa sih ucapan nya tak bisa lebih manis lagi.


"terimakasih..." kata Dara.


Bagas duduk disisi Dara.


"Sedalam itu kah kamu menyayangi, Zaidar?" tanya Bagas membuat Dara menoleh ke arah Bagas.


"Saya tulus, saya seperti sedang tidak bekerja saat bersama Zaidar" kata Dara dengan tangisnya.


"Anak itu memang istimewa.. mampu membuat siapa saja menyayanginya, termaksud, saya" kata Bagas membuat Dara bingung.. mengerut kening Dara.


Jelas sayang lah, anaknya masa ga ada rasa sayang... Dara membatin .


"Dara... saya juga hancur saat ini, saya takut bila berpisah dengan Zaidar suatu saat nanti..." kata Bagas sendu.


Dara semakin tidak memahami apa yang di maksud oleh Bagas.


"Makasud bapak gimana? apa Bagas akan ikut dinas ya dengan mama nya??" Polos Dara berucap, seketika pula Bagas memungkinkan senyum kakunya.


"Dara... kamu harus tau satu hal.." kata Bagas begitu serius, maka Dara juga merespon ucapan Bagas yang serius.


"Apa pak? soal Zaidar kah?" kata Dara to the poin.


"Tentu .. sepertinya kamu harus tahu, agar kamu siap jika nanti kamu tidak lagi bekerja dengan saya sebagai pengasuh Zaidar...." ucap Bagas semakin membuat Dara yang tengah bersedih memikirkan banyak hal , salah satunya adalah ia akan di pecat kelak..


"Pak, maksud bapak itu apa? saya tidak paham" kata Dara begitu penasaran.


Bagas menghela nafasnya lalu ia menatap Dara..


"Dara... Zaidar.. Zaidar itu bukan anakku" kata Bagas dengan jelas menusuk telinga Dara..


Deng....!!! anak siapa Zai??? hehehe


Anak siapa Zai?? ngaku hayo ngaku heheh


jangan Lupa yaa ..


Like gratis


Komen gratis


Rate 5 🌟 gratis


dan Vote yukkk ,😌


kalo ada rejeki Boleh kirim bunga atau kopinya Kaka ,😌🤣🙏

__ADS_1


__ADS_2