CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
YOYO


__ADS_3

"Se...sebenarnya tidak ada masalah". Kata she na gugup.


"Masih membangkang, pelit sekali". Ucap Rena dan paman tua bersamaan.


"Lagi pula ini adalah kamar suite bisnis. Kamu kira kamar ini di hitung per jam?. Bisa keluar seenaknya?". Decak kesal Rena. "Tidak peduli kamu menginap atau tidak, biaya tetap adalah biaya penginapan semalam". Cibirnya menatap She na.


"Tapi, uang di kartuku ini bahkan tidak cukup untuk semalam". Ucap she na melihat keduanya tetap kekeh masih mau disini.


"Jadi, kamu punya berapa?". Tanya Rena.


"Sepertiga". jawab she na.


"Bagus sekali, bayar masing-masing". Timpal paman tuanya.


PHOK...Sang paman membuka anggur merahnya dan mulai merayakannya. She na sudah minum terlalu banyak, dia pergi mandi menyegarkan diri.


"Sudah minum cukup banyak anggur, kalian mau mandi tidak?". Seru she na keluar dari kamar habis mandi. "Jarang-jarang menginap di kamar seperti ini, harus menikmatinya dengan sebaik-baiknya......". Ucapnya terjeda saat melihat apa yang dilakukan Rena dan paman tuanya. "Ka...kalian sedang apa?". Tanya she na dengan panik.


"Minumlah, cepat kemari, kemari!". Jawab pamannya dengan santai.


"Dari mana arak sebanyak ini?". Tanya she na lagi yang sudah gugup.


"Dari Bar lah, dasar anak dungu!". Cerca sang paman.


"Kalian berdua sudah gila ya?". Bentak she na tiba-tiba. "Apakah kalian tidak tau seberapa mahalnya arak di bar?. Taruh kembali?". Bentak she na karena tangan kedua orang itu masing-masing sudah memegang botol arak dan membukanya.


"KLEK...Sudah terbuka". Jawab keduanya santai sambil tersenyum. She na memejamkan mata dan menghela nafas panjang.


"Kalau begitu.....". Ucap she na menyeringai. PONG.....PONG.....PONG..... Soraknya di ikuti oleh keduanya berdiri dan berjoget. Bersorak-sorakan sampai kedengeran kamar sebelah.


"Buka satu lagi, satu lagi". Seru paman tua dan Rena. "Ayo,ayo, kita merayakannya". Sorak meraka tanpa peduli teriakan mereka bisa menggangu kenyamanan tamu yang lain.

__ADS_1


Presdir Lu yang berada di kamar sebelah sedang melakukan pekerjaannya terganggu dengan teriakan mereka. Hingga sang presdir dan melangkah ke depan jendela melihat dari mana suara berisik yang mengganggunya. Namun, presdir Lu hanya mendengar sorakan teriakan saja. Dengan kesal sang presdir duduk kembali di meja kerjanya, mencoba mengabaikan suara berisik itu, tapi tidak berhasil. Sang presdir sangat tidak puas dengan pengedap suara hotel ini.


"Orang jahat, kalian semua adalah orang jahat. Orang jahat, orang jahat". Seru she na yang sudah mulai mabuk. "Biasanya sangat sombong terhadapku, kalau membutuhkanku, baru menarikku kembali. Kalau tidak membutuhkanku lagi, membuangku jauh-jauh". Seloroh she na mengeluarkan kekesalannya pada kedua orang di depannya. "Kalian kira aku adalah apa?. Apakah aku adalah Yoyo. Tidak salah, aku memang sebuah Yoyo". Teriak she na ngelantur sambil tertawa.


"Aku lihat, kamu memang sebuah Yoyo. Kalau tidak, dapur hotel Xx baru memanggilmu, kamu sudah berlari kesana dengan begitu bahagia. Dengan senang hati menjadi karyawan biasa". Cibir paman tuanya.


"Benar. Tapi, kali ini kamu cukup pintar, akhirnya tau memperjuangkan hak untuk dirimu sendiri". Timpal Rena sambil main ponselnya.


"Kalau begitu, kita harus berterima kasih pada insiden kebakaran di hotel". Kata sang paman.


"Benar, benar, benar". Ucap Rena membenarkan.


"Kalau tidak, dengan karaktermu yang suka di perbudak ini, pasti akan tinggal di lingkungan hidup yang menyedihkan seumur hidupmu". Lanjut paman tua mengolok she na yang entah di dengar atau tidak.


"Benar, kamu harus berterima kasih pada alarm kebakaran, membantumu mengenai kenyataan". Sambung Rena.


"Ooh...Aku sudah ingat, yang paling harus kita berterima kasih adalah kamar 1123". Ucap sang paman.


"Nana...Ayo cepat minum. Nana...". Panggil paman tuanya. "Anak ini kayaknya sudah tidur. Kita minum berdua saja" Kata paman tua.


"Sudah tidur?. Aku tidak bisa minum denganmu lagi. Aku masih ada acara di diskotik. Aku sudah mau pergi, aku serahkan Gu she na padamu ya". Ucap Rena sudah janjian lagi katanya.


"Jangan, jangan, jangan..". Seru paman tua. "Malah aku yang ingin serahkan dia padamu. Sebelum jam 12 malam, aku sudah harus sampai di rumahku". Ucap sang paman.


"Ho.....Kamu cinderella, ya?". Cibir Rena. "Bisa-bisanya jam 12 malam sudah harus sampai rumah. Bagaimana kalau tidak pulang?. Kereta kuda akan menjadi labu?. Ledek Rena menatap kesal.


"Bukan. Kalau aku terlambat pulang, Zenan kami akan mengunciku di luar". Ucap paman tua yang tidak tua-tua amat sich.


"Ai yo yo, Zenan, Zenan. Hanya teman sekamar,mengaturmu dengan begitu ketat. Jangan, jangan....."Ledek Rena dengan senyum genitnya.


"Bukan, sembarangan apa kamu?". Elak paman tua.

__ADS_1


"Eh, sttss, jangan bicara". Kata Rena karena ada telpon masuk. "Oke, aku segera sampai. Ya, benar, benar. Satu jalan, sangat cepat, oke". Ucap she na di telpon dengan suara centil.


"Kalau kamu pergi, bagaimana dengannya?". Tanya paman tua menunjuk she na.


"Dia bagaimana?". Tanya Rena balik.


"Na na..."


"Na na...". Panggil keduanya bersamaan.


"Dia minum sampai seperti ini, harusnya tidak akan menimbulkan masalah lagi". Bisik paman tua pada Rena.


"Benar. Tapi, kita pergi seperti ini, apakah terlalu jahat?". Ujar Rena menatap paman tua, keduanya tersenyum nyengir dan......


"Bantu aku ambil tas". Ucap Rena gegas berdiri.


"Bantu aku ambil jaket". Paman tua juga sama.


Setelah mengambil barang masing-masing, mereka meninggalkan she na yang mabuk tertidur di sofa. Beberapa menit kemudian, she na jatuh dari sofa 'Aaawh', lalu dia bangun melihat sekeliling tidak ada orang.


"Ooo tidak salah, aku memang mau pergi mencari tamu kamar 1123 untuk membalas budinya". Ucap she na ngelantur mengambil botol arak di meja dan berdiri, berjalan sempoyongan dengan hanya memakai sebelah sepatu saja. She na masih memakai bathdrope hotel setelah mandi tadi. Dia berjalan ke balkon dan naik ke atas meja, lalu memanjat tembok, dan kakinya tergelincir jatuh ke balkon kamar presdir Lu.


"Aaaah...Bug..". Teriak she na dan terjatuh. Pressir Lu, mendengar ada suara, dia berdiri dari duduknya dan berjalan ke jendela balkon. Saat presdir Lu, membuka jendela balkon, she na langsung teriak dan memeluknya dengan erat.


"1123...Terima kasih padamu". Gumam she na memeluk presdir Lu.


"Kamu...". Ucap sang presdir mencoba melepas pelukan she na, namun gak bisa, karena she na memeluknya dengan sangat erat.


"Terima kasih, telah menyelamatkan hidupku". Gumam she na masih memeluk presdir Lu.


Sang presdir melepas paksa pelukan she na dan terkejut melihat wajah she na

__ADS_1


"Kamu.....Ternyata kamu?". Ucap sang presdir dengan mata membulat.


__ADS_2