
"Xu... Menurut kamu, malam ini kamu inisiatif untuk ngobrol dan minum dengan sopir itu. Kenapa?. Jangan-jangan kamu sedang jatuh cinta?". Tanya paman tua melihat ke saku jasnya. Celine tidak menjawab, dia hanya meminum winenya. " Kamu tidak bicara, aku anggap kamu mengakuinya". M X J sangat senang mendengarnya.
" Kamu masih ingat?. Pengejaranku dulu, apakah terlalu vulgar?. Apakah salah?. Sampai aku bertemu dengan M X J, aku tiba-tiba menyadari dulu yang aku kejar semuanya... benar. Jadi, minum-minum hari ini adalah sebuah Perpisahan. Perpisahanku dengan M X J, juga perpisahan dengan setelah kehidupanku sebelumnya yang berantakan". Jawab Celine membuat senyum M X J langsung surut dan mengusap mukanya dengan kasar. Paman tua menepuk saku jasnya dengan pelan ikut prihatin. "Aku ingin mulai dari awal". Seru Celine mengangkat gelas winenya.
Pagi harinya, she na keluar rumah dan membuka kunci sepedanya mau berangkat kerja ke hotel XX.
"She na...". Panggil ziqian yang sudah menunggu she na dari tadi.
"Kak ziqian... Kenapa kamu kesini?". Tanya she na.
" Kebetulan sejalan, antar kamu pergi kerja".
" Sejalan?. Laki-laki bilang sejalan biasanya tidak sejalan. Katakanlah, keliling Berapa lama baru datang ke sini?"
" Memang sengaja datang jemput kamu. Hari ini tidak perlu menyiapkan menu baru lagi".
" Kamu tidak bilang aku hampir lupa. Bagaimanapun aku sekarang adalah koki utama jamuan malam, juga bisa duduk atau berdiri sejajar denganmu". Seloroh she na membuat ziqian tersenyum.
"Ayo...".
"Ayo.. Tunggu sebentar, kunci sepeda dulu". Ucap she na berlari mengunci sepedanya. Ziqian tersenyum melihatnya.
"Ayo..". Keduanya berjalan ke mobil Ziqian.
Di vilanya presdir Lu, ibunya sedang minum teh di ruang tamu besarnya.
"Pemimpin Zheng, di jadwal besok ada makan siang di restoran. Yang dipesan adalah seorang koki wanita namanya Gu she na. Ini menu makanan yang sengaja disiapkan untuk anda".Ucap Li Man memberikan buku menu pada ibu presdir Lu.
"Dia lagi. Lu Jin dimana?". Tanyanya tegas.
"Presdir Lu sedang rapat". Jawab Li Man.
Ibu presdir Lu diam mendengarnya, dan memikirkan sesuatu.
Di ruang rapat semua orang sedang serius dengar laporan evaluasi manager Wei. Namun M X J malah fokus dengan menulis di buku kecilnya. Entah apa yang membuat dia tidak fokus dengan rapat di depan.
" Perusahaan real estate dari Indonesia, berinisiatif bekerja sama dengan kita. Setelah kami melakukan evaluasi, merasa proyek ini memiliki potensi pengembangan yang sangat besar. Ini laporan evaluasi kualifikasi yang kami siapkan. Mohon Anda lihat dulu". Ucap manager Wei memberikan laporannya.
"Baik, aku akan melihatnya. Masih ada urusan lain, semuanya?". Tanya sang presdir melihat M X J.
"Tidak ada". Jawab semuanya
" Kalau tidak ada, bubar saja". Ucap sang presdir masih terus melihat M X J.
"Meng xin jie...". Panggil sang presdir setelah semuanya keluar.
"Kenapa, Bos?. Ada apa?". Tanyanya melihat bosnya.
"Duduk..".
__ADS_1
"Aku, duduk disini?". Tanyanya.
"Duduk saja. Kamu tahu pada rapat hari ini, siapa yang paling menarik perhatianku?". Tanya sang presdir.
"Supervisor wang". Jawabnya setelah berpikir sebentar.
"Bukan...".
"Kalau begitu, manager Wei".
"Kamu..". Tunjuk sang presdir. M X J mengerutkan alisnya. "kamu mengubah gaya kebiasaan malas kamu. Tidak mengantuk, tidak main ponsel. Selain itu juga membuat catatan di buku catatan kecil". M X J menelan ludah mendengarnya. " Tentu saja kita ada sekretaris yang membuat catatan rapat. Tidak apa-apa. Aku sangat penasaran, apa yang kamu catat di buku catatan kecil kamu itu?". Tanya sang presdir menunjuk buju kecil di tangan M X J.
"Bukan sesuatu yang penting juga". Sahut M X J gugup.
Sang presdir mengulurkan tangan meminta buku kecil itu. M X J memberikannya dengan dengan gugup. Sang presdir membuka buku itu dan hanya melihat beberapa kata saja. 'Ringkasan Rapat' judulnya.
" Hanya beberapa tulisan ini, perlu dicatat begitu lama?".Tanya sang presdir setelah membuka buku kecil itu.
" Perbincangan rapat terlalu banyak, buku catatan terlalu kecil". Sahut M X J mengambil buku kecilnya menghela nafas lega.
" Katakan. Ada apa?"
" Setelah pengalaman kemarin, aku tiba-tiba menyadari aku ada pengenalan baru lagi terhadap kehidupanku". Ucap M X J.
" Apa yang terjadi kemarin?". Tanya sang presdir dengan tatapan menyelidik.
" Apa yang kamu inginkan?".
" Aku ingin... Villa besar anda itu". Ucap M X J dengan mantap.
" Kamu tinggal sampai muncul perasaan?".
" Aku sudah terbiasa tinggal. Tapi bukan itu maksud aku, Maksud aku adalah aku ingin beli Villa seperti Song Qiao Yihao dengan penghasilan dan upaya aku sendiri". Sang presdir tersenyum mendengar ucapan asistennya.
"Susah..". Jawab sang presdir.
" Kalau begitu, aku ingin mengandalkan upaya aku sendiri. Suatu hari aku tempati posisi manajer Wei ini. Apa memungkinkan?". Ucapnya dengan yakin.
" Lebih susah". Jawab sang presdir singkat. "Meng xin jie, Ini semua tidak penting. Kamu tumbuh besar bersamaku sejak umur 8 tahun. Setelah pulang ke Tiongkok, kamu ikut denganku Selama 2 tahun. Apapun yang aku katakan padamu supaya kamu berusaha juga kelak akan membantu. Tapi kemarin malam, kamu masih bernyanyi bersama. Kemudian apa yang terjadi, membuat kamu tambah dewasa dalam Semalam, kamu bisa Ceritakan padaku?". Ucap sang presdir tidak mengerti dengan perubahan asistennya.
" Kasih tahu juga kamu belum tentu mengerti. Ini adalah... percintaan!". Ucapnya dengan muka sedih melangkah pergi.
Presdir Lu tersenyum melihat tingkah asistennya.
" Kenapa aku tidak mengerti?". Gumamnya setelah M X J pergi.
Di dalam mobil, she na melirik Ziqian ingin mengatakan sesuatu, namun tidak jadi. Ziqian menyadari she na meliriknya dari tadi.
" Kenapa kamu terus melirikku?". Tanya ziqian.
__ADS_1
" Kak ziqian... Aku tanya satu hal padamu. Bisakah kamu Jawab dengan jujur?". Ucap she na melihatnya. " Kali ini aku terpilih, apakah karena kemampuanku sendiri?".
" Kalau tidak?. Kamu kira aku bisa membantumu dari belakang?. Selain itu, bukan hanya aku yang mengakuimu. Presdir Li juga mengakui kamu". Jawab ziqian sambil fokus menyetir.
"Presdir Li...Li Man. Kalian saling kenal?. Kalian akrab?". Tanya she na penasaran.
" Kami dulu adalah teman sekolah. Kepribadian dia lumayan bagus. Selain itu, terhadap orang di sekitar juga sangat baik. Hanya saja akhirnya, aku dan dia Jarang saling menghubungi". Sahut ziqian membuat she na tidak senang mendengar Li Man baik.
" Dia sungguh begitu baik?". Tanya she na cemberut.
"Setelah kamu memahami dia, kamu akan tahu. Selain itu, dia adalah orang yang sangat berpengaruh di sekolah kami. Tingkat Dewi. Banyak senior dan Junior yang sangat menyukainya". Jawab ziqian dengan senyum.
"Tingkat Dewi?". Gumam she na. " Sudah, berhenti di pinggir. Berhenti di sini, ke pinggir". Ucapnya she na melepas seat beltnya dengan kesal.
" Masih belum sampai...".
" Aku tidak perlu, kamu tidak perlu antar aku". Ucap she na ketus.
"Baik, baik...". Ucap ziqian menepikan mobilnya. She na langsung keluar dan menyewa sepeda umum di seberang jalan. " Apa aku salah mengatakan sesuatu?". Tanyanya pada diri sendiri. "Hati-hati ya". Seru ziqian melihat she na naik sepeda. She na hanya melambaikan tangannya tanpa melihatnya.
Gosip di dapur hotel.
" Semuanya hentikan pekerjaannya dulu, Aku ingin mengatakan sesuatu". Ucap koki zhang begitu memasuki dapur. " Tahu tidak, tadi aku melihat apa di luar sana?". Ujarnya sok misterius.
" Lihat apa?". Tanya koki Liu penasaran.
" Beri sedikit petunjuk. Tahu Gu she na turun dari mobil siapa?".
"Mobil Guru Gu sendiri lah". Sahut Daguo sambil mengupas kentang.
"Cih...Gu she na turun dari mobil Mercedes- Benz manager Cheng". Ucap koki Zhang.
"Astaga!. Ternyata manager Cheng menyetir mobil Mercedes-Benz?". Tanya koki Liu.
" Apakah ini intinya?".
"Anda Katakanlah, intinya apa?".
" Intinya adalah dulu kita salah mencurigai. Gu she na itu, bukan orangnya bos besar, tapi orangnya Bos Kedua".
"kedua?".
" Ya. Yang lebih mencurigakan, Mercedes- Benz manager Cheng berhenti sebentar di jalan di sisi Timur depan pintu Hotel kita. Jarak jalan itu dengan sini baru 200 meter. Betul kan?". Ucap koki Zhang dengan semangat.
"Betul...".
"Setelah Gu she na turun dari mobil, sengaja sewa dan naik sepeda umum sampai hotel kita. Naik sepeda kemarin?. Ini apa maksudnya?. Ini namanya menutupi kebenaran untuk menghindari kecurigaan". Ucap koki zhang menerka.
" Tak disangka trik Gu she na ini benar-benar tidak ada habisnya. Pantas saja tidak bisa melawannya. Mengira setelah ganti bos baru bisa berbeda dengan yang sebelumnya, tak disangka lebih kacau". Timpal koki Yu mencibir.
__ADS_1