
"Perusahaan muncul masalah kekurangan dana yang serius. Awalnya aku berpikir setelah dana proyek wisata budaya luar negeri kembali masuk ke perusahaan, masalah ini dapat ditangani. Namun, tak disangka, grup Zheng Hong.....". Lagi-lagi ucapan manager Chen terpotong karen tingkah Lu zheng.
Jreng...Jreng...Jreng...
Lu zheng menghidupkan tombol mobil Tamianya. Semua orang menatap tajam ke arahnya.
"Kalian lanjutkan saja. Lanjutkan". Ucapnya cengengesan mematikan tombol Tamianya.
Setelah 1 jam rapat sudah selesai. Semua orang keluar hanya tinggal Lu Zheng seorang yang sedang main mobil Tamianya.
"Rapat sudah berakhir?". Tanya ibu Lu zheng pada sekretaris suaminya saat melihat semua orang keluar. Dia memang tidak mengikuti rapat, hanya menunggu di luar saja.
"Sudah Nyonya..". Jawabnya. Ibu Lu zheng lalu berjalan masuk ke dalam ruang rapat.
"Ibu..". Panggil Lu zheng.
" Bagaimana?. Apa saja yang dibahas hari ini?. Mereka tidak mempersulit kamu kan?". Tanya ibunya khawatir.
"Ibu tenang saja". Jawabnya.
"Apakah hari ini mengungkit soal pemilihan ulang pemimpin?".
"Tidak ada. Sekarang perusahaan beroperasi dengan normal. Paman-paman itu tidak hanya tidak mempersulit aku, melainkan sangat mengakui kemampuanku. Jika aku tidak menunjukkan sikapku, mereka bahkan tidak berani mulai rapat". Ujarnya berbohong. Yang ada dia hanya mengganggu saja selama sedang rapat.
"Kelompok rubah itu bisa mengakui kemampuanmu?. Hanya kamu seorang tukang servis mobil?". Sindir ibunya.
"Lihatlah kamu. Kenapa kamu selalu meremehkan tukang servis mobil?. Ibu, duduklah. Aku buat perumpamaan untukmu". Ucapnya menuntun ibunya duduk di kursi utama milik ayahnya. Lalu dia menunjukkan mobil Tamianya. "Lihatlah...Seluruh grup Ming Ting persis seperti penggerak 4 roda ini. Sangat megah dan penuh dengan prestasi. Ia bisa memiliki prestasi seperti hari ini, selain tak terlepaskan dari beberapa roda ini, yaitu karyawan kita, juga ada beberapa komponen dan roda gigi, yaitu beberapa dewan direksi itu. Namun, apa yang paling penting?. Ayahku. Motor, inti dari seluruh mobil". Ucapnya menjelaskan.
"Itu saja?". Tanya ibunya datar. " Jadi, kenapa setelah kudengar, sepertinya tidak ada kamu di dalam sini?".
"Bisa ada. Aku adalah tangan yang meletakkan penggerak 4 roda ini di jalur balapan". Sahut Lu zheng santai.
"Apa itu?. Pasar?". Tanya ibunya.
"Benar, pasar. Ibu, Kamu sangat pintar, kamu pantas menjadi ibuku". Puji Lu zheng asal.
"Jadi, itu...".
"Ibu... Hari ini aku sudah ikut rapat seharian. Aku sedikit pusing. Aku harus pulang tidur dulu. Nanti aku harus pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahku". Selanya dengan cepat.
"Yuu.. Belakangan ini kamu sudah bisa melakukan hal yang benar ya. Selalu lari ke rumah sakit. Akhirnya tahu untuk membuat ayahmu senang?". Ledek ibunya.
"Apa-apaan?. Rumah Sakit ada makanan yang enak". Ucapnya melangkah pergi.
"Apa maksudmu?. Eh, Jelaskan apa maksudmu. Makanan dari mana?". Seru ibunya, namun di abaikan Lu zheng yang terus melangkah keluar. "Makanan?". Gumam ibunya sambil memikir apa maksud Lu zheng.
__ADS_1
Kembali ke rumah sakit
"Ayo, kakek, makan". Ucap she na menata makanan di meja.
"Baik..". Sahut kakek Gu.
"Pelan-pelan kakek". Ucap ziqian menuntun kakek Gu ke meja.
"Baik".
"Aku masak mie soba untukmu dan telur. Tidak berminyak. Cobalah. Ini punyamu". Ucap she na memberikan makanan untuk kakek Gu dan ziqian.
"Ini adalah nasi merah". Ziqian memberikan nasi pada kakek.
"Ini bistik sapi". She na memberikan bistik sapi pada ziqian.
"Ini di buatkan khusus untukku?". Tanya ziqian tersenyum.
"Benar, makanlah".
"Salad ini untukmu..". Ziqian memberikan salad untuk she na.
"Kenapa?".
"Bukankah Belakangan ini kamu sedang diet?". Ucap ziqian menggoda she na.
"Aku gemuk, aku gemuk. Aku diet, aku diet". Ucap ziqian tersenyum.
"Aku gemuk?". Tanya she na berkacak pinggang.
"Tidak, tidak, tidak".
"Apa maksudmu?".
"Kakek, cepat makan. Ayo, nasinya ada disini". Ucap ziqian pada kakek. Sang kakek ketawa melihat tingkah she na dan ziqian.
"Ayo, cepat makan selagi panas". Ujar she na.
"Beberapa hari ini aku makan makanan Rumah Sakit, Mulutku hambar. Kalian bantu aku berikan satu bungkus kue manis". Pinta kakek Gu.
"Tidak boleh makan kue manis. Itu terlalu manis. Kamu makan ini saja. Tidak boleh makan kue manis sebelum menjalani operasi.Ayo, cepat". Tolak she na dengan tegas.
"Aiya.. Aku hanya ingin makan. Aku makan sedikit saja, tidak masalah. Ziqian, temani dia pergi". Ucap kakek Gu ngotot ingin makan kue manis.
"Tidak boleh".
__ADS_1
"She na... kakek ingin makan, kita berikan saja untuk dia. Ayolah...". Ajak ziqian.
"Pergi, pergi, pergi. Ziqian hati-hati di jalan". Usir kakek dengan cepat.
"Makan ini dulu selagi panas". Pinta she na pada kakek sebelum dia pergi.
"Baik, baik, baik".
"Makan..". Ucap she na saat mau membuka pintu.
"Baik..". Ucap kakek.
Setelah she na dan ziqian pergi, kakek Gu segera mengambil ponselnya dan menelpon Paman tua.
"Halo..Quan'an..Bantu aku panggil mobil. Aku ingin pergi ke studio mu". Ucap kakek Gu.
"Paman... Paman sedang sakit, jangan berkeliaran lagi di luar. Jika ada urusan, aku pergi cari paman saja". Sahut paman tua.
"Tidak perlu omong kosong. Sangat tidak gampang aku menipu She na pergi. Panggil mobil untukku. Oh ya, panggil Zhao Di ke sana juga". Pinta kakek Gu.
"Ooh...". Sahut paman tua. "Baiklah, halo...". Kakek Gu sudah menutup telpon. Paman tua menghela nafas lalu memesan mobil untuk pamannya dan menelpon Zhao Di.
Di studio paman tua sekarang sudah ada kakek Gu dan Celine dan sebuah papan besar yang ada foto ziqian dan Lu Jin.
" Hari ini aku datang mencari kalian, karena aku ingin mendengar pendapat kalian. Dua pemuda itu, mana yang lebih cocok dengan She na?". Tanya kakek Gu menunjuk papan di depan mereka.
"Kakek, aku pilih dulu ya". Ucap Celine berdiri. " aku merasa, Jika dilihat dari usia, Cheng ziqian pasti lebih muda. Cheng ziqian menang dari segi usia. Jika dilihat dari tinggi badan, tentu saja Cheng ziqian Lebih tinggi. Cheng ziqian menang". Celine memberi penilaian dan menempel bintang pada kolom usia di bawah foto ziqian.
"Paman, jika membahas tampang, mereka berdua tidak dapat dibandingkan. Namun, aku lebih suka tipe Lu Jin. Sopan, Mulia, Elegan, dan ada sedikit Aura posesif. Yang terpenting adalah dia ada sifat kejantanan. Jadi, untuk kolom tampan, Lu Jin menang". Ucap paman tua memilih Lu Jin.
" kakek, menurutku, Cheng ziqian lebih ganteng. Lihatlah, dia termasuk pria hangat, putih dan bersih. Aku pilih Cheng ziqian". Ucap Celine tidak mau kalah.
"Kolom keuangan tidak perlu dibandingkan lagi, Lu Jin menang". Ucap paman tua.
"Kamu tahu Lu Jin sekaya apa?".Decak Celine.
"Aku berikan sebuah perumpamaan. Jika, keuangan Cheng Ziqian adalah sebutir beras, maka Lu Jin adalah.....".
"Semangkuk Nasi?". Sahut Celine.
"No, no, no..Sekantong beras". Jawab paman tua menggoyangkan jari telunjuknya.
"5 kg?".
"50 kg. Jadi, untuk kolom keuangan, lu Jin menang". Teriak paman tua dengan senang.
__ADS_1
"Konyol...".