
Sementara di dalam kamar, presdir Lu sudah tidak sabar menunggu pesanannya yang di rasa sudah sangat lama dengan berjalan bolak balik dengan tidak tenang. Sampai dia mengambil jasnya dan keluar dari kamarnya. Lalu berjalan menuju ke arah dapur hotel. #Dapur, Di larang Masuk Bagi Yang Tidak Berkepentingan#. Presdir Lu membaca tulisan yang menempel di dinding pintu dapur. Sang presdir masuk ke dalam dan tidak melihat ada siapa pun.
"Apakah ada orang". Seru presdir Lu sambil berjalan menusuri dalam dapur.
"Kenapa sup yang aku pesan masih belum di antarkan sampai sekarang?. Apakah ada orang?". Teriak presdir Lu, Namun tidak ada yang menyahut ucapannya.
Lalu dia melihat ada kompor yang menyala, di atas panci sedang memasak sesuatu. Dengan penasaran sang presdir membuka tutup panci dan menghirup aromanya. Lalu dia mengambil sendok memcicipi sedikit kuah sup yang sedang di masak.
"Hm..Lumayan enak". Gumamnya, lalu dia mengaduk sup jamur sebentar dan mengambil jamur untuk di makan. "Rasanya enak sekali". Ujarnya tersenyum tipis. Dia mau mengambil lagi sup jamurnya, namun dia oleng hampir terjatuh, karena kepalanya tiba-tiba pusing.
"Apa yang terjadi?". Gumamnya sambil tangannya menopang di meja agar tidak jatuh. Dia berusaha untuk berdiri, namun dia membuat semua bahan yang di meja jatuh ke lantai karena pusing di kepalanya.
"Eh, apa yang sedang kamu lakukan?. Apakah kamu gila?". Seru she na langsung mendorong tubuh presdir Lu dan memakinya.
"Apa yang kamu lakukan?. Apa yang kamu....aaaah...". Teriak she na saat presdir Lu jatuh menimpa tubuhnya.
"Lu rewel, apa yang kamu lakukan?. Ku beritahukan padamu, aku akan bayar hutangku padamu". Omel she na yang sadar kalalu sang presdir sedang keracunan makanan, sambil berusaha mendorong tubuh presdir Lu. Sedangkan sang presdir, matanya sudah berkunang-kunang hampir pingsan tidak bisa berkata apa-apa.
"Aku akan bayar semuanya. Membayarnya dengan tubuhku...Aku tidak bisa membayar dengan tubuhku". Ujarnya dengan panik, dia presdir Lu tertarik padanya. "Aku beritahukan padamu.....". Ucapnya dengan sekuat tenaga mendorong tubuh sang presdir yang menimpanya hingga jatuh dari badannya. Persdir Lu menatap she na dengan mata sayu tidak berdaya sedikit mengejang terbaring di lantai.
"Kamu jangan coba untuk memerasku. Aku tidak...Aku tidak melakukan.....". Ucapnya terhenti saat melihat penutup sup jamurnya sudah terbuka, dan melihat presdir Lu dengan panik.
"Kamu sudah minum sup jamurnya". Tanyanya dengan cemas menghampiri sang presdir.
"Sup jamurnta belum matang, kamu sudah minum sup jamur itu?. Sup jamur itu...". Lalu dengan cepat she na mengambil mangkok dan mengisinya dengan air dan sedikit cairan sabun, lalu mengaduknya. "Lu rewel, bertahanlah..". Teriak she na dengan panik.
"Ayo, cepat minum ini. Cukup minum sampai muntah saja . Cuci lambungmu saja, minumlah". Ujar she na mengangkat kepala presdir Lu membantunya minum.
BRUU...BRUU...BRUU...
__ADS_1
"Kamu jangan komat kamit lagi, cepat telan". Kesal she na. "Kamu.. benar, benar, benar. Cukup minum sampai kenyang saja". Ucapnya melihat sang presdir menelan air sabun itu.
"Muntahkan, cukup muntahkan saja". Pintanya.
Melihat presdir Lu tidak muntah, she na duduk di atas tubuh sang presdir dan...
"Bertahanlah. PLAK..muntahkan... PLAK...muntahkan... PLAK...muntahkan...". Ucapnya menampar pipi presdir Lu berkali-kali supaya muntah. Presdir Lu dengan tidak berdaya membiarkan she na menamparnya.
"Lu rewel, apakah kamu baik-baik saja?. Kamu sudah sadar?". Tanyanya menangkup wajah presdir Lu dengan kedua tangannya. Sang presdir hanya bisa menunjukkan jarunya ke atas dengan lemah.
"Oo, aku menekanmu, ya?" Ujar she na mengartikan isyarat sang presdir. Lalu, dia turun dari tubuh sang presdir, dan membalik tubuhnya jadi tengkurap. Presdir Lu memuntahkan air, Hoeekk.
"Apakah kamu sudah membaik?. Apakah sudah membaik?". Tanya she na membalik tubuh presdir.
"Muntahkan". Ucap she na sambil menekan dada presdir Lu, dan keluar gelembung-gelembung balon dari mulut presdir Lu. She na melihat ada gelembung keluar dari mulut presdir, dia menekan dada sang presdir lagi.
'Huuk..Huuk.. Huuk..Huuk.. She na menekan dada presdir Lu terus menerus, dan keluar sangat banyak gelembung balon, dia sangat senang melihat gelembung-gelembung.
Tup...Tup...Tup...She na menyentuh gelembung balon dengan jarinya. Sang presdir pasrah menerima perlakuan she na menekan dadanya. Tak lama setelah presdir Lu sudah membaik, dirinya di antar kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Paginya, sang presdir menonton rekaman video cctv di ponselnya tentang kejadian semalam, dia melihat dirinya yang tidak berdaya di perlakukan she na sesukanya di dapur hotel dengan malu.
Sang asisten masuk ke kamar bosnya sambil tersenyum.
"Bos, dokter bilang tidak ada masalah serius. Kamu cukup makan makanan yang agak hambar selama dua hari ini". Ucap sang asisten tersenyum geli melihat bosnya.
"Hapuskan". Ucap sang presdir kesal melihat asistennya tersenyum cengar-cengir.
"Kali ini guru Gu membuat masalah besar. Semuanya salah kelompok satpam itu. Ku beritahukan, mereka terlalu kurang kerjaan. Cukup lihat sendiri saja, untuk apa di kirim ke grup". Ucap sang asisten menahan ketawanya tentang video presdir Lu yang keracunan makanan semalam di dapur hotel, sudah tersebar di kalangan staf hotel.
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir, aku pasti menanganinya dengan baik". Sambungnya setelah melihat tatapan tajam sang bos.
"Bos... Dilihat dari pengalamanku selama bertahun-tahun, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Selama kamu sendiri tidak merasa canggung, maka orang lain juga tidak akan menyadari kecanggunganmu". Ujar sang asisten agar bosnya tidak terlalu canggung dengan hal itu.
"Benarkah??".
"Tentu saja". Sahut asisten dengan yakin. "Seperti ini saja, aku bawa kamu keluar makan makanan enak. Kamu akan senang begitu makan. Begitu kamu senang, kamu akan melupakan hal ini. Begitu kamu melupakannya, hal itu akan berlalu begitu saja". Ucap sang asisten memberi saran pada sang preadir.
"Aku akan mencobanya". Ucap sang presdir. Lalu, presdir Lu dan asistennya keluar dari kamar, begitu membuka pintu kamar, ada manager shen dan para pelayan berbaris dengan rapi di depan kamarnya.
"Presdir Lu, Maaf..". Seru manager shen dan pelayan membungkuk pada presdir Lu.
Sang presdir terkejut, langsung berbalik mau membuka pintu, namun tidak bisa.
"Kartu..". Ucapnya pada asistennya.
"Tidak...tidak...ada di dalam kamar". Jawab sang asisten gugup, kartunya tertinggal di dalam kamar.
Presdir Lu melihat ke depan dengan canggung, namun para pelayan membuka jalan untuk she na yang berada di belakang.
"Presdir Lu...Maafkan aku". Teriak she na membungkuk saat sudah di depan presdir Lu.
"Jangan minta maaf padaku. Setelah minta maaf, kalian ingin aku melakukan apa?". Bentak sang presdir dengan marah.
"Mempertimbangkan kebaikan kalian dari sudut pandang kalian?. Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak merasa canggung sama sekali. Jika aku tidak merasa canggung, kalian juga tidak akan merasa canggung. Benarkah seperti itu?". Ucapnya dengan suara keras melihat asistennya. She na dan manager shen saling menatap mendengar ucapan presdir Lu.
"Haaa..". Mulut sang asisten terbuka tidak mengerti.
"Aku sedang bertanya padamu". Teriak sang presdir pada asistennya.
__ADS_1