
"Kamu harus mengantar aku sampai alamat yang ku tuju".
"Kata orang harus punya hati nurani. Aku sudah mengaturnya untukmu. Aku sudah menyuruh adikku datang mengantarmu. Dia menunggumu di belakang, langsung mengantarmu sampai ke rumah. Pasti pelayanan yang terkoordinasi". Ucap supir taksi.
"Bisnis tidak di jalankan seperti ini". Omel presdir Lu.
"Bukankah ini karena tidak ada cara lagi. Mobil ini tidak bisa masuk kota. Turunlah, turunlah". Usir pak supir. Presdir Lu menatapnya dengan kesal, melepas seatbelt dan turun. Taksi langsung pergi meninggalkan presdir Lu di tepi jalan.
"Sobat, sobat, kamukah orangnya?". Tanya seorang pria memakai helm pada presdir Lu.
"Kamu adalah adiknya?". Tanya presdir menautkan alis.
"Hm".
"Kamu tau alamatnya?".
"Aku tau. Dia bertanggung jawab atas perjalanan pinggir kota. Aku bertanggung jawab atas perjalanan ke kota. Pergi tidak?. Kenapa begitu lambat?". Gerutu adik supir taksi.
"Mobilnya dimana?". Tanya presdir Lu setelah menghela nafas panjang.
"Begitu besar tidak lihat, kah?". Tunjuknya pada sebuah gerobak motor yang sudah terparkir di depan sana. Sang presdir mengusap wajahnya dengan kasar.
**
"Pelan-pelan. Baik,hati-hati". Ujar Ziqian mengantar she na pulang dari rumah sakit.
"Tidak apa-apa".
"She na, aku pulang dulu. Lain waktu kita bersama-sama pergi mengunjungi kakek Gu". Ucap Ziqian.
"Baik. Lain kali aku pasti masak hidangan besar untukmu, biar kamu mencicipinya dengan baik".
"Baik..Aku menantikannya. Kalau begitu, aku pergi dulu". Ziqian mengusap rambut she na.
"Baik. Hati-hati di jalan".
"Gu She Na...". Panggil presdir Lu tiba-tiba keluar dari belakang setelah ziqian pergi. She na berhenti melangkah dan membalikkan badannya
"Itu...Cheng apa...". Ucap presdir Lu menghampiri she na.
__ADS_1
"Cheng Ziqian". Jawab she na.
"Aku tidak perlu kamu mengingatkanku. Kenapa dia mengantarmu pulang". Tanya sang presdir.
"Yo..Bukankah ini adalah presdir Lu yang sangat terkenal?. Ada apa ini?". Ucap she na sinis. "Tidak ada waktu mengeringkan rambut". Ucapnya melihat rambut presdir Lu berantakan.
"Aku terjadi sedikit masalah semalam. Kamu jangan alihkan pembicaraan. Aku tanya padamu, kenapa Cheng Ziqian antar kamu pulang?". Tanya sang presdir cemburu.
"Tidak ada Hubungannya denganmu". Ketus She na berbalik badan mau masuk ke rumahnya, namun sang presdir menahan tangannya. She na melotot padanya dan sang presdir melepaskan tangannya.
"Kakimu...Ak...".
"Aku sudah bilang tidak ada hubungannya denganmu". Sela she na dengan ketus. "Bukankah anda bilang sudah tidak saling berhubungan?. Kenapa kamu berdiri disini dan berpura-pura perhatian padaku?". Ucap she na dengan tatapan dingin.
"Kita bisa bicara di dalam rumah". Ujar sang presdir mendekat.
"Tidak". Tolak she na tegas mundur ke belakang. "Presdir Lu, anda yang bilang tidak akan makan disini lagi. Betul juga, kamu ini suka tidak tepat janji. Dulu bilang tidak akan makan masakanku, kemudian pergi makan di warung. Setelah makan lalu beritahu aku tak ingin saling berhubungan ingin kembali bekerja. Sekarang muncul lagi disini, sebenarnya apa yang ingin kamu lakukan?". Tanya she na dengan suara tenang.
"Aku sumgguh tidak tau, kenapa aku bisa berdiri disini. Aku dengar kamu jatuh terjatuh dari atas, aku ingin datang untuk melihatmu". Decak presdir Lu frustasi tidak tau apa yang sebenarnya di inginkannya. Apakah dia sudah jatuh cinta pada she na atau gimana, dia masih bingung.
"Betul..Aku tidak seharusnya terjatuh. Aku bersalah, lain kali aku tidak akan terjatuh lagi. Aku akan mati terjatuh. Aku juga tidak akan membiarkanmu mengetahuinya". Teriak she na emosi dengan air mata berlinang.
"Sedang apa kamu?. Kamu gila ,ya?". Sentak she na dengan mata melotot.
"Maaf". Ucap sang presdir langsung melarikan diri.
"Sudah cium langsung kabur, hiks...". Gumam she na dengan sedih meraba bibirnya masuk ke dalam rumahnya.
"Kamu sekarang segera kemari jemput aku". Presdir Lu menelpon asistennya saat keluar dari rumah she na dengan perasaan kalut.
"Bos, aku lagi di zhou zhuo. Halo...". Sang presdir sudah menutup telpon setelah berkata. Meng xin jie hanya menghela nafas melihatnya.
"Presdir Lu, kenapa mendadak kembali ke Suhai?". Tanya Li Man yang duduk di depannya.
"Direktur Li, aku juga tidak begitu paham. Dia di tengah jalan baru telpon aku". Jujur Meng xin jie. Tentu saja dia tidak mengatakan karena She na.
"Kamu sekarang segera pesan penerbangan yang paling dekat dan pulang sekarang juga. Disampingnya tidak bisa tidak ada orang". Ucap Li Man perhatian.
"Baik".
__ADS_1
"Aku tinggal disini untuk urusan tindak lanjutnya".
"Baik, mengerti". Jawab Meng xin jie.
"Cari tau dengan jelas alasan dia pulang, kemudian telpon aku". Perintah Li Man.
"Ini...Takutnya kurang bagus". Sahut Meng xin jie gugup.
"Kalau Direktur Zheng menanyakannya, kamu bisa lapor?". Ancamnya membawa nama ibu presdir Lu.
"Mengerti". Jawab Meng xin jie berlalu pergi. Li Man menghela nafas panjang setelah Meng xin jie keluar.
**
"Bos, kamu sudah pulang?. Cepat juga". Seru Meng xin jie memasuki halaman rumah presdir Lu yang mewah. "Kenapa?". Tanyanya saat bosnya tidak merespon hanya menatap lurus ke depan.
"Temani aku duduk sebentar". Pinta presdir Lu. Sang asisten mengangguk lalu duduk di samping bosnya.
"Pemandangannya indah tidak?". Tanya sang presdir.
"One pine bridge. Kenapa tidak indah!". Sahut Meng xin jie melihat pemandanganundah di depan.
"Tapi aku sama sekali tidak merasakannya. Hah...Bantu aku selesaikan pekerjaan di hotel XX". Ucap sang presdir menghela nafas seperti banyak beban dengan lesuh. Meng xin jie mengangguk menjawabnya.
"Aku mengarti. Apa rencana kamu selanjutnya?". Tanya Meng xin jie menatap bosnya.
"Meninggalkan tempat ini". Ucap sang presdir dengan senyum tipis melihat asistenya. "Meninggalkan tempat ini". Ucapnya lagi beranjak pergi meninggalkan Meng xin jie yang menatapnya pergi. Tak lama Meng xin jie juga ikut melangkah pergi.
**
Tok...Tok...Tok...Pintu rumah she na ada yang mengetuk. She na berdiri dari duduknya membuka pintu.
"Guru Gu...". Sapa Manager shen. "Dengar-dengar kaki kamu terluka, aku datang menjenguk". Ucap manager shen membawa parcel buah.
"Manager shen, aku sudah tidak bekerja di hotel XX lagi. Kamu juga bukan atasanku lagi, hubungan kita tidak sebaik sampai menegur sapa sampai langsung datang ke rumah,kan?". Cibir she na dengan dingin.
"Jadi menurut kamu, guru Gu, mungkin jodoh kita tidak benar-benar berakhir. Teng,teng, teng,teng". Ujar manager shen dengan cepat mengeluarkan 'Surat Perekrutan' saat melihat she na mau menutup pintu rumahnya.
"Surat Perekrutan?". Ucap she na terkejut melihat manager shen membawa 'Surat Perekrutan' ke rumahnya.
__ADS_1