
"Pulang untuk berbaring". Jawab she na dengan enteng.
"Ka..kamu tidak mau masuk kerja lagi?". Tanya manager shen gugup, takut kalau presdir Lu memesan makanan tidak ada she na.
"Lagi pula, hotel ini sudah mau di akuisisi. Kalau aku pulang berbaring lebih awal, dapat mengurangi porsi olahragaku. Aku masih bisa hidup lebih dua hari lagi". Ucap she na dengan nada sindiran.
"Pantas saja kamu begitu sombong, ternyata kamu sudah mengetahuinya". Seloroh manager shen.
"Aku dengar dari orang, kesempatan seseorang dalam hidup ini tidaklah banyak. Ini sama halnya dengan pria baik, kalau sudah menemukannya, harus menangkapnya".Ucap she na dengan seringai licik. "Aku bertanya pada anda terakhir kali, naik jabatan dan naik gaji, setuju tidak?". Ancam she na menatap manager shen lekat. Melihat Sang manager tidak menjawab, she na berbalik melangkah pergi.
"Hei...SETUJU". Teriak manager shen melihat she na mau pergi, dan itu membuat she na sangat senang.
"Ai ya, kemampuanku sendiri seperti apa, aku tau diri, permintaanku juga tidak banyak. Aku tidak mengharapkan untuk menjadi kepala koki, asal aku dapat menjadi koki tetap sudah cukup". Kata she na mengungkapkan keinginannya. "Masalah gaji, aku juga tidak ingin lebih, kamu memberiku sesuai standar saja sudah cukup. Kalau anda menyukaiku, berilah lebih banyak bonus untukku". Goda she na tersenyum senang.
"Apa yang kamu pikirkan?. Bagaimana aku bisa tidak menyukaimu?". Ucap manager shen dengan lembut, tapi di dalam hati sangat kesal dengan tingkah she na yang berani mengancamnya. "Berhubung kamu sudah mengetahuinya, aku terus terang padamu. Hubungan kita berdua adalah saling memerlukan, tanpa perasaan". Tegas manager shen menekankan kata tanpa perasaan.
"Begitu paling bagus". Sahut she na setuju dengan yakin. "Aku suka hubungan kerja yang murni seperti ini. Semoga kerja samanya memuaskan". Ucap she na mengulurkan tangan mau menjabat tangan dengan manager shen.
"Untuk apa aku menjabat tanganmu?". Kesal sang manager. "Kamu sudah puas belum, kalau sudah puas, cepat keluar!". Cerca manager mengusir she na. "Terlalu lama disini, akan digosip orang". Sambungnya dengan dongkol.
"Baik". Jawab she na enteng sambil tersenyum senang menunjukkan gigi putihnya berjalan keluar.
Di dalam ruang ganti she na sudah mengganti bajunya dengan baju koki barunya. TOK..TOK..TOK...
"Kak she na". Panggil Daguo setelah mengetuk pintu.
__ADS_1
"Tidak ada orang di dalam, masuklah". Sahut she na.
"Waaah... Kamu berpakaian seperti ini sungguh keren". Ucap Daguo menatap kagum melihat penampilan baru she na memakai baju koki barunya. "Apakah ke depannya aku harus memanggilmu 'Guru Gu' ya!". Puji Daguo.
"Apa maksudmu ke depannya?. RIGHT NOW, panggil sekarang". Ucap she na dengan bangga. "Sini panggil, biar aku dengar". Katanya dengan senyum bahagia mendekatkan telinganya pada Daguo.
"Eh,eh,eh...Sebelum bergabung dengan perusahaan, kita sudah pernah berjanji, kalau sudah kaya, tidak boleh melupakan yang lain". Ucap Daguo mengingat slogan mereka.
"Benar, tapi, sekarang harus melihat performamu". Kata she na dengan sombong berlalu pergi.
"Guru Gu...". Seru Daguo mengejar she na keluar.
Di dalam dapur hotel, she na dengan senyum merekah menerima menu pesanan. "Eggs benedict, Iga domba australia, Lobster Boston, Sup bombai dengan roti keju ala prancis. Daguo, Lobster dengan......". Perkataan she na terhenti ketika tiba-tiba manager shen datang dan mengambil menu pesanan dari tangannya.
"Koki yu, orderan ini minta tolong anda yang masak ya". Ucap manager shen menyerahkan menu pesanannya.
"Xiao Gu, ke depennya kamu khusus melayani tamu kamar 1123 itu saja". Ucap sang manager dengan senyum.
"Tamu kamar 1123, sehari juga hanya bisa memesan beberapa makanan saja". protes she na.
"Kalau dia tidak memesan makanan, kamu tunggu dan istirahat saja. Kalau lelah, berbaring juga boleh. Tapi, ada satu hal, kalau dia memesan makanan, tidak peduli kapan pun itu, walau pun saat malam hari, kamu sudah pulang untuk tidur pun, berjalan sambil tidur pun, tetap harus jalan kesini". Kata manager shen dengan tegas.
"Tidak masalah". Sahut she na dengan yakin. "Aku selalu siap melayani perut tamu kamar 1123 kapan pun". Serunya. "Manager shen juga jangan lupa, siapkan untuk dompetku". Sambungnya dengan berbisik tersenyum menunjukkan gigi putihnya.
"Kita bicarakan nanti saja".Ucap sang manager berlalu pergi.
__ADS_1
Daguo melihat manager shen sudah pergi, dia menghampiri she na. "Sangat iri padamu!. Bisa di gaji hanya dengan berdiri saja". Kata Daguo dengan nada menyindir berlalu pergi, she na hanya tersenyum kecut mendengarnya.
Malam harinya saat mau pulang kerja, ponsel she na berbunyi Ting...Ting...Ting..., ada beberapa pesan yang masuk dari grup,
#JANGAN MEMANGGILKU SAHABAT#.
"Dengar-dengar, kamu sudah naik jabatan">Rena.
"Setelah pulang bekerja, cepat kembali, pesta bertiga">Paman tua.
Tanpa pikir panjang, she na langsung pergi menuju tempat yang sudah di kasih tau. Sampai disana she na disambut dengan senandungan Rena xu dan paman tuanya. "Kita seru-seruan bersama". Ucap paman tua. Deng...Deng...Deng...Deng...., she na ikut bersenandung sambil tersenyum. Dan....
"Saat aku mencari kalian pinjam uang, kalian sangat pelit". Teriak she na tiba-tiba membuat kedua orang itu meloncat kaget. "Sekarang membuka kamar suite merayakannya untukku". Serunya dengan kesal. "Siapa yang mendapatkan banyak uang?. Begitu murah hati?". Sambungnya.
"Merayakannya untukmu, berbahagia untukmu. Tentu saja kamu yang membayarnya". Kata Rena dengan enteng sambil tersenyum dan didukung oleh paman tuanya membenarkan.
"Aku.....Eh...tunggu, ANGGUR...". Teriaknya melihat paman tuanya mau membuka anggur merah ditangannya. "Anggur ini,...". Tanyanya sambil menatap sang paman dengan rasa panik kalau dia harus membayar semuanya.
"Anggur ini, paman membawanya sendiri". Jawab sang paman seakan tau maksud ponakannya.
"Bukan...Pertama-tama, uang untuk mengganti kerusakan mobik belum terkumpulkan, jadi, aku tidak bisa membayar biaya kamar ini".Ucap she na yang masih panik dengan biaya yang harus di bayarnya. "Lalu, kalau kalian berdua sungguh ingin merayakannya untukku. Aku boleh membawa kalian berdua ke tempat makan sate, makan sepuasnya. Ayo, jalan". Katanya sambil menarik tangan kedua orang itu.
"Gu she na, Gu she na...". Seru keduanya bersama melepaskan tangan dari she na, mereka menolak ajakan she na.
"Berdiri yang benar". Sertak sang paman kesal. "Na na, kamu sekarang sudah naik jabatan menjadi koki tetap, CHEF...". Ucap sang paman. "Sate bakar, bir, tidak sesuai dengan identitasmu". Bujuk paman tua dengan suara melembut.
__ADS_1
"Se...sebenarnya tidak masalah". Ucap she na gugup menundukkan kepalanya dengan bodoh. Padahal kan dia bisa kalau tidak mau, apalagi di saat dia membutuhkan bantuan, tidak ada yang mau membantu. Sekarang malah masih mau di paksa sama sahabat dan paman tuanya. Dasar she na yang berhati baik.