CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Hari ini kamu melakukannya dengan baik


__ADS_3

"Ambil sumpitnya..". Perintah Lu jin, semua karyawannya langsung mengambil sumpit lalu diam. "Makan...". Perintahnya lagi, baru semua karyawannya makan, itu pun masing-masing satu suap, setelah itu berhenti dan duduk tegap. "Kenapa begitu tidak senang?. Tunjukkan muka senang kalian. Apakah tidak enak?". Semua diam tidak ada yang menyahut pertanyaan bosnya. "Ngobrol, katakan sesuatu". Pinta Lu Jin.


"Slogan Zheng Hong adalah...". Seru seorang karyawannya berdiri.


"Diam. Duduk..". Sela Lu Jin memijat pelipisnya.


"Apa yang terjadi? makanannya datang, mari, mari". Ucap she na membawa makanan keluar. "Suasana apa ini?". Tanya she na melihat semua orang duduk diam dengan tegap.


"Perusahaan mereka sangat disiplin. Mungkin terutama saat berkumpul untuk makan bersama". Ucap Lu Jin berkilah. Mana mungkin karyawannya berani ngobrol santai di depan bosnya, yang ada nanti mereka semua dipecat.


"Oh, antarkan makanannya". Pinta she na.


"Baik, baik, baik". Lu Jin mengambil alih makanan dari tangan she na.


"Makan perlahan-lahan ya. Pelan-pelan". Seru she na melangkah masuk ke dapur lagi.


Setelah she na masuk, dua karywannya berdiri dan mengambil piring makanan dari tangan bosnya dan duduk kembali dengan tegap.


"Hari ini adalah masalahku. Seharusnya aku tidak menyuruh kalian datang untuk lembur. Demi masalahku sendiri, aku membuat kalian harus keluar lagi di tengah malam seperti ini". Ujar Lu Jin berjalan mengelilingi meja karyawannya. "Itu adalah pacarku. Hal seperti ini tidak akan terjadi ulang lagi. Namun, untuk hari ini, aku bersulang dengan kalian". Lu Jin mengangkat gelas berisi bir ke atas, di ikuti semua karyawannya berdiri mengangkat gelas masing-masing ke atas. Setelah Lu Jin menghabiskan bir di gelasnya, semua karyawannya baru minum sampai habis juga di gelas mereka. "Terima kasih. Duduklah". Perintah Lu Jin. Semua duduk dengan serempak. "Makanlah. Makanlah, Ayo, lanjut makan. Tuangkan arahnya. Bersulang. Sebelah sini, bicara". Perintahnya lagi, baru semuanya menggerakan tangan dan mulutnya.


"Sudah datang, sudah datang...". Seru she na keluar membawa makanan lagi. "Tumis sayur".


"Biar aku saja..". Lu Jin piring makanan dari tangan she na dan meletakkan di meja karyawannya.


"Apakah rasanya enak?". Tanya she na, namun tidak ada satu pun yang menjawabnya.


"Apakah tidak enak?". Tanya Lu Ji menekan suaranya.

__ADS_1


"Enak.....". Seru semuanya membuat she na melonjak kaget.


"Mengagetkan saja". Gumam she na. "Udang itu...".


"Kita bahas sedikit urusan penting". Potong Lu Jin memegang kedua pundak she na.


"Urusan penting apa?".Tanya she na.


"Berkencan lah denganku besok lusa". Ucap Lu Jin lagi mengajaknya kencan.


" aku pertimbangkan dulu. Oh ya, lain kali jangan nyuruh karyawanmu lembur lagi. Oke?". Ujar she na sudah mengetahui ini semua adalah ulah Lu Jin. "Hari ini kamu melakukannya dengan baik". Bisik she na di telinganya sambil tersenyum. "Katakan saja jika tidak cukup. Jika tidak cukup, bisa ditambahkanlm Seru she na melangkah masuk ke dapur.


"Kalian melakukannya dengan baik. Naik gaji". Ujar Lu Jin sambil tersenyum senang dengan bisikan she na tadi. "Lanjutkan makan..".


Keesokan harinya di rumah sakit.


"Jika dia membantu dengan cara seperti itu, tokoh kecilku akan segera bangkrut". Eluh kakek Gu khawatir dengan warungnya. "Oh ya, kamu pulang, bawa panci dan sendok tumisku kemari". Pinta kakek Gu.


"Untuk apa?. Tidak mungkin masak di rumah sakit kan?". Tanya Bibi wang penasaran.


"Ai ya, aku suruh pulang ambil, ya pulang ambil. Cepat pergi!". Ucap Kakek Gu tidak mau di bantah.


"Baik, baik, baik. Aku akan pergi setelah mengupas apel ini". Sahut Bibi wang memegang sebuah di tangannya. Kakek Gu memikirkan sesuatu sambil ngangguk-ngangguk sendiri.


Di sinilah sekarang panci dan sendok tumisnya berada. Di tangan Lu Jin. Kakek Gu sengaja menyuruh Lu Jin memegang panci serta sendok tumis dengan tangan kiri dan berdiri di depan kakek. Setelah 1 jam tangan Lu Jin sudah bergetar goyang kanan kiri.


"Sudah lelah?". Tanya kakek Gu dengan enteng.

__ADS_1


"Lelah". Sahut Lu Jin cepat.


"Letakkan pancinya. Duduklah kemari". Perintah kakek. Lu Jin meletakkan pancinya dan duduk di samping ranjang kakek Gu. "Sudah 50 tahun.Begitulah aku menumis semua makanan. demi she na, aku tidak lelah". Ujar kakek. "Aku rasa, kamu juga ada kelelahanmu sendiri. Kamu punya berapa banyak karyawan?". Tanya kakek Gu.


"Hitung kasar sekitar 10.000 karyawan". Jawab Lu Jin dengan enteng. Kakek Gu terkejut mendengarnya.


"Itu pasti lelah?".


"Tidak lelah". Sahut Lu Jin.


"Begitu banyak orang meregangkan leher, menunggumu memberi mereka makanan. Ini adalah tanggung jawabmu. Tekananmu juga besar. Kamu memiliki karir, kamu punya keluarga. Ibumu menyayangimu, terlebih juga mencintaimu. Dia memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap kamu. Demi orang-orang ini, kamu tak boleh berhenti. Kamu harus terus berjuang untuk maju. Namun, cinta tidak seperti itu. Dalam soal Cinta, terkadang kamu harus menghentikan langkahmu. Agar orang yang mencintaimu melihat pemandangan di sekitarnya. Setelah itu, kamu lihat kembali jalan yang pernah kamu lalui. Tidak boleh ada yang tertinggal. Kamu dan kekasihmu harus saling mendukung, terus berjalan maju". Kakek Gu memberikan wejangan. Lu Jin diam mendengarkan nasehat kakek Gu. "Xiao Lu... Selama kakek tinggal di rumah sakit, She na benar-benar sangat lelah. Dia harus kerja di pagi hari, malam hari harus pergi ke warung. Setelah warung tutup, dia masih harus datang ke rumah sakit untuk menemaniku. Dia tidak punya waktu untuk istirahat. Sekarang kamu muncul, dia bahagia lagi. Sudah kuduga, dia adalah milikmu. Emosi dia sangat buruk, sangat keras kepala. Namun, begitu dia menetapkan kamu sebagai pasangannya, maka dia akan terus bersamamu. Apakah kamu mengerti perkataanku ini?". Tanya kakek Gu setelah berucap panjang kali lebar.


"Kakek kamu tenang saja. Aku pasti akan membahagiakan Gu she na". Jawab Lu Jin dengan pasti.


"Jangan mengecewakannya". Pinta kakek Gu.


"Tidak akan".


"Kamu yang masak sup ini?". Tanya kakek melihat termos sup yang di bawa Lu Jin.


"Benar".


"Kakek ingin minum. Ambilkan semangkuk untukku". Ucap Kakek menatap Lu Jin.


"Baik..". Jawab Lu Jin tercanggung berdiri dan menuangkan sup untuk kakek Gu.


"Baik,baik". Kakek menerima sup yang diberikan Lu Jin. "Rasanya lumayan enak". Puji Kakek Gu setelah meminum seteguk sup itu.

__ADS_1


"Terima kasih..". Ucap Lu Jin.


__ADS_2