CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Kakek


__ADS_3

She na berjalan pulang ke rumahnya dengan lesu sambil memikirkan Li Man yang mengangkat telepon Lu Jin dan kejadian sebelumnya yang melibatkan Li Man.


Keesokan harinya, Ziqian menjemput She na ke rumah sakit. Saat di dalam mobil, She na diam tidak seperti biasanya.


"She na.. Apa kamu capek?. Tidurlah sebentar". Ucap ziqian melihat she na murung. She na menggeleng kepalanya. "Lu Jin.. Apakah dia tahu saat kakek sakit dan nginap di rumah sakit?". Tanya Ziqian.


"Dia tidak tahu. Aku tidak memberitahunya. Dia sibuk, aku tidak berani mengganggunya". Sahut she na.


"Apakah dia tidak bilang kapan dia akan pulang?". Tanya ziqian. She na menggeleng.


"Seharusnya segera pulang". Jawab she na melihat ponselnya dengan sedih. Tak lama mereka sudah sampai ke rumah sakit..


"Kakek...". Panggil Ziqian setelah membuka pintu membuat kakek Gu kaget yang lagi main ponsel.


"Ck, Kenapa main ponsel lagi, tidak istirahat dengan baik?". Omel she na berjalan masuk melihat kakeknya main ponsel. "Aku bawa makanan untukmu. Istirahat dengan baik setelah makan ya. Kakek baru saja selesai operasi, tidak boleh terlalu capek, harus banyak berbaring".Ucapnya membenarkan bantal di belakang punggung kakeknya.


"Aku di bius total. Apakah kamu masih takut aku tidak cukup tidur?. Sekarang aku ingin sadar selama mungkin". Sahut kakeknya.


"Baikla. Setelah makan, kamu harus istirahat dengan baik. Paham?. Aku kembali kerja dulu". Ujar she na mengusap pungggung kakeknya.


"Tidak masalah kamu aku sudah bantu kamu minta cuti". Timpal Ziqian.


"Tidak boleh sering minta cuti. Biarkan ziqian yang menemaniku saja". Pinta kakek.


"Jangan selalu menyuruh Kak Ziqian untuk menemanimu. Dia juga harus kerja". Omel she na.


"Tidak masalah, she na. Aku mengambil cuti pribadi, bisa tinggal untuk menemani kakak". Ucap ziqian membuat kakek Gu tersenyum.

__ADS_1


"Kamu pergi kerja saja, biar ziqian yang menemaniku". Usir kakeknya sambil senyum.


"Sudah merepotkanmu, kak ziqian". Ucap she na memberi senyum.


"Tidak masalah. Hati-hati di jalan". Sahut ziqian. She na melambaikan tangannya pada kakek dan ziqian berlalu pergi. Ziqian duduk di samping kakek Gu.


"Kakek, ayo, kita makan". Ucap ziqian membuka makanan yang di bawa she na tadi.


"Tidak perlu terburu-buru untuk makan. Ada yang ingin kakek katakan padamu". Ucap kakek dengan serius. "Ziqian... beberapa saat ini, sudah merepotkanmu. Aku tahu kamu sibuk, namun, masih harus mengurus hotel dan datang ke rumah sakit. She na sudah memberitahu ku, kamu yang mencari dokter untuk menjalani operasiku. Kamu juga yang membayar biaya operasinya. Jangan khawatir, setelah Kakek keluar dari rumah sakit, kakek akan suruh She na kembalikan uangnya padamu".


"Kakek, kakek terlalu sungkan. Sewaktu aku masih kecil, orang tuaku sibuk kerja, aku selalu makan di rumah kakek. Kakek termasuk orang yang melihatku tumbuh dewasa dari kecil. Sekarang kakek sakit, sudah seharusnya aku datang membantu".Ucap ziqian dengan tulus.


"Waktu berjalan sangat cepat. Kamu sudah berusia 30-an tahun. Apakah kamu punya pacar?". Tanya kakek sedikit menggoda.


"Baru saja kembali ke Tiongkok, belum sempat pacaran". Sahut ziqian malu-malu, Kakek Gu ngangguk-ngangguk.


"Kali ini aku tiba-tiba sakit. Selama nginap di rumah sakit, aku menyadari bahwa tubuhku ini mungkin tidak sanggup menunggu hari itu tiba". Ucap kakek tiba-tiba.


" kakek tidak punya permintaan. Aku hanya berharap ada orang yang menjaga she na".


"Kakek, meskipun kakek tidak mengatakannya.."


"Kamu tahu maksudku tidak hanya seperti itu saja". Ucap kakek menatap ziqian.


"Sebenarnya, aku sudah sangat puas jika bisa menemani She na seperti sekarang ini. Bagaimana pun juga, soal perasaan tidak dapat dipaksa. Di dalam hati she na sudah ada orang lain". Ucap ziqian sangat dewasa.


"Tidak seperti ini. Orang tua She na jatuh cinta pada pandangan pertama. Semua orang bilang Mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Tak disangka, setelah menjalani kehidupan, mereka berupa dari kekasih menjadi musuh. Intinya adalah di antara pria dan wanita, cinta pandangan pertama adalah yang paling tidak dapat diandalkan. Yang penting adalah apakah bisa saling menemani selamanya. Ziqian... Apakah kamu ngerti apa yang kakek katakan?". Tanya kakek Gu. Ziqian mengangguk ngerti.

__ADS_1


Amerika...


"Apakah kamu masih ingat jalan ini?". Tanya Li Man saat jalan berdua dengan Lu Jin.


"Tahun 2012....". Sahut Lu Jin.


"Waktu itu aku masih menjadi sekretaris dalam dewan direksi. Perusahaan ingin mengembangkan bisnis dari Eropa ke Kanada. Pemimpin Zheng khawatir kamu tidak bisa beradaptasi di lingkungan yang asing, mengutusku untuk membantumu. Ah, waktu berjalan terlalu cepat. Sudah berlalu 10 tahun.Sekarang cabang perusahaan Kanada ingin merencanakan konstruksi ulang terhadap jalan ini". Ucap Li Man mengenang masa lalunya dengan Lu Jin. Lu Jin menatapnya lekat membuatnya malu-malu.


"Hari itu sepertinya gaya rambutmu seperti ini juga. Waktu itu kamu sangat membenciku kan?". Tanya Lu Jin mengingat dirinya pernah membentak Li Man gara-gara pakai sepatu heels saat meninjau lokasi.


"Tidak sama sekali. Faktanya adalah malam itu kamu menyuruh supir untuk mengantarkan sepatu kets untukku. Sejak saat itu, setiap keluar rumah, aku akan membawa sepasang sepatu kets". Sahut Li Man menatap Lu Jin dengan senyum manis. "Apakah kamu ingat restoran ini?". Tanya Li Man menunjuk restoran Korea di depan mereka. Lu Jin tidak menjawab karena tidak ingat. "Ck, Kita pernah makan di sini. Aku masih ingat kita duduk di meja tengah itu. Pelayan malam itu adalah seorang gadis". Ujarnya menunjuk ke dalam restoran itu.


"Kenapa kamu ingat begitu jelas?". Tanya Lu Jin menautkan alisnya.


"Karena malam itu adalah hari pertama ulang tahunmu yang ke-26. Kita berdua lembur sampai larut malam baru dapat makan. Malam itu kita ada sedikit masalah dengan pelayan itu". Ucap Li Man mengingat makanan yang mereka pesan malam itu adalah daging sapi Wagyu berkualitas terbaik. Namun yang disajikan adalah daging sapi Wagyu biasa, dan Li Man sampai marah pada pelayan itu.


"Jadi, kamu pergi ke Korea?". Tanya Lu Jin.


"Tidak hanya Korea, aku juga pergi ke Jepang, Prancis dan masuk Le Condor Bleu. Koki yang menjalani studi lanjutan seperti kami, tidak memiliki dasar. Selain itu, aku benar-benar tidak berbakat sama sekali dalam memasak. Jadi, aku menghabiskan waktu lama untuk bisa tamat dari sana". Ucap Li Man sambil ketawa.


"Ternyata kamu memang selalu melakukan semua hal hingga mencapai yang terbaik". Puji Lu Jin.


"Namun, sebenarnya niat awalku sangat sederhana. Aku berharap setiap selesai lembur dan pulang ke rumah, kamu bisa makan dengan senang". Ujar Li Man.


"Tiba-tiba aku sadar selama ini aku tidak pernah mengucapkan terima kasih padamu. Namun, aku rasa perlu melakukannya. Terima kasih. Baik itu sikapmu dalam kerja atau kepedulianmu terhadapku, aku harus berterima kasih padamu dengan tulus. Terima kasih"m Ucap Lu Jin mengulurkan telapak tangannya.


"Jika begitu, penuhilah satu permintaanku". Ucap Li Man belum mau menjabat tangan Lu Jin.

__ADS_1


"Katakan saja..". Ujar Lu Jin masih dengan tangan menjulur ke Li Man.


"Traktir aku minum arak". Ucapnya melangkah pergi ke restoran korea di depan. Lu Jin menghela nafas lalu ikut pergi masuk ke dalam.


__ADS_2