CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
MEMBAYAR HUTANG DENGAN MEMASAK


__ADS_3

"Haa...Pantas tadi Meng xin jie menanyakan alamat rumahmu padaku. Aku kira mereka ingin mempersilahkanmu untuk kembali bekerja"Ujar Celine di telpon.


"Kamu...kamu..kamu...Apakah kamu mematikan aku?. Sudahlah sekian dulu". Sentak she na lalu menutup telpon dan berlari keluar. Sampai di depan pintu, Meng xin jie sudah berdiri disana menunggunya.


Hehehe...Asisten Meng tersenyum menyeringai melihat she na.


She na langsung lari, namun Meng xin jie berhasil menarik tasnya.


"Tidak perlu lari, tidak perlu lari. Kembalivdan ngobrol dengan baik". Ucap Meng xin jie melepaskan tangannya dari tas she na.


"Aku akan lapor polisi, ya?". Ancam Meng xin jie saat she na mau lari lagi.


"Hehehe...Guru Meng, aku sedang olahraga". Ujar she na menciut mendengar kata polisi, dan berlari di tempat sambil tersenyum nyengir. Meng xin jie menanggapinya dengan ketawa, hahaha..


"Peristiwa hari ini, benar-benar bukan salahku. Seharusnya menyalakan preman itu. Jika kamu melepaskanky hari ini, besok aku akan menyuruh Xu Zhao Di, mengajakmu makan malam". Ucap she na mencoba negosiasi dengan Meng xin jie.


"Siapa itu Xu Zhao Di?".


"Celine Xu". Kata she na.


"Celine Xu, ya?. Hahaha...". Sahut Meng xin jie tertawa senang, She na juga ikut tertawa merasa sudah berhasil.


"Sangat menggoda, ya, hahaha...Tapi tidak bisa". Ucap Meng xin jie menghentikan tawanya dan kembali ke wajah datarnya. She na juga ikut berhenti ketawa mendengarnya.


"Jika aku membiarkanmu pergi hari ini, aku bahkan tidak bisa menjadi asisten lagi". Tegas Meng xin jie.


"Sedikit pengorbanan saja tidak bisa kamu lakukan. Kamu pantas berpura-pura kaya seumur hidup. Kamu pantas menerimanya". Sentak she na dengan kesal.


"Aku memang berpura-pura kaya. Tapi, jika kamu melarikan diri, kamu akan menjadi buronan sesungguhnya". Aku Meng xin jie memberi ancaman.


"Benar juga, ya". Lirih she na termenung. Meng xin jie membalik badan she na mendorongnya keluar.


"Tuan Lu, anda tidak perlu khawatir, hanya melukai kulit bagian luar saja. Tidak ada masalah serius. Pingsan, terutama karena kamu terlalu lama tidak makan, Gula darah rendah. Jadi, kedepannya anda harus makan tepat waktu. Istirahatlah dengan baik sekarang, aku tidak mengganggu anda lagi". Terang dokter di ruang rawat presdir Lu.

__ADS_1


"Terima kasih, dokter". Ucap presdir Lu. Dokter berlalu keluar.


"Bos, sangat lapar, kan?". Ucap asisten Meng yang baru datang.


"Aku bungkus sedikit makanan untukmu, cobalah". Asisten Meng memberikan makanan yang dibawanya.


"Tidak perlu. Sudah penuh glukosa, sudah kenyang". Ucap sang presdir santai.


"Jika tau dari awal bahwa kamu sudah di infus glukosa, maka aku tidak perlu menderita lagi". Ucap sang asisten mendapat tatapan tajam bosnya.


"Aku bercanda. Aku sudah membawanya kemari, apakah kamu ingin bertemu dengannya sekarang?". Tanya sang asisten dan di jawab anggukan kepala bosnya.


"Masuklah...". Seru asisten Meng.


Dengan kepala menunduk, she na muncul di depan pintu. Pelan-pelan berjalan masuk, "Jangan bertele-tele". Ujar Meng xin jie berjalan ke she na dan menarik tangannya segera ke hadapan presdir Lu.


"Halo..Presdir Lu". Ucap she na dengan membungkuk.


"Xiao jie...keluarkan ponselmu". Pinta sang presdir.


"Hitung dulu. Biaya pembersihan mobil, biaya kerugian mental, biaya kelalaian pekerjaan, biaya nginap di rumah sakit, biaya pengobatan, dan biaya suplemen". Kata Presdir Lu dan sang asisten menghitung dengan ponselnya.


"Abaikan yang lain, tidak perlu di hitung lagi". Sambung sang presdir.


Meng xin jie menghela nafas panjang dan memperlihatkan ponselnya pada she na.


"Satuan, puluhan, ratusan, ribuan, puluhan ribuan, sepuluh.....130.000 yuan?". Kaget she na membaca angka di ponsel Meng xin jie.


"Kamu jangan mencoba untuk menipuku. Presdir Lu, tadi aku sudah mendengar perkataan dokter, tidak ada masalah serius. Tidak boleh seperti ini". Ujar she na menolak membayar begitu banyak dan juga dia punya uang sebanyak itu.


"Aku benar-benar tidak punya tenaga untuk berdebat denganmu. Seperti ini saja, xiao jie, hubungi pengacara Li, biarkan mereka yang ngobrol". Ucap sang presdir.


"Pengacara Li pasti sudah tidur, jangan ganggu dia". Ujar she na kikuk.

__ADS_1


"Presdir Lu, lihatlah...". Ucap she na mendekati ranjang presdir Lu, namun sang presdir langsung mengangkat tangannya agar she na tidak mendekatinya.


"Kamu...bicara dengan baik". Ucap presdir Lu.


"Kamu bicara disini saja. Tidak perlu terlalu dekat". Ujar sang asisten menarik she na mundur ke belakang.


"Presdir Lu, lihatlah, kepalamu itu, terluka di 'Warung Makanan Tumis Sedunia', benar, kan?". Tanya she na dan di angguki presdir Lu dan Meng xin jie.


"Penyebab kejadian peristiwa ini adalah karena pria mabuk tidak ingin memberikan bibi wang uang. Jadi aku bertengkar dengan pria mabuk". Terang she na dan di angguki Meng xin jie.


"Jika begitu, bukankah seharusnya kamu minta uangnya kepada bibi wang?. Jika bibi wang tidak punya, aku masih punya satu trik. Kamu bisa minta kepada kakekku. Kakekku dan bibi wang adalah kekasih masa tua. Mereka sudah sangat tua, pasti ada sedikit tabungan. Menurutmu, perkataanku benar tidak?". Ucap she na melempar tanggung jawab pada kakeknya dan bibi wang tanpa merasa bersalah. Sungguh tak patut. CK CK CK.


"Baru pertama kalinya aku melihat cucu yang tidak berperasaan seperti kamu". Cibir presdir Lu mendengar ucapan she na dan di angguki kepala asisten Meng sambil tersenyum.


"Hubungi pengacara". Ucap sang presdir dengan dingin.


"Jangan, jangan. Aku bayar, aku bayar, oke?. Seru she na menghentikan Meng xin jie menelpon pengacara.


"Sangat tidak menyukai kalian bos besar seperti kalian. Sewa pengacara hanya demi masalah kecil". Gerutu she na dengan muka cemberut.


"Jika begitu, bayarlah. Uang perbaikan mobil di tunda sampai sekarang, aku juga belum melihatnya". Sindir Meng xin jie.


"Bukankah kalian sudah melihat kondisiku?. Aku baru di promosikan, lalu langsung kehilangan pekerjaan. Tapi aku akan menepati janjiku, aku pasti akan bayar". Ucap she na dengan pasti.


"Bayar secara cicilan. Bisakah di bayar secara cicilan?". Tanya she na penuh harap.


"Ada satu cara yang lebih baik dari pada bayar secara cicilan". Sahut Meng xin jie dengan senyum nyeringai.


"Tidak boleh mengambil ginjal, tidak boleh". Ujar she na dengan cepat.


"Tidak membutuhkan ginjalmu". Ucap Meng xin jie mengambil map biru di laci samping ranjang bosnya. "Tanda tangan disini!". Ujarnya memberikan map yang berisi, .


"Perjanjian pembayaran hutang dengan memasak?". Ucap she na megerutkan alis membaca tulisan yang tercantum di map biru itu. She na melirik presdir Lu yang sedang tersenyum senang.

__ADS_1


"Sudah di siapkan sejak awal, untuk apa berakting lagi". Cibir she na dengan kesal dan langsung tanda tangan dengan kasar. Setelah tanda tangan she na berbalik mau pergi, namun..


"Tunggu...


__ADS_2