
"Apa yang dia makan dengan begitu senang?". Ucap sang presdir melihat kepergian mereka.
"Gula kapas". Sahut M X J.
"Apakah itu enak?".
"Apakah kamu ingin mencobanya?".
"Mana mungkin aku makan makanan seperti itu?". Ucapnya dengan sombong.
"Ini untukmu". M X J memberikan gula kapas untuk bosnya.
"Cepat sekali". Ucap sang presdir menerima gula kapas itu.
"Aku melihat mereka beli, lumayan menarik, jadi aku beli satu juga".
"Ini sama seperti kapas, bagaimana memakannya?". Tanya sang presdir tidak tau cara memakannya.
"Masukkan mukamu dan buka mulutmu". Sahut M X J.
Sang presdir mengikuti arahan dari asistennya cara memakannya.
"Bukankah ini terbuat dari Sakarin dan ada pewarnanya?". Tanya presdir Lu di jawab anggukan asistennya. "Benda yang dibuat dari sakarin berkualitas buruk seperti ini, bisa-bisanya dia makan dengan begitu senang?". Sungut sang presdir.
"Ini sulit di katakan".
"Dia adalah seorang koki, kemana perginya seleranya?. Sudah tidak berfungsi?". Marah sang presdir membuang gula kapasnya.
"Di pungut dalam waktu kurang 3 menit, masih bisa di makan". Gumam M X J memungut gula kapas dan menancapkannya ke tusukan di tangan bosnya.
"Dimana orangnya?. Dimana orangnya?. Tadi ada disana. Dimana orangnya?". Tanya sang presdir dengan kesal.
"Orang...Orang...Aku..aku sibuk menancapkan ini untukmu". Sahutnya menunjuk gula kapas. "Aku...tidak...aku...aku...aku pergi cari dulu". Ujar M X J terbata langsung berlari pergi mencari keberadaan she na.
Ziqian dan she na berada di Paviliun Futian sedang bersembahyang. M X J memantau mereka dengan teropong kecil.
"Apa yang sedang mereja lakukan sekarang?". Tanya presdir Lu sambil minum kopi.
"Mereka berdua baru saja selesai sembahyang, sekarang sedang gantung kartu permohonan". Lapor M X J melihat dari teropong.
__ADS_1
"Naif". Ujar sang presdir.
Di Paviliun Permohonan Berkah she na dan ziqian berdiri menggantung kartu mereka.
"Cocok untukmu". Ucap ziqian melihat permohonan she na.
"ini sudah seharusnya. Gantung yang kuat". Pinta she na agar talinya tidak lepas.
"Apa yang di tulis di atasnya?". Tanya sang presdir.
"Tertulis.....Ingin mendapatkan hati seseorang, tidak berpisah seumur hidup". Ucap M X J melihat dari teropongnya, membuat sang presdir kesal.
PONG.....Sang presdir membanting gelas kopinya di meja dengan keras.
"Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi". Ucap sang presdir berdiri dari duduknya dengan emosi mau menghampiri she na dan ziqian.
"Tenang, tenang, kak. Tenang, tenang". M X J menahan lengan bosnya. "Kuberitahukan padamu, soal percintaan sama dengan bidang bisnis. Jika sekarang kamu menunjukkan sikapmu, kamu akan membuat mereka semakin cepat menyelesaikan masalah dari akarnya". Ujar M X J menasehati bosnya yang sedang emosi karena cemburu, membuatnya kena pukul dari bosnya. "Pukul, pukul, pukul aku untuk melampiaskan emosimu. Kita jangan pergi. Tenang, tenang,tenang". Ucapnya lebih memilih di pukul bosnya dari pada membiarkannya perginke she na.
"Xiao jie...". Ucap sang presdir menangkup wajahnya, membuatnya takut setengah mati. "Kamu bukan tidak berguna sama sekali. Sangat bagus. Terima kasih. Terus awasi". Ucao sang presdir melepaskan wajahnya dan menepuk pundaknya. M X J menghela nafas lega setelah bosnya melepaskan tangannya dari wajahnya.
'Papan permohonan Cheng ziqian : Aman dan Gembira'.
Presdri Lu menghampiri tempat gantung kartu permohonan setelah she na dan ziqian pergi.
"Dari mana kata 'bersama seumur hidup'?".Tanya sang presdir melihat asistennya.
"Salah lihat". Ucap M X J gugup. "Barang murah memang tidak bagus".Ujarnya menyalahkan teropongnya.
"Pergi beli sebuah kartu untukku". Pinta sang presdir langsung di lakukan asistennya dengan cepat. Setelah mendapat kartu dan menulisnya, sang presdir memindahkan kartu permohonan ziqian ke tempat yang agak jauh dari punya she na. Lalu dia menggantung kartunya di samping kartu she na. "BOLEH". Ucap presdir Lu berlalu pergi setelah menggantung kartunya.
"Boleh". Ucap M X J meniru gaya bosnya.
'Papan Gu she na :Menjadi kaya dalam satu malam'.
'Papan Lu Jin :BOLEH'.
*
"Bos, tidak tau apakah kamu menyadarinya atau tidak. Kenapa bunga-bunga bermekaran disana, tapi semuanya layu begitu tiba di bagian kita?". Tanya M X J menunjuk ke she na dengan bunga bermekaran sedang di tempat mereka berdiri bunga layu semuanya.
__ADS_1
"Apa perlu bertindak sesuai kondisinya seperti ini?".
Maksud utamaku adalah si bocah bermarga Cheng itu hebat juga saat mengencani cewek. Pintar memilih tempat untuk berfoto". Puji M X J melihat ziqian mengambil foto she na.
"Hanya sebuah kamera rongsokan saja. Apa yang perlu di foto?. Sahut sang presdir dengan kesal.
"Ini anda tidak tau. Aku beritahukan padamu, jika pria ingin memotret wanita hingga bagus, itu adalah sebuag teknik. Ada beberapa temanku yang hampir bercerai dengan istrinya, karena memotret istrinya hingga terlalu jelek". Ucap M X J yang terus memantau dari teropongnya. "Lihatlah, Guru Gu tersenyum lebar. Kuberitahukan padamu, baru pertama kali aku menyadari bahwa ternyata guru Gu begitu cantik dan terbuka. Sangat memesona. Dulu sangat galak padaku". Ujar M X J sambil mengamati she na dari teropongnya.
"Apakah biasanya aku juga galak?". Tanya sang presdir berjalan ke depan teropongnya.
"Anda tidak... anda sangat ramah. Ekhem, Bos, aku merasa anda audah lapar. Kita sudah mengikuti mereka seharian". Ucap M X J dengan muka gugup dan juga lapar.
"Aku tidak lapar. Sudah marah hingga kenyang. Lanjutkan". Ucap sang presdir dengan ketus.
"Aku sudah lapar". Lirih M X J menghela nafas.
Malam hari ziqian mengantarkan she na pulang ke hotel karena she na mabuk.
"Tidak bisa berjalan lagi". Ujar she na.
"Bertahanlah, segera sampai". Ucap ziqian memapahnya.
"Lihat mie ini, panjang dan lebar. Panjang dan lebar". Racau she na.
"Baik, baik, baik, lebar, lebar. Arah ini. Bertahanlah, segera sampai. Klik..". Ziqian membuka pintu kamar dan mengantar she na masuk ke dalam.
Presdir Lu dan M X J mengikuti dari belakang. Melihat ziqian juga ikut masuk ke dalam kamar, sang presdir berlari mau ikut masuk ke dalam. Namun di tahan oleh M X J.
"Kemarilah, kemarilah". Ucapnya menarik tangan bosnya menjauh dari kamar she na.
"Dia sudah masuk kamar. Dia mengizinkannya masuk ke kamar". Sungut sang presdir.
"Anda jangan terlalu banyak berpikir. Dia mabuk. Sangat normal jika menangtarnya kembali". Ucap M X J dengan pelan.
"Apakah ini normal?".
"Sangat normal. Jangan, jangan, jangan. Kak, kak, kak..". Ujar M X J berusaha menahan bosnya yang mau menerobos masuk ke dalam. "Elegan, elegan".
"Jangan sentuh aku". Sentak sang presdir. Sang asisten langsung melepas tangannya.
__ADS_1
"Seperti ini, seperti ini. Kita berdua...Kita berdua buka kamar di sebelah. Aku bantu kamu pikirkan caranya". Saran M X J.