CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Kamu Ingin Pergi


__ADS_3

"Aku tau..". Paman tua membuka pintu rumah dan melangkah pergi. Lu zheng menyeringai dan melihat jam tangannya sebentar, Lu zheng menebak paman tua pasti melapor pada Lu Jin.


"Aku bantu kamu, kamu salah bongkar". Ujar Lu zheng mengambil rakitan mobil she na.


"Aku bisa, aku pasang sendiri". She na mengambil kembali rakitan mobilnya.


"Kamu harus bongkar ini dulu". Lu zheng memberitahu she na apa yang harus di rakit dulu dan melihatnya dengan tatapan penuh arti.


Setelah keluar dari rumah she na, paman tua bimbang antara mau menghubungi Lu Jin atau tidak. Setelah menimbang beberapa detik, akhirnya paman tua memutuskan menelpon Lu Jin yang ada di Vancouver saat ini masih siang hari. Sedangkan di Suhai sudah malam hari.


"Halo...". Ucap Lu Jin mengangkat telpon.


"Halo.. Ada satu hal, aku harus mengingatkanmu dulu". Ujar paman tua langsung setelah Lu Jin menjawab telponnya. "Ada seorang pria di samping Nana, marganya Lu, apakah kamu kenal?". Tanya paman tua. Benar saja dugaan Lu zheng, paman tua pasti melapor pada Lu Jin, makanya dia sengaja dekat-dekat dengan she na saat ada paman tua.


"Lu zheng?". Tebak Lu Jin.


"Benar, itu namanya". Sahut paman tua.


"Dia adikku, kenapa?". Tanya Lu Jin tidak mengerti.


"Tadi aku bertemu pria itu di rumah Nana. Selain itu, sejauh yang kuketahui, belakangan ini Nana selalu bermain bersama pria itu".Ujar paman tua melaporkan.


"Baik, terima kasih". Ucap Lu Jin menutup telpon lalu memijit pelipisnya.


Sedangkan She na masih asyik merakit mobil dengan Lu zheng, tidak tau sudah ada melapor pada kekasihnya.

__ADS_1


"Aku bantu kamu. Ini seharusnya dipasang di sini". Ucap Lu zheng membantu she na merakit mobil kecilnya.


"Berapa harga mobil ini?. Beri tahu lewat WeChat, aku transfer untukmu". Ujar she na sambil fokus merakit mobilnya.


"Baik..". Sahut Lu zheng melihat ponsel she na yang ada di samping she na sambil tersenyum penuh arti, seakan tau sebentar lagi akan ada yang menelpon she na.


Benar saja, baru beberapa detik ponsel she na berdering, tertera nama 'Lu rewel' disana.


"Halo..". She na langsung menjawab telpon setelah melihat Lu Ji. yang menelpon.


"Halo, Nana...Kamu sedang berada di rumah?l. Tanya Lu Jin.


"Aku ada di rumah. Ada apa?". Sahut she na dengan polos.


"Sendirian?". Tanya Lu Ji lagi. She na langsung melihat Lu zheng yang mengisyaratkan jangan bilang dia ada dan berdiri melangkah keluar.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merindukanmu, ingin mendengar suaramu". Ucap Lu Jin memang benar dia sangat rindu pada she na juga kecewa dengan jawaban bohong she na.


"Berapa lama lagi kamu pulang?". Tanya she na.


"Dua atau tiga hari lagi. Ada beberapa masalah rumit yang perlu di selesaikan. Jadi...". Ucap Lu Jin terpotong.


"Masih harus dua hingga tiga hari lagi?". Sela she na. "Baiklah, jaga kesehatanmu". Ucapnya dengan lemah, dia juga sangat merindukan Lu Jin.


"Baik, aku tutup dulu. Sampai jumpa". Lu Jin langsung menutup telpon tanpa mendengar ucapan she na lagi. Ting...Ting...Ponsel Lu Jin berdenting pertanda ada chat masuk. Lu Jin membuka pesan itu dan melihat foto she na dan Lu zheng yang begitu dekat seperti mau berciuman. Foto yang waktu Lu zheng mengusap sudut bibir she na dari dekat. Lu Jin kecewa melihatnya, dan sore itu juga Lu Jin langsung terbang pulang ke Suhai, menempuh waktu belasan jam di dalam pesawat tanpa bisa menutup untuk beristirahat.

__ADS_1


Ting...Tong... Bel rumah she na berbunyi. She na membuka pintu dan melihat Lu Jin, dia langsung menghambur memeluk Lu Jin dengan senang.


"Kenapa kamu pulang?. Bukankah kamu bilang beberapa hari lagi?". Tanya she na mengurai pelukannya, namun tangannya masih melingkar di leher Lu Jin.


"Iya..". Jawab Lu Jin singkat membawa she na masuk ke dalam.


"Apakah kamu lelah naik pesawat?. Duduk selama belasan jam". Tanya she na kembali memeluk Lu Jin.


"Lumayan..". Lagi-lagi jawaban Lu Jin dengan singkat. She na masih belum melihat kejanggalan Lu Jin, saking senangnya Lu Jin sudah pulang.


"Apakah pinggang mau pegal?. Apakah lapar?. Ingin makan apa?. Aku masa untukmu". Tanya she na beruntun.


"Aku ingin minum segelas air". Jawab Lu Jin merasa tenggorokannya kering.


"Minum air?". Lu Jin mengangguk. "Baik..". She na langsung berjalan ke dapur , Lu Jin berjalan ke meja makan lalu duduk.


"Ini..". She na memberikan segelas air pada Lu Jin. Lu Jin langsung meminumnya hingga tandas. "Cepat sekali". She na kaget melihat Lu Jin minum sekali tandas. "Apakah kamu merindukanku?". Tanyanya menangkup wajah di meja menatap Lu Jin cengengesan. Lu Jin tidak menjawab, dia mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya dan membuka foto she na dengan Lu zheng, lalu meletakkan di meja dan menggesernya ke depan she na. She na mengambil ponselnya dan senyumnya langsung surut berganti terkejut. "Apa maksudmu?". Tanya she na menatap Lu Jin."Si..Siapa yang mengedit foto ini?. Jika bukan foto editan, maka Pasti karena sudutnya. Beberapa hari yang lalu, aku memang pergi ke Bengkel Lu zheng. Pergi main mobil remot kontrol dengannya. Namun, kami tidak ada hubungan apapun". Ujar she na menjelaskan dengan cepat. "Kamu tidak percaya padaku?". Tanyanya menatap Lu Jin dalam.


"Aku percaya padamu". Jawab Lu Jin datar. "Kamu bilang ini kesalahpahaman, maka pasti begitu. Kita akhiri masalah ini di sini saja. Nana... Kamu adalah pacarku, adalah tunanganku. Usahakan jangan terlalu dekat dengannya. Bolehkah?". Pinta Lu Jin dengan tegas menatap she na.


"Maaf. Aku...Ucap she na menunduk.


"Tidak..". Potong Lu Jin mengusap kepala she na dengan lembut. "Aku akan mengurus foto ini. Jangan dipikirkan lagi. Aku sudah lelah, aku pergi dulu". Ucap Lu Jin berdiri dari duduknya, she na juga ikut berdiri.


"Kamu ingin pergi". Tanya she na memeluk Lu Jin dan dibalas Lu Jin mengusap kepalanya dengan lembut.

__ADS_1


"Aku naik pesawat selama belasan jam, tidak tutup mata sedetik pun. Sangat lelah". Ucap Lu Jin mengurai pelukannya menangkup wajah she na. "Aku pulang dan tidur dulu. Bolehkah?. Tidak perlu mengantarku". Ujar Lu Jin langsung melangkah keluar dari rumah she na. She na menatap punggung Lu Jin menghilang dari rumahnya dengan sedih. Setelah keluar dari rumah she na, Lu Jin menatap ke atas langit dengan wajah lelahnya. Menghela nafas panjang lalu melangkah pergi.


__ADS_2