CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Sejak Kapan Kamu Menyukaiku?


__ADS_3

"Kamu ingin aku ada lain kali lagi ya?". Cerca Celine.


"Tidak, tidak. Aku...aku hanya memberi perumpamaan". Sahut M X J dengan lirih.


"Lain kali, Jangan melakukan hal bodoh lagi".


"Ini bukan melakukan hal bodoh. Jika aku dipukul orang, dapat membuatmu mengetahui kedok seorang pria jahat, tidak sia-sia. Jika dipukul orang, aku bisa berada di rumahmu, bisa berbaring di sofa-mu, lalu dipijat olehmu, tidak sia-sia". Ujar M X J dengan serius.


"Sudah selesai, obatnya sudah dioleskan. Kalau tidak ada masalah lain, pergi lah". Ucap Celine berdiri dari duduknya.


"Zhao Di...". M X J langsung bangun dan memeluk Celine dari belakang. "Zhao Di terimalah aku, biar aku menjadi pacarmu, biar aku melindungimu. Jika kamu tidak menyukai pekerjaanmu saat ini, kamu mengundurkan diri saja, aku akan merawatmu". Tembak M X J dengan serius dan memeluk Celine dengan erat.


"Kamu ini raja lawak ya?. Masih ingin merawatku, kamu rawat dirimu sendiri dengan baik saja. Lepaskan tanganmu". Ucap Celine yang sebenarnya sangat senang dengan ucapan M X J, namun tidak mau menunjukkannya.


"Jangan, jangan. Pinggangku sakit, Pinggangku sakit. Peluk sebentar lagi, peluk sebentar lagi". Pinta M X j semakin mengeratkan pelukannya.


"Kalau begitu, peluk 5 menit lagi". Ucap Celine tersenyum.


" 5 menit saja tidak cukup". Ngeluh M X J. Celine mau melepas tangannya. "Tidak, tidak. 5 menit saja, 5 menit saja. 5 menit". Mohon M X J membenamkan wajahnya pada punggung Celine dan memejamkan matanya menghirup aroma Celine. Celine tersenyum geli dengan kelakuan M X J yang kekanakan ini. "6 menit saja ya?". Pintanya membuat Celine ketawa.


Di tepi danau, she na dan presdir Lu sedang rekreasi bersama. Menari, bernyanyi, dan berfoto bersama.


"Bagaimana?". Tanya she na


saat Lu Jin mengambil fotonya.


"Jangan bergerak, foto sekali lagi". Ucap sang presdir mengambil foto she na hingga tanpa tanpa sengaja kameranya jatuh ke danau karena terpeleset.


"Sudah belum?". Tanya she na yang sedang berpose. "mana kameranya?". Tanyanya melihat Lu Jin yang berdiri diam dengan kikuk.


"Jatuh kesini..". Tunjuknya ke danau. "Aku tadi..". Lu Jin tidak melanjutkan ucapannya.


"Jadi...jadi bagaimana?".


"Aku membelikanmu 10 lagi!". Jawabnya enteng.

__ADS_1


"Tapi, di dalam kamera ini ada foto kita. Pungut saja". Ucap she na sengaja mengerjai Lu Jin.


"Ooh...". Sahut Lu Jin dengan lesuh dan melangkah turun ke danau.


"Hahaha......". Lu Jin berhenti melangkah mendengar tawa she na. "Foto bisa kita foto lain kali. Hahaha kamu sungguh bodoh ya. Bagaimana kameranya bisa dilempar ke danau?. Hah...haha...". She na ketawa merasa lucu melihat Lu Jin. She na melambai tangan agar Lu Jin duduk di sampingnya. "Kameranya sudah kamu lempar ke danau, apa yang harus kita lakukan?. Kita cerita-cerita tentang sesuatu yang sedikit pribadi saja". Ujar she na memberikan ide.


"Sedikit...sedikit pribadi seperti apa?". Tanya Lu Jin sudah berpikir kemana-mana.


"Kamu pernah jadian dengan berapa banyak wanita?". Tanya she na duluan.


"Haha...Hanya...hanya beberapa". Sahutnya ngambang.


"Di antara... diantara wanita-wanita ini tidak ada Lim Man kan?". Tanya she na menatapnya.


" Tentu saja tidak". Jawab Lu Jin dengan pasti. "Aku tegaskan sekali lagi, aku sama sekali tidak ada hubungan seperti itu dengan Li Man. Dia hanya sebatas rekan kerja, mitra kerja dan teman baikku. Sebatas itu saja". Ucap Lu Jin menjelaskan.


"Aku percaya padamu. Kalau begitu, kenapa putus?". Tanyanya penasara.


"Dengan pacarku yang dulu?".


"Kepribadian..."


"Kepribadian tidak cocok?. Hubungan berakhir begitu saja?. Dasar pria jahat". Sela she na mengumpat.


"Wooah...". Lu Jin terkejut dengan umpatan she na. "Ini karena aku...mungkin adalah penyebabnya. Aku ini penggila kerja, terkadang mereka akan mempengaruhi pekerjaanku. Ditambah lagi, aku terbang ke sana kemari. Tidak bersama untuk waktu yang lama, lalu putus, sangat wajar". Sahut Lu Jin.


"Bisa... merasakan ini adalah sesuatu yang dapat kamu lakukan. Bagaimana denganku?. Apakah kamu juga akan berbuat seperti itu terhadapku?". Tanya she na penasaran.


"Tidak akan". Jawab Lu Jin dengan pasti. "Kamu tahu tidak?. Setelah aku bersamamu, aku tiba-tiba merasa waktuku bersamamu tidak pernah cukup. Aku memikirkanmu setiap saat. Pertama kali saat kerja juga bisa memikirkanmu, hah..sangat ajaib". Lu Jin menertawakan dirinya sendiri. "Mungkin juga karena aku tidak terlalu mencintai orang-orang itu sebelumnya".


"Berarti, maksudmu adalah...Kamu cukup mencintaiku, ya?". Tanya she na menggoda Lu Jin.


"Pertanyaan ini lebih pribadi daripada yang tadi".


" Baiklah. Kalau begitu, aku akan berusaha menanyakanmu pertanyaan yang lebih pribadi. Sejak kapan kamu menyukaiku?". Tanya She na menatap wajah Lu Jin dari dekat.

__ADS_1


"Masalah ini, aku perlu pikir dulu". Sahut Lu Jin.


"Pikir saja, aku beri kamu waktu".


"Saat di aku dinas ke Zhuo Zhou, membuka koper, lalu melihat toples kacang kenari manis yang kamu berikan padaku itu. Bukan.. Lebih awal dari itu. Saat kamu memanggilku Kakak Jin dalam pelukanku di koridor rumahmu". Ucap Lu Jin membuat she na malu. "Bukan..Lebih awal dari itu. Seharusnya adalah....".


"Jangan-jangan, saat aku memasukkan mie ke dalam mobilmu ya?". Potong she na mengingat kejadian waktu lalu.


"Oh..Haha... Saat itu aku merasa kamu sangat keterlaluan dan keras kepala. Bisa-bisanya menyamar menjadi orang Jepang. Haha..". Ucap Lu Jin membuat mulut she na manyun.


"Keterlaluan dan keras kepala?. Keterlaluan dan keras kepala?".Gumam she na tidak senang, berdiri mau pergi, namun Lu Jin langsung menarik tangannya hingga jatuh ke pelukannya.


"Bolehkah aku menanyakanmu sesuatu yang tidak penting?. Sejak kapan kamu menyukaiku?". Tanya Lu Jin menatap wajah she na lekat.


She na tersenyum dan mendekat ke telinga Lu Jin berbisik...Puff..


"Tidak beritahu kamu, tidak beritahu kamu, tidak beritahu kamu". Ucap she na bersenandung melangkah pergi sambil menari-nari.


"Aku tau, siapa yang tidak bisa?". Gumam Lu Jin melihat she na menari-nari dengan senang.


She na sedang bersiap memasak makan siang untuk mereka berdua. Dia mencepol rambutnya ke atas, sangat cantik. Lu Jin melihatnya takjub dari tempat duduknya di tenda. Dia melangkah mendekati she na dan memasak bersama.


"Shhss... Kena tangannya?. Sudah kubilang, kamu harus hati-hati".. Ucap she na khawatir melihat tangan Lu Jin kena panas pemanggang daging. She na mengambil tangan Lu Jin meniup dan mengecupnya dengan lembut. Lu Jin mendekatkan wajahnya ke wajah she na, namun she na lebih dulu mengecup bibir Lu Jin. CUP... Lu Jin melongo dengan tindakan she na.


"Biar aku saja". Ucap she na mengambil alih memasak.


"Baik...". Sahut Lu Jin kembali ke tenda dengan enggan. Sesekali kembali melihat she na. Sampai di tenda dia mendapat telpon dari Li Man.


"Sudah ada berita dari bank, perjanjian pinjaman group Ming Ting akan disetujui minggu depan. Mengenai penerbitan obligasi, Ming Ting masih tawar-menawar dengan beberapa institusi besar, katanya ingin mengurangi pendapat 50 basis poin lagi". Ucap Li Man di telpon melaporkan kerjaannya.


"Sudah hampir sampai waktunya, hidangkan!". Ucap Lu Jin dingin dengan muka datarnya, lalu menutup telpon.


"Hidangan sudah datang...". Seru She na membawa masakannya. "Cicipi, daging sapi". Ucapnya meletakkan hidangan di meja. Ponselnya berdering di dalam tasnya. " Bisakah kamu membantuku mengambil ponsel?. Tanganku berminyak sekalil. Ujarnya mengambil tisu dan mengelap tangannya.


"Baik...". Lu Jin mengambil ponsel she na dan terpaku sesaat melihat siapa yang menelpon she na. "Ini..". Ucapnya memberikan she na ponselnya.

__ADS_1


"Siapa yang menelpon?". Tanya she na seraya mengambil ponselnya.


__ADS_2