CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Aku Lapar


__ADS_3

"Presdir Lu..." Panggil paman tua memberikan tisu basah padanya.


"Terima kasih". Ucap presdir Lu menerimanya.


"Presdir Lu, pertama kali datang ke tempat seperti ini, makan bersama dengan begitu banyak orang, tidak terbiasa ya?". Ujar paman tua. Presdir Lu tidak menanggapinya, matanya hanya melihat she na sambil tersenyum. "Tempat ini adalah tempat dimana Nana tumbuh dewasa. Orang-orang ini juga orang yang melihat Nana tumbuh dewasa. Meskipun semuanya tidak ada hubungan darah, tapi setelah waktu berlalu akan memanggil seperti kerabat. Waktu kecil, paman aku sangat sibuk, juga tidak sempat menjaga Nana. Nana hanya berlari sendiri di jalan ini, sampai jam makan. Di sebelah ada warung siapa, dia akan makan disitu. Bagaimana pun paman aku memanggilnya juga tidak bisa kembali". Paman tua menceritakan masa kecil she na sambil menatapnya penuh kasih. Sang presdir tersenyum mendengarnya tanpa menyela. "Tunggu dia sudah berkeliling dan kenyang, akan pulang dengan sendirinya. Nana, tumbuh besar bersama kakek sejak kecil. Terus terang saja, kurang kasih sayang. Kalau tidak, tidak akan suka paman seperti kamu". Ledeknya. Presdir Lu menunjukkan muka datarnya. "Orang tua Nana tidak ada disisinya semenjak masih kecil. Tapi kalau ada yang menganiaya dia, di sampingnya akan ada banyak orang. Kamu tau pamanku?. Tumbuh besar dengan pisau dapur. Jangan lihat mukanya yang begitu baik, kalau sudah marah, sama seperti marah pada bebek. Oh, ada lagi Bibi wang, jangan lihat Bibi wang sekarang buka usaha toko kecil. Dulu Bibi wang penjual daging BBQ. Kamu tau tusukan BBQ kan?. Kalau itu di tusuk, lebih sakit dari itu, Bibi Rong. Ada lagi, masih ada Kustomisasi tingkat lanjut Quan'an aku. Walaupun wanita semua, tapi kalau ingin merusak nama baik seseorang, itu juga dalam hitungan menit.". Ucap paman tua sedikit mengancam. Presdir Lu hanya mengangkat sudut bibirnya menanggapi ucapan paman tua. "Jangan sakiti dia, kalau kamu belum memikirkannya dengan matang, jangan di teruskan lagi". Ucapnya dengan serius menatap wajah presdir Lu.


"Sebenarnya waktu itu kamu tidak seharusnya mendandani dia seperti itu. Penampilannya sendiri sudah sangat bagus". Puji sang presdir melihat she na sambil tersenyum.


"Setuju..". Sahut paman tua menepuk pundak presdir Lu berlalu pergi bergabung dengan she na dan lainnya.


Sang presdir tersenyum senang melihat she na menari dengan temannya dengan bahagia.


"Lu Jin dan Nana sudah pergi, perlukah aku antar kamu?" Tanya paman tua melihat M X J di toilet.


"Kamu tidak perlu antar aku lagi. Kamu antar Zhao Di pulang saja". Sahut M X J.


"Tidak perlu kamu kasih tau". Cibir paman tua berbalik pergi.


"Eh, aku kasih tahu satu hal?". Ujar M X J menghentikan langkah paman tua.


"Apa?".

__ADS_1


" Kalian membuat busana pria?. Kelak aku bisa minta perusahaan kami pesan pakaian kalian pada setiap acara tahunan. Selain itu, aku bisa kasih tau ukuran bosku padamu. Dengan begitu, setiap kali dia muncul di acara publik, aku bisa suruh dia kenakan pakaian buatan kalian". Ucap M X J menawarkan dengan senyum nyeringai.


" Katakanlah, Apa syaratnya?". Tanya paman tua langsung pada tujuan.


" Kamu pernah menghianati teman karirb?". Tanya M X J.


" teman karib yang mana?". Tanya paman tua dengan senyum smirk sudah tau tujuan M X J.


Presdir Lu mengantar She na pulang dan menggendongnya ke kamar karena she na agak mabuk dan mengantuk. Sang presdir membaringkan She na di ranjang dengan pelan, she na mengalungkan tangannya di leher presdir Lu. Wajahnya mendekat ke wajah sang presdir..


"Aku...aku...lapar". Ucap she na tersenyum. Presdir Lu langsung lesuh mendengarnya.


" Minum begitu banyak, tidak makan apa-apa, tentu saja lapar". Ucap sang presdir sambil membawa she na keluar dan memasak mie instan untuknya. She na menunggu di meja dengan wajah lesuh


"Segera". Sahut sang presdir dari dapur. Beberapa saat kemudian sang presdir membawa mie yang sudah di rebus ke meja makan. She na sangat senang, segera mengambil sumpitnya. "Tunggu sebentar. Segera". Ucap sang presdir memasukkan bumbu mie dan mengaduknya, setelah itu menambahkan air panas ke dalam mie. She na sudah tidak ingin sabar ingin makan. Saat she na ingin mengambilnya, presdir Lu menutup mangkok mie berkata. "Tunggu 3 menit". She na langsung cemberut mendengarnya. "Masih 2 menit 40 detik...Masih 1 menit, masih 30 detik". She na langsung berdiri dan melangkah kedapur ke dapur mengambil sebungkus mie instan dan bumbu-bumbu lainnya, di bawa ke meja. "Masih 10 detik....9, 8 ,7, 6.....". Sang presdir menghitung mundur waktu sambil melihat she na meremas mie instan dan mencocolnya dengan mayones dan sambel lalu memakannya. Kriyuuk...Kriyuuk...bunyi remahan mie instan di dalam mulut she na.


"Kamu serius..". Ucap presdir Lu tidak percaya. She na memberikan mie instan mentah padanya untuk di coba. Sang presdir mengambilnya sedikit dan mencocolnya dengan mayones dan memakannya dengan ragu-ragu. Kriyuuk...Kriyuuk...Mata sang presdir membulat dan mengangguk sambil mengunyah.


"Aku...Ingin ganti rasa lain". Ucapnya malu meminta mie instan lagi. She na hanya memberinya sedikit remahan saja, presdir Lu menerimanya dengan menghela nafas dan mencocol rasa lain, memakannya dengan nikmat. She na tersenyum melihatnya dan memberikan semuanya mie di tangannya pada sang presdir karena tidak tega melihatnya. Sang presdir tersenyum senang menerimanya.


" Aku pertama kali makan seperti ini". Ucapnya langsung mencoba dengan rasa lain.

__ADS_1


" Apakah kamu senang hari ini?". Tanya she na.


"Senang". Jawabnya sambil makan.


" Jadi, kamu tidak merasa berisik?. Bibi asuhku, paman Ji, Paman kedua, ada lagi Lao Liu dan Mili. Mereka semua melihatku tumbuh dewasa di warung makan". Ucap she na mengambil remahan mie dan memakannya.


" Tidak, aku sama sekali tidak merasa berisik. Melihat kamu menari dengan senang di sana, Aku sangat beruntung".


"Beruntung kenapa?".


" Aku sangat beruntung, beruntung tidak jadi pergi. Kemudian juga beruntung karena kamu, aku juga punya banyak kerabat". Jawab presdir membuat she na terharu. "Terlalu kering, aku ambilkan air". Ucapnya pergi ke dapur, setelahnya dia tersenyum senang sambil memakan mie di tangannya.


Paman tua mengantar Celine ke studionya, bukannya langsung ke rumah Celine.


"Ada apa... Aku sudah minum terlalu banyak. Kamu tidak antar aku pulang, membawa aku ke sini". Decak Celine yang sudah sedikit mabuk. Paman tua tidak menanggapi, dia mengambil ponselnya dan menghubungi M X J. Setelah M X J mengangkatnya dia menyimpan ponselnya di dalam saku jasnya.


"Xu...Aku merasa hari ini kamu minum alkohol dengan mencurigakan". Ucap paman tua sengaja agar di dengar M X J di seberang telpon.


" Kamu orang yang hanya minum jus sepanjang malam, ada hal apa bilang aku mencurigakan?. Kenapa?. Masih mau minum lagi?" Tanya Celine melihat paman tua menuang wine ke gelas.


" Tentu saja harus minum lagi. Aku malah minum jus karena di hatiku ada Porsche. Bilang kamu mencurigakan karena di hatimu ada M X J". Ucap paman tua sengaja memancing ucapan Celine. M X J tersenyum senang di seberang.

__ADS_1


"Sembarangan...


__ADS_2