
"Presdir Lu...Dokumen dari presdir Li". Ucap M X J membawa beberapa map masuk ke ruangan Lu Jin.
"Iya, terima kasih". Ujar Lu Jin. Setelah itu M X J menghela nafas panjang dengan wajah kusam. "Ada masalah?". Tanya Lu Jin mendengar helaan nafasnya.
"Ada sedikit masalah..". Jawab M X J mengangguk.
"Duduklah. Ada apa?". Tanya Lu Jin penasaran apa yang membuat asisten sekaligus temannya ini frustasi.
"Aku ingin minta cuti. Aku daftar Magister Administrasi Bisnis. Ingin belajar". Sahut M X J menunduk.
"Kali ini bisa bertahan berapa hari?. Cinta membuatmu tumbuh dewasa lagi?". Tanya Lu Jin sudah mengerti masalah hati M X J.
"Aku ingin membicarakan masalah cinta dengan anda". Ucap M X J dengan wajah memelas.
"Xiao Jie.. Sebenarnya terkadang aku sangat kagum padamu". Ujar Lu Jin menatap M X J.
"Kagum apa?. Aku sudah cukup menderita". M X J menertawakan dirinya sendiri.
"Waktu. Ada dua jenis pria di dunia ini. Yang pertama adalah menggunakan karir untuk melindungi cinta. Yang kedua adalah menghabiskan waktu untuk menemui cinta. Bukan hanya pria sukses yang pantas untuk mendapatkan cinta. Jadi, kamu adalah jenis yang kedua". Ucap Lu Jin dengan mantap. M X J mengangguk-ngangguk mendengar ucapan bosnya. "Kamu ingin bilang apa padaku?". Tanya Lu Jin.
"Tidak apa-apa. Terima kasih, presdir Lu". Sahut M X J dengan senyum tulua pada Lu Jin, lalu pamit keluar.
**
Kembali ke kantor Celine..
__ADS_1
"Direktur...". Celine menghadap direktur Lin setelah pulang dari restoran menemui klien mesumnya.
"Ada apa?". Tanya direktur Lin melipat tangan di dada.
"Aku tidak dapat mengerjakan proyek ini. Berikan pada orang lain saja". Ucap Celine mengembalikan dokumen proyek pada direktur Lin.
"Kamu jangan keberatan. Bukankah kecantikanmu adalah kelebihan terbesar darimu? Kamu harus memanfaatkannya sebaik mungkin". Desis direktur Lin meledek Celine. Karena Celine di cap bisa mengerjakan tugas yang di berikan walau pun sangat sulit dengan mengandalkan tubuhnya. Karena Celine menemui klien di club malam, makanya dirinya di cap gampangan.
"Apa maksudnya?". Tanya Celine menggenggam erat dokumen di tangannya.
"Dunia orang dewasa. Hanya lihat hasil, tidak lihat proses. Dapatkan proyeknya, terima bonusnya, itu lebih penting dari apapun". Perintah direktur Lin tidak peduli bagaimana caranya Celine harus mendapatkan proyek itu. "Xu Zhao Di yang dulu tidak akan takut seperti sekarang ini. Sekarang kamu kenapa?. Berpacaran dengan seorang sopir, sifatmu jadi berupa. Pikirkan baik-baik lagi". Sindirnya berlalu pergi begitu saja. Celine diam tak berdaya, dengan gontai berjalan pergi.
**
Sore harinya di gang menuju rumah She na, terlihat Lu zheng sedang menunggu She na pulang. Tak lama She na pulang dengan sepedanya, saat mau berbelok ke gang rumahnya She na melihat Lu zheng sedang berdiri melihat ke arah rumahnya. Dengan cepat She na menjalankan sepedanya lurus ke depan sebelum Lu zheng melihatnya. Sampai malam hari She na baru pulang dengan mengendap-ngendap takut Lu Zheng menunggunya di depan pintu rumahnya. Setelah di lihat tidak ada orang, She na menghela nafas lega berjalan ke depan pintu mengambil kunci dari tasnya mau membuka pintu.
"Kamu masih belum.....". She na kaget, hampir keceplosan kalau tadi dia menghindari Lu zheng.
"Teleponmu tidak dijawab, wechat juga tidak dibalas. Aku takutnya terjadi sesuatu, jadi melihatmu ke sini. Kamu tidak menghindariku,kan?". Tanya Lu zheng pura-pura tidak tau.
"Tidak. Untuk apa menghindarimu?". Jawab she na dengan senyum paksa.
"Terus terang padaku. Apakah kakakku tidak izinkan kamu berhubungan denganku?". Tanya Lu zheng dengan tatapan sendu.
"Tidak. Pasti bukan begitu. Jangan berpikir sembarangan. Hari juga sudah larut, kamu anak kecil sendirian di luar juga tidak aman. Cepat pulang lah". Usir She na dengan halus.
__ADS_1
"Kamu perhatian padaku?". Goda Lu zheng.
"Tidak..". Jawab She na spontan dengan suara tinggi. "Aku tidak perhatian padamu. Aku hanya... sudah, cepatlah pulang. Aku masuk dulu". Ucap She na berbalik melangkah mau membuka pintu rumahnya.
"Aku ingat pernah kasih tahu kamu, aku tidak berharap permusuhan generasi sebelumnya berlanjut ke generasi kita". Ujar Lu zheng dengan suara sedihnya. "Tampaknya aku yang berangan-angam. Setelah Ayah meninggal, Ibuku... selalu menangis di rumah setiap hari. Aku hanya tidak ingin tinggal sendirian di rumah. Aku ingin mencari orang yang seumur,mengobrol dan berbincang dengannya saja". She na hanya berdiri diam di tempat tanpa berbalik melihat Lu zheng, mendengar perkataan sedih Lu zheng dengan tidak tega. "Aku tidak menyangka, bisa menjadi masalah yang begitu besar bagimu. Maaf.. Tenang, aku tak akan mengganggumu lagi. Hiks...".Ucap Lu zheng berbalik melangkah pergi dengan pelan sambil meneteskan air mata palsunya. Dia tau jurus ini pasti bisa meluluhkan hati She na yang tidak tegaan.
"Tunggu sebentar..". Panggil She na berbalik badan. Lu zheng mengulum senyum licik mendengarnya, lalu berbalik melihat she na dengan muka sedih dan air mata buayanya.
Disinilah sekarang mereka berada, di sebuah kedai minum. She na sudah minum terlalu banyak sampai wajahnya memerah dan bicara ngelantur.
"Menurutmu apakah kakakmu orang yang suka mengontrol?. Ha.. Dia melarang aku lakukan ini.Melarang aku main itu. Melarang aku bertemu itu. Dia begitu tidak percaya padaku?". Cicit She na menuang arak ke gelasnya. Lu zheng tersenyum duduk di depannya.
"Pelan-pelan minumnya..". Seru Lu zheng melihat She na minum arak sampai habis di gelasnya dalam sekali teguk.
"Kamu tidak usah pedulikan aku. Iya... Tidak hanya itu saja. Dia juga paranoid. Dia mengawasi orang rumah sampai seperti pencuri, terutama kamu. Dia melarangku bermain denganmu. Dia.. dia merasa, dia, dia mengira kita berdua, bisa melakukan sesuatu". Cicit She na memberitahu semua larangan Lu Jin padanya. Sedangkan Lu zheng tersenyum nyeringai entah apa yang di pikirkannya. "Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan?. Apa yang bisa kita lakukan?. Naif!". She na menggerutu sudah mabuk.
"Iya. Kita berdua bisa melakukan apa?". Ucap Lu zheng dengan seringai liciknya. "Ayo, aku temani kamu minum lagi". Ujarnya bersulang pada she na.
"Tunggu sebentar..". Pinta She na menuang arak ke gelasnya, namun botol arak sudah kosong. "Pelayan.....". Teriak She na hingga semua pengunjung melihat ke arahnya. "Tidak ada arak lagi... Bawa arak kesini..."Serunya tidak peduli di lihat orang banyak karena emang dia sudah mabuk.
"Tunggu sebentar". Sahut pelayan dari jauh.
"Terima kasih". She na tidak mengucapkan terima kasih.
"Sudahlah, jangan minum lagi. Pelayan, tidak perlu lagi". Seru Lu zheng saat pelayan tadi mau mengantar arak ke mejanya.
__ADS_1
"Baiklah..". Sahut pelayan membawa kembali araknya.
Lu zheng melihat ke depannya, She na sudah terkapar di meja tidak sadarkan diri. Lalu dia minum sambil melihat ke depan dengan tatapan tajam.