CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
APA KAMU BODOH


__ADS_3

"Itu, aku".


"Baik, coba kamu ceritakan detailnya". Goda Meng xin jie.


"Meng xin jie, apa belakangan ini kamu merasa sangat santai?. Tidak ada pekerjaan untuk kamu?". Decak presdir Lu menatap tajam.


"Ada, ada, ada". Sahut Meng xin jie dengan cepat.


"Lakukan apa saja?. Aku masih ada banyak pekerjaan, kamu bantu aku selesaikan". Ucap sang presdir.


"Tidak, tidak. Itu, beberapa hotel, aku...". Ujar Meng xin jie gugup.


"Berapa hotel?. Tambahkan 10 hotel untuk kamu".


"Tidak usah, tidak usah. Restoran itu sudah cukup untuk makan. Aku, aku pergi periksa dulu". Sahut Meng xin jie dengan cepat berjalan keluar.


"Kembali...".


"Itu, jangan...jangan...Hm, anda dan guru Gu ,pasangan harmonis tidak akan merubah hati dan hati bersatu". Ujar Meng xin jie dengan senyum nyengir, berlari keluar dengan cepat.


"Apa..?". Ucap presdir Lu menautkan alis.


**


Saat ini she na sedang berada di pasar membeli keperluan untuk masak makan siang presdir Lu.


"Aku pulang sebentar lagi. Kalau kamu lapar, di kulkas udah di siapkan buah, kamu bisa makan dulu". Ujar she na mengirim pesan suara pada sang presdir. Baru memasukkan ponselnya ke dalam tas, ponselnya berbunyi lagi, KRING...KRING...


"Halo...". Ucap she na menjawab telpon.


"(Halo... Apakah benar dengan nona Gu she na?)". Tanya si penelpon.


"Iya, kenapa?".


"(Aku adalah manager personalia hotel Yun Hao. Dulu pernah menerima Curriculum Vitae anda, koki utama kami sangat puas dengan anda)".


"Benarkah?". Ujar she na tersenyum senang.


"(Iya. Apakah anda ada waktu datang ke hotel siang ini?)".


"Siang ini?"


"Iya".


"Hari ini takutnya tidak bisa. Siang ini aku harus masak". Kata she na.


"Masak?. Nona Gu, apakah anda sudah mendapatkan pekerjaan jadi koki?". Tanya manager personalia.


"Bukan, aku harus.....Pokoknya, belakangan ini takutnya tidak bisa. Nanti di bicarakan lagi, mohon maaf". Ucap she na langsung menutup telpon.


She na memilih untun memasak makan siang sang presdir dari pada pergi ke hotel Yun Hao.


"Tidak bisa harus tambah sup lagi. Bos, ada jamur pinus, gak?". Tanya she na pada pedagang sayuran.

__ADS_1


Sementara di rumah she na, presdir Lu membawa sepiring buah ke meja sofa. Baru mau makan, ada yang mencet bel. TING TONG.. Presdir Lu pergi membuka pintu.


"Paket Zhao Min. Tolong tanda tangan". Ucap kurir pengantar paket.


"Siapa?". Tanya presdir Lu.


"Zhao Min".


"Zhao Min?". Presdir Lu menautkan alisnya.


"Betul. Jalan Chengdeli no 302, Zhao Min". Ujar kurir melihat nomor rumah she na lagi untuk memastikan.


"Oh, Zhao Min keluar beli sayur". Ucap presdir Lu tersenyum samar.


"Tidak apa, bisa atas nama keluarganya. Tolong cepat sedikit, aku masih ada banyak paket yang harus di antar". Ucap sang kurir.


"Baik, terima kasih". Ucap kurir berlalu setelah mendapat tanda tangan.


"Zhao Min..". Gumam presdir Lu menutup pintu.


Keesokan harinya, ada yang menekan bel rumah she na.


"Halo...". Ucap she na setelah membuka pintu.


"Jalan Chengdeli no 302, Zhang wuji. Tolong tanda tangan". Ujar kurir pengantar paket.


"Zhang wuji?".


"Maaf, disini tidak ada Zhang wuji". Ujar she na tersenyum mau menutup pintu.


"Maaf, punyaku". Timpal presdir Lu keluar mengambil paket dan tanda tangan. "Terima kasih".


"Kamu Zhang wuji?". Tanya she na setelah kurir pergi.


"Tidak bolehkah, Zhao Min". Sahut Presdir Lu.


"Zhao Min?". Ujar she na menunjuk dirinya, di jawab sang presdir mengangguk.


"Bagaimana dengan Zhou zhi ruo?". Tanya she na iseng.


"Versi aku tidak ada dia". Ujar sang presdir masuk ke dalam. She na tersenyum melihatnya.


Esok paginya...


"Zhang wuji, paketnya". Kata kurir memberikan paketnya.


"Terima kasih". Presdir Lu mengambil paket dan menutup pintu.


Selama beberapa hari ini she na dan presdir memesan paket dengan nama Zhao Min dan Zhang Wuji.


Presdir Lu membawa she na ke depan pintu sambil menutup matanya.


"Kamu sedang apa?". Ujar she na saat membuka mata, dia tidak melihat ada apa pun, hanya gelap gulita.

__ADS_1


Sang presdir menyuruh she na melihatnya, ketika dia menjentikan jarinya, lampu kristal langsung menyala terang benderang. Tidak sampai di situ, sang presdir menyuruh she na mengikutinya ke lorong.


"Kesini.. Kesini". Ucap sang presdir memanggil. Saat she na sudah tiba di depannya, sang presdir menepuk tangannya dua kali.


PROK..PROK...


Lampu kristal di lorong langsung menyala terang.


"Kamu yang lakukan?". Tanya she na sambil tersenyum


"Hm, apa kamu suka". Sang presdir mengangguk mantap.


"Apa kamu bodoh?. Otakmu rusak di bakar uang?. Memasang lampu kristal di lorong, coba kamu lihat ada berapa bolam?". 1, 2, 3, 4, 5,.....". Omel she na dengan kesal.


"10..". Jawab sang presdir dengan santai.


"Tau berapa harga 10 bolam?. Kamu tau harus bayar berapa biaya listrik?". Tanya she na menepuk bahu presdir Lu berlalu masuk sambil tertawa kesal.


Sang presdir terdiam menghela nafas melihat lampu kristal di atasnya.


Di tempat lain, Celine sedang ada pertemuan dengan klien dari Finlandia.


"Wait..wait..". Ucap Celine cemas sambil mengetik di ponselnya.


"Odotamme todella innolla tätä projektia (Kami sangat menantikan proyek ini)". Celine mendengarkan arti yang dia ketik melalui translate pada klien Finlandia di depannya.


Bos dan sekretarisnya menggeleng kepala.


"Eikö yrityksesi pysty maksamaan suomenkielistä kääntäjää? Siinä tapauksessa teemme yhteistyötä muiden yritysten kanssa (Apakah perusahaan kalian tidak sanggup membayar penerjemah bahasa Finlandia?. Kalau begitu, kami akan kerja sama dengan perusahaan lain)". Klien Finlandia juga mentranslate ke bahasa Mandarin, dan berdiri dari duduknya. Setelah mendengar terjemahan dari itu, Celine sangat gugup.


"No, no. Don't go, don't go. Wait.....". Ucap Celine dengan panik.


"Tähän asti (Sampai disini saja)". Ucap klien Finlandia.


"Anteeksi (Maaf)". Seru Meng xin jie yang baru saja datang. Celine tersenyum senang melihat kedatangan Meng xin jie.


"Tulin myöhässä. Olen kääntäjä (Aku datang terlambat. Aku penerjemah)". Ucap Meng xin jie mengulurkan tangan pada Klien Finlandia.


"Hyvä että tulit. Muuten tämä miljoonien eurojen tilaus katoaa (Untung kamu datang. Kalau tidak, orderan jutaan Uero ini akan lenyap)". Ucap klien Finlandia menjabat tangan Meng xin jie tersenyun samar.


"Dia bilang apa?". Tanya Celine.


"Dia bilang kamu hampir kehilangan sebuah orderan jutaan Euro". Ujar Mneg xin jie. Celine menghela nafas lega mendengarnya.


Meng xin jie mempersilahkan klien Finlandia duduk kembali dan mulai membahas proyek yang akan di lakukan.


"Haah...Sudah lama tidak bicara bahasa Finlandia, mulut ini tidak terbiasa". Ucap Meng xin jie setelah mengantar klien Finlandia pergi.


"Akhirnya bisa mengantar dewa ini. Eh, tak di sangka kamu benar-benar bisa bahasa Finlandia. Aku mengira hanya trik kecil kamu untuk merayu wanita". Ujar Celine terlihat kagum.


"Hanya trik kecil ini. Aku lulusan sarjana 4 tahun. Aku kasih tau kamu, aku mengira aku adalah seekor burung. Terlalu banyak bicara bahasa Finlandia, lidah tidak bisa di luruskan, kamu tau tidak?". Ujar Meng xin jie bercanda.


"Ai ya..Mana ada yang gampang kalau ingin menghasilkan uang?. Aku seorang supervisor bermartabat di perusahaan 4A, harus buat surat perjanjian baru bisa mendapatkan proyek ini. Tidak di sangka orang-orang negara Nordik, jeli dan acuh tak acuh". Ujar Celine.

__ADS_1


__ADS_2