CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Cup Cup Cup


__ADS_3

"Aku dulu selalu berkata, cinta membuat orang terluka. Kamu mengira ini adalah kiasan. Tidak di sangka sampai di tempatmu, malah menjadi deskripsi objektif". Khotbah Celine melihat she na terbaring dengan kaki di gip. Semalam she na jatuh ke bawah tangga ke injak kulit pisang saat mau pulang ke rumahnya.


"Na na..Lu Jin tidak ada disini, kamu terluka untuk di lihat siapa?". Celetuk paman tua menekan kaki she na yang terluka.


Auwh...She na meringis kesakitan.


"Ada apa?. Apa yang kamu lakukan?. Hardik Celine, paman tua hanya cengengesan.


"Aku sudah begitu menderita, kalian berdua masih berkata seperti ini. Apakah ini hal yang di lakukan manusia?. Bukan, kenapa aku begitu sial?". Ujar she na kesal.


"Memang membuat orang tidak bisa membayangkannya. Gu she na, apakah kamu tidak mengambil benda yang tidak seharusnya di ambil, sehingga mengalami karma dari tuhan?". Tanya Celine.


"Aku tidak. Semenjak Lu rewel datang ke hotel XX, satu tomat pun tidak pernah aku curi. Aku sangat jujur". Sahut she na dengan cepat.


"Ai ya...Yang Zhao Di katakan bukan ini. Yang dia katakan adalah ciuman itu, ciuman. Cup cup, cup". Paman tua menggoda she na.


"Itu...itu hanyalah kecelakaan. Aku seharusnya tidak katakan kepada kalian berdua. Menyebalkan". Sungut she na.


"Siapa yang peduli kecelakaan atau bukan. Yang penting adalah apakah ciuman itu milikmu?. Bukan milikmu, kamu mengambilnya. Kamu tentu saja harus menerima karmanya". Ujar Celine menakuti she na. Dasar teman lakn*t, temannya sudah sakit terbaring kayak gini masih berkata begitu.


"Eh, kamu pikir baik-baik. Sebelum ciuman itu, orang yang sial apakah Lu Jin?. Setelah ciuman itu, apakah Lu Jin ada terluka lagi sedikit pun?". Sambungnya.


"Sepertinya sungguh tidak ada". Ujar she na sambil berpikir dengan muka polosnya.


**


Sementara di zhuo zhou, presdir Lu dan Li Man baru menyelasaikan wawancara.


"Menurutmu, bagaimana dengan wawancara hari ini?". Tanya Li Man jalan berdampingan dengan presdir Lu.


Tidak masalah, lumayan bagus. Cheng ziqian itu adalah teman kuliahmu?". Tanya presdir Lu.


"Teman sekelas. Setelah lulus, dia kuliah di luar negeri. Tidak pernah bertemu lagi. Kali ini juga seoranh teman yang merekomendasikannya padaku". Terang Li Man.


"Baik".


"Katanya dia sangat berpengalaman di bidang manajemen perhotelan. Jadi menurutmu....".


"Menurutku, hal ini kamu putuskan saja. Tidak perlu katakan padaku". Ucap presdir Lu membuat Li Man tersenyum senang.

__ADS_1


"Kalau begitu, aku akan memberitahu dia untuk proses masuk kerja. Dua hari ini kita baru bertemu lagi dengan klien di zhuo zhou".Ujar Li Man.


"Di tetapkan begitu saja". Ucap presdir Lu. Keduanya masuk ke lift menuju kamar masing-masing.


Sampai di dalam kamar presdir Lu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Dia melihat gambar makanan yang di buat oleh she na.


"Bos, lapar,kan?. Pekerjaan akhirnya selesai, sudah bisa makan". Ucap Meng xin jie melenggang masuk. "Kamu mau makan apa?. Daging domba Rosemary, bagaimana?". Tanyanya. Melihat bosnya tidak menjawab, dia mendekat melihat apa yang menjadi fokus bosnya.


"Kamu sedang menghibur diri dengan harapan palsu, atau memikirkan seseorang?". Ledek Meng xin jie.


"Tidak, aku hanya lapar saja". Sahut sang presdir.


"Tidak perlu khawatir soal lapar. Begini saja, jika anda tidak ingin makan makanan hotel, aku bawa anda mencicipi makanan khas setempat". Kata Meng xin jie.


"Tapi hari ini aku terlalu banyak berbicara, sudah lelah". Ucap sang presdir.


"Bagaimana aku bungkus seporsi untukmu?". Tawar Meng xin jie.


"Hah...Baik. Pergilah". Ucap sang presdir menghela nafas.


"Kamu ingin pergi makan apa, pergi sendiri saja".


Setelah kepergian Meng xin jie, Presdir Lu melangkah ke lemari dan membuka kopernya yang ada toples Kacang kenari madu buatan she na disana. Sang presdir menatapnya dengan perasaan sedih.


'Kacang kenari madu yang khusus kubuat untukmu. Aku takut kamu tidak bisa makan manis, aku kurangi gula saat membuatnya. Kamu harus makan banyak, mereka bilang ini bagus untuk otak dan kesehatan'. Mengingat ucapan she na kala di malam itu. Sang presdir menutup koper dengan perasaan berkecamuk.


**


"Kamu belakangan ini jangan pergi kemana-mana?. Dengan tenang berada di rumah saja, dari pada lukamu tambah parah?". Ujar Celine khawatir ketika bertemu she na di warung kakeknya.


"Aku ini terlalu bosan sendirian berada di rumah. Makanya kamu harus sering datang menemaniku". Ucap she na sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Aku tidak bisa menemanimu. Pekerjaanku minggu ini sangat sibuk. Tidak ada waktu ruang".


"Kalau begitu, kamu pergi saja". Ucap she na kesal membuang muka.


"Aku kebetulan bermaksud untuk pergi. Aku pergi dulu". Ujar Celine mengambil tasnya dan bersiap untuk pergi.


"Xu zhao Di...". Sentak she na. "Kamu sungguh tidak ingin makan malam denganku?". Sungutnya.

__ADS_1


"Tidak bisa makan malam bersamamu. Aku nanti masih ada acara makan malam. Aku tidak bisa menemanimu...Oh, sayangku". Ujar Celine menangkup wajah she na dengan tangannya. She na langsung menepis tangannya dengan muka cemberut.


"Kalau begitu, aku pergi dulu ha...Hubungi aku kapanpun juga jika ada masalah ha...Terima kasih atas colamu. Muach...Muach...". Ucapnya melenggang pergi.


"Ingat untun mengembalikan botolnya". Seru she na.


"Cheers.....".


"Doupao, kamu tidak perlu masak lagi, sudah pergi". Seru she na pada Doupao yang lagi masak untuknya dan Celine.


"She na, kamu lihat siapa yang datang". Ucap sang kakek membawa seorang pria tampan.


"Lama tidak berjumpa". Ucap Ziqian teman masa kecil she na sambil tersenyum. She na tidak menjawab, dia melamun mengingat tentang masa lalu. Orang yang selalu membantu di kala sang kakek memarahi dan mengusirnya waktu dia tidak sengaja membakar dapur kakeknya.


"Apa yang kamu pikirkan". Ucap Ziqian mengusap rambut she na dengan lembut.


"Kak Ziqian?". Panggil she na tersenyum senang.


*


Di dalam taksi Celine mendapat lagi telponan dengan Meng xin jie.


"Menurutmu sial tidak?". Tanya Celine. Dia menceritakan tentang she na yang sedang sial.


"Aku katakan padamu, sungguh belum terdengar sebelumnya. Pembicaraan tidak sengaja, pendengar menangis mendengarnya". Ujar Meng xin jie pura-pura sedih.


"Ai yo,, buat apa berkata pribahasa denganku?. Kita berdua hanya teman biasa, masih belum sampai hubungan pemeriksaan. Ada masalah atau pun tidak selalu menelponku". Cibir Celine.


"Tidak ada masalah lain. Saat aku sedang memesan makanan, aku tiba-tiba mengingatmu". Gombal Meng xin jie.


"Makan apa sehingga mengingatku?".


"Makan hotpot. Rencananya mau makan seekor ikan".


"Jadi di dalam hatimu, aku adalah seekor putri Duyung?".


"Hahaha...Sangat pintar. Dan aku akan segera memakannya, sesuap demi sesuap".


"Kalau begitu, kamu harus berhati-hati putri Duyung bisa menggigit orang".

__ADS_1


"Wow......"


__ADS_2