
"Lingkungan dengan suasana keseluruhan hotel XX lumayan bagus, lokasinya juga bagus. Akan sangat bermanfaat bagi perkembangan ke depannya. Jika bisa mendapatkan proyek ini". Ujar Li Man setelah masuk ke dalam vila, namun tidak di hiraukan oleh sang presdir.
Apakah kamu lapar?. Aku buatkan sedekit makanan untukmu".
"Bukankah baru saja makan?". Sahut presdir Lu datar.
"Hari ini aku memang.....".
"Aku sudah capek. Aku istirahat dulu, kamu juga tidur lebih awal, selamat malam". Sela presdir Lu berlalu pergi.
"Aku akan kembali ke Swiss besok". Ucap Li Man tidak di hiraukan presdir Lu. " Lu jin...". Panggilnya. Presdir Lu berbalik dan melihatnya. "Segera selesaikan masalah di Suhai dan pulanglah. Ibumu sudah tua, butuh kamu pulang dan perbanyak menemaninya". Sambungnya.
"Aku sudah tau". Ucap sang presdir berlalu pergi.
Setelah masuk ke ruang kerjanya, presdir Lu duduk di meja kerjanya memikirkan masalah belakangan ini. 'Ini bukan tempat bagimu. Lebih baik kamu segera kembali ke posisimu lebih awal'. Itu adalah ucapan Li Man padanya. Sang presdir mengambil sendok perak she na dari kotak dan melihatnya, mengingat wajah sedih she na saat bicara di depannya. Sang presdir memijat pelipisnya memikirkan semua itu.
**
Keesokan harinya paman tua dan Celine main ke rumah she na.
"Na na, tetanggamu yang baru pindah itu lumayan kaya ya. Begitu bergaya". Ucap paman tua dari balkon rumah she na.
"Apa mungkin orang kaya tinggal disini?". Ujar Celine menanggapi paman tua. She na berbaring di sofa dengan tidak semangat.
" Ini kamu tidak mengerti, kan?. Demi menyekolahkan anaknya, orang kaya akan beli rumah disini. Sangat mahal". Timpal paman tua.
"Benar juga. Ngomong-ngomong, Lu Jin si bos itu, bukankah dia dulu juga sering berkeliaran disini?". Tanya Celine pada she na.
"Mulai sekarang jangan mengungkit tentang Lu Jin di hadapanku. Seumur hidupku, aku tidak ingin mendengar kata Lu dan Jin lagi. Paham?". Sentak she na bangun dari sofa dengan marah, setelah itu dia baring kembali.
"Paham. Tidak ungkit lagi. Bukankah hanya 2 kata saja?. Gampang". Sahut Celine dengan enteng. "Tapi she na, kamu tidak boleh terus menerus bertindak seperti 2 hari terakhir ini. Selain berbaring di sofa, kamu juga hanya bisa bermalasan di atas kasur. Hidup ini sangat panjang, mana boleh hidup tanpa tujuan seperti ini?". Ujar Celine menasehati.
"Benar. Xu Zhao Di..". Panggil paman tua.
"Hm..". Gumam Celine melihat paman tua mengedipkan mata padanya menunjuk she na dengan dagunya.
"Apa-apaan kamu?. Suasana hati Nana sedang buruk. Hanya bisa mengatakan kata-kata motivasi yang tidak berguna" Ucap paman tua menutup mulutnya pura-pura sudah salah bicara.
"Ini...".
"Aku sedang menceramahi dia. Aku sedang... aku sedang mengkritiknya". Ucap paman tua menunjuk Celine yang mengangguk.
__ADS_1
"Jadi, bisakah kalian berhenti berbicara?. Bisakah kalian diam saja". Pinta she na.
"Baik, tidak bisa berbincang lagi. Kita di larang berbicara". Sahut paman tua yang masih cerocos.
"Eh, eh, eh...".
"Nana...".
"Nana...". Seru Celine dan paman tua panik melihat she na bangun dari sofa dan mengambil vas bunga siap melempar ke mereka.
"Iya, iya, iya. Kami akan pergi, kami akan pergi".
"Kami akan pergi..". Seru keduanya dengan panik.
"Tenang, tenang, letakkan, letakkan". Ucap paman tua.
"Jaga dirimu sendiri, patuhlah".
"Kami pergi dulu. hubungi kami jika ada masalah". Ucap paman tua.
"Benar, benar, benar". Ucap Celine melangkah pergi dengan paman tua.
"Eh, hari ini aku tidak bawa mobil". Sahut paman tua.
"Kita pulang dengan jalan kaki?".
"Bukan, stasiun MRT sangat dekat".
"Benar, stasiun MRT sangat dekat, ya". Ucap Celine.
"Pergi...pergi...". Teriak She na melempar bantal sofa pada mereka yang belum keluar dari pintu rumahnya. Keduanya langsung berlari pergi ketakutan.
Keesokan harinya, she na membuka pintu rumahnya untuk membuang sampah, dia melirik ke rumah sebelah, tetangga barunya yang kemarin pindah dan berjalan ke depan membuang sampah.
"Kuberitahukan pada kalian, tidak ada gerakan sama sekali di sebelah. Apakah orang kaya begitu aneh sekarang?". Ucap she na di telpon dengan Celine.
"Apakah aku sangat aneh?". Tanya tetangga barunya dari belakang she na yang membuatnya mematung sebentar mendengarnya. Suara yang sangat di kenalnya tidak lain adalah Lu Jin. She na berbalik dan melihat presdir Lu berdiri di depannya. Aaaaarggh.....She na berteriak berlari masuk ke rumahnya dan langsung mengunci pintunya.
"Aku...aku melihat Lu Jin. Apakah aku gila?. Apakah aku terkutuk?. Aku...Tadi dia ada di depan pintu". Ucap she na dengan panik di telpon.
"Jika begitu, cepat ganti video call. biarkan kami melihat siaran langsung". Pinta Celine.
__ADS_1
"Siaran langsung?. Tidak mau". Ucap she na, dia tidak tau saat ini presdir Lu sedang berdiri di depan pintu rumahnya dan mendengar semua percapakannya dengan Celine. Karena she na menyender di pintu sejak tadi menutup pintu rumahnya. "Aku...mungkin...Ting Tong...". Ucap she na terputus karena bel rumahnya berbunyi.
She na melihat dari dalam siapa yang menekan bel rumahnya, dia langsung panik melihat muka presdir Lu.
"Iya, baik, baik,,baik". Ucap she na di telpon dan meletakkan ponselnya di meja samping pintu, lalu merapikan tampilannya dan membuka pintu.
"Untuk apa pindah ke sebelahku?". Tanya she na to the point.
"Aku sudah memberitahumu, aku akan membiarkanmu tau sebenarnya dimana posisiku". Ucap sang presdir dengan santai membuat she na menahan senyum bahagianya.
"Jadi maksudmu adalah posisimu ada di sebelahku?" Tanya she na malu-malu.
"Benar".
"Jadi, kita berdua...".
"Sekarang kita adalah tetangga". Sela presdir Lu, senyum she na langsung surut.
"Benar, tetangga. Ada masalah apa tetangga muncul di depan rumahku pagi-pagi". Tanya she na dengan muka masam.
"Ini untukmu". Ucap presdir Lu memberikan bingkisan kecil.
"Apa itu?". Tanya she na.
"Kue istri". Ucap sang presdir, she na langsung mengambil dengan cepat setelah mendengar ucapan sang presdir.
"Untuk apa memberiku ini?. Membuatku malu saja". Ucap she na melihat bingkisan itu sambil tersenyum.
"Bagaimana pun juga, tetangga baru harus menyapa semua orang dulu. Paman zhang di sebelah juga ada bagian". Senyum she na langsung lenyap mendengar ucapan sang presdir.
"Paman zhang juga ada bagian?". Tanya she na dengan mulut menganga, diangguki kepala sang presdir.
"Paman zhang menderita diabetes. Dia tidak bisa makan makanan manis". Decak she na.
"Aku belikan yang tanpa gula untuknya". Sahut presdir Lu santai.
She na gelagapan mendengarnya.
"Pulanglah. Aku tidak ingin berbicara denganmu lagi. Pulanglah!. Pulanglah!". Ucap she na menutup pintu dengan cepat. "Aku belikan yang tanpa gula untuknya". Gumam she na dengan kesal setelah menutup pintu.
TING TONG......
__ADS_1