CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Belum Bayar


__ADS_3

"Baik, tidak apa-apa. Kalau begitu, aku kembali dulu. Terima kasih paman. Maaf sudah mengganggu". Ucap she na dengan canggung melangkah pergi.


"Ingat minum supnya, ya". Ucap ibu Lu zheng, lalu lanjut membersihkan tempat tidur suaminya.


Lu Zheng mengambil rantang makanan she na diam-diam dan membawanya keluar.


"Aku ke toliet dulu". Alasannya. Ayahnya hanya menghela nafas pasrah melihatnya.


Keesokan harinya di tempat Lu Jin.


"Nana...Apakah sedang merindukanku?. Beritahu Kamu satu kabar baik, aku besok sudah boleh pulang. Apakah kamu ada sesuatu yang ingin ku bawakan untukmu?.". Ucap Lu Jin merekam pesan suara. Li Man berdiri diam di belakangnya, Lu Jin tidak menyadarinya. "Oh ya, kamu coba tanya kakek, Apa ada yang dia inginkan...".


"Presdir Lu...". Panggil Li Man. "Presdir Lu, ada masalah dengan pengembalian dana di London. Tim pengendali resiko merasa ini mungkin mempengaruhi akuisisi kami atas Ming Ting. Jadi, apakah rencana kita atas Ming Ting tetap dipertahankan?". Tanya Li Man.


"Tentu harus di pertahankan. Perlu melakukan yang terbaik untuk proyek ini. Aku akan menangani masalah yang di London". Ucap Lu Jin dengan tegas.


"Mengerti". Ucap Li Man melangkah pergi.


Lu Jin menghapus rekaman suaranya untuk she na. Menghela nafas kasar, masuk ke dalam ruang rapat.


Malam hari di rumah sakit Suhai.


Paman tua menjenguk kakek Gu, membuka pintu dengan pelan dan berjalan masuk.


"Zhao Di bilang ada masalah di kampung halamannya, jadi, dia langsung pulang". Ucap paman tua dengan pelan, takut membangunkan kakek Gu yang tidur.


"Aku tau, dia sudah menelponku". Sahut She na.


"Woah...Kamar ini besar sekali". Ucap paman tua melihat kamar rawat kakek Gu yang sangat besar.


"Katanya, ini kamar VIP". Sahut she na dengan polos.


"VIP?. Berapa biayanya sehari?". Tanya paman tua.


"Tidak tau". Jawab she na polos.


"Kamu kelelahan sampai bingung, ya?. Ini saja tidak tanya dengan jelas". Omel paman tua.


"Paman di kamar sebelah itu bilang ingin membantu, kalau tidak, bahkan tempat tidur saja tidak ada". Jawab she na jujur.


"Paman kamar sebelah?. Tidak apa-apa. Harusnya dia sudah membayar tagihannya. Pertama kali datang ke kamar sebagus ini". Ucap paman tua menghela nafas lega.


Tok...Tok...Tok...


"Apa kabar, perawat?". Ucap paman tua saat perawat masuk.


"Apa kabar". Sahut perawat lalu memeriksa denyut jantung kakek Gu. "Pasien sudah tidak ada masalah besar lagi. Setelah dia bangun, beri dia minum obat ini. Lalu, jangan lupa untuk membayar biaya rawat inap". Ucap perawat memberikan obat pada she na.


"Belum bayar?".Tanya paman tua saling tatap dengan she na. "Aku tanya sebentar. Berapa harga kamar kami ini sehari?".


"1000 yuan perhari". Jawab perawat melangkah keluar.


"1000.....Paman sebelah itu hanya bantu mendaftarkannya, tidak membayarnya. Kenapa kamu bisa begitu tenang?". Omel paman tua.


"Bagaimana ini?". Ucap she na cemas.


"Bagaimana aku bisa tau". Sungut paman tua. "Jangan terburu-buru, ya. Nana..Pindahkan". Ujar paman tua melihat kakek Gu.


"Pindahkan..Pindahkan". Ucap she na dengan cepat mendorong ranjang kakek Gu.


"Pelan sedikit..". Ucap paman tua melihat kakek Gu bergumam.


"Kakek...". Panggil she na di sebelah kakeknya.


"Paman...". Ucap paman tua.


"Kakek sudah bangun?. Bagaimana kondisimu?". Tanya she na mengusap-ngusap kepala kakeknya.


"Ini..ini dimana?". Tanya kakek Gu dengan lemah.

__ADS_1


"Paman, anda pingsan, jadi kami membawa anda ke rumah sakit". Ucap paman tua.


"Rumah sakit?". Ucap kakek Gu melihat kanan kiri ruangannya. "Ada kamar sebesar ini, ya?".


"Benar, benar sekali. Ini adalah kamar VIP yang Nana pesan khusus untuk anda". Ucap paman tua menekan kata VIP melotot pada she na.


"VIP?. Gadis ini memang sangat berbakti, ya. Pesan kamar VIP untuk kakek. Tidak sia-sia kakek menyayangi kamu, ya. Tidak sia-sia kakek menyayangi kalian". Ucap kakek Gu dengan senang. "Kalian ingin pindah kemana?". Tanya kakek melihat melihat ranjangnya bergeser ke depan.


"Kami..pindah..Kami..kami...mendorong anda masuk". Ucap paman tua dan she na bersama pada kalimat terakhir. "Pelan sedikit, pelan sedikit". Ucap paman tua mendorong ranjang kembali ke tempat semula.


"Kakek, tadi kata dokter, setelah kamu bangun, minta aku mencarinya. Aku cari dokter sebentar, ya". Ucap she na pamit merangkul lengan paman tua ikut dengannya.


"Cepatlah pergi". Sahut kakek.


"Aku pergi menemani Nana". Ucap paman tua keluar dengan she na dan menutup pintu dengan pelan. Setelah paman tua dan she na keluar, kakek Gu melihat kamarnya yang besar dan mewah dengan takjub.


"Paman..". Panggil she na setelah diluar ruangan.


"Ada apa?".


"Pemeriksaan sebelumnya sudah menghabiskan begitu banyak biaya. Sekarang, rawat inap juga harus menghabiskan begitu banyak biaya. Lagi pula, Kakek ini berobat di luar kota, semua biaya harus ditanggung sendiri. Dari mana aku bisa dapatkan uang sebanyak itu?. Lagi pula...Lagi pula... aku juga tidak ingin merepotkan Lu Jin". Ucap she na menunduk lesuh.


"Benar sekali. yang Nana katakan benar sekali. Sangat mempunyai semangat. Jangan setiap menghadapi masalah lalu meminta uang padanya. Keluarga kita ada orang. Hah..Bukankah cuma kamar pasien VIP?. Biarkan Paman tinggal di sini dengan tenang". Ucap paman tua mengeluarkan dompetnya dan mengambil sebuah kartu kasih pada she na. "Nana, masih ada sedikit uang di kartu ini, pakai saja dulu. Ambil..". Ucapnya. She na menatap haru pada paman tuanya dan mau memeluknya, namun paman tua menghalangnya. "No,No,No... Uang Ini aku pinjam padamu, setelah punya uang, masih perlu kembalikan padaku. Ambillah.. Kata sandinya 666 777. Oh ya, jangan pernah beritahu....".


"Zenan...". Sahut she na.


"Pintar. Baiklah, Pamanku juga sudah bangun, kamu pergi temani dia saja. Kalau ada masalah, telpon aku. Aku pergi dulu". Ucap paman tua mengusap kepala she na sebentar lalu melangkah pergi. She na meneteskan air matanya menatap kepergian paman tuanya dan menyenderkan badannya di dinding melihat kartu yang di berikan pamannya dengan sedih. Lu Zheng keluar dari kamar sebelah melihat she na sedang sedih.


"Hai...". Sapa Lu Zheng.


"Hai...".


"Namaku Lu Zheng..".


"Gu she na..".


"Kamu juga jaga malam disini?".


"Aku juga jaga malam di sini. Ibuku memintaku tinggal di sini, untuk menunjukkan kalau aku berbakti". Ucap Lu zheng sambil tersenyum. She na menanggapinya dengan senyum. " Apakah besok kamu masih akan memasak dan membawanya ke sini?. Makanan di rumah sakit sungguh tidak enak".


"Ayahmu suka masakanku?". Tanya she na.


"Dia tidak memakannya sesuap pun, aku yang menghabiskannya. Sangat enak. Jauh lebih enak dari masakan ibuku". Sahut Lu zheng cengengesan.


"Kalau kamu suka, besok saat aku membawakan makanan untuk kakek, sekalian ku bawakan untuk kamu dan Ayahmu. Aku ada sebuah warung, namanya 'Makanan Tumis Sedunia'. Kalau kamu suka dengan masakanku, kamu boleh pergi makan di warung. Aku akan berikan diskon 12%". Ucap she na.


"Baik..".


"Baik. Apa pekerjaanmu?". Tanya she na .


"Aku?. Aku memperbaiki kendaraan". Jawabnya.


"Memperbaiki kendaraan?. Cukup keren". Jawab she na lalu dia bernyanyi di ikuti Lu zheng.


¥ Naik motor kesayanganku¥


¥Tidak akan pernah terjebak macet¥


¥Naik motor kesayanganku¥


¥Aku akan segera sampai rumah...¥.


Keduanya ketawa bersama selesai nyanyi.


"Aku sudah mau masuk temani kakek". Ucap she na.


" Aku juga mau temani ayahku". Ujar Lu zheng juga.


"Sampai jumpa..".

__ADS_1


"Sampai jumpa..". Keduanya masuk ke kamar masing-masing.


She na tidur di kursi di samping kakeknya sambil menggenggam tangan sang kakek dan terbangun saat pukul 04.30 pagi. Membenarkan selimut kakeknya dan terlalu pergi.


' Pasar Produk Pertanian dan Hasil Laut Sunan'.Disinilah she na sekarang, mengambil pesanan barang untuk warung kakeknya.


"Sini, dua kotak lagi udang untuk gedung xiang man". Ucap kakak Li pada anak buahnya. "Pelan sedikit, ya. Totalnya empat kotak". Ucapnya pada orang gedung xiang man. " Barang 'makanan Tumis Sedunia'?". Seru kakak Li.


"Disini..". Sahut she na mendorong motornya mendekat.


"Makanan Tumis Sedunia..". Serunya lagi.


"Disini, disini..".


"She n...Bagaimana kamu bisa datang?". Tanya kakak Li.


"Aku datang untuk ambil barang". Jawab she na seadanya.


"Kamu hari ini tidak masuk kerja?".


"Masuk, setelah ambil barang, aku masuk kerja. Barang hari ini seger tidak?". Tanya she na.


"Segar, di jamin segar". Sahut kakak Li menaruh pesanan she na ke motor.


"Terima kasih".


"Cukup berat, pelan-pelan,ya".


"Eh, she na, kamu sudah datang?". Ucap kakak Cao yang baru datang.


"Pagi...". Sapa she na sambil mendorong motornya.


"Eh, aku dengar, kakekmu masuk rumah sakit?. Sudah lebih baik?". Tanya kakak Cao.


"Sudah jauh lebih baik, akan segera keluar dari rumah sakit". Jawab she na.


"Baguslah kalau begitu. Kamu ini juga tidak gampang, setiap hari sangat sibuk. Baiklah kalau begitu, kamu lanjutkan saja dulu". Ucap kakak Cao pada she na. "Bos..Barangku". Serunya pada kakak Li.


"Ini, sini..".


"Eh, she na, Kenapa kamu tidak mengendarainya?". Tanya kakak Cao melihat she na hanya mendorong motornya tanpa mengendarainya.


"Aku tidak tahu cara mengendarai motor ini. Aku takut bahaya setelah keluar". Jawab she na dengan polos.


"Kamu tunggu sebentar. Bos, tolong lihat sayurku sebentar". Serunya meminta tolong menjaga barangnya sebentar. " Kamu naik, aku antar kamu pulang. Kamu naik, naik. Aku antar kamu pulang. Kamu naik, naik". Ucapnya mengambil alih motor she na.


"Terima kasih kakak Cao". Ucap she na naik ke belakang motor.


"Sudah duduk dengan baik?".


"Sudah..".


"Ayo, jalan. Eh, kamu dingin tidak?".


"Aku tidak dingin".


"Kamu tidak dingin, aku dingin". Ucapnya menaikkan resleting jaketnya. "Ayo, jalan".


Setelah sampai di warung kakeknya, she na memasukkan semua seafood ke akuarium dibantu Bibi wang.


"Bibi Wang. Nanti perlu merepotkanmu pergi ke rumah sakit untuk melihat kakekku". Ucap she na sambil memasukkan udang ke akuarium.


"Baik, kamu tenang saja. Dari kemarin malam sibuk sampai sekarang, kamu cepat istirahat sebentar". Ucap Bibi wang.


"Aku tidak keburu lagi, aku masih perlu balik ke hotel. Oh ya, siang nanti aku langsung membawa makanan kepada kakek dari XX, ya. Aku pergi dulu ya".Pamit she na pada Bibi wang.


"Hati-hati di jalan".


"Baik..". Sahut she na berlari pergi.

__ADS_1


"Anak ini, terlalu lelah". Gumam Bibi wang kasihan melihat she na begitu sibuk.


__ADS_2