CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Steak Wellington


__ADS_3

"Ternyata kamu yang melaporkannya". Marah Celine melempar tisu bekas she na ke wajahnya.


"Bukan, bukan. Aku, aku, aku tidak bisa berbuat apa-apa". Lirih Meng xin jie.


"Dasar penghianat". Cerca Celine kesal.


"Kuncinya mereka bersama, sudah kenal belasan tahun. Aku baru ikut presdir Lu berapa tahun?. Tapi aku bisa jamin, beberapa tahun ini pasti tidak masalah". Ucap Meng xin jie dengan pasti.


"Bagaimana dengan beberapa tahun yang lalu?". Tanya Celine.


"Beberapa tahun yang lalu aku tidak tau. Tapi aku tau, dia adalah wanita pilihan yang paling di idamkan Direktur Kami". Terang Meng xin jie.


"Yang paling....".


"Aku rasa aku terlambat. aku rasa aku terlambat". Raung she na kembali menangis.


"Sudah, sudah". Ucap Celine memeluk she na sambil menepuk-nepuk punggungnya.


"Aku juga melihat, aku juga melihat Lu Jin minum Sup Penyihir yang dibuatkan wanita itu". Ucap she na dengan suara parau.


"Sup, Sup tidak ada apa-apanya. Sup dapat diminum dimana saja". Ujar Celine tidak mengerti.


"Kamu mengerti apa?. Ucap she na melepas pelukan Celine. "Itu Sup Penyihir...Lu Jin bagaimana boleh meminum Sup Penyihir yang di buat wanita lain?". Tangis she na.


"Sudah, Na na.. Kamu sudah balik modal. Uang ini cukup untuk gaji 2 bulan kamu". Ucap paman tua dengan kesal meletakkan segepok uang angpao she na di meja.


Aaaaarrgh.....She na melempar semua uang itu.


"Anak ini, jangan menyalahkan uang". Seru paman tua memungut uang itu di bantu Meng xin jie.


Huaaaaa ....Huaaaaa....Tangis she na semakin keras.


**


Malamnya, di vila presdir Lu masuk kedapur, dan melihat Li Man sedang memasak.


"Kelihatannya sangat wangi". Ucap presdir Lu membuka kulkas mengambil air minum.


"Kamu datang pada waktu yang tepat. Aku lihat kamu seharian ini kamu tidak makan banyak, sengaja buat untuk kamu". Sahut Li Man dengan senyum mempersilahkan presdir Lu duduk.


"Steak Wellington?". Ucap presdir sambil duduk.


"Betull". Li Man meletakkan hidangannya di depan presdir Lu, dan memberikan pisau dan garpu.

__ADS_1


"Terima kasih. Kamu ganti bahan?". Tanya presdir Lu setelah memasukkan sepotong kecil daging ke mulutnya. Senyuman Li Man langsung menyurut.


"Tidak. Caranya sama persis dengan yang sebelumnya". Ucap Li Man mengerutkan alisnya.


"Hari ini tidak terlalu lapar". Ucap presdir Lu meletakkan pisau garpunya dan mengambil minumnya.


"Mungkin, mungkin karena terlalu lelah bekerja. Kalau begitu, bagaimana kamu makan dessert dan kue Tar yang di kirim dari hotel". Tawar Li Man. Presdir Lu hampir tersedak air minum saat mendengar kue Tar itu di kirim dari hotel. "Tertarikkah?". Tanyanya.


"Boleh". Jawab sang presdir.


Li Man mengeluarkan Tar dari kulkas, saat membuka penutupnya...Ppfftt. Sang presdir menutup mulutnya melihat ada hiasan kura-kura kecil di atas kue Tar.


"Kura-kura". Kata presdir Lu.


"Sepertinya ini kurang cocok". Ucap Li Man.


"Tidak... Kura-kura artinya semoga aku panjang umur. Haha...". Presdir Lu menjelaskan arti kura-kura itu.


"Gu she na ini cukup cerdik". Ucap Li Man spontan.


"Bagaimana kamu bisa tau nama Gu she na?". Tanya presdir Lu datar.


"Kamu...mengatakannya saat memperkanalkannya". Ujar Li Man menghindari tatapan presdir Lu.


"Oh, sebelumnya, waktu aku tinggal di hotel XX, dia hampir menjadi koki pribadiku. Dia sering memberiku kejutan". Ucap presdir Lu sambil memotong kue Tarnya, Li Man tersenyum kecut mendengarnya.


"Malam aku diet. Itu, aku lupa kasih tau kamu. Kali ini aku datang ke Suhai, Direktur Zheng sengaja pesan padaku. Katanya waktu pengembangan level hotel XX sudah cukup lama, ingin aku lihat kindisi managemennya". Ucap Li Man.


"Baik, aku temani kamu".


"Baik. Kalau begitu besok saja".


"Tidak ada masalah". Jawab presdir Lu sambil menikmati kue Tarnya. "Ibuku curiga padaku?". Tanyanya.


"Tentu saja bukan. Kamu juga kurangi makan makanan manis pada malam hari. Aku pergi istirahat". Ucap Li Man berjalan pergi.


"Selamat malam"


"Selamat malam".


Setelah Li Man sudah tidak terlihat, presdir Lu menekan-nekan kura-kura kecil di atas kue Tar. "Apakah ada tombol rahasia?". Gumamnya menekan-nekan kembali kura-kura itu sampai ketawa sendiri. "Lu rewel, hahaha".


She na sedang galau di kamarnya.

__ADS_1


"Li Man, bersedia buat sup untuk laki-laki seperti Lu Jin. Koki Le Cordon Blue Prancis. Wanita seperti ini, siapa yang tidak ingin menikahinya?". Ujar she na mencaritahu tentang Li Man dari internet.


"Penipu..Lu rewel penipu. Masih bilang hanya makan masakanku saja. Penipu...". Kesal she na melempar ponselnya ke bawah bantal, lalu uring-uringan di ranjang. Ponselnya berdering, terlihat nama 'Lu rewel' disana.


"Aku tidak mau terlibat dalam dongeng kalian". Ucap she na tidak mengangkat telpon Lu Jin.


Keesokan pagi di dapur hotel XX.


"Presdir Lu dan direktur Li Grup Zheng Hong, hari ini datang memeriksa hotel, sengaja datang ke dapur untuk melihat kalian". Ucap Cheng ziqian pada semua penghuni dapur di depan presdir Lu dan Li Man. Semua bertepuk tangan dengan senang, hanya she na yang melihatkan wajah datarnya dan yang terakhir bertepuk tangan. Saat semuanya berhenti, dia juga yang terakhir berhenti tepuk tangan. Sang presdir menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Direktur Li, aku perkenalkan kepada anda". Ucap manager shen. "Ini adalah satu-satunya wanita di departemen makanan dan minuman kami. Gu she na. Keterampilan memasaknya sangat luar biasa". Puji Manager shen mencari muka. "Dulu waktu presdir Lu tinggal di kamar 1123, juga karena dia, makanya presdir Lu tetap tinggal". Ujarnya.


"Aku pernah dengar presdir Lu ungkit dia. Kemarin kami juga sudah bertemu, katanya mewakili departemen makanan dan minuman mengantar kue Tar untuk presdir Lu". Ucap Li Man dengan sengaja mengatakan mewakili.


Mendengar itu, she na menatap presdir Lu dengan tajam. Mereka saling menatap sesaat.


"Aku yang suruh dia pergi mewakili XX memberi selamat atas keberhasilan akuisisi. Prok..Prok..Prok..". Timpal Cheng ziqian melihat perubahan muka she na. Semuanya ikut bertepuk tangan kecuali she na.


"Terima kasih. Hari ini sampai disini saja. Terima kasih semuanya". Ucap presdir Lu berbalik pergi.


"Presdir Lu, aku agak lapar. Bagaimana kalau makan di XX saja?". Panggil Li Man, menghentikan langkahnya.


"Baik. Itu, direktur Li pasti sudah lapar, aku siapkan hidangannya". Sahut manager shen.


"Tidak perlu sengaja di siapkan. Karena semuanya begitu memuji koki ini, maka hari ini merepotkan kamu". Ucap Li Man dengan senyum lembut melihat she na. She na hanya diam melihat presdir Lu.


Saat ini presdir Lu dan Li Man sedang menikmati Steak Wellington buatan She na. Baru makan 1 suap Li Man sudah meletakkan pisau dan garpunya. Dia menatap presdir Lu yang makan dengan lahap sambil tersenyum.


"Sangat lezat. Kamu tidak makan?". Tanya presdir Lu melihatnya meletakkan alat makannya.


"Tiba-tiba tidak lapar lagi". Sahut Li Man singkat.


"Aku tadi tidak lapar, sekarang semakin makan semakin lapar". Ucap sang presdir meneruskan makannya.


"Gu she na, Gu she na. Cepat...cepat...Direktur Li ingin bertemu denganmu". Seru manager shen pada she na.


"Untuk apa dia bertemu denganku?". Tanya ahe na datar.


"Pasti mau memujimu secara langsung. Ayo, ayo, cepat pergi..". Desak manager shen.


~


"Presdir Lu, presdir Li, koki Gu sudah datang". Ucap manager shen.

__ADS_1


"Minta koki Gu kesini, aku ingin konsultasi cara membuat Steak Wellington. Aku agak penasaran, kenapa kamu bisa menukar Puff Pastry dan Jamur Portabella di antara daging sapi dengan Jamur Shitake?". Tanya Li Man.


"Karena lezat..". Jawab she na singkat, padat, tepat. Sang presdir mengulum senyum mendengarnya.


__ADS_2