
" Kenapa buru-buru?". Tanya sang presdir.
"Aku, aku daftar kelas bahasa Indonesia. Aku kalau tidak pergi akan terlambat". Jawab M X J.
" Kenapa kamu begitu suka bahasa asing?".
"Aku, Aku bukan suka bahasa asing. Bukankah kamu tidak lama ini bekerjasama dengan developer Indonesia?. Aku pikir aku harus mempelajarinya dulu, mungkin bisa membantu kamu". Ucap M X J menjelaskan.
"Ganti alasan lain". Pinta sang Bos tidak bisa menerima alasan ini.
"Hah... Aku ingin berbincang dengan kamu masalah kehidupan asmara aku. Aku merasa kondisi aku yang sekarang ini.....". Ucapnya mengantung.
"Sudah, pergilah..". Usir sang presdir setelah melihat ke datangan she na.
"Kenapa?". Tanyanya mengikuti arah pandang bosnya, dan melihat she na. "Apa kabar guru Gu?" Sapa M X J. She na hanya mengangguk dan melangkah masuk ke rumah dengan lesuh.
"Menghilang...". Perintah sang bos. M X J langsung pergi. " Hari ini aku beli seledri dan daging sapi dan.....". She na sudah menutup pintu rumahnya sebelum presdir Lu.
Sang presdir hanya menatap pintu rumah dan bahan masakan yang di bawanya.
"Mengapa?". Gumamnya melangkah pergi ke rumahnya di sebelah she na, tidak mengganggu she na, karena merasa she na lagi ada masalah.
Di dalam kelas bahasa Indonesia hanya ada M X J seorang yang belajar.
"Pelafalan A, B C. 'A' dilafalkan 'A...'.". Ucap guru bahasa indonesia.
"A". Ucap M X J.
"Nada kedua dalam pengejaan bahasa Mandarin".
"A..".
"Pelafalan lebih panjang".
"A.....Benarkan. A....". Ucap M X J sambil mencatat.
"O...Setara dengan 'O' dalam pengejaan bahasa Mandarin".
" Harus agak panjang juga?". Tanya M X J.
"Ya..".
"O..... O.....Baiklah, yang ketiga aku sudah tau. Itu seharusnya nada kedua dalam pengejaan bahasa Mandarin. E.....Betul?". Ucap M X J sok tau.
"Saudara Meng, jangan sok pintar. 'E' di Indonesia ada dua macam pelafalan. Yang pertama 'E..'. Satu lagi 'Ei."Kata guru bahasa indonesia.
__ADS_1
"E.., Ei". Ucap M X J.
" Ulang sekali lagi". Pinta gurunya.
"A....O....E....Kring...Kring...". Ponsel M X J berdering, setelah melihat siapa yang menelpon, dia menggaruk kepalanya.
"Jawablah. Lagian cuma kita berdua". Ucap Guru.
" Meskipun muridnya hanya aku seorang, tapi aku tetap harus mematuhi disiplin kelas". Ucap M X J mematikan panggilan telpon bosnya. "Teruskan".
Sementara di rumah bosnya sedang gelisah memikirkan sikap she na yang tiba-tiba berubah. Telponnya juga tidak di angkat asistennya.
"Mengapa Gu she na tidak senang?". Sang presdir mengirim pesan pada asistennya, karena telponnya tidak di jawab.
" Ini harus tanya Anda, Aku mana tahu?".Balas M X J. Sang presdir angguk-angguk kepala dengan balasan asistennya. Dia memutuskan untuk mengetuk pintu rumah she na. Tok...Tok..Tok...
She na berjalan membuka pintu dengan langkah gontai. Melihat presdir Lu yang datang.
" Hari ini suasana hatiku sedang tidak baik. Kamu bisa tidak Jangan menggangguku dulu?". Pinta she na dengan lesuh.
" Lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu senang?". Tanya presdir Lu.
" Bagaimana kalau… kamu temani aku ke suatu tempat?". Ucap she na.
" Aku sangat mengharapkannya". Ucap sang presdir membuat she na tersenyum tipis.
" Senang sekali mengobrol dengan kamu, Manager Lu". Ucap Celine sambil berjalan keluar dari kafe.
" Masa yang menyenangkan selalu singkat. Aku masih belum selesai cerita tentang wisata di Eropa, Lain kali kita ngobrol lagi". Ucap Lukas menatap wajah Celine.
" Kalau begitu, sampai jumpa lagi". Balas Celine sambil tersenyum, Lukas langsung memeluknya dan cipika cipiki sambil tersenyum senang. Kebetulan M X J yang juga sudah selesai belajar bahasa indonesia, dia lewat situ dan melihat Celine sedang di cium pipinya sama pria bule. Matanya langsung membulat dan mulut menganga.
" Aku antar kamu". Ucap Lukas.
" Boleh juga".
"Ayo..". Ucapnya merangkul pundak Celine.
M X J sangat kesal melihat kepergian Celine dan Lukas. Dirinya mau mengejar, namun tidak bisa karena berada di seberang jalan.
Disinilah tempat she na mengajak sang presdir. 'Pasar Tradisional'. She na berdiri di tengah-tengah pasar, sang presdir berdiri di belakangnya. Para penjual yang mengenal she na, melihatnya menunduk semuanya. Mereka berharap she na tidak mengunjungi toko mereka. Presdir Lu heran, kenapa she na cuma berdiri diam saja, dan tersenyum pada semuanya. Tak lama kemudian she na lebih dulu ke toko penjual telur.
" Telur bebek berapa harganya?". Tanya she na memegang telur di tangannya.
"Eh, kak Nana.. Bagaimana kamu bisa ada waktu datang melihatku?. Pria ganteng ini siapa?. Pacar?". Ucap penjual telur menunjuk presdir Lu di belakang she na. She na hanya tersenyum tipis menjawabnya. " Lihat, pria ganteng Ini seluruh badan sangat mewah. Kelihatannya orang yang luwes". Puji penjual telur. Sang presdir mengangkat dagunya tersenyum bangga. " Mau telur bebek?". Tanyanya pada sang presdir.
__ADS_1
" Berikan telur bebek paling mahal di tempat kalian. Terima kasih". Ucap sang presdir dengan santai.
"Baik..". Jawab penjual telur dengan cepat.
She na langsung berbalik dan mencubit lengan presdir Lu dengan kuat. Sang presdir mau bicara, namun she na menyuruhnya diam dengan jarinya. Lalu she na mengambil kursi dan duduk di depan penjual telur.
"Kak Nana.. Kenapa Anda duduk lagi?. Penjual mana yang memberimu harga terlalu mahal?. Aku balas dendam untukmu". Ujar penjual telur sudah takut kalau she na sudah duduk.
"Kamu yang dijual".
"Maaf, aku salah bicara". Ucap penjual menangkup tangannya minta maaf.
"Berapa?".
"Ini... Jual satu butir 5 Yuan untukmu".
" kurangi lagi". Pinta she na.
" karena kamu datang beli, aku kasih kamu harga beli. 4,8 Yuan. Aku hanya untung 2 sen dari kamu. Lihat, telur asin Gaoyou asli, semuanya berminyak". Ucap penjual telur melihatkan telur asin padanya. She na mengambil sesuatu dari tasnya, bentuknya seperti kamera. "Kak Nana..Ini apa?. Ini....
" Alat uji kejujuran". Jawab she na dengan santai. Sang presdir tersenyum dari belakang melihatnya.
"Kak Nana... Kamu ini juga terlalu berlebihan. Tidak begitu". Ucap penjual telur sudah gugup.
"Tes saja. Lihat apa kamu sungguh jujur atau tidak". Ucap she na mengarahkan benda itu ke arah penjual telur.
"Aku, pasti penjual berhati Nurani. Tit...tit...tit....". Bunyi benda itu setelah penjual telur bicara.
" Ini namanya apa, kenyataan lebih kuat daripada kata-kata. Harga beli berapa?". Tanya she na lagi.
" 4,8. Tit....tit....tit...". Penjual telur sudah di bodohi oleh she na, setiap kali penjual telur berucap tidak sesuai dengan keinginan she na, dia akan menekan tombol di depan benda itu, lalu berbunyi. "4,5. Tit...tit...tit... 3 yuan". Ucap penjual telur setelah menghela nafas panjang.
" semua dari Gaoyou?". Tanya she na.
"Tentu saja. Tit...tit...tit....".
" Semuanya berminyak?".
"Tentu saja. Tit...tit....tit....Kak Nana, aku ini memang bukan telur asin Gaoyou. Ini aku ambil dari pinggiran kota, semuanya direndam sendiri oleh penduduk desa". Akhirnya penjual telur tidak tahan lagi dan berkata jujur. She na melihat presdir Lu yang juga melihatnya mengangguk setuju dengan cara she na.
" Berikan harga terendah".Pinta she na. Penjual telur terlihat enggan, She na langsung mengarahkan benda itu padanya.
"3,5". Jawab penjual telur pasrah.
"6 biji. Bilanglah dari awal, sudah kasih tahu kamu. Bisnis jujur, bisnis jujur". Ucap she na mengambil ponselnya dan menscan kode pembyaran di depannya. Sang presdir tersenyum senang dari belakang menggeleng kepalanya. "21..Terima kasih". Ucapnya setelah membayar dan mengambil telurnya lalu pergi ke sebelah. "Tahu ini harganya berapa?". Tanyanya.
__ADS_1
"3 yuan". Jawab penjual Tahu.