
"Wow...Apakah kamu akan menggigit hingga aku menderita?". Goda Meng xin jie.
"Tidak. Kamu hanya akan mencoba berhenti, tetapi tak bisa". Tantang Celine.
"Apakah kamu mau memesan makanan atau tidak?. Kalau tidak pesan, berikan tempat dudukmu untuk orang lain". Omel ibu bos restoran, karena dari tadi Meng xin jie tidak memesan makanan.
"Pesan, pesan. Aku pesan seekor putri duyung". Ucap Meng xin jie berbisik.
"Suamiku.....Ada orang yang menggodaku!". Teriak ibu bos memanggil suaminya.
Haaa...Meng xin jie terkejut mendengarnya. Suami ibu bos langsung menghampiri istrinya dengan muka garang.
Setelah kembali ke hotel, Meng xin jie masuk ke kamar bosnya dengan sebelah mata membiru dan bengkak. Sang presdir melihatnya menautkan alis.
"Cuaca di zhuo zhou lumayan bagus". Ucap Meng xin jie gugup.
"Sangat bagus. Angin topan segera datang". Jawab sang presdir santai.
"Betul juga".
"Kamu hari ini menelpon teman baik Gu she na?". Tanya sang presdir.
"Sudah telpon. Jika tidak, juga tak akan di pukul karena salah paham". Gerutu Meng xin jie.
"Sakitkah?".
"Sudah membaik, sudah membaik".
"Teman baiknya itu...Apakah ada mengungkit soal teman baik lainnya padamu?". Ucap presdir Lu dengan suara rendah, dia gengsi kalau langsung bertanya soal she na.
"Yang kamu bilang itu teman baikmu atau teman baikku?". Ujar Meng xin jie pura-pura tidak mengerti.
"Kamu ingin simetris, kan?". Ucap sang presdir menaikkan sudut bibirnya.
"Kamu jangan pukul aku dulu". Ujar Meng xin jie mengangkat tangannya. "Aku ada hal yang ingin kukatakan padamu mengenai guru Gu. Juga tidak tau guru Gu setelah di cium orang sial mana mulai menjadi sial. Aii...Hal guru Gu ini sungguh belum terdengar sebelumnya. Pembicaraan tidak sengaja, pendengar menangis mendengarnya. Juga tidak tau, apa guru Gu sudah keluar dari rumah sakit atau belum". Meng xin jie menceritakan apa yang dia tau dari Celine.
"Apa yang kamu katakan?". Tanya presdir Lu mengerutkan alis.
"Hal guru Gu ini sungguh belum terdengar sebelumnya". Ulang Meng xin jie.
"Ucapan yang terakhir".
"Pembicaraan tidak sengaja, pendengar menjadi menangis mendengarnya".Ujar Meng xin jie mengingat-ingat ucapannya. Sang presdir langsung berdiri mau menggeplak kepalanya. Prok... Meng xin jie menepuk tangan langsung mengucapkannya dengan cepat sebelum kena pukul.
__ADS_1
"Juga tidak tau apa guru Gu sudah keluar dari rumah sakit atau belum".
"Dia masuk rumah sakit?. Kenapa?". Tanya sang presdir khawatir.
"Hal ini panjang ceritanya. Anda duduklah".
"Kamu katakan padaku dengan singkat". Geram sang presdir menekan suaranya.
"Katanya guru Gu hari itu sendirian naik gunung untuk membuang sesuatu. Kemudian 120 datang dan di antar ke rumah sakit". Cerita Memg xin jie.
"Kapan hal ini terjadi?".
"Dua hari yang lalu. Aku baru saja dengar dari Xu Zhao Di". Ujar Meng xin jie takut di pukul.
"Jika kamu berani menipuku, kamu akan mati". Ancam sang presdir dengan muka dinginnya.
"Aku sumpah pada langit, jika aku berbohong aku akan di sambar petir". Meng xin jie mengangkat telapak tangannya bersumpah.
"Duduk". Sentak sang presdir ketika Meng xin jie mau mengikutinya keluar.
"Bos...". Panggil Meng xin jie.
"Sekretaris Li, pesan tiket penerbangan ke Suhai untukku sekarang". Ucap presdir Lu di telpon.
"Presdir Lu, di karenakan dasar cuaca, semua penerbangan telah di hentikan". Jawab sekretaris Li.
Di stasiun kereta, presdir Lu berjalan keluar dengan lesuh, karena tidak mendapatkan tiket karena cuacu buruk.
"Sobat, naik taksi tidak?". Tanya seorang supir taksi. "Aku katakan padamu, angin topan segera datang. Jika aku pergi, tidak ada mobik lagi. Mobilnya ada disana, bagaimana jika bicarakan di dalam". Ucap supir taksi menunjuk tempat taksinya. "Kamu mau pergi kemana?". Tanyanya.
"Suhai..". Jawab presdir Lu datar.
Pfftt...Hahaha...Supir taksi tertawa mendengar ucapan presdir Lu.
"Xiao mo, sedang sibuk apa?. Kenapa tidak di mobil?". Tanya teman supir itu.
"Tuan ini ingin naik taksi ke Suhai". Sahut supir itu berlalu pergi.
"Sobat, sedang bercanda,kah?. Kamu harus naik kereta jika ingin pergi ke Suhai". Ucap teman supir taksi.
"Jika ada tiket, apakah aku perlu naik taksi lagi?". Sahut presdir Lu.
"Suhai terlalu jauh. Pekerjaanku akan banyak tertunda". Ucap supir taksi berlalu pergi.
__ADS_1
"Kembali". Panggil presdir Lu. "Mobilmu ada dimana?". Tanyanya.
"Mobil ada disana". Tunjuknya ke dapan. "Tenang saja, taksi resmi". Ucap pak supir meyakinkan.
"Boleh..". Ucap presdir Lu mantap.
"Sobat sangat supel. Tambahkan pertemanan Wechat dan lakukan pembayaran. Ini aturan". Ujar supir taksi mengeluarkan ponselnya. "Kamu pindai aku atau aku pindai kamu?". Tanyanya.
"Kamu pindai aku". Ucap sang presdir melihatkan ponselnya.
"Baik". Ujar supir taksi setelah selesai memindai.
Didalam taksi presdir Lu menelpon Meng xin jie.
"Malam ini aku mau kembali ke Suhai". Ucap sang presdir.
"Apa...?". Teriak Meng xin jie terkejut. "Bukan, Bos. Angin topan di luar segera datang, pesawat dan kereta berkecepatan tinggi seharusnya telah berhenti". Ucapnya masih tidak percaya.
"Aku menyewa sebuah taksi". Ucap sang presdir dengan enteng.
"Bukan, dari sini kembali ke Suhai mengendarai mobil setidaknya 10 jam".
"Kamu menetap disana dan selesaikan masalahku selanjutnya dengan tuntas". Perintah sang presdir. "Dan juga, tenangkan Li Man. Begini saja". Ucapnya menutup telpon.
"Eh,,Ha.....lo". Meng xin jie masih di dalam kamar hotel bosnya mangap-mangap.
"Pak, apakah kita bisa dengan tepat tiba di lokasi sesuai dengan waktu yang ada di navigasi?". Tanya presdir Lu pada supir taksi.
"Tenang saja, Pasti tidak ada masalah". Jawab supir taksi dengan pasti.
"Terima kasih".
'Penumpang sudah di pastikan. Mohon tiba di titik keberangkatan penumpang dalam 9 menit'. Suara dari ponsel pak supir.
"Apakah kamu baru saja menerima satu pesanan?". Tanya presdir Lu.
"Sekarang tidak melakukan penghematan, apakah bisa rendah karbon dan hemat energi?". Jawab supir taksi membuat presdir Lu tersenyum.
"Pakai headphone, terima kasih". Ucap presdir Lu pada pelanggan yang baru saja naijk duduk di depan. Pelanggan itu menyetel musik di ponselnya denga keras, itu mengganggu sang presdir.
"Maaf, kak. Terlalu fokus. Kak, watakmu terlihat tidak biasa. Kamu bos,kan?. Kamu bergerak di bidang apa?". Tanya pelanggan itu sok akrab.
"Hotel". Sahut presdir datar.
__ADS_1
"Sangat kebetulan. Aku juga bergerak di bidang perhotelan. Kak, hotelmu di buka dimana?. Aku katakan padamu, harga di hotel kami disana sangat murah. Kamar bisnis, biasanya satu malam hanya 59. Akhir pekan baru 79. Kamar per jam lebih murah, mari kita saling bertemanan di Wechat". Cerocos pelanggan di depan tidak berhenti membuat presdir Lu pusing mengusap wajahnya kesal.
"Kelak, di bidang perhotelan jika kita ada konsep manajemen, ada ide apa pun, kita bisa saling komunukasi. Iya,kan?. Kak, aku pindai kamu, mari". Cerocosnya, Sang presdir menutup matanya tidak menjawab.