
" Tenang, selisih harga aku tambahkan untukmu. Kelak harus jujur dalam berbisnis". Ucap presdir Lu membayar selisih harga telur setelah she na sudah pergi.
" Paman, anda sungguh orang baik". Ucap penjual telur tersenyum senang.
" Siapa paman?".Ucap sang presdir tidak senang di panggil paman. Penjual telur minta maaf dengan menangkup tangannya. Sang presdir melangkah pergi ke she na yang sedang menawar harga.
" Baiklah, baiklah. Kamu bilang berapa, berapa saja". ucapan jual Tahu menyerah. Setelah itu Sang Presiden yang akan membayar Selisih harganya tanpa sepengetahuan she na. She na membawa alat uji kejujurannya, ke beberapa tempat. Dari sayuran sampai daging, presdir lu mengikuti dari belakang membayar selisih harga setelah Sena pergi, sampai she na puas belanja baru dia berhenti. Sang presdir menghela nafas lega.
Di dalam studio Quan'an.
"Tu... Lingkar leher, lingkar leher". Decak Paman tua meminta asistennya mengukur lingkar lehernya, namun asistennya malah mengukur bahunya.
"Maaf". Ucap asisten Tu.
"Aaaaa......Jarum mana?". Paman tua meringis karena tertusuk jarum di lehernya.
" Maaf, Bos. Aku lupa, lain kali aku pasti akan ingat mencabutnya". Ucap asisten Tu dengan muka bersalah karena lupa mencabut jarum yang ada di baju belakang Paman tua.
" lain kali tanda tanya. Bagaimana dengan kali ini?". Sentak Paman tua. Asistennya mengulurkan tangannya agar bosnya bisa menusuknya. "Aku..Tu, kamu tahu mengapa aku masih tidak pecat kamu sekarang?". Tanya paman tua dengan muka merah menahan marah.
" Karena kebaikan anda". Jawab asisten Tu dengan polos.
" Karena undang-undang Ketenagakerjaan melindungi kamu. Eh, kelinci ini....".Teriak paman tua dengan kesal.
Prok...Prok...Prok...M X J masuk ke dalam sambil tepuk tangan.
"Ai ya... Gabriel, Gabriel. Tak disangka, kamu masih ada sisi jantannya". Ejek M X J pada Paman tua yang biasanya kemayu.
" Richard, Richard… kamu datang tepat waktu. Kebetulan, bantu aku ajari dia, Bagaimana bisa seperti kamu, satu pandangan presiden Lu, langsung ada reaksi Ivan Pavlov". Balas paman tua.
"Pav...". Ucap asisten terpotong.
" Pergi selidiki, sana". Usir paman tua. Asisten Tu langsung melangkah pergi dengan patuh.
"Ekhem...Pav... Ivan pavlov. Hehehe... Bicara masalah serius". Ucap M X J dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. " Hari ini aku datang untuk menepati janji. Dulu Sudah sepakati, pakaian acara tahunan perusahaan kami tahun ini akan pesan dari tempat kalian".
"Ai yoo...Meng xin jie. Dulu Melihat perjalanan Asmara kamu lika-liku, Aku kira kamu merupakan hal ini. Tak disangka, hari ini kamu sungguh datang menepati janji. Tampaknya, Xu Zhao Di tidak menyakiti kamu dengan berat. Menyebabkan aku sia-sia mengkhawatirkanmu selama dua hari". Ledek paman tua.
" Sudah, sudah, bicarakan urusan kerja. Urusan pribadi bicarakan secara pribadi". Ucap M X J dengan serius.
" katakan…".
" Surat order itu bukan kasih kamu dengan cuma-cuma. Ada dua hal harus merepotkanmu".
__ADS_1
" Seberapa repot?. Coba katakan".
" Yang pertama adalah Kenapa Guru Gu hari ini tidak senang?".
" Bukankah Ini masalah bos kamu?". Paman tua tanya balik.
" Ini Betul, tapi aku melakukan tugas resmi". Jawbanya.
"Hah.... masalah ini… gampang. Hal berikutnya". Ucap paman tua dengan enteng.
" Hal berikutnya…Pok...Apakah Xu Zhao Di, belakangan ini berhubungan dengan laki-laki lain?". Ucap M X J menepuk meja.
" Laki-laki?. Ganteng?". Ucap paman tua penasaran.
" Seorang Blasteran".
" Waduh, Blasteran?. Ketemu di mana?". Ucap Paman tua menutup mulutnya karena kaget.
" Di klub malam atau di mana?. menyetir mobil Porsche. Tidak, salah". Ucap M X J dengan kesal.
" Ini tidak penting, pasti klub yang sering kita kunjungi itu. Dia minum alkohol?. Hari Jumat atau… Oh, pasti hari Sabtu".Tebak paman tua asal.
" Tidak, tidak, tunggu, tunggu. Kamu yang tanya atau aku yang tanya kamu?". Decak M X J kesal.
Malam harinya She na dan presdir Lu baru sampai ke rumah.
" Aku sudah sampai". Ucap she na saat sudah tiba di depan rumahn.
"Ya.. Ini sayauran kamu". Sang presdir memberikan kantong belanja pada she na. Namun saat she na mengambilnya tangan presdir Lu tidak mau lepas. Lampu di lorong rumah she na tiba-tiba mati, sang presdir menatap wajah She na, makin lama makin dekat. Bibir mereka hampir menempel tapi benda di dalam tas She na berbunyi tit…tit…tit…Keduanya langsung menjauhkan wajah masing-masing. Lampu di lorong juga menyala. She na mengambil benda itu menekan tombol off, namun benda itu masih terus bunyi. She na langsung melempar ke lantai dan hancur, tidak bunyi lagi.
" Sekarang sudah baik". Ucap she na. Sang Presdir meletakkan kantong belanja dan menatap wajah She na. Lampu di lorong mati lagi, she na dan Sang Presdir saling menatap. Wajah mereka makin mendekat, sedikit lagi bibir saling menyentuh. Namun...
"Ekhem… Lampu ini sudah selesai diperbaiki?". Lampu langsung menyala dan terlihat paman zhang menghampiri keduanya yang salah tingkah. " Kamu yang pasang?". Tanya paman zhang.
"Benar". Jawab sang presdir.
" Bagus, Bocah pintar. Bocah ganteng". Ucap paman zhang bersenandung pergi.
" Kalau begitu…". Ujar presdir Lu.
" Selamat malam". Ucap she na.
" Selamat malam". Ucap sang presdir lesuh. "Sayuran kamu". She na mengambil kantong belanjanya dan segera membuka pintu rumah, lalu masuk dengan senyum malu-malu. Sang presdir hanya menatap nanar pintu rumah she na dan masuk ke rumahnya di sebelah.
__ADS_1
" Lu rewel, kamu menyukaiku?". Ujar She na berbicara dengan kura-kura kecil di akuarium. "Lu rewel, kamu menyukaiku tidak?".
sedangkan di dalam rumah sang presdir sedang duduk menyandar di kepala ranjang sambil memainkan sendok perak milik She na.
" Aku menyukaimu…". ucap sang presdir.
"Lu rewel, menyukaiku tidak?".
"Aku menyukaimu". Ucap sang presdir di depan sendok perak she na.
"Lu rewel, sebenarnya menyukaiku tidak?". Tanya she na lagi.
"Aku menyukaimu". Sang presdir mendengar pertanyaan She na karena dinding kamarnya yang terhubung ke ruang tamu She na menaruh kura-kura.
"Lu rewel, kamu menyukaiku tidak?".
" Aku menyukaimu...".
"Hah...,Ck, lebih keras lagi". She na mendekatkan telinganya ke akuarium.
" Aku menyukaimu...". ucap sang presdir. She na sangat senang mendengarnya sampai berjingkrak-jingkrak.
Pagi harinya di hotel XX, Manager shen berjalan mondar-mandir di depan sebuah ruangan.
" Manager Cheng..". Panggil Manager shen melihat ziqian datang.
"Pemimpin Zheng tidak puas dengan menu makanan yang kita siapkan?". Tanya ziqian melihat muka cemas manager shen.
"Tidak tahu. Kali ini, kalau tidak ada kabar buruk, maka seharusnya kabar baik". Ujar manager shen.
" Ada masalah telepon aku". Ucap ziqian melangkah pergi. Manager shen mengangguk.
"Ikan kod tumis dengan saus tomat dan kemangi". ucap pelayan meletakkan hidangan di meja.
Tap...Tap...Tap... Presdir Lu memasuki ruangan ibunya menguji makanan.
"Lu Jin, Kenapa kamu datang ke sini?". Tanya Liman berdiri melihat presdir Lu.
"XX adalah proyek aku. Acara yang begitu penting, Apakah aku tidak boleh datang. Iya kan, ibu?". Ucapnya sambil duduk di samping ibunya. " Duduklah". Ucapnya pada Liman.
" Ini adalah ikan yang bagus. Sebenarnya punya dunianya sendiri, ada gerbang kemakmuran tidak mau melompat. Malah serakah dengan umpan yang murahan ini memuaskan keserakahan sesaat, makanya kehilangan nyawanya. Bodoh". Cibir ibunya, sang presdir hanya diam mendengarnya. " Tidak bisa berjaya". Lanjutnya.
"Teruskanlah!". Ucap presdir Lu pada pelayan.
__ADS_1