
"Kami sudah menyelidiki hal ini. Semua karena dia...". Ucap manager shen menunjuk she na yang menunduk kepala di depan kamar 1123.
"Itu...Dia tidak sengaja menyentuh tombolnya, sehingga membuat presdir Lu terpental dan jatuh ke air. Untung presdir Lu jatuh dengan stabil, tubuhnya tidak terluka. Tapi kami harus datang untuk meminta maaf". Ujar manager shen menjelaskan. "Eh, minta maaf". Pintanya pada she na yang menunduk diam.
"Maaf, presdir Lu". Ucap she na membungkuk di depan asisten presdir.
"Ini...Bukan presdir Lu. Angkat kepalamu dan lihat dengan baik, apakah dia adalah presdir Lu!". Perintah manager shen. She na langsung mengangkat kepalanya melihat asisten presdir.
"Maaf, tolong bantu aku sampaikan kepada presdir Lu. Dengan tulus , aku merasa...". Ucap she na dengan rasa menyesal.
"Sudah, sudah, sudahlah. Lupakan saja, lupakan saja". Sela asisten presdir. "Kita termasuk kenalan lama. Waktu itu aku tidak berhasil mengejarmu di hotel. Masih beraninya kamu ikut begitu dekat". Sindir asisten presdir menekan suaranya.
"Tidak perlu omong kosong. Kumpulkanlah ganti rugi mobil dalam waktu 2 hari. Sisanya, tunggu bos kami pulih, baru di bicarakan lagi. Seperti itu saja". Ujar sang asisten mau masuk ke dalam kamar.
"Hm...Itu, lihatlah, bunga kami ini...". Ujar manager shen menunjuk bunga yang di pegangnya dan she na.
"Letakkan di depan pintu saja". Ucap sang asisten berlalu dan mau menutup pintu kamar.
"Cepat letakkan di depan pintu". Seru manager shen meletakkan bunga yang di bawanya dengan she na di depan pintu kanan dan kiri.
"Eh, itu, sepertinya pertanda sial, jika di letakkan di depan pintu". Ujar manager shen pada asisten presdir.
"Oh ya?". Ucap sang asisten keluar dari pintu kamar dan melihatnya dengan seksama.
"Memang pertanda sial. Bawa masuk". Ucapnya lalu masuk ke kamar di susul manager shen dan she na mengambil bunga masing-masing.
Setelah she na dan manager shen pergi, asisten presdir masuk ke kamar bosnya.
"Bos, sepertinya ini adalah 2 hari yang paling sial. Sejak aku mengikutimu selama 2 tahun ini". Ucap sang asisten melihat presdir Lu tiduran di ranjangnya sambil menatap ke langit kamar.
__ADS_1
"Ini adalah dua hari yang paling sial dalam hidupku. Hachi.....". Ujar sang presdir lalu membersihkan hidungnya dengan tisu karena bersin. Sang asisten mengangguk setuju.
"Menurutmu, sebenarnya apa yang ingin di lakukan oleh wanita itu?. Jadi tidak pernah ada hal baik sejak mengenalnya. Memasukkan mie di dalam mobilmu, lari ke kamarmu dan muntah ke sekujur tubuhmu. Sekarang malah membuatmu jatuh ke air. Laut, darat, dan udara, sekarang hanya tersisa bencana udara. Sangat menakutkan..". Gerutu asisten presdir mengingat kejadian yang di alami bosnya sejak bertemu dengan she na tidak ada hari baik.
"Kamu mengingatkanku". Ucap sang presdir bangun dari tidurannya dan berdiri, memikirkan perkataan asistennya ada benarnya juga.
"Apa yang ingin dia lakukan?". Gumam sang presdir sambil memegang dagu berpikir.
"Menghentikan aku mengakuisisi hotel XX?". Tanyanya pada sang asisten.
"Berdasarkan analisis dan pengalamanku selama bertahun-tahun, aku merasa hal ini tidak sesederhana itu. Pasti ada tujuan yang lebih dalam". Ujar sang asisten menjawab pertanyaan bosnya dengan analisanya.
"Katakan..". Ucap sang presdir menggeplak kepala asistennya dengan geram karena berhenti bicara.
"Dia suka padamu". Ucap sang asisten.
"Saling menguntungkan dan saling merugikan". Ujar sang asisten mengangguk-anggukan kepala.
"Hah...". Sang presdir tidak mengerti dengan ucapan asistennya.
"Saling merugikan adalah kekayaan. Saling mencintai dan saling membunuh. Saling mencintai dan saling membunuh". Ujar sang asisten seraya pergi dari kamar sang presdir.
"Saling mencintai dan saling membunuh?". Sang presdir mengulang ucapan asistennya sambil berpikir. "Dia ingin membunuhku?". Gumamnya sendiri.
Malamnya di dalam kamar, presdir Lu berjalan mondar- mandir masih memikirkan ucapan asistennya dan mengingat kembali kejadian yang di alaminya mulai dari kebakaran gudang sampai dia jatuh ke air.
"Saling menguntungkan dan saling merugikan. Saling mencintai dan saling membunuh. Merayuku..". Ucapnya pada diri sendiri.
"Halo...pesankan satu porsi sup penyihir untukku. 1123". Ucap sang presdir menelpon memesan hidangan makanan.
__ADS_1
Sedangkan di dapur hotel para koki sudah bersiap untuk pulang setelah membersihkan tempat memasak mereka.
"Baik, semuanya sudah di bersihkan, kan?. Jika sudah di bersihkan, boleh pulang bekerja". Seru koki wang sebagai koki senior pada para koki muda. "Oh ya, kalian datanglah lebih awal besok, harus menyiapkan bahan". Tambah koki wang sebelum pergi.
"Baik..". Sahut beberapa koki muda.
Daguo juga bersiap untuk pulang, dia berjalan ke arah pintu dan mendengar mesin pesanan makanan berbunyi.
"Eh, ada pesanan dari kamar 1123. Sepertinya kamu tidak bisa pulang lagi". Ucap Daguo memberikan menu pesanan pada She na.
"Lu rewel itu masih ingin minum sup penyihir buatanku?. Taukah kamu apa itu sup penyihir?. Beraninya kamu pesan tanpa mengetahuinya". Decak kesal she na pada presdir Lu setelah membaca hidangan yang di pesan oleh presdir Lu. "Cukup kasih sedikit sup jamur saja". Ucapnya lalu berjalan kembali ke dalam dapur dengan kesal.
"Guru Gu, kenapa kamu tidak masak sup penyihir saja untuknya?". Tanya Daguo penasaran mengikuti she na dari belakang.
"Sup penyihir adalah hidangan rahasia yang di wariskan dari mulut ke mulut di antara para wanita Gipsi. Setiap musim dingin tiba, mereka akan masak dengan panci kecil. Masak perlahan-lahan dengan bahan kesukaan orang yang di cintai dan wine. Jadi, sup penyihir tidak punya resep khusus. Hidangan itu adalah cinta berlimpah terhadap kekasih. Di kenal sebagai Kode Ujung Lidah di antara pasangan kekasih". Ujar she na menjelaskan arti dari sup penyihir sambil memilih bahan untuk membuat sup jamur.
"Kode ujung lidah?. Maksudmu adalah 1123 suka padamu". Tebak Daguo menatap she na dengan penasaran.
"Apakah kamu tidak ingin pulang?". Ucap she na kesal. "Jika kamu tidak ingin pulang, bantu aku ambilkan panci itu kemari. Cepat pergi". Desak she na.
"Tidak, tidak, tidak. Aku masih ada urusan, aku harus pergi dulu. Aku tidak ingin ikut campur dalam pembuatan sup di antara kekasih". Ledek Daguo dengan senyum nyengir.
"Aku akan menghajarmu". Ucap she na menatap tajam mengangkat tangannya ingin memukul Daguo.
"Sampai jumpa". Ucap Daguo berlari keluar sebelum kena pukul.
She na melihat sekali lagi menu pesanan presdir Lu dan tersenyum menyeringai. Lalu mulai membuat hidangan sup jamurnya. Setelah memasukkan semua bahan ke dalam panci, she na mengatur api dan waktu untuk merebus sup jamur. Setelahnya dia pergi meninggalkan supnya yang di sedang di masak dengan api kecil.
Sementara di dalam kamar, presdir Lu sudah tidak sabar menunggu pesanannya yang di rasa sudah sangat lama dengan berjalan bolak balik dengan tidak tenang. Sampai dia...
__ADS_1