CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Guru Lu


__ADS_3

"Apa maksudmu?. Setiap hari kamu menyuruhku kupas kelunak dan potong bawang bombai. Jika aku memiliki pendukung, apakah aku perlu bersabar terhadapmu, koki Yu..?". Sentak she na sudah emosi.


"Gu she na, Gu she na. Teriak apaan pagi-pagi begini?. Siapa yang menyinggungmu lagi?". Seru manager shen yang baru masuk dapur sudah mendengar suara she na yang lagi marah-marah.


"Manager shen...". Ucap she na terhenti melihat kedatangan ziqian di dapur.


"Semuanya tenang dulu. Ada satu hal yang ingin di umumkan manager Cheng kepada kalian semua". Ucap manager shen.


"Pemimpin Grup Zheng Hong yang mengakuisisi hotel akan mengunjungi hotel kita dalam beberapa hari. Salah satu penilaian penting adalah teknik memasak dari dapur kita. Demi memuaskan meningkatnya permintaan makanan dari pengunjung baru dan lama, setelah pengujian kali ini berakhir, aku dan manager shen memutuskan untuk memilih seorang koki utama baru". Ucap Cheng ziqian pada semuanya.


"Koki utama selalu adalah koki Yu. Apa lagi yang harus dipilih?. Buat seperti pemilu saja. Jika harus di pilih, aku pilih koki Yu". Ujar koki Wang mengangkat tangannya.


"Aku pilih Gu she na". Ucap Daguo mengangkat tangannya. "Biar koki Yu dan she na masing-masing satu suara". Ucapnya cengengesan.


"Itu...itu...Bukan, bukan seperti itu. Kali ini kita...ini..Tidak seperti pemilu sebelumnya". Ucap manager shen terbata.


"Heh, melakukan pengambilan keputusan dari dalam lagi". Nyinyir Koki Yu.


"Hotel XX, bukan hotel XX yang dulu lagi. Manager Cheng akan mengirim...". Ucap manager shen terhenti.


"Kita bicarakan yang berguna saja". Sela ziqian dengan tegas. "Semua koki siapkan sebuah menu barunya sendiri senin depan. Tidak melihat senioritas, hanya melihat kemampuan. Kita lakukan pemilihan secara terbuka, tentukan menu siapa yang akan di gunakan untuk membuat menu perjamuan pemimpin kali ini. Jadi, orang itulah yang akan menjadi koki utama baru kita". Ucap Ziqian dengan keren. Daguo mengangkat tangannya mau bicara. "Apa pertanyaanmu?". Tanya ziqian.


"Apakah aku boleh...". Ucapnya ragu-ragu.


"Setiap koki boleh mengikuti kompetisi". Ucap ziqian mantap.


"Bolehkah aku melepaskan kesempatan ini?. Hehe..". Sahut Daguo menyerah sebelum bertarung.


"Boleh. Jika begitu, semuanya harus berusaha". Ucap ziqian melangkah pergi.


"Semangat!. Semangat!. Semangat!".Ucap manager shen ikut pergi.


She na tersenyum sinis pada koki Yu, dan pergi membuat memasak. Sedang memasak ponselnya berdering.


"Halo..". Ucap she na setelah mengangkatnya.


"Halo...ini aku". Ucap presdir Lu.


"Ooh, ada apa?". Tanya she na datar sambil mangaduk masakannya.

__ADS_1


"Jam berapa kamu selesai bekerja?".


"Seharusnya hari ini akan lembur. Ada apa?".


"Bisakah kamu pulang lebih awal?. Aku pulang dan tunggu kamu untuk makan".


"Akan aku usahakan". Ucap she na langsung mematikan, dan melanjutkan masaknya.


"Baik". Presdir Lu sangat senang mendengarnya. "Halo...Halo...". She na sudah mematikan telpon.


"Guru Gu, masih belum pergi?". Tanya Daguo melihat she na masih sibuk memilih bahan masakan.


"Kamu pergi dulu, aku ingin memikirkan menu dulu". Sahut she na melihat sekilas Daguo.


"Baik". Daguo langsung pergi.


She na mencoba membuat beberapa macam menu masakan sampai tengah malam. Dia mengirimkan pesan pada presdir Lu yang sedang menunggunya pulang.


"(Apakah kamu lapar?)".


"Lapar..". Balas presdir Lu.


"(Datanglah jadi kelinci percobaan)".


She na mengeluarkan masakannya dari oven dan memotongnya, lalu mencobanya. Dia merasa kurang pas dan mau membuangnya di tempat sampah.


"Jangan.....". Seru presdir Lu yang baru datang. "Di masak dengan susah payah, jangan di sia-siakan seperti itu". Ucapnya mendekati she na.


"Kamu datangnya cepat juga". Sahut she na.


"Aku takut kamu membuang-buang makanan".


"Kamu takut makanan dingin sehingga rasanya jadi kurang enak,kan?".


"Aku selalu sangat menghargai bahan makanan".


"Belakangan ini hotel mengadakan kompetisi antar koki, harus merancang menu sendiri. Ini adalah menu pokok pertamaku, Bistik Wellington. Aku tidak berhati sempit. Aku hanya ingin membuktikan bahwa keputusanku benar. Standar utama bahan masak adalah kesegaran". Ucap she na mengarah ke waktu Li Man mengomentari Steak Wellington buatannya.


"Bistik Wellington adalah sebuah masakan yang dapat menguji keterampilan memasak dari koki masakan barat. Terbalut kulit renyah, kamu tidak dapat melihat kematangan yang ada di dalamnya. Sulit untuk mengontrol api untuk memanggang. Jika waktunya terlalu lama, dagingnya akan menjadi terlalu keras. Jika waktunya terlalu singkat, mungkin daging di dalamnya masih mentah. Keberhasilan dan kegagalan hanya akan di ketahui disaat kamu memotongnya. Kesulitannya adalah ada resep tapi tidak ada peraturannya. Jadi, keberhasilan dan kegagalannya tergantung pada perasaan sang koki". Ucap sang presdir menjelaskan pendapatnya panjang lebar.

__ADS_1


"Baik. Ahli gourmet. Jika begitu, silakan ahli gourmet bantu aku nilai bagaimana rasanya bistik sapi ini, oke?".


"Baik". Ucap sang presdir. She na memotong daging dan menyuapkannya ke mulut sang presdir.


"Bagaimana?".Tanya she na.


"Enak sekali".


"Aku bukan menanyakan perasaanmu. Aku sedang menanyakan perasaan ibumu, presdir Zheng". Ucap she na membuat presdir Lu tersedak.


"Uhuk...Ibuku?". She na mengangguk. Lalu mengeluarkan menu baru lagi.


"Sup abalone dan oyster". Ucap she na meletakkan semangkok sup di depan sang presdir untuk di cicipinya.


"Dua hari ini aku tidak makan dengan baik, tidak tidur nyenyak, sedikit lelah. Perasaan lelah...". Ucap sang presdir dengan wajah lesuh di buatnya.


"Aku mengerti, presdir Lu. Silakan istirahat sepuasnya. Setelah istirahat, baru katakan padaku sebenarnya apa yang disukai presdir Zheng, oke?". Ucap she na dengan senyum nyeringai.


"Apakah akan ada makanan penutup?".


"Kamu ingin makan yang manis juga?".


"Sepertinya aku dengar sedikit perasaan menyebalkan dari nada pembicaraanmu. Apakah ada?".


"Tidak, tidak, tidak. Maksudku adalah akan segera kubuatkan". Ucap she na dengan senyum paksa.


"Baguslah jika begitu. Dari sudut pandangku, semua hidanganmu hari ini sangat sempurna. Tapi...". Ucap sang presdir berhenti.


"Tapi apa?". Tanya she na penasaran.


"Tapi...Kamu mencariku untuk mencoba masakanmu, itu termasuk melakukan kecurangan". Ucap presdir Lu.


"Hah...".


"Ini sama seperti sebelum ujian, kamu memanggil guru pembuat soal untuk membantumu mengulas pelajaran. Benar,kan?. Guru pembuat soal. Tidak ada orang lain yang lebih mengenal ibuku dari pada aku". Ucap sang presdir sengaja mengerjai she na.


"Tapi, guru Lu, jika kamu tidak mengajariku, maka muridmu ini akan kalah.Jika aku kalah, hah....Aku akan terus di tindas oleh koki Yu". Balas she na dengan muka memelas. "Mungkin saja aku akan di paksa untuk mengundurkan diri, dan terpuruk seumur hidup. Hidup seorang koki wanita muda akan hancur seperti itu. Apakah kamu tega?. Tidak tega, benar, kan?". Ucap she na dengan suara lembut.


"Bantu, tentu saja harus bantu. Sebagai seorang murid, kamu harus berprilaku sebagai murid". Sahut presdir Lu gemes melihat muka she na.

__ADS_1


"Guru...". Panggil she na tepat di depan wajah sang presdir. Dia yang sudah mengganti baju dan rambutnya di kuncir dua, sang presdir terkejut melihatnya. Presdir Lu menelan ludahnya pelan melihat bibir she na tepat di depan wajahnya. "Apakah sekarang sudah cukup menyerupai murid?". Tanya she na lembut dengan mata mengedip-ngedip.


"Bisakah kamu sedikit menjauhi guru?". Ucap sang presdir menahan nafasnya.


__ADS_2