CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur

CEO Dingin Di Taklukkan Cinderella Dapur
Warung Makanan Tumis Sedunia


__ADS_3

"Jangan makan mie lagi, kita keluar bersenang-senang dulu". Ajak sang asisten dengan semangat.


"Aku sudah menyetujui anggarannya untukmu. Kamu pergilah sendiri, aku tidak ingin pergi". Ucap sang presdir datar melihat hadiahnya.


"Terima kasih bos. Dengan tulus saya ucapkan selamat ulang tahun, semoga dapat berkah berlimpah, semoga sehat walafiat, Fyuuuh". Ucap sang asisten meniup lilin di depan pak bosnya dan berlalu pergi dengan senang, sudah mendapat anggaran dari sang Bos.


Sang presdir hanya diam melihat tingkah asistennya. Tidak jadi makan mie instannya, dia mengambil kunci mobil dan pergi keluar.


**


She na pergi ke (Warung makanan tumis sedunia), ada warung makanan kakeknya disini. Melihat sana sini mencari sang kakek, tetap tidak melihatnya. "Bibi Wang". Panggil she na pada seorang wanita paruh baya sebelah warung kakeknya.


"She na, kamu sudah datang, ya?". Jawab bibi wang.


"Apakah bibi melihat kakekku?". Tanya she na.


"Oh, kakekmu pergi ke tempat paman keduamu".


"Makan kwetiau goreng lagi ya?. Kamu tidak bosan sudah makan bertahun-tahun?. Apakah kamu tertarik pada kakekku?". Ledek she na tersenyum centil.


"Kamu saja bisa melihatnya, tapi kenapa kakekmu tidak paham?". Ngaku bibi wang.


"Kamu jangan khawatir, aku akan mengatur pacaran masa tua kalian dengan sangat baik. Oke!". She na mau jadi mak comblang kakeknya dan bibi wang.


"Lihatlah dirimu, omong kosong apa itu?". Ucap bibi wang tersenyum malu-malu sambil menyelip rambut ke belakang telinga.

__ADS_1


"Gadis kecil, tidak tidur malam-malam begini. Ada apa datang mencariku?". Tanya kakeknya yang baru kembali.


"Bisa ada masalah apa?. Aku merindukanmu, hehehe. Ayo..". Ajaknya kembali ke warung sang kakek lalu duduk di meja depan warung.


"Gadis kecil, kamu kehilangan pekerjaan lagi?". Tanya sang kakek langsung.


"Kenapa kamu bisa tau?". Kata she na kaget.


"Kamu baru saja pergi, Da tou sudah memberitahuku". Ucap sang kakek dengan tenang.


"Da tou memang seperti namanya. Selalu membocorkan rahasia, untuk apa memberitahumu hal ini!". Sungut she na. "Kamu tidak perlu mengkhawatirku, Jika tempat itu tidak menginginkanku, akan ada tempat lain yang menerimaku. Aku adalah soerang koki jenius. Memadukan hidangan tiongkok dan barat". Puji dirinya sendiri agar sang kakek tidak cemas. "Sangat gampang mencari pekerjaan, sangat gampang". Bualnya.


"Aku suruh kamu jangan menjadi koki, tapi kamu tidak mendengarkannya. Kamu malah bersi keras menjadi koki". Sungut kakeknya.


"Apa hubungan hal ini dengan menjadi koki?. Hanya karena sekarang nasibku kurang baik, dan bertemu masalah khusus, jadi tertangkap basah bersalah". Ucapnya membela diri. "Kakek jangan menghina profesiku, jika menghina profesiku, maka itu sama dengan menghina dirimu sendiri. Bukankah kamu sendiri adalah seorang koki?". Sambungnya.


"Aku bukan datang untuk minta uang". Tolak she na.


"Aku tau. Kakek ingat hari ini adalah hari ulang tahunmu, tidak akan memberikannya tanpa alasan". Ucap kakek tersenyum. "Jantung kakek tidak bagus, jika suatu saat, aku tiba-tiba mati, aku tidak punya, pada saat itu masih harus mengandalkanmu untuk mengurus pemakamanku. Ambillah". Sambung sang kakek memberikan amplop merah yang cukup tebal.


"Jangan sembarangan bicara, kakek sangat sehat". Sewot she na. "Apa maksud kamu tidak punya anak?. Jika tidak ada ayahku, dari mana datangnya aku?". Tuding she na menatap wajah keriput kakeknya.


"Jangan mengungkit ayahmu yang ada di Afrika selatan itu". Kesal sang kakek. "Begitu mengungkit, aku akan sangat marah. Begitu marah, aku ingin pergi ke toilet". Ucap sang kakek. "Oh ya, kamu tinggal disini, jangan sembarang lari, jangan mengotak-atik spatula penggorenganku. Paham!". Peringat sang kakek sebelum pergi ke toilet.


"Hari ini, aku tidak ingin bergerak, aku sangat capek". Ucap she na.

__ADS_1


"Baik, ini, simpanlah". Sang kakek meletakkan amplop merah ke tangan she na dan berlalu pergi. She na melihat amplop merah pemberian kakek dengan haru.


Bos,, pesan satu porsi kwetiau goreng, satu porsi bihun kerang". Ucap pelanggan kakek she na sambil duduk.


She na ingat kakeknya pergi ke toilet, jadi dia yang menerima pesanan itu. "Baik". Jawabnya. Lalu berjalan ke dapur sang kakek dan mulai memasak dengan semangat penuh. Dia melupakan peringatan kakeknya untuk jangan mengotak-atik dapurnya. Selesai masak bihun kerang, pelayan membawa pesanan keluar dan bertanya , siapa yang pesan bihun kerang, tidak ada yang menjawab.


"Apakah kamu yang pesan bihun kerang?". Tanya pelayan pada presdir Lu yang baru saja tiba di tempat itu. Sang presdir belum menjawab, pelayan sudah meletakkan bihun kerang di meja. Presdir Lu hanya menatap pelayan itu.


"Aku masih belum pesan". Kata sang presdir, namun pelayan berlalu pergi tidak menanggapi ucapan sang presdir.


Sang presdir melihat bihun kerang yang ada di depannya, mencium aromanya yang harum, dia mulai mencicipi bihun serta seafood yang rasanya sangat enak sampai habis semua dengan perasaan senang. Setelah makanannya habis, dia masuk ke dalam dapur warung tersebut. Melihat seorang wanita sedang memasak dari belakang, dia tersenyum sendiri, sampai kakek she na masuk dan bertanya.


"Kamu cari siapa?". Tanya sang kakek, she na mendengar suara kakeknya langsung berlari keluar. Sang kakek melihat ada orang di dapurnya berteriak, "Siapa yang ada di sana?". Kata sang kakek langsung masuj ke dalam, tapi she na sudah diam-diam melarikan diri dengan membungkuk melewati presdir Lu yang berdiri di sana, tanpa sengaja sendoknya jatuh, dan di pungut oleh sang presdir. "Kamu masih ada urusan apa?". Tanya kakek she na melihat presdir Lu masih berdiri disana.


"Oo, aku mencari toilet". Ucap presdir Lu.


"Cari toilet, ya?. Toilet ada di luar". Kata kakek she na.


"Oo di luar ya, terima kasih". Ucap presdir tersenyum tipis. "Bolehkah aku bertanya, apakah aku boleh berkenalan dengan koki wanita tadi?". Tanya presdir Lu.


"Koki wanita?". Kata kakek menyerngitkan alis.


"Benar".


"Disini tidak ada koki wanita. Pergilah, ke toilet". Kata sang kakek dengan yakin.

__ADS_1


"Maaf sudah mengganggu". Ucap sang presdir berlalu pergi.


Saat berbalik badan ke dalam dapur, sang kakek melihat ada amplop merah, uang dan selembar kertas di atas meja. Sang kakek mengambil kertas kecil itu dan membacanya. "Anggao saja ini adalah biaya hidup yang kuberikan, menggantikan ayahku. Aku tidak beri secara cuma-cuma. Lain kali, tidak boleh berkata tidak punya anak lagi. Ada ayahku sebagai anakmu dan aku sebagai cucumu". Ini adalah isi pesan yang di tinggalkan oleh she na. sang kakek membacanya dengan senyum penuh haru.


__ADS_2